My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Pertanyaan Yang Diulang


__ADS_3

Suasana kota seperti biasanya. Rame dan tidak pernah mati. Ada saja kegiatan yang berlangsung meski itu hanya sekedar orang berjalan.


Taman kota masih sama. Pohon-pohon, bunga-bunga, kedai-kedai makanan dan minuman... Masih sama seperti biasanya..


Tidak adakah yang berubah setelah 10 tahun berlalu?


Banyak tentunya.


Semua berubah atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.


Kota bertambah gedung dan bangunan lainnya. Taman kota bertambah jenis pohon, jenis bunga. Kedai yang dulu mulai ganti pengurus. Semua berubah tapi tak meninggalkan sisi hakikatnya.


.


.


.


“Lien…” Panggil Ohsen.


“Ya?”


Mereka berhenti berjalan.


Lien membalikan badan dan memberanikan diri untuk menatap Ohsen.


“Kau melupakan sesuatu?” Tanya Ohsen.


Melupakan sesuatu?


Apakah hal itu? Hal yang ia janjikan pada Ohsen 10 tahun yang lalu?


Sungguhkah Ohsen mengingatnya? Bahkan sudah 10 tahun tanpa mereka bahas sekalipun mengenai janji 10 tahun yang lalu?


Apakah ini adalah kesempatan yang Tuhan tawarkan untuknya?


Apakah ini reward indah dari kesabarannya?


Benar, kan?


Ini adalah saatnya. Saat yang tepat.


Ini adalah waktu yang Lien tunggu.


Lien tidak salah arti.


Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sudah dari tadi ia menunggu kesempatan ini. Munafik memang, tapi Lien sungguh memikirkan hal ini dalam hidupnya selama 10 tahun ke belakang...


Sungguh menggelikan.. Tapi karena itu Lien mampu bertahan.


Sejujurnya Lien takut kalau Ohsen memberikan jawaban yang sama seperti dulu. Tapi jauh dari dalam hatinya ia penasaran.

__ADS_1


Ia ingin tahu.


Jika dirinya 10 tahun yang lalu berani mengatakannya, maka saat inipun tak ada halangan baginya untuk tidak berani mengatakannya.


Lien sudah bisa lebih dewasa dalam menanggapi semua masalah dalam hidupnya. Ia tak memiliki pengalaman dalam urusan cinta, tapi ia belajar banyak hal untuk mengendalikan egonya.


Lien mengerti jika cinta itu tidak memaksa. Jadi apapun jawaban Ohsen, ia akan tetap bahagia dan tak akan putus hubungan dengan Ohsen.


“Ti..tidak.. aku..aku…” Lien terbata.


“Ck, kau ini masih selalu sama.. Jangan gugup!” Kata Ohsen.


Benar kata Ohsen, tak seharusnya ia gugup. Ini bukan pertama kalinya.


Lien mengambil nafas. “Ohsen… Aku sangat menyukaimu. Kau sudah tahu itu…”


“Lalu.?” Ohsen mencoba memancing.


“Ba..bagaimana denganmu? Apa perasanmu padaku sudah berubah?” Tanya Lien penasaran dan agak takut.


“Hm.. Bagaimana ya? Sava itu cinta pertamaku…” Ohsen mencoba bercanda.


"..." Lien tertunduk sedih.


“Tapi, aku sudah jatuh cinta lagi pada wanita tegar yang sekarang sedang tertunduk di depanku…” Kata Ohsen.


Wooossshhhhhh...


Lien mengangkat kepalanya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Dengan takut ia menatap mata Ohsen untuk mencari kebenaran.


Mata Ohsen menatapnya lembut.


Kejujuran dan kemantapan tersirat dari sinar mata Ohsen.


Ohsen memeluk Lien. Ia menarik tangan Lien dan mendekapnya dengan hangat.


Lien tak mengira Ohsen akan memeluknya. Ini pertama kalinya ia dipeluk Ohsen dengan sangat erat. Rasanya seperti dibelai angin dengan lembut. Sejuk dan meneduhkan hati. Ya, seperti angin yang baru saja berlalu. Rasanya sama, hampir tak ada bedanya.


Kehadiran yang membuat sejuk dan nyaman.


Penantiannya selama ini terbalas manis.


Tuhan memenuhi janji-Nya pada orang-orang yang selalu sabar.


