
“Aku lelah sekali.. Dio, apa kau tidak lelah? Besok kita harus melewati perjalanan jauh… Dan yang bisa kita lakukan hanya duduk, duduk, dan duduk sampai ke tujuan!” Keluh Sava.
“Tidak apa-apa.. Nanti semua ini akan jadi kenangan kita di Italy. Kita sudah mengelilingi setiap sudut kota asal kita. Kota yang banyak menyimpan kenangan. “ Jawab Dio.
“Tapikan tidak hari ini? Kenapa tidak dari kemarin? Huh.. Aku kan lelah..”
“Baiklah.. Setelah ini kita pulang, kau harus istirahat! Tidurlah dengan cepat! Jangan tidur terlalu malam! Minumlah vitamin untuk daya tahan tubuhmu! Makan dengan baik! Pastikan juga kau sudah mengemasi semua keperluanmu! Ingat kita bukan liburan, tapi mengungsi untuk beberapa waktu yang lama...”
“Dio, kau cerewet sekali sih? Sama seperti Kay. Tadi pagi, sebelum Kay berangkat sekolah, dia juga sudah mengatakannya. Aku harus begini! Aku harus begitu! Hah, yang jelas aku sudah memastikan semua keperluanku! Aku yakin, aku sudah menyiapkan semua kebutuhkanku dengan sangat baik.. Jangan khawatir!”
“Baiklah.. Tapi, kenapa Kay masih berangkat sekolah? Bukankah kita sudah bebas?” Tanya Dio yang heran.
“Entahlah… Kay sedikit aneh. Aku tidak tahu arah fikirannya. Tadi waktu aku bertanya padanya, dia bilang dia ingin memfoto sekolah kita untuk kenang-kenangan… Dia juga berencana mengambil selfi dengan guru BP kita yang super galak itu..”
“Haha, dia itu benar-benar… Sudahlah, ayo pulang!”
Sementara itu Kay yang berangkat sekolah dengan kamera yang ia bawa dari rumah tengah asyik memfoto setiap sudut sekolah. Ia juga memfoto teman-temannya. Banyak yang bertanya mengapa ia melakukannya. Kay bilang itu menjadi hobinya sekarang.
“Wah, ini benar-benar mengasyikkan! Rasanya pantas juga aku menjadi seorang fotografer.. Astaga, aku baru sadar kalau di kelas lain ada perempuan cantik juga.. Kalau aku masih punya waktu pasti bisa aku goda. Mungkin saja bisa kujadikan sebagai seorang kekasih. Imutnya, dia benar-benar tipeku.” Kata Kay sendirian sambil mengamati setiap foto yang ia ambil dengan kameranya.
“Punya waktu apa, Kay?” Tanya Luhan yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
Sebenarnya Kay juga agak canggung pada Luhan karena entah apa yang terjadi tiba-tiba Kay juga terkena imbas sikap diam Lien dan Luhan pada Sava.
“Bukan apa-apa..” Kay hanya menjawab santai.
Ia sudah berjanji tidak akan memberitahukan kepindahan Sava, dirinya, dan Dio kepada siapapun teman sekolahnya. Toh itu juga bukan suatu hal yang penting yang perlu dibeberkan kepada semua orang. Setidaknya itu yang tengah ada di benak Kay.
Menjaga Sava saat ini adalah prioritasnya.
“Oh.. Sava sepertinya tidak terlihat di sekolah…” Kata Luhan hati-hati.
__ADS_1
“Cih, kau datang hanya untuk menanyakan keberadaannya? Kemana saja kau selama ini? Kata Kay sinis.
“Apa dia sakit? Tapi sebelumnya ia terlihat baik-baik saja.” Luhan tak menghiraukan sindiran Kay.
“Dia akan jauh lebih baik-baik saja dari kemarin! Kau tidak perlu lagi membuang waktumu untuk mengkhawatirkannya! Simpan saja tenagamu itu!” Kay beranjak pergi meninggalkan Luhan.
Luhan tertunduk. Kay bersikap berbeda padanya. Itu wajar, setelah ia menyadari kelakuannya selama ini pada sepupunya Kay, Sava. Luhan tahu Kay sangat menyayangi sepupunya. Kay tidak akan membiarkan siapapun melukai sepupunya.
“Han, kau baik-baik saja?” Tanya Lien.
“Hm..”
“Kay itu.. Sudahlah! Tidak ada gunanya kau bertanya pada Kay yang sedang kesal. Seperti tidak tahu karakternya saja…”
.
.
.
Kata orang, lebih nyaman tinggal di rumah sendiri meski terbuat dari bilik bambu. Seperti halnya tinggal di negara lain, pasti akan terasa asing karenanya.
