
Apakah yang paling mengesankan jika memasuki usia sekolah menengah atas?
Usia remaja yang penuh dengan tantangan yang menggebu-gebu. Usia dimana remaja akan banyak menemui persimpangan jalan kehidupan yang akan menentukan arah bagaimana karakter akan terbentuk.
Salah sedikit langkah mungkin saja akan mengubah arah hidup nantinya. Orang bilang, gagal tidaknya seorang remaja di masa depan bisa dilihat dengan usahanya di masa remaja.
Ya memang tidak harus seperti itu, manusia ada penyesalan, tapi masih ada jalan untuk memperbaikinya.
Usia remaja identic dengan rasa penasaran yang tinggi yang beriringan dengan harsat ingin coba-coba. Masa yang penuh dengan pemberontakan dengan emosi labil yang sering berubah tidak menentu.
Lupakan sejenak dengan kesan ‘menakutan’ masa remaja di sekolah menengah atas. Sesungguhnya masa sekolah, khususnya masa sekolah menengah atas adalah masa\-masa yang sangat menyenangkan. Masa dimana remaja akan banyak membuat kenangan dalam hidupnya.
Membuat masalah hingga dihukum guru BP, mencontek saat ujian atau ulangan kelas, membolos sekolah, mungkin sata berpura-pura pingsan saat upacara. Bercanda tawa dengan teman sebaya, membuat masalah, ataupun mulai belajar mengenal cinta.
Masa sekolah memanglah unik karena akan banyak ditemukan rasa. Rasa ingin menang, iri, kesal, bahagia yang polos, atau mungkin rasa cemburu karena cinta monyet? Masa remaja memang berjuta rasanya.
“HOT NEWS! Ada dua siswa baru di sekolah kita. Namanya Kay dan Ohsen. Mencuri dengar dari anak-anak sekolah, mereka berdua siswa pindahan dari London. Bukankah itu luar biasa Sekolah kita disambangi siswa bule?”
Siswi-siswi sekolah langsung gempar.
“Benarkah? Wow, ada bule di sekolah kita. Lalu, masuk di kelas berapa mereka?” Kata Raina Fitria. Perempuan rupawan anggota cheerleaders sekolah. Dia cukup terkenal di kalangan laki-laki karena dia selalu berpenampilan cukup sexy dengan rok sekolah di atas lutut. Saat ini ia duduk di kelas XII IPA-3, sekelas dengan Enila.
“Di kelas XI IPA-2, salah satunya ternyata sahabat lama Excel Leohan, pangeran tampan sekolah kita.” Kata Amel. Dia adalah fangirls-nya Luhan. Dia sangat menyukai Luhan. Bukan, lebih tetapnya terobsesi. Ia mengikuti kemanapun Luhan masuk sekolah. Dia dahulu adalah siswi pindahan. Ia pindah ke sekolah ini karena mengikuti Luhan. Padahal dia itu kakak kelas Luhan. Dan secara diam-diam mengoleksi apapun tentang Luhan. Tidak ada yang begitu tahu akan obsesi Amel ini.
“Benar, dan katanya juga ada hubungan kekeluargaan dengan Excel dan Sava...” Sambung Aina Elizabeth. Perempuan tajir yang masuk anggota tim majalah sekolah sekolah. Di sini, Aina adalah adik kandung dari Enila. Dia duduk di kelas XI IPS 1. Satu sekolahan sudah tahu kalau ia menyukai Dio sejak lama. Bukan rahasia umum akan hal itu. Mereka itu sahabat sejak kecil.
“Wah, beruntung sekali anak-anak kelas XI IPA2 karena dua pangeran baru dan pangeran sepak bola ada disana. Apalagi dua perempuan yang banyak tingkah itu. Sava dan Lien. Kenapa mereka selalu mendekati pangeran-pangeran itu, terutama Excel? Huh, bukankah itu sangat menjengkelkan? ” Gerutu Fitria.
“Kau benar, Fitria. Kali ini pasti mereka juga akan mendekati Ohsen dan Kay. Baiklah, aku tidak dapat memungkiri fakta jika Kay itu bersaudara dengan Sava. Tapi tetap saja tidak rela. Menyebalkan...” Kata Amel kesal.
__ADS_1
“Hey girls, kalian terlalu khawatir. Jangan terlalu berlebihan akan hal itu! Tiada yang bisa mengalahkan kita di sekolah ini. Kalian tahu papaku adalah pemilik sekolah ini. Semua mungkin bagiku, apapun bisa dengan mudah kulakukan, termasuk menyingkirkan dua parasit itu dari depan mata kita.” Kata Enila.
“Dua parasite? Terkesan kasar, tapi cocok sekali. Enila, aku mendukungmu!” Kata Fitria.
“Memang benar kau, Enila, Sava dan Lien itu parasit di sekolah kita. Sangat pantas kalau mereka disingkirkan dari sekolah ini. Aku akan sangat senang jika hal itu benar terjadi.” Lanjut Amel.
