
Taman Belakang Sekolah...
Taman belakang adalah taman favorit Sava. Tamannya indah penuh dengan pepohonan rindang, rumput jepang, dan berbagai jenis bunga.
Ada beberapa bangku taman dan kolam kecil berisi ikan emas. Di tengah taman terdapat satu air mancur setinggi kurang lebih dua meteran. Kesan pertama melihat taman ini nampak seperti hutan di sekolah. Sangat nyaman dan sejuk.
Sava mengajak Dio mencari tempat duduk yang nyaman. Tempat duduk yang biasa ia gunakan untuk merenung sendirian. Tempat duduk yang ia selalu duduki saat ia ingin menghabiskan waktu sendirinya. Tempat itu berada di bawah pohon cemara yang sekitarnya terdapat bunga mawar berwarna-warni.
Ketika Sava akan menunjukkan tempat duduk yang biasa ia gunakan, Sava melihat dua orang sedang berbincang.
Nampaknya sangat serius.
Sava langsung terdiam.
“Dimana tempat duduk favoritmu, Va? Dari tadi kita hanya berputa-putar saja..” Tanya Dio.
“Ssstttt… Dio diamlah! Lihat tempat duduk yang selalu aku gunakan ada yang memakainya. Sebaiknya kita pergi saja..” Jawab Sava agak kesal.
Sava hendak pergi mencari tempat duduk lain, tapi tangan Dio meraihnya untuk tetap tinggal.
“Tunggu sebentar! Bukankah mereka sahabatmu? Luhan dan Lien?” Kata Dio mengira-ira.
Sava tidak begitu yakin. Ia mencoba memastikan.
“Ah benar… Tapi, aku sedang tidak baik dengan mereka…” Kata Sava sedih.
“Kenapa? Masalah kemarin?.. Mungkin ada baiknya kau menyapa duluan mereka. Toh masalahmu sudah selesai.. Dan yang penting kau tidak bersalah..” Saran Dio bijak.
Sava tersenyum. “Aku sangat beruntung mengenalmu Dio. Kau yang terbaik.. Baiklah aku akan menyapa duluan..” Kata Sava. Ia mencoba mendekat. Tapi lagi, tangan Dio meraih bahunya.
"Va..."
“Kenapa mencegahku? Tadi kau bilang aku harus ke sana..” Kata Sava agak keras.
Dio langsung membekap mulut Sava dan mencoba menyembunyikan diri mereka berdua di balik rimbunnya tanaman pagar. Dio melihat Luhan menyadari kehadiran mereka.
“Jangan berisik! Lebih baik jangan mendekat dulu.. Rasanya mereka butuh privasi..” Kata Dio lirih.
Dio melepaskan bekapannya pada Sava. Mereka berdua hanya mengumpat di balik rimbunya tanaman pagar yang tak jauh dari tempat dimana Lien dan Luhan sedang bercakap.
“Lien.. Kumohon…” Kata Luhan.
“….” Lien hanya berdiam.
“Aku sudah lama memendamnya Lien…” Kata Luhan.
Sava mendengarnya dengan jelas.
Begitupun dengan Dio.
“Jadi benar ya? Luhan memang sudah lama menyukai Lien. Firasatku tidak pernah salah.. “ Batin Sava.
Sava mati-matian mencoba menahan air matanya. Dio menyadarinya. Dio hanya diam, ia memegangi bahu Sava.
Ia memahami benar bagaimana perasaan Sava pada Luhan.
__ADS_1
Sangat dalam.
Begitu dalamnya, bahkan Dio kesulitan menyelaminya.
“Aku mencintaimu, Lien! Aku selalu berharap kau menjadi milikku..” Kata Luhan.
“Dari awal kau sudah memilikiku, Han..” Jawab Lien.
Rasanya sangat sakit mendengar kata-kata Luhan. Mencintai Lien? Hanya dengan membayangkannya saja sudah menyakitkan. Sekarang Sava mendengarkannya secara langsung. Di depan matanya!
Luhan mencintai Lien.
Luhan ingin memiliki Lien.
Lien juga memliki rasa itu pada Luhan.
Jadi selama ini mereka saling ingin memiliki?
Cinta secara romantis sudah ada di antara mereka berdua sejak lama. Sejak dulu. Itu artinya, ia hanya menjadi penghalang untuk mereka bersatu?
Apakah sikap Luhan selama ini padanya hanyalah basa-basi? Hanya Luhan tunjukkan untuk melindungi perasaannya pada Lien? Apakah Luhan tak memikirkan bagaimana perasaannya saat Luhan dengan mudahnya bersikap lebih padanya?
Tak pahamkah Luhan jika hati seorang wanita itu mudah sekali goyah karena perbuatan sederhana?