“Bagaimanapun caranya aku akan membuatmu bahagia, Va. Sesulit apapun itu, berapapun luka yang harus aku tanggung, aku tidak akan mempermasalahkannya. Demi kau, demi kebahagianmu, aku tidak masalah menanggung beban lukamu dan aku berani bertaruh untuk berkorban dalam pecaturan dunia yang sebentar lagi akan kita hadapi. “ Kata Dio sambil memandangi fotonya dengan Sava yang mereka ambil saat jalan-jalan tadi siang. Dio pun melanjutkan waktunya untuk tidur.
Semenatara itu, Sava juga tengah sendirian di kamarnya. Kay dan ayahnya sudah tidur lebih dahulu. Ia hanya tahu seperti itu karena hari sudah semakin malam. Tapi entahlah ia tidak bisa memastikannya. Pasalnya ia masih mendengar music mellow dari kamar Kay.
“Kay pasti sedang bersedih ria.. Apa-apaan dia itu? Dia bilang ingin tidur cepat… Aku yakin dia sedang menangis tersedu-sedu dan berguling-guling aneh di tempat tidurnya karena akan meninggalkan Indonesia bersama sejuta kenangan manisnya.” Kata Sava sendirian.
Otaknya menyuruhnya flashback ke masa kecilnya. Senyumnya tersungging saat ia mengenang masa indah bersama kedua sahabatnya, Lien dan Luhan.
Kejadian ini terjadi saat Sava, Lien, dan Luhan sedang duduk di sekolah dasar. Ini adalah awal dari persahabatan yang akan menjadi sangat panjang dan rumit.
__ADS_1
.
.
.
FLASH BACK ON....
“Berhentilah memanggilku dengan sebutan ikan! Aku menolaknya! Kalian sudah lebih dari seribu kali mengejekku.. Kalian tega sekali padaku…” Kata Luhan kecil.
“Iya..Iya.. Maaf… Jika aku bilang, aku bersedia menjadi air agar ikan selalu bisa berenang bagaimana?” Tawar Lien kecil.
“Dan aku akan menjadi udara, agar ikan bisa terus bernafas.. Apa kau masih tidak mau menjadi ikan, Han?” Tanya Sava kecil.
Luhan kecil sedang berfikir.
“Baiklah.. Aku adalah ikan. Maka Lien adalah air untukku berenang, dan Sava adalah udara yang akan membuatku bernafas. Aku akan mati tanpa kalian berdua…”
FLASH BACK OFF..
.
.
.
Senyum Sava kembali, tapi senyumnya berubah menjadi kesedihan yang amat dalam. Air mata yang sudah kesekian kali ia jatuhkan kembali jatuh.
Akhir-akhir ini ia rajin sekali menangis. Sepertinya Tuhan memberikannya banyak stok air mata yang seolah tidak ada habisnya saja. Meski seharian ia mencoba bahagia, tapi ujung-ujungnya pasti akan menangis juga.
Bagaimanapun luka di hatinya masih menganga lebar, belum tertutup bahkan terobati. Mulai tertutup, tapi tiba-tiba harus terasa sakit lagi saat garam tertabur di atas lukannya.
__ADS_1
Ia jatuh, bangkit, jatuh, dan tentu saja ia akan bangkit lagi. Ia mencoba meyakinkan hatinya jika suatu saat ia pasti bisa melakukannya. Menemukan kebahagiannya. Meski susah bahkan terkesan tidak mungkin, ia akan tetap berusaha.
“Apa aku bisa hidup tanpa kalian? Aku ini udara, oksigen yang akan memberikan nafas untuk mereka. Mereka? Sepertinya mereka sudah tidak memerlukan udara dariku.. Luhan, sepertinya air dari Lien sudah cukup untuk membuatmu hidup. Ikan lebih membutuhkan air daripada udara! Yah, aku tidak perlu khawatir lagi.. Di depanku masih banyak rintangan yang lebih berat. Aku harus bisa demi masa depanku. Maaf, aku memilih menyelamatkan masa depanku daripada persahabatan kita. Aku akui aku egois, tapi setelah masalah menerpa bagai badai dalam persahabatan kita. Datang dan seolah enggan berhenti. Aku rasa aku sudah tidak memiliki cukup kemampuan untuk bertahan berada di dalamnya. Aku pergi bukan sebagai pengecut, aku pergi sebagai sahabat kalian yang baik. Aku harap suatu saat kalian akan percaya dan mengerti dengan apa yang kulakukan ini. Aku benar-benar menyayangi kalian berdua, dan ini kulakukan untuk kalian, untukku, dan untuk persahabatan kita..” Kata Sava memantapkan diri.