“Setuju... Aku tak akan pernah rela jika Dio dekat-dekat dengan Sava. Aku tidak memiliki dendam pada Lien, aku hanya membenci Sava yang selalu saja mendapatkan perhatian khusus dari Dio. Tunggu, tapi, bukankah Lien itu adik sepupunya kak Krisna? Kak Enila, kau sebaiknya berhati-hati dalam bertindak!” Kata Aina memperingatkan.
“Walau adik kandungnyapun aku tak terpengaruh. Memuakkan sekali kalau aku harus mengakuinya sebagai adik sepupu kekasihku. Lagipula, aku tahu kalau Krisna pasti akan membelaku daripada adikknya yang merasa hebat itu..” Kata Enila percaya diri.
.
.
.
Hari pertama masuk sekolah, Kay dan Ohsen sudah menjadi hot news di sekolah. Tentu saja karena mereka tampan dan pindahan dari London. Apalagi Kay adalah saudara Sava dan Ohsen saudara Luhan.
Kay dan Ohsen hanya memamerkan senyum rendah hati mereka. Kadang di hati bingung juga melihat tingkah siswi sekolah baru mereka. Membuat organisasi fans?
Ayolah, Kay dan Ohsen tahu ini bukanlah dunia drama Korea yang ada di televise-televisi. Mencoba menolak, toh sama saja pada akhirnya, hal itu nyatanya terjadi juga pada mereka berdua.
“Wah, tak kusangka di London Ohsen itu menjadi sahabatmu..” Kata Luhan. Kay dan Ohsen hanya tersenyum.
“Dunia memang sempit, seperti kata orang.” Kata Sava.
“Apakah itu artinya persahabatan kita bertambah dua anggota? Ini pasti akan menyenangkan. Semakin banyak teman semakin mengasyikkan. Ngomong-ngomong, Kay tadi kau bilang temanmu tidak bisa berbahasa Indonesia, tapi kenapa tadi di kelas ia mahir sekali bicaranya?” Kata Lien.
“Aku saja baru tahu kalau Ohsen bisa berbahasa Indonesia. Di London ia tak pernah sekalipun berbahasa Indonesia kalau berbicara. Bahkan denganku saja ia berbicara layaknya orang Inggris padahal di darahnya mengalir darah orang Indonesia juga. Harusnya dia harus berbicara bahasa Indonesia denganku, aku ini orang Indonesia!” Kata Kay.
__ADS_1
Ohsen tersenyum menanggapi penuturan Kay. Ada rasa bersalah juga karena ia tidak memberitahu Kay, sahabatnya yang konyol itu.
Sedangkab Lien tak pernah mengalihkan pandangannya dari Ohsen. Ia menarik bibirnya untuk tersenyum saat melihat Ohsen.
“Kalau dia tersenyum sangat manis..” Batin Lien.
“Maaf membuatmu kesal Kay. Aku selalu memakai bahasa Indonesia jika sedang berbicara dengan orang tuaku, tapi ika sedang ada teman-temanku aku akan menggantinya dengan bahasa Inggris.” Jawab Ohsen.
“Dasar kau ini...”
“Oh iya, Jika kalian sudah masuk ke sekolah ini maka kalian harus mengikuti ekskul. Itu wajib! Dan aku merekomendasikan kalian untuk masuk klub jurnalis atau klub seni. Aku tahu kalian tidak begitu suka dengan sepak bola... Akan sangat tidak berguna jika mengajak kalian masuk ke klub sepak bola...” Kata Luhan. Yang lain hanya tertawa.
“Lien, kau masuk ekskul apa?” Tanya Kay.
“Aku jurnalis..” Jawab Lien.
“Dia ketuanya...” Kata Sava.
“Hebat.. Kalau begitu aku masuk klub jurnalis. Kau apa Ohsen?” Kata Kay.
“Dia pasti masuk klub seni. Dia sangat menyukai musik..” Potong Luhan.
“Iya. Aku masuk klub seni saja.” Jawab Ohsen.
“Kalau begitu selamat datang di klub seni. Aku adalah ketua klub seni..” Kata Sava sambil tersenyum.
Mereka berbagi banyak cerita. Apalagi kalau sudah mendengar cerita konyol dari Luhan. Mulut terasa sulit untuk menahan tawa. Menurut Sava dan Lien, Luhan itu memiliki selera humor yang aneh. Sangat kontras dengan saudaranya, Ohsen itu berbeda dari Luhan, meski seumuran tapi Ohsen sedikit lebih dewasa.
Ohsen tahu betul bagaimana ia harus menempatkan diri. Kay, ia tak hentinya meledek Lien dengan ledekan yang menurut Sava itu garing. Sava hanya tersenyum maklum dengan tingkah konyol Luhan. Sedangkan Lien, dia sering menikmati senyum manis Ohsen.
__ADS_1
Ohsen serasa tak asing untuknya.