
Dio memainkan sebuah lagu dengan pianonya. Entah apa yang membuat Sava berani menyumbangkan suaranya. Ia bernyanyi lagu Listen To Your Herat milik Roxette dan Dio mengiringinya dengan piano.
Karena terlalu meresapi lagunya atau apa, Sava menangis di atas pangung. Meski tidak mengubah kualitas suaranya, tapi tak bisa bohong kalau ia tengah meneteskan air mata, dan Dio menyadari akan hal itu.
Usai lagu selesai, sorai meriah dari tepukan semua tamu reuni. Banyak pujian yang Sava dan Dio berikan. Banyak yang tidak menyangka jika seorang Sava bisa menyanyi. Apalagi Sava memiliki suara yang indah meski pada dasarnya lagu yang Sava nyanyikan adalah bergenre rock mellow.
Acara reuni dilanjutkan dengan acara makan malam.
“Tadi itu luar biasa…” Kata seseorang.
“Kau belajar darimana? Aku tidak pernah mendengarmu bernyanyi?” Tanya Kay yang duduk di sampan kiri Sava.
“Dio yang mengajariku…” Jawab Sava tersenyum pada Dio yang duduk di samping kanannya.
Dio hanya membalas dengan senyumannya.
“Ternyata kau bisa bersuara merdu juga. Sangat berbeda dengan suara cemprengmu saat mengomel, itu menyakitkan di telinga…” Kata Kay meledek.
Membuat kuping Sava terasa sangat panas.
“Kay!! Berhenti menghinaku!!” Geram Sava.
Kay hanya meringis ria.
Tiada lebih seru dari menggoda sepupunya itu.
Meja yang digunakan untuk makan malam bentuknya memanjang. Sava, Dio, dan Kay duduk dalam satu barisan yang sama dengan Sava di tengah Kay dan Dio.
Sementara tepat di depan mereka, hanya terpisah meja makan, Lien duduk diapit Ohsen dan Luhan.
Mereka semua berada dalam satu meja.
Di tengah meja nampak berbagai jenis makananan ringan, kue, dan minuman. Ada juga makanan berat yang cukup menggugah selera.
.
.
.
Hanya obrolan ringan menghiasi acara makan malam itu. Kay dan Lien masih saja berisik seperti dulu. Ohsen dan Dio saling bertukar cerita music. Sementara Luhan dan Sava memilih diam dengan fikirannya masing-masing.
Di tengah acara makan malam mereka, Dio berdiri dan meminta perhatian semua tamu reuni. Ia meminta sebuah mikrofon pada salah satu panitia acara. Ia ingin memberikan suatu berita.
“Cek..Cek..”
Semua mata tertuju pada Dio.
“Terima kasih semua sudah datang ke acara reuni SMA kita.." Kata Dio.
__ADS_1
"YEY.."
"Langsung saja… Sudah lama aku menginginkan wanita ini, sudah berbagai cara aku lakukan untuk menaklukan hatinya.. Wanita ini yang membuatku bisa menjadi aku yang sekarang ini…” Kata Dio.
"...."
Semua terdiam memberikan Dio kesempatan untuk berbicara.
"Dia selalu ada saat aku membutuhkannya.."
"..."
"Dia akan bilang tidak jika aku pergi ke pantai dengan clana boxer.. Dia akan memarahiku setelahnya.. Dan dalam 2 hari, dia baru mengajakku bicara lagi.."
"Hahahah" Semua tertawa. Dio bisa melucu juga rupanya.
"Dia suka memasak sendiri, mencuci piringnya sendiri, dan waktu makan, dia akan menggambil tisu terlebih dahulu untuk membersihkan sendoknya. Meski sudah aku bersihkan, dia akan melakukannya lagi..."
"Haha.. Apa Sava seperti itu?" Kata Lien. Ia tak begitu menyadari kebiasaan Sava. Lien yakin, cinta Dio tak kalah dari cinta Luhan.
"Wanita ini... Dia mengajariku bagaimana aku harus berjuang dan tetap bertahan meski dalam titik terendah dalam hidupku..."
"..."
Dio meraih tangan Sava untuk mengisyaratkan Sava agar berdiri. Sava hanya tersenyum kikuk. Sava masih sedikit kaget karena ia baru sadar dari lamunannya.
