
Di balik pohon cemara yang agak jauh dari tempat Luhan dan Lien bercanda ria, Sava memandang dengan tatapan sendu. Kedua matanya yang indah berkaca-kaca. Ia lalu membalikan tubuhnya dan bersandar pada batang pohon cemara itu.
Sebenarnya ia ingin memberikan sebotol air mineral yang ada di tangannya ke pada Luhan. Tetapi ia kalah cepat dengan Lien. Ia hanya bisa menunduk.
Ada rasa kesal di dalam hatinya. Rasa kesal yang membuat hatinya sendu. Ia bersedih melihat kebersamaan dua sahabatnya sendiri? Sudah berulang kali ia mencoba menghilangkan perasaan seperti itu dari hatinya, tapi tetap saja menyesakkan dada.
Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Kenapa tiba-tiba ia ingin menangis? Ia sudah terbiasa seperti ini. Sudah sangat akrab dengan namanya luka. Ia sudah mengetahuinya. Ia tahu bagaimana rasanya. Menyakitkan.
Meski begitu, hatinya masih bisa mengendalikan sisi egoisnya. Sava akan selalu berusaha seperti ini, tetap bersembunyi di balik topeng malaikatnya.
“Aku ini kenapa? Ada yang terjadi pada diriku? Aku selalu saja kesulitan mengendalikan emosiku ini. Akhir-akhir ini aku selalu kalah. Bagaimanapun mereka adalah sahabat-sahabatku. Aku tidak boleh membiarkan perasaan ini semakin tumbuh. Aku tidak ingin melukai orang-orang yang kusayangi. Aku harus menjaganya agar semuanya baik-baik saja. Setidaknya berlalu seperti biasanya. Apa tidak apa-apa jika hanya aku yang merasa tersiksa? Tuhan... ini benar-benar sangat menyakitkan. Rasa sesak di dada ini membuatku sulit bernafas...” Batin Sava sambil meneteskan air mata.
Jatuh, akhirnya air mata yang sedari tadi ia tahan jatuh juga. Runtuh lagi pertahanannya. Dengan cepat ia menghapus air matanya. Akan jadi masalah besar jika ada orang lain yang menyadarinya.
Ia adalah sosok gadis yang kuat. Ia akan menjaga persahabatannya dengan sangat baik. Luka dalam hatinya akan membaik seiring berjalannya waktu. Ia akan baik-baik saja. Ia akan bisa bahagia suatu saat nanti. Ia akan tersenyum bersama Luhan dan Lien di masa depan.
Sava selalu meyakinkan hatinya akan hal itu. Ia akan berkorban demi kebahagiann mereka bertiga.
Luhan dan Lien adalah hidupnya dan akan selalu seperti itu selamanya.
.
.
.
“Hei!”
Ohsen datang mengagetkan lamunan Sava. Ohsen pikir ada apa dengan hari ini? Kenapa orang-orang yang ia temui hari ini banyak yang melamun?
Luhan?
Sava?
Bahkan tadi waktu ia bertemu Dio juga seperti itu. Dio menatap pianonya dengan tatapan kosong. Ohsen pikir Dio sedang melakukan ritual sebelum menekan pianonya, ternyata salah kaprah. Dio hanya sedang melamun tak jelas. Buktinya saat ia berdiri di samping Dio untuk mengambil gitar, Dio sama sekali tidak menyadarinya.
“Ah, ternyata kau Ohsen. Kau membuatku kaget!”
__ADS_1
“Maaf, aku hanya menyoba menyapamu. Ternyata kau melamun ya?
“Tidak..”
“Bohong, buktinya kau kaget hanya dengan sapaanku tadi.”
"Haha.. Begitulah.. manusia normal kan juga butuh melamun, Ohsen... Memang kau sendiri tidak melamun?"
"Melamun sih..."
"Tuhkan.. jadi melamun itu wajar!"
Ohsen mengalah saja. Lagian melamun adalah hak semua orang.
"Iya.. iya deh..."
Sava tersenyum melihat Ohsen yang pasrah mengalah. Ohsen itu suka membicarakan hal yang sebenarnya tidak begitu penting, tapi Ohsen ingin tahu lebih akan hal itu.
Sava sering lumayan repot ketika harus mencari jawaban yang bisa memuaskan Ohsen.
“Kau mau minum?” Tawar Sava menyodorkan sebotol air mineral dari tangannya. Ia tidak ingin memperpanjang pertanyaan-pertanyaan yang kiranya akan diperpanjang oleh Ohsen.
