My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Memendam Rasa


__ADS_3

Sekolah memutuskan hari ini untuk pulang lebih awal karena ada rapat mendadak.


Sava dan Kay pulang bersama menggunakan motor matik milik Sava. Kay meminta Sava menemaninya ke suatu tempat.


Luhan pulang dengan Lien dengan mengendarai mobil Luhan. Sedangkan Ohsen pulang sendiri, ia dijemput sopir pribadinya.


.


.


.


Di dalam mobil Luhan, Lien hanya terdiam. Lien berkutik serius dengan Hp\-nya. Terkadang ia tersenyum girang, lalu diam lagi. Hal itu membuat Luhan gerah.


Luhan adalah tipe laki-laki yang paling sebal kalau dia diabaikan apa lagi oleh seorang perempuan. Di hidupnya, hanya ada dua perempuan yang bisa mengabaikannya. Sava dan Lien.


Apakah sesulit itu ia menaklukan dua perempuan sahabatnya?


Kalau dengan perempuan lain, Luhan cuek, justru akan membuat perempuan-perempuan semakin hyper active padanya. Bagi para fangirls-nya, kecuekan Luhan itu sangat menggoda dan terlihat tampan. Luhan tidak habis fikir bagaimana fangirls-nya bisa mendapatkan pemikiran konyol seperti itu.


Namun jika itu Sava atau Lien yang mencuekinya, ia balas cuek, justru ia akan semakin dicuekin mereka berdua.


Poor Luhan.


.


.


.


“Apakah ini cocok?” Tanya Kay.


“Hn. Itu terlihat pas dengan style-mu. Aku menyukainya..” Jawab Sava yang menyetujui pakaian yang Kay pilih. “Belilah sekalian yang banyak! Lagian mau menetap di Indonesia harusnya kau bawa baju banyak. Itu tidak akan menyulitanmu saat kau butuh pakaian. Kau itu bukan mengungsi, tapi akan tinggal!” Tambahnya.


“Iya maaf. Kurasa membawa banyak pakaian akan merepotkanku di bandara. Hehe. Tadinya berencana berlibur, tapi rasanya lebih nyaman kalau di rumah sendiri, Indonesia. Baiklah, bantu aku memilihnya!”


Sava menangguk pelan dan mulai memilih pakaian untuk Kay. Saat sedang mencari pakaian yang cocok, Dio datang mengagetkannya.


“Dio? Kau di sini? Apakah kau sedang mencari sesuatu?” Tanya Sava.


“Mencari tuxedo untuk konser piano besok malam.” Jawab Dio.


“Kau ini masih muda, tapi bakatmu luar biasa. Menjadi pianis muda terkenal pastilah tidak mudah. Butuh usaha yang keras. Aku bangga menjadi sahabat orang hebat seperti dirimu.” Kata Sava.


Dio tersenyum ringan seperti biasanya. Ia senang jika Sava merasa seperti mengenai dirinya. Berarti ia tidak mengecewakan menjadi teman Sava, kan?

__ADS_1


“Apa kau sudah mendapatkannya?” Lanjut Sava.


Dio menggeleng. “Apakah kau memiliki rekomendasi untukku? Sepertinya kau punya selera bagus di fashion? Aku sering melihat hasil gambar design baju di balik buku catatan musikmu..” Kata Dio.


Sava meringis tidak jelas karena ketahuan sering tidak fokus belajar musik, tetapi malah sering menggambar design baju di balik buku catatan musiknya.


“Ahh, kau ini. Aku hanya iseng saja menggambar design baju.. Baiklah, aku sudah memutuskan untuk membantumu, tunggu sebentar!”


Sava mulai memilah-milah dengan serius. Mencari tuxedo yang sesuai dengan Dio.


Saat ia sedang sibuk memilih-milih tuxedo, Dio mengambil foto Sava. Sava tak menyadarinya, tapi Kay melihatnya. Kay hanya diam saja. Tapi otak Kay bekerja keras menangkap maksud terselubung dari Dio. Kay hanya perlu memastikannya saja.


Tak butuh waktu yang lama, tuxedo warna putih elegan pilihan Sava sudah ada di tangan.


“Tuxedo ini sepertinya cukup cocok denganmu. Cobalah!” Kata Sava menunjukkan tuxedo hasil pilihannya.


“Tak perlu. Aku yakin ini pasti akan cocok untukku. Aku tidak pernah meragukanmu. Terima kasih banyak, Sava sudah meluangkan waktu untuk membantuku. Aku akan langsung ke kasir. Sampai jumpa besok di sekolah..” Kata Dio yang langsung pergi.


“Dio.. Hei!! Aishhh... Anak itu, benar-benar. Kadang akupun kesulitan memahami tingkah lakunya.” Desah Sava pasrah.


Kay datang menghampiri.


“Apakah kau akan menyerahkan perasaanmu padanya? Ku lihat dia cukup baik..” Kata Kay sambil memandang Dio yang berjalan meninggalkan tempat itu.


“Hah, kau ini apa-apaan? Tidak usah mengada-ada, Kay! Hilangkan pemikiran konyolmu itu! Sudahlah, aku malas bicara masalah perasaan. Seperti gosip yang tiada habisnya saja..”


