My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Kay Sang Pengamat


__ADS_3

Usai kepergian Krisna, mereka berdua melanjutkan acara belajar. Sementara itu tiba-tiba Luhan datang dengan suara kerasnya. Ohsen dan Lien secara bersamaan langsung menyuruh Luhan diam, duduk, dan langsung mengerjakan tugas-tugasnya.


Luhan langsung menurut begitu saja meski memanyunkan bibir karena kesal untuk disuruh diam. Diam dan serius memang bukan gayanya. Luhan alergi akan hal itu.


Sementara itu, Sava juga datang bersama Kay dan membawa beberapa makanan ringan dan bubbletea tentunya. Tanpa basa-basi, mereka melanjutkan langsung melanjutkan kegiatan belajar mereka, yaitu mengerjakan tugas Bab 10 sampai Bab 13 mata pelajaran matematika.


Waktunya belajar.


.


.


Sudah cukup lama mereka belajar. Kali ini terlihat sangat serius. Bahkan Luhan dan Kay yang terkenal paling brisik saja masih bisa diam dan benar-benar mengerjakan soal-soal yang ada di LKS matematika.


Hebat!


Pemandangan langka. Jika Sava tak lupa membawa Hp-nya, ia pasti akan segera mengabadikan momen yang menurutnya langka ini. Sayang sekali.


Sesekali Kay memperhatikan teman-temannya.


Matematika membuatnya frustasi dan menguras tenaganya. Berfikir itu juga melelahkan. Itulah yang ia fikirkan. Untung saja ia menyukai matematika, jadi tidak begitu masalah untukknya.


Beda dengan Luhan yang selalu dapat nilai kurang memuaskan, ia benar-benar sangat membenci mata pelajaran matematika. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang masam. Ia pun juga sering meminta bantuan Sava. Sava selalu dengan sabar mengajari Luhan. Mengajari pelan-pelan sampe Luhan benar-benar paham.

__ADS_1


Sava selalu membantu semua kesulitan Luhan. Hal itu sudah dari dulu ia lakukan untuk Luhan.


Tak pernah sedikitpun merasa lelah atau bosan karenannya.


Tak hanya Luhan, Lien dan siapa saja yang kesulitan, ia akan dengan senang hati membatunya. Percayalah, Sava itu orang yang sangat tulus saat membantu orang lain.


“Sepupuku memang baik hati..” Batin Kay.


Kay juga memperhatikan saat Luhan meminta Lien untuk menjelaskan tentang rumus-rumus fungsi f(x), tapi Lien selalu mencak-mencak karena Luhan tidak paham-paham. Itu membuatnya menahan tawa.


Sementara itu, ia juga melihat Ohsen yang sangat serius dalam ketenangannya.


“Dia memang suka seperti itu. Paling kurang dari setengah jam lagi tugasnya selesai…” Batin Kay lagi.


Kini suasana menjadi tenang lagi. Sepertinya Luhan sudah mulai paham akan penjelas-penjelasan yang Sava berikan.


Kay melihat Lien sedang memandangi Ohsen dengan senyuman manisnya. Ohsen justru menampakkan wajah stoic-nya untuk memandangi Sava yang duduk di sebelahnya.


Kay semakin bingung, karena Sava sibuk memandangi Luhan. Sementara Luhan memandangi Lien.


Kay semakin bingung juga melihat teman-temannya awalnya tersenyum tanpa beban, kemudian seakan menampilkan kesedihan, terkadang seakan mereka menampilkan wajah seperti seseorang yang menahan beban yang begitu berat yang tidak mampu diungkapkan.


Hal yang menurut Kay itu tidak wajar.

__ADS_1


Bukan tidak wajar, mereka hanya melamun. Melamunkan apa? Itu pertanyaanya. Bukankah selama ini hubungan mereka baik-baik saja?


Kay merasa jika hubungan persahabatan di antara sahabat-sahabatnya itu baik-baik saja. Tidak ada masalah serius yang melanda.


“Mereka ini apa-apaan sih? Sudah jelas yang dilihat memalingkan wajah, masih saja senyum-senyum. Apa hanya membayangkan saja? Benar-benar aneh. Melamun? Terbengong? Tapi… Apakah mereka terlibat cinta segi empat? Ah.. itu tidak mungkin! Itu Cuma ada di TV. Jika aku bergabung maka akan jadi segi lima? Konyol sekali..” Batin Kay.


Sebenarnaya Kay menyadari sesuatu. Tapi, ia tak berniat untuk membahasnya lebih lanjut. Fikirannya memaksanya untuk diam. Saat ini bukanlah waktu yang tepat. Hati belum siap meneriman konsekuensinya.


“Ah… aku lapar. Sepertinya kripik kentang ini enak?” Kata Kay cukup keras sehingga membuyarkan lamunan sahabat-sahabatnya.


Kay memang sengaja melakukannya. Ia hanya ingin tahu reaksi dari sahabat-sahabatnya itu. Dan benar seperti yang ia duga.


Sahabat-sahabatnya terjebak dalam benang yang belum bisa otak Kay jelaskan!!


Suasana jadi penuh alibi. Lucu menurut Kay.


“Ah… aku juga..”


“Njirr, terlalu mencolok perubahan sikap kalian... Sangat terlihat jika kalian sedang bersandiwara! Kalian tak pandai menyembunyikan raut muka kalian.” Batin Kay saat melihat sahabat-sahabatnya bertingkah seolah tadi tidak melakukan apa-apa.


“Hei Lien, sejak kapan kau suka minum bubbletea? Aku baru tahu. Kau bilang rasanya aneh?” Tanya Luhan.


Sava mengangguk menyetujui perkataan Luhan. Lien hanya nyengir.

__ADS_1


“Sudah lama, dan ternyata enak. Hehe..” Jawab Lien nyengir. Luhan dan Sava hanya sweetdrop.


“Hah….??”


__ADS_2