My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Berubah


__ADS_3

Sava dan Dio menceritakan rencana mereka pindah ke Italy pada Kay. Bahkan Kay sangat kaget saat mendengar Sava akan berusaha menerima hadirnya sosok Dio di hatinya.


Bagi Kay, apapun tak masalah yang penting Sava bisa meraih kebahagian yang selama ini sulit ia dapatkan. Kay berharap Sava akan mendapatkan kebahagiaan itu dari Dio. Kay tahu pasti, Dio pasti akan melakukan yang terbaik. Kay mengerti perasaan Dio pada Sava. Itu mengapa Kay bisa lega jika Sava berada di sisi Dio.


Menurut Kay, Dio itu sosok yang jauh lebih baik daripada Luhan. Dio lebih bisa melindungi Sava.


Mendengar keputusan Sava dan Dio tentang rencana pindah sekolah ke Italy membuat Kay ingin mengikuti jejak Sava dan Dio. Bagi Kay, rasanya sudah tidak menarik lagi tanpa Sava. Toh cinta masa kecilnya tidak akan pernah tercapai. Sedangkan sahabat bulenya, Ohsen dia juga berniat akan kembali ke London.


Jadi banyak factor yang mendorongnya ingin pindah. Dan Italy adalah tujuannya. Kay ingin menjaga Sava. Naluri alami dari seorang kakak sepupu. Bagaimanapun ia tidak bisa mempercayakan Sava 100% pada Dio.


.


.


.


Rencana kepindahan Sava dan Dio tidak ada seorangpun yang tahu. Bahkan Lien dan Luhan-pun tidak mengetahuinya. Sava sendiri yang tidak ingin semua orang tahu akan kepindahannya.


Sava hanya ingin pergi dengan tenang. Bagi Sava keputusannya pindah sekolah adalah yang terbaik. Ia tidak ingin mengecewakan ayah tercintanya. Ia ingin bersatu dengan Ibunya lagi. Ia hanya ingin menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya.


Tapi, rasanya juga seperti memanfaatkan keadaan untuk pergi menjauh dari hal yang membuatnya tak ingin tinggal. Melarikan diri? Suatu kesimpulan yang mudah ditebak.


Setelah memberitahu sekolah dan mendapatkan surat keterangan pindah sekolah, Sava dan Kay terlihat cukup senang karena terasa mudah mengurus kepindahan.


Dio sudah lebih dahulu mengurus surat kepindahannya. Hari itu juga, Kay, Sava, dan Dio mulai mengundurkan diri secara resmi dari ekstra kurikuler yang mereka ambil. Tentunya bukan dengan alasan kepindahan mereka. Mereka hanya memberitahu kalau sudah waktunya generasi baru yang memimpin klub. Beberapa ada yang merasa kehilangan, dan beberapa yang justru terlihat senang.


Hari itu, hari minus tiga sebelum keberangkatan mereka ke Italy. Surat kepindahan mereka baru berlaku dua hari sebelum mereka pindah. Jadi mereka besok masih boleh datang ke sekolah untuk sekedar berpamitan. Meski hal itu tidak membuat mereka tertarik melakukannya.


“Bagaimana? Sebentar lagi kita akan meninggalkan semua ini. Sekolah ini… Suasananya.. Teman-teman kita… “ Kata Kay.


Sava tersenyum dan memutar pandangannya ke segala penjuru sekolah.


“Kau benar, Kay… Haah.. Italy ya?” Kata Sava terdengar sedikit tidak begitu yakin.


“Kalau belum siap, kau masih bisa mengubah keputusanmu. Toh, tidak akan ada yang akan menggugatmu..” Kata Kay enteng meski sebenarnya ia mencoba menasehati.


“Haisshh..” Sava memukul pelan lengan Kay. “Apa yang ada di otakmu, heh? Menggugat? Kau fikir ini pelanggaran hukum? Astaga… Tenang saja Kay, aku sudah memikirkannya beratus-ratus kali lipat! Dan aku sudah yakin seyakin-yakinnya! Aku akan pindah ke Italy…”

__ADS_1


“Lebay..”


“Biar..”


“Hm.. Kau sudah memberitahu mereka?” Kay membuka inti masalah.


"..." Sava menggeleng.


“Bagaimanapun kau harus memberitahu mereka, Va. Mereka sahabatmu…” Lanjut Kay.