Tidak, Sava paham kok. Ia memahami. Salahnya yang tak mengatakan dengan jujur perasaannya pada Luhan. Salahnya juga yang memilih untuk memendam semua perasaannya itu.
Terimalah fakta.. Luhan berkencan dengan Lien!
.
.
.
Dio juga mencoba memalingkan wajah Sava agar tidak melihat kea rah Luhan dan Lien. Dio hanya berusaha agar Sava tidak melihat dan mendengar apa yang tidak Sava inginkan. Sava hanya berulang kali meneteskan air matanya. Ia tidak tahan.
“Harusnya aku menyadari kalau sejak awal aku juga mencintaimu…” Lanjut Lien.
Luhan tersenyum. Luhan terlihat bahagia. Bahkan Luhan memeluk Lien dengan erat. Setelah Lien dan Luhan berpelukan, mereka langsung bergandengan tangan dan pergi meninggalkan taman.
Dan Sava mendengar dengan samar-samar. Itu tidak mungkin salah.
Lien juga mencintai Luhan!
Mereka saling suka. Mereka saling ingin memiliki. Mereka saling memiliki rasa. Mereka saling mencintai dan mereka saling membalas rasa itu.
Air matanya mengalir lebih deras. Sakit ini benar-benar menusuk sampai ke jantung. Ia tak bisa melihat Luhan dan Lien karena matanya tertutup oleh tangan Dio. Tapi energi cinta Luhan dan Lien bisa dengan baik ia rasakan.
Sava mencoba menyingkirkan tangan Dio. Ia ingin melihat secara langsung. Ia ingin menjadi saksi dari kisah cinta kedua sahabatnya.
Namun Dio menahannya. Ia tetap menutup kedua mata Sava.
Dio melihat Luhan dan Lien bergandengan tangan dengan sangat erat. Dio melihat Luhan kembali memeluk Lien.
Itu mengapa Dio kekeuh menutup dan menyembunyikan mata Sava. Ini pasti akan membuat Sava lebih terluka. Sudah sejak awal Dio tahu jika Sava sangat menyukai Luhan. Mencintai Luhan begitu banyaknya. Dio tahu apa yang ia lakukan tidak sepenuhnya membuat Sava tidak mendengar apa yang Lien dan Luhan bicarakan. Tapi ia inging melakukan yang terbaik untuk Sava.
__ADS_1
.
.
.
Dengan tangan gemetar Sava melepaskan tangan Dio yang menutupi telinganya. Sava membuka matanya yang sedari tadi terpejam karena menahan tangis.
“Dio.. Tidak apa-apa..” Kata Sava parau. Suaranya sudah mulai serak.
“Maafkan aku! Harusnya tadi kita tidak ke sini..” Dio nampak menyesal.
Sava terkulai lemas. Dengan cepat Dio menahan tubuh Sava agar Sava tidak jatuh ke tanah.
Melihat Sava yang terlihat sangat buruk membuat hati Dio merasa buruk juga. Ia bisa merasakan sakit di dadanya. Meski Sava mengatakan jika dirinya baik-baik saja, tapi mata itu berkata lain.
Mata yang teduh itu penuh dengan air mata. Mata yang indah itu terlihat sendu.
Sebegitu menyakitkankah mengetahui fakta jika orang yang disukai ternyata menyukai orang lain?
Tak perlu ditanyakan, nyatanya Dio mengalaminya secara langsung. Mengalami bagaimana rasanya perasaannya bertepuk sebelah tangan. Orang yang sangat ia cintai ini menyukai orang lain.
Ia paham rasanya.
Ia memaklumi bagaimana Sava menderita karenanya.
Sava adalah seorang wanita. Wanita itu mudah terluka karena selalu menilai sesuatu hal memakai hatinya. Mudah menangis dalam berbagai keadaan. Entah luka ataupun bahagia.
Sava adalah manusia biasa.
Hatinya tak sekuat itu untuk menerima kenyataan yang tak berpihak kepadanya.
Ya... semua itu Dio memahaminya.
Harusnya ini adalah kesempatannya. Harusnya ia memanfaatkan momentum ini.
Luhan berpacaran dengan Lien!
Artinya ia memiliki kesempatan lebih besar untuk mendapatkan Sava, kan?
Jika itu setan yang merasukinya, ide itu terdengar menggoda mengingat seberapa besar ia menginginkan Sava. Seberapa besar ia mencintai Sava.
Namun...
Cintanya pada Sava itu indah.
Cintanya ingin Sava bahagia.
Cintanya ingin Sava tersenyum.
Cintanya ingin Sava tertawa.
Cintanya ingin melindungi.
Itu cinta yang sedang Dio perjuangkan untuk Sava. Ia sungguh-sungguh ingin melindungi senyuman Sava.
__ADS_1