
Beep beep.. Beep beep…
Terdengar nada pesan masuk. Sava melihatnya sebentar, rupanya pesan singkat dari Ohsen.
“Bisakah kita keluar bersama?”
Belum sempat Sava membalasnya, Ohsen kembali mengirim pesan.
“Hanya kita berdua saja..”
“Berdua?” Batin Sava.
“Jangan berfikiran aneh-aneh! Hanya jalan-jalan..”
“Ampun ini orang, tahu saja apa yang aku fikirkan..”
“Ada kedai bubbletea yang enak di dekat taman, kita bisa mencobanya… Manisnya bubbletea akan membuat masalah kita hilang..”
“Ohsen bodoh, mana ada. Dasar…”
Sava masih belum berniat membalas pesan Ohsen.
“Setelah membeli bubbletea kita bisa jalan-jalan di sekitar taman. Di taman itu, setiap jam tiga sore ada seniman jalanan yang memiliki suara indah. Kita bisa meriquest lagu yang kita inginkan..”
“Hafal sekali Ohsen ini. Sampai jam-nya pun juga..”
“Aku tahu malam ini kau pasti tidak bisa tidur karena masalah foto itu. Tenang saja aku akan segera menyelesaikannya. Kau tak perlu khawatir… 😊”
“Anak ini benar-benar seperti peramal saja. Kurasa benar apa yang Kay katakan.. Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”
“Bisakah kau menonton film bersamku di bioskop? Besok ada film bagus. Aku yakin kau akan menyukainya..”
"...."
“Aku tahu kau membaca semua pesanku..”
"...."
“Kalau kau tidak membalasnya, tanpa izinmu besok aku akan menjemputmu!!”
Sava mulai tidak tega dengan Ohsen. Akhirnya ia luluh juga. Lagipula, ia juga ingin menegaskan semuanya agar tidak salah faham.
“Baiklah, kita akan menonton film bersama di bioskop…” Balas Sava
“Aku akan menjemputmu besok siang jam satu!”
“Haaishhh, apa-apaan ini anak! Seenaknya saja membuat janji tanpa persetujuan. Sepertinya dia memang sangat mirip dengan Luhan… Sepertinya setelah ini akan menjadi kisah yang amat sangat panjang. Sava, kau harus sabar! Lien sahabatmu sedang tidak mau berbicara denganmu, ahh lebih tepatnya marah besar padamu! Marah karena kau tidak bisa menjelaskan kesalah pahaman ini!!… Kay yang kau handalkan hanya menyuruhmu untuk berkata jujur… Dio partnermu di klub seni? Kau tak akan selamanya membebaninya, kan?.. Sementara orang yang sangat kau cintai selama ini lebih memilih bungkam seribu bahasa… Miris sekali kisahku. Hiks..hiks..” Kata Sava berbicara pada dirinya sendiri.
Dari awal ia sudah mengantisipasi akan semua ini, karena sejak lama ia sudah yakin bahwa hal seperti ini pasti akan terjadi.
Dilemma cinta di antara sahabat.
Ya, benar sekali.
Dilemma cinta yang menyeret dirinya dan para sahabatnya ke dunia cinta. Cinta yang terkesan manis tapi sebenarnya sangat menyakitkan. Seandainya hati lebih jeli memahaminya, mungkin tidak jadi seperti ini.
Seandainya saja ia memiliki keberanian lebih untuk mengungkapkannya, mungkin tidak akan seruwet ini.
Namun, hatinya memaksa untuk tidak egois akan segala keinginannya.
__ADS_1
Ia tak bisa memaksakan apapun demi mewujudkan segala hasratnya. Ia tak bisa memaksakan apapun atas kemaunanya.
Ia memikirkan orang lain yang terkena imbas akan keinginan egoisnya. Apakah itu baik dan buruknya.
Hatinya enggan melukai orang lain. Apalagi jika orang lain itu adalah orang-orang terdekatnya. Ia tak akan mampu melalukannya.
Ia akan memilih mengubur dalam segala keinginan egoisnya. Meski itu ujung-ujungnya akan melukai dirinya sendiri, tapi menurutnya itu jauh lebih baik.
Biarlah semua asanya bersemayam di dalam hatinya. Biarlah waktu yang akan melebur kekuatan semangatnya. Biarlah itu akan menghilang di kemudian hari.
Biarlah itu menjadi impian semunya.
Biarlah ia berpura-pura bahagia demi menjaga orang-orang terkasihnya.