“Sudahlah, Kay! Kepergianku, kepindahanku itu bukan hal penting yang harus diberitahukan semua orang! Jadi, tidak perlu memberitahu siapapun…” Jawab Sava sakarstik.


“Setidaknya kau harus memberitahu mereka…”


“Kay, aku tahu maksudmu… Tapi Kay, kepergianku ini justru akan membuat semuanya lebih baik. Semua akan lebih mudah kalau aku tidak ada…” Sava terlihat murung.


Sepupunya itu hobinya menyalahkan diri sendiri dan menyakiti diri sendiri. Sudah begitu, lebih memilih menanggung lukanya sendiri.


“Baiklah.. baiklah… Jangan bersedih hati! Jangan menekuk mukamu terus! Kau terlihat sangat jelek…” Kata Kay bercanda.


Sava manyun.... "Apaan coba? Kau ini..."


“Apa itu, Kay?” Sava penasaran.


“Bubbletea..”


“Ah.. Benar juga. Apa di Italy ada minuman seperti itu? Aku pasti akan benar-benar merindukannya. Kalau begitu aku akan keliling Italy untuk mencarinya… Kau harus menemaniku!”


"Ogah!"


"Masih ada Dio, dia pasti bersedia dengan senang hati menemaniku keliling Italy mencari bubbletea!"


“Ya ampun..” Kay hanya geleng-geleng tidak mengerti.


Sepupunya kekanak-kanakan sekali.


.

__ADS_1


.


.


Seperti biasa, di dalam sekolah Sava hanya bersikap biasa. Malah cenderung lebih terlihat bahagia dari sebelumnya. Sebelumnya ia terlihat sangat buruk, ia suka berdiam diri semenjak kasus foto yang dialaminya.


Tapi hari ini sangat berbeda dari sebelumnya. Rona ceria dan senyuman manis selalu ia perlihatkan. Ia menanggapi semua teman-teman sekolahnya dengan sangat ramah. Ia tidak marah atau mempermasalahkan siswi yang mengerjainya. Bahkan yang mengejeknya saja ia balas dengan senyuman manisnya. Hal itu membuat siswi yang mengerjainya merasa aneh, malah cenderung merasa bersalah.


“Sava, kau sudah melakukan yang terbaik! Ingat, kau harus meninggalkan kesan yang baik sebelum kau pergi…!” Kata Sava pada dirinya sendiri.


Di dalam kelas, Sava menjawab semua pertanyaan yang guru berikan dengan benar. Ia kembali menunjukkan kwalitasnya sebagai siswi teladan setelah beberapa waktu ia terpuruk dan mengabaikan sekolahnya.


Sava adalah siswi unggulan karena beasiswa murni kemampuan otaknya. Ia tidak bisa mengabaikan statusnya di sekolah.


Setelah kasus foto itu, dan perubahan sikap Lien dan Luhan terhadapnya, Sava tidak hanya berubah secara sifat, tapi nilai-nilai pelajaranpun juga menurun. Sangat jelas jika ia tidak bisa berfikir dengan baik apabila ia terjebak dalam masalah.


Tapi sekarang, ia sudah bertekat untuk mengubah dirinya. Ia tidak ingin berlama-lama hidup dalam keterpurukan. Ia harus bangkit. Ia harus menggapai semua cita-citanya.


Tentunya ia juga ingin meninggalkan sekolahnya dengan cara yang baik.


Perubahan sifat Sava membuat Luhan dan Lien cukup merasa aneh. Ohsen yang duduk di sebelahnya-pun juga merasa begitu. Tapi Ohsen mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ego masih menguasai fikirannya.


Apa yang membuat Sava seperti itu?


Apa yang terjaadi padanya?


Apa dia kerasukkan?


Apa dia sudah move on?


Banyak pertanyaan muncul di benak mereka. Meski Sava menunjukkan perubahan sifatnya, tapi ia tidak menunjukkannya di depan Lien dan Luhan secara langsung.


Sava akan menunjukkan kalau Lien dan Luhan menyapanya, tapi ternyata kenyataan tidak sesuai harapannya. Lien dan Luhan tetap bersikap sama padanya. Mereka tetap diam.


Kecewa?


Tentu saja pasti kecewa. Sangat malahan.

__ADS_1


Di saat terakhirnya ia tidak bisa berbagi pada kedua sahabatnya. Setidaknya ia masih menganggap mereka sahabat. Ya, sahabat. Meski kadang hatinya bertanya, apa mereka masih menganggapnya sahabat?


__ADS_2