“Kebetulan sekali aku sedang haus. Terima kasih..”
“Sama-sama..”
Sava melihat air mineralnya memuaskan dahaga Ohsen. Anak ini pasti benar-benar haus batinnya. Syukurlah, air yang ia bawa tidak sia-sia. Meski awalnya untuk Luhan, tapi Ohsen menghabiskannya itu lebih dari cukup.
“Hmm, matamu memerah. Apa kau sedang menangis?”
Ohsen melihat mata Sava yang memerah. Ohsen sungguh sering memperhatikan Sava. Ia menyukai hobinya yang baru itu. Baginya, Sava itu seperti memiliki aura yang membuatnya penasaran. Ia ingin melihat dan melihatnya lagi.
“Hah? Ti..tidak kok. Mataku baru saja terkena sesuatu jadi terlihat seperti menangis karena aku menguceknya..”
"Kau menguceknya terlalu kasar. Itu bahaya!" Suara Ohsen terdengar begitu khawatir.
"Habisnya, sesuatu itu benar-benar membuat mataku sangat gatal dan perih.." Sava nambah berbohong.
__ADS_1
“Hmm… Coba aku lihat!!” Ohsen mencoba mendekatkan matanya untuk mengecek mata Sava.
Karena tidak kunjung menemukan benda asing di mata Sava, Ohsen semakin mendekatkan matanya. Semakin dekat dengan mata Sava.
“Tidak kelihatan apapun.”
Kata Ohsen. Ia sungguh tak melihatnya.
Terang saja ia tak bisa melihatnya, andai Ohsen tahu apa yang sebenarnya Sava rasakan saat ini. Merah matanya bukan karena sesuatu seperti debu atau apa. Tapi sesuatu itu adalah luka yang menyakitkan dimana hanya air mata yang bisa menenangkannya.
“Terang saja tidak ada. Maafkan aku. Aku berbohong padamu.” Batin Sava... "Sudah baik-baik saja, Ohsen.." Kata Sava akhirnya.
“Jangan pejamkan matamu! Aku akan meniupnya!!”
Sava hanya kaget terdiam saat Ohsen memegang kedua pipinya. Ohsen menatap mata Sava dengan tajam untuk mencari sesuatu yang ada di mata Sava. Sava hanya membulatkan matanya saat Ohsen meniup matanya.
Sava merasa kurang nyaman dengan perlakuan Ohsen terhadapnya. Ini terlalu dekat!
“Ohsen sudah! Sudah tidak apa-apa. Rasanya benda kecil itu sudah tidak ada di mataku. Terima kasih, Ohsen.”
Ohsen mengangguk senang karena bisa membantu Sava. Sava dan Ohsen hanya saling tersenyum.
Sejenak kesedihan yang Sava rasakan mulai hilang karena adanya Ohsen. Meski sering kali kesedihan Sava akan muncul lagi, setidaknya sekarang terasa lebih ringan. Terima kasih Ohsen. Entah bagaimana, Sava menyadari jika sesungguhnya Ohsen tipe laki-laki yang sangat perhatian. Ia menerima banyak perlakuan hangat dari Ohsen.
Ohsen selalu membantunya dalam kesulitan. Sava juga menyadari jika akhir-akhir ini nilai ulangan bahasa Inggrisnya juga meningkat setelah belajar bersama Ohsen di klub seni.
.
.
.
Di sisi lain tak jauh dari tempat Ohsen dan Sava bercengkrama.
“Oh jadi cinta mempermainkan mereka ya? Persahabatan sesolid apapun ternyata bisa dengan mudah diruntuhkan hanya dengan cinta. Bodoh, terjebak dalam cinta yang membutakan.” Senyum sinis Amel. “Ini akan menjadi senjata ampuh untuk membalaskan sakit hatiku padamu, Excel. Kau pikir aku akan menyerah akan dirimu begitu saja? Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada satupun yang bias memilikimu. Meski itu Sava atau Lien sekalipun. Ini sumpahku!” Batin Amel sambil memandangi foto yang baru saja ia ambil dengan ponselnya.
Foto yang menampakkan saat Ohsen meniup mata Sava. Foto yang terkesan seperti Ohsen sedang mencium Sava. Senyum puas tergambar jelas di bibirnya. Amelpun berlalu dengan rencana besarnya.
__ADS_1