“Dio aku sangat malu..” Bisik Sava pada telinga Dio.
Prok.. prok.. prok.. prok..
Mereka memberi tepuk tangan yang meriah kepada pasangan yang akan menikah ini.
“Jadi kapan kalian akan menikah?” Tanya seseorang.
“Kami akan menikah akhir bulan ini…” Jawab Sava malu.
“Wahhh… selamat ya…”
“Cie.. cie…”
“Ssuuiittt…sssuuuiiit…”
“Sweet kissnya mana?”
“Dio, be manly…!”
Dio yang sangat malu hanya mengecup pelan kening Sava. Terlihat kalau Dio benar-benar sangat menyayangi Sava. Sava hanya kembali tersenyum kikuk. Pipinya pasti sangat merah. Ia tidak menyangka kalau Dio akan menciumnya di depan umum.
Dua pasangan yang sama-sama pemalu ini terlihat begitu manis dan membuat banyak orang iri. Sava adalah designer ternama. Terakhir prestasinya adalah ikut andil dalam penyediaan busana malam di ajak ratu kecantikan dunia. Sedangkan Dio, dia adalah musisi, pianis, dan juga pencipta lagu terkenal. Lagu miliknya sudah banyak dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi top dunia pula.
__ADS_1
Sama-sama memiliki karir yang cemerlang. Sama-sama dari keluarga terpandang. Sama-sama dianugerahi wajah yang indah oleh Tuhan. Mereka berdua adalah representasi dari pasangan hot of the year.
Banyak media nasional yang membahas hubungan mereka. Meski nampaknya Sava dan Dio tidak begitu terbuka pada media dan wartawan. Mereka berdua sering menolak acara talk show ataupun wawancara para wartawan.
"Maaf tiba-tiba mencium keningmu, kau marah? Merasa tidak nyaman?" Tanya Dio.
Jujur saja. Ini pertama kalinya ia mencium Sava. Sebelumnya tidak pernah karena dia menginginkan hubungan yang sehat. Dan ciuman bagi dia adalah hal yang sakral.
Diopun juga tidak ingin memaksa Sava. Sepertinya Sava juga tidak tertarik akan hal-hal seperti ini.
"Tidak... aku hanya kaget saja karena kau tiba-tiba menciumku.." Jawab Sava.
Sava lalu membenarkan dasi kupu-kupu milik Dio yang tidak rapi.
"Terima kasih.. Terima kasih sudah mau hidup bersamaku.."
"Aku yang harusnya berterima kasih.. Terima kasih sudah mau mencintaiku.. Terima kasih sudah meyelamatkan hidupku..."
"Awww..."
"Woyy... stop menunjukkan kemesraan kalian!"
"Kasihani para jomblowan dan jomblowati !"
Semua tamu reuni hanya bertepuk tangan lagi untuk menyambut kebahagiaan Sava dan Dio.
Mereka berharap jika Sava dan Dio akan menjalani hidup yang selalu bahagia setelah menikah nanti.
"Jangan lupa undangannya.."
"Undang kami juga ya.. kami pasti datang kok.."
"Kalian wajib mengundang kami semua!!"
Sava dan Dio memamerkan senyum bahagia mereka. Terima kasih untuk doa yang baik.
.
.
.
Aina meneteskan air mata. Meski ia sangat sedih, tapi ia turut bahagia untuk sahabat kecilnya, Dio.
Luhan hanya menatap diam dua insan yang tengah bahagia itu. Ia meneguk habis minumannya dalam sekali minum. Ia lalu pergi meninggalkan acara reuni itu. Sava menyadari kepergian Luhan, tapi ia hanya memandangnya saja.
Sava tak tahu harus bersikap bagaimana. Saat ia memutuskan untuk meninggalkan Luhan 10 tahun yang lalu, saat itu pula ia sudah bertekat untuk mendapatkan kisah dan hidup yang baru.
Ia sudah bersama Dio sekarang. Dio sangat mencintainya. Dio akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia. Dio sangat berjasa dalam hidupnya 10 tahun belakangan ini. Dio adalah orang yang sudah menawarinya cinta dan kebahagiaan.
__ADS_1
Sava merasa beruntung sudah memiliki Dio dalam hidupnya.