
"Sudah jam segini, kenapa dia belum pulang juga? Apa dia baik-baik saja?"
Kay mulai panik semenjak ia tak mendapatkan kabar Sava terhitung dari 2 jam yang lalu dari Sava terakhir mengirim pesan.
Berulang kali Kay menghubungi Sava, tapi tidak Sava angkat. Ia juga mencoba menghubungi Ohsen tapi handphone Ohsen tidak aktif. Kay yang sangat khawatir langsung mencari Sava. Ia berlari menyelusuri setiap jalan. Ia hanya bisa berharap Sava akan baik-baik saja.
"Sava, kau dimana?"
Fikirannya runyam. Ia tak seharusnya memberi saran seperti itu pada Sava, ujung-ujungnya pasti semua akan terluka.
Apakah ia menyesali saran yang ia buat untuk Sava?
Tidak!
Tidak sama sekali!
Sava sudah banyak menderita, sudah terlalu lama. Ia hanya memberikan jalan untuk Sava. Jalan yang terbaik untuk Sava ke depannya. Meski akan banyak luka di awal, tapi Sava akan bahagia di kemudian hari.
Kay percaya itu.
Untuk saat ini, ia harus segera menemukan Sava. Sava pasti sudah membuat keputusan. Ia harus menyelamatkannya.
.
.
.
Trotoar jalan tak jauh dari kompleks perumahan milik Sava dan Kay...
Entah apa yang ia fikirkan atau memang takdir dari Tuhan, langkahnya membawanya bertemu Sava. Ia melihat sepupunya itu bersimpuh lemah di trotoar jalan. Dengan cepat iapun menghampirinya.
“Sava…” Panggil Kay. Sava menoleh padanya.
“Kay…” Gumam Sava parau.
Kay kalut melihat sepupunya terlihat begitu menyedihkan.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Kay.
Mata Sava sembab. Air mata masih mengalir di antara pipi pucatnya. Sudah berapa lama Sava menangis?
“Kay, aku sudah mengatakannya.. aku sudah mengatakannya.. “
Kata Sava.
“Kau sudah berusaha yang terbaik, Va..”
“Kay, aku melukainya…”
“Sudahlah, tak apa. Ayo pulang! Aku akan mengendongmu..” Kata Kay yang langsung mengendong Sava di punggungnya.
Sava hanya menenggelamkan wajahnya di punggung Kay. Sepanjang perjalanan hanya saling berdiam. Kay tahu Sava masih saja menangis, ia merasakan punggungnya basah. Sesakit itukah rasanya? Kay hanya mencoba mengerti.
"Hiks.."
"Menangislah, Va.. Aku tidak akan melarangmu. Namun berjanjilah, setelah ini kau harus hidup dengan bangga dan bahagia."
__ADS_1
"..."
"Ada kalanya masa muda itu tak seindah sinetron tv, ada kalanya masa muda itu penuh dengan luka, tapi satu hal yang harus kau pahami, hidup itu adalah proses pembelajaran menjadi lebih baik dan lebih baik lagi."
"..."
"Jika saat ini kau terluka, maka di masa yang akan datang kau akan bahagia. Percayalah, Tuhan itu paling paham akan apa yang terbaik untukmu.."
"...."
"Jika kau merasa sendiri, Tuhan akan selalu ada untukmu dan aku, aku akan menjadi sosok yang bisa kau andalkan saat kau butuh..."
"hm.."
Sava sudah melakukan apa yang Sava yakini terbaik untuk dirinya dan untuk orang-orang yang ia sayangi. Ini adalah keputusan paling baik di antara pilihan yang lain.
Kay mengendong Sava sampai rumah. Untung saja jarak ke rumah mereka tidaklah jauh. Sava tidak berniat untuk tidur. Matanya enggan menutup.
“Apa reaksi Ohsen saat kau menolaknya?” Tanya Kay sambil menyodorkan teh hangat pada Sava. Sava menerimanya.
“Dia tidak mau bertemu denganku lagi, Kay..” Jawab Sava tersenyum miris.
“Kekanak-kanakan sekali sih dia…”
“Itu wajar Kay, aku sudah jahat padanya… aku sudah melukai perasaanya…”
“Itu tidak akan lama. Percayalah… aku mengenalnya sangat baik. I know him so well… “ Hibur Kay.
“Aku berharap begitu…”
“Va, kau sudah membuat keputusan. Kau harus siap menerima akibat dari keputusanmu.. meski banyak lukanya..”