“Sejak kapan kau menjadi cerewet seperti itu? Seperti bebek saja...”


“Aishhh!!! Bebek? Kau ini...”


“Hehe...” Sava tersenyum kecut.


“Aku tahu, kau akan mencari yang terbaik. Akupun percaya jika kau akan mengambil langkah yang tepat untuk selanjutnya. Aku tak mempermasalahkannya asal langkahmu itu menuntunmu ke arah kebahagiaan.” Kay menepuk pundak Sava, ia mencoba mengerti dan akhirnya mengajak Sava pulang.


Apakah manusia biasa bisa bertahan dengan harapan yang begitu tinggi?


Harapan yang seakan-akan terlalu jauh untuk dikejar. Semakin dikejar, semakin jauh harapan itu. Tak hanya itu, bahkan semakin banyak halangan yang membuatnya semakin sulit untuk dicapai. Apakah hati ini bisa melepaskan harapan yang sudah lama diinginkan saat ada harapan lain yang mudah dicapai bersinar terang di depan mata? Hanya hati dan pikiran yang logis yang mampu menentukan pilihannya.


Cobalah berfikir jernih dan dengarkan kata hati, saat itu pasti akan mendapatkan jawabannya.


Berbicara mengenai harapan memang tidak ada habisnya. Memerlukan banyak kata untuk mendiskripsikannya.


Pernahkah mengharapkan sesuatu tapi sulit digapai?


Jawabannya, banyak!

__ADS_1


Harapan pasti memerlukan perjuangan dan pengorbanan untuk menggapainya. Apabila harapan itu dari hati dan ikhlas untuk menggapainya, bukan hal yang tidak mungkin untuk menggapainya.


Hidup itu harus punya harapan, asa, mimpi, maupun cita-cita. Karena harapan, asa, mimpi, atapun cita-cita akan menuntun ke jalan hidup yang lebih bermakna.


Bukankah itu merupakan sebuah tujuan hidup?


Seperti kata Bondan Prakoso, hidup berawal dari mimpi.


.


.


.


“Apa yang harus aku lakukan? Jika aku terlalu lama memendamnya aku akan semakin terluka. Terlalu lama seperti ini membuatku menderita.” Batin Luhan frustasi.


Ia bahkan mengacak-acak rambutnya.


“Bagaimana kalau aku mencoba mengirimnya pesan?.. Hmm, mungkin saja bisa. Lebih baik mencoba daripada menyesal karena tidak pernah melakukannya. Jangan sampai mati penasaran karena tidak pernah sekalipun berani mencoba! Apapun jawabannya itu adalah hasil dari rasa penasaranku. Luhan pangeran playboy, mari beraksi! Percayalah semua akan baik-baik saja, seperti selama ini, keberuntungan selalu berpihak kepadaku!” Lanjutnya dan menulis sebuah pesan lalu mengirimnya.


Ia sudah yakin dengan keputusannya.


.


Tempat lain...


Saat sedang asyik chatting, Lien terganggu dengan suara dering Hp-nya. Rupanya ada pesan masuk. Dengan segera ia mengeceknya. Ia membulatkan matanya yang memang sudah bulat itu. Ia sangat kaget tapi juga merasa heran, lalu ia justru tertawa terbahak-bahak. Kemudian menelpon balik si pengirim pesan.


Lien Cerewet memanggil....


“Hall...”


“YA.. Aku tahu kau menyayangiku. Haha, tidak usah seperti itu! Aneh...! Kau pasti sedang bosan, kan? Kenapa?” Potong Lien.


“Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya asal kirim pesan. Percaya diri sekali kau… Ahh, lupakan!... Hmm, Apa kau sudah makan? Sudah belajar?” Tanya Luhan tiba-tiba.


“Hahaha, sumpah aku jamin Sava pasti akan menertawakanmu kalau tahu kau menjadi sok perhatian begitu…”


“Berhenti menertawakanku! Suaramu jelek sekali, seperti memakai toak saja...”


“Iya iya, paham. Huh.. Luhan, kau tidak asyik hari ini. Sangat membosankan! Lebih mengasyikkan Kay. Tadi Kay memberikanku gantungan kunci Saun The Sheep loh. Original dari London lagi. Haduh Kay itu baik banget ya, tidak seperti sahabatku yang sedang menelpon sekarang ini...Mengaku paling tampan sesekolah, tapi pelitnya luar biasa...”


“Apa aku seburuk itu di matamu? Baiklah, selamat malam...” Luhan menutup telepon.


“Aiiisssshhh.. Apa-apaan Luhan ini, dimatikan begitu saja. Ada apa dengan ini anak? Aneh sekali, tidak seperti biasa tingkahnya. Apa dia lagi ada masalah? Apa jangan-jangan gagal mendekati kak Enila? Hmm, bukan seperti Luhan yang biasanya. Eh, bukankah Luhan itu dari dulu memang aneh?”

__ADS_1


Lien tak terlalu mempermasalahkan sikap Luhan. Memang biasanya seperti itu kalau Luhan sedang ada masalah.


“Astaga, akhirnya besok aku akan bertemu dengannya. Ah, mimpiku menjadi kenyataan. Aku sangat senang..” Lanjutnya girang.


__ADS_2