Lien sangat bersyukur. Hari ini adalah hari terbaiknya. Ia akan menandai hari ini sebagai hari yang bersejarah dalam hidupnya. Tahun depan ia ingin memperingatinya.


“Kau terlihat sangat cantik..”


“Eh?” Lien merona karena sangat malu.


Dipuji orang yang disukai itu seperti dibawa terbang ke atas awan dan melihat indahnya bumi dari atas.

__ADS_1


Sangat bahagia!


“Terima kasih sudah menunggu…”


Lien menggeleng. “Terima kasih sudah membalas cintaku, Ohsen.”


Mereka berdua tersenyum bahagia.


Apakah ini tidak berlebihan? Masa bodoh, meski mereka bukan lagi anak SMA, tapi rasa bahagia mereka saat ini tak terkira. Mereka ingin mengekspresikan ke dalam banyak hal setelah ini.


Ada agenda panjang yang harus mereka lakukan ke depan. Sepertinya nanti banyak hal menarik akan terjadi. Sambil berusaha, sambil menjalani dengan ikhlas, dan biarkan Tuhan yang mengijabahi.


.


.


.


“Bagaimana dengan reuni SMA kita? Apa kau akan datang?” Tanya Ohsen di sela kebahagiaan mereka.


“Aku akan datang.. Lagipula aku merindukan teman-teman semasa SMA kita.. Aku ingin tahu mereka seperti apa.. Bagaimana karir mereka.. Apa mereka masih labil seperti dulu… Apakah mereka masih mengingatku… “ Jawab Lien membayangkan reuniannya.


Reuni adalah kesempatan langka yang seharusnya tak terlewatkan. Kesempatan untuk silahtutahmi dengan kawan-kawan di masa lalu. Tak semua ikatan akan berlangsung lama, tapi jika ikatan itu putus, maka ada saat dimana ikatan itu akan tersambung kembali. Dan Lien mempercayai itu.


Lien ingin bertemu dengan Sava. Meski sejujurnya ia tak yakin juga jika Sava akan hadir dalam reunian itu.


Sudah membuat sedih meski itu belum terjadi.


Sava pasti datang! Lien ingin meyakininya.


“Kau terlihat antusias sekali… Hmm, apa Luhan, Sava, dan Dio atau Kay akan hadir?”


“Entahlah.. Tapi aku sudah memberitahu Luhan. Sementara itu, Sava menyetujui undangan fashion show yang majalahku adakan.. Itu berarti dia akan ke Indonesia dalam waktu dekat. Kalau dia ke Indonesia, aku yakin Dio atau Kay pasti akan menemaninya..."


"Hmm.. Bisa jadi.."


"Pertanyaanya, mereka akan datang ke reuni SMA kita atau tidak, aku tidak tahu... Aku sudah lama kehilangan komunikasi dengannya.. Kau tahu sendiri, Sava maupun Dio mereka bukan orang yang suka bermain social media.. Nomor Hp-nya bahkan aku tidak punya.."


"Mereka benar-benar low profile. Apa lagi sudah menjadi orang terkenal, mereka benar-benar harus tahu cara menjaga diri dan tak sembarangan main sosmed.."


"Hah, aku bisa apa? Tapi aku beruntung, Sava dan Dio menjadi orang hebat.. Sangat mudah mendapatkan informasi tentang mereka. Meski sangat sulit untuk menanyakan urusan pribadi.. Reporterku hanya bisa menanyai perihal karir saja… “ Lien menjabarkan semua kesahnya selama ini.


“Pasti berat perjuanganmu…” Ohsen menepuk-nepuk bahu Lien pelan untuk menguatkannya.


Lien sengaja membuat acara fashion show agar Sava pulang ke Indonesia dan berharap akan hadir dalam acara reuni sekolah. Lien bahkan tidak mencantumkan namanya dalam agenda fashion show itu agar Sava tetap datang ke Indonesia tanpa keberatan karena masa lalu di antara mereka.


“Tak apa.. Harga mahal yang harus aku bayar…”


Lien tak akan pernah menyerah untuk membawa Sava pulang. Ada banyak hal yang perlu ia sampaikan. Dahulu ia tak sempat mengatakannya, ia akan cari cara agar kesalahannya di masa lalu bisa ditebus.


“Yang dulu biarkan berlalu.. Jika itu luka, pasti ada obatnya…”

__ADS_1


“Terima kasih, Ohsen…”


__ADS_2