“Aku sudah siap, Kay. Sudah dari dulu aku mempersiapkan hatiku untuk ini. Aku tahu, dari awalnya memang sudah salah… Aku salah menyukai seseorang…”
“Jangan menyalahkan perasaanmu! Jatuh cinta itu bukan kesalahan… Ngomong-ngomong apa kau berencana akan mengatakan isi hatimu pada Luhan?” Tanya Kay.
“Aku tidak tahu, Kay.. Yang baru saja sangat menyakitkan… Aku tidak yakin apa aku bisa menjalaninya. Setidaknya aku tidak membuat Lien kecewa, sampai sekarang ia masih marah padaku…” Sava kembali bersedih.
“Aku yakin Lien pasti akan mengerti. Kau sudah berusaha keras demi persahabatanmu.. ” Kay menepuk-nepuk bahu Sava.
“Kay, bagaimana keadaan Lien dan Luhan? Apa mereka baik-baik saja? Luhan makan dengan baik, kan?” Tanya Sava.
“Kau masih mengkhawatirkan mereka setelah semua ini?" Kata Kay.
"Iya.. mereka masih sahabatku.."
"Va, bisakah kau mengkhawatirkan dirimu sendiri? Saat ini saja… Luhan mendiamkanmu, bahkan akupun juga kena imbasnya. Lien bahkan salah faham denganmu… Kau sadarlah, kau sudah sering terluka…”
“…” Sava memilih diam.
Kalau sudah begini Kay akan menjadi sangat cerewet.
Tapi ia hanya ingin tahu bagaimana kabar Luhan dan Lien.
Kay menghela nafasnya berat. “Yang aku lihat tadi di sekolah mereka baik-baik saja. Luhan masih sibuk latihan bola, sementara Lien juga terlihat baik meski dia tak sepatah katapun menyapaku… Aku bagai patung baginya..” Kay tetap saja menjawab pertanyaan Sava. Ia hanya ingin membuat Sava tenang dan lega.
"Begitu ya... Syukurlah.."
__ADS_1
“Sekarang fokuslah pada dirimu, aku akan segera membereskan masalahmu. Tadi aku bertemu dengan Dio, sepertinya sebentar lagi kamu bisa masuk sekolah lagi. Berdo’alah. Itu yang terpenting saat ini…” Lanjut Kay.
“Terima kasih banyak, Kay….” Sava memeluk Kay.
"...." Kay hanya membalas pelukan Sava.
“Sampaikan terima kasihku ke Dio…” Lanjutnya.
“Sama-sama… Akan kusampaikan…”
.
.
.
Di suasana yang sama, waktu yang sama, di tempat yang berbeda, Ohsen pergi ke rumah Luhan.
Ohsen terlihat sangat buruk.
“Ohsen, kenapa kau? Ada apa tengah malam begini kau datang dengan muka lusuh seperti itu?” Tanya Luhan.
“Sekalinya aku jatuh cinta pada seorang perempuan, aku langsung ditolak.. Sava menolakku..” Jawab Ohsen parau.
Luhan sedikit kaget mendengar jawaban Ohsen.
Ditolak?
“Jadi Ohsen menyatakan cinta pada Sava? Sava menolak Ohsen?” Batin Luhan bertanya. “Apa itu karena aku?” Tanya Luhan hati-hati.
Ohsen masih tidak bisa mengalahkan keegoisannya.
“Bukan karenamu….”
Luhan terdiam.
"..."
“Berjanjilah untuk persahabatan kita, Han… Apapun yang terjadi jangan pernah kau berpacaran dengan Sava. Dia perempuan yang sangat jahat…” Kata Ohsen.
Jangan berpacaran dengan Sava?
Sava adalah perempuan yang sangat jahat?
Luhan sejenak berfikir. Apapun yang ia katakan sudah memang semestinya.
Sejak awal ia memang sudah memiliki jawabannya sendiri.
“Ya.” Kata Luhan mantap.
“Kau akan baik-baik saja?” Tanya Ohsen.
“Tentu.. Aku dan Sava hanya bersahabat..”
“Aku tahu itu..”
Ohsen menunjukkan kepalan tangan kanannya. Luhan menatap kepalan tangan Ohsen. Iapun tersenyum, lalu membalas kepalan tangan Ohsen. Toss janji antara kedua laki-laki.
__ADS_1