Bodoh memang..
Percayalah, ia hanya tidak ingin egois.
Ia tak bisa hidup sendiri. Ia butuh orang lain juga.
Ia tak bisa membiarkan egonya menyakiti orang lain.
.
.
.
Di rumah Lien….
“Berita apaan ini? Tidak bermutu! Tidak sesuai fakta! Ini menjatuhkan reputasi! Ini merusak nama baik! Apa tidak tahu tentang kode etik jurnalisme? Reporter bodoh! Bodoh! Bodoh!” Kata Lien kesal sambil menyobek-nyobek majalah sekolah yang memberitakan foto skandal Sava dan Ohsen.
“Nanti bisa aku bersihkan!”
“Astaga… Kekanak-kanakan sekali kau ini. Hei, kalau sedang marah sekalian saja banting semua barang-barangmu! Buang semua buku-bukumu! Bakar baju-bajumu!”
“Kakak! HUH…”
“Kau ini sudah menginjak 17 tahun. Kau harus segera meninggalkan masa kekanak-kanakanmu! Sadar diri kalau sudah bertambah umur! Kau sudah semakin tua…”
Kakaknya itu jika kesal sering mengeluarkan kata-kata kasar. Namun jika diperhatikan baik-baik ada benarnya juga.
“Kakak…”
“Ck, kau harusnya bisa berfikir lebih logis lagi!"
"Berfikir bagaimana lagi, Kak?
"Berapa tahun kau mengenal sahabatmu itu? Kau pasti sangat mengenalnya! Apa dia tipe perempuan seperti itu?”
“…”
“Kau tidak berhak melampiaskan kecemburuanmu padanya! Jangan campurkan perasaan pribadimu untuk mengahapinya, karena kau hanya akan termakan emosi saja…”
“Rasanya berat, Kak…”
“Kau saja merasa berat, bagaimana dengannya? Apa kau tak memikirkannya?”
“Ak..aku…”
__ADS_1
"Kenapa kau bersikap seperti itu? Pantaskah kau menghakiminya atas dasar persepsimu?"
"...."
"Punya hak apa kau melakukannya? Kau tidak berhak menyalahkan orang lain karena kau merasa cemburu karenannya!"
"...."
"Jikalaupun berita itu benar.... Hak Sava maupun Ohsen jika mereka ingin menjalin hubungan yang lebih dekat. Bukan urusanmu!"
Benar juga, tapi masih ada rasa yang mengganjal di dalam hatinya. Perasaannya pada Ohsen itu sungguhan. Tidak main-main.
"Menurut kakak, skandal itu tidak benar. Sava bukanlah orang yang seperti itu. Dia sangat menjaga harga dirinya. Dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini..."
Sava bahkan sangat sopan.
"Hmm.. Dia memang seperti itu..."
“Bukan hanya dalam cinta saja, persahabatan juga butuh kepercayaan."
"Kenapa kepercayaan? Karena kepercayaan itu ibarat sebuah kunci dalam sebuah persahabatan…”
“…”
"Jika saling percaya, maka hubungan akan menjadi kuat dan kokoh.."
"...."
“Kakak percaya padamu! Kau adalah sahabat yang baik juga!”
Sahabat yang baik?
Kenapa kata-kata dari Krisna begitu menusuk jantungnya?
Tersinggung?
Apakah perasaan ini artinya ia tersinggung? Jadi, sikapnya pada Sava itu menunjukkan bahwa sebenarnya ia bukanlah sosok sahabat yang baik?
Kenapa sulit sekali menumbangkan egonya?
Memang benar bukan haknya untuk mencampuri perasaan Sava maupun Ohsen. Namun salahkah ia dengan rasa cemburunya?
Ia hanya manusia biasa yang memiliki rasa yang sama. Ia sudah lama memiliki rasa pada Ohsen. Saat Ohsen bermesraan dengan yang lainnya, salahkah ia merasa kesal?
Meski rasa cemburunya pada sahabatnya sekalipun.
Dadanya terasa sesak bagai kabut yang merasukki hatinya.
Ia ingin percaya Sava, tapi kenapa Ohsen harus dengan Sava?
Kenapa harus Sava yang Ohsen pilih?
Kenapa apapun yang ia inginkan selalu mudah Sava dapatkan? Perhatian lebih dari Luhan. Kepintaran yang luar biasa. Bahkan Ohsenpun tertarik padanya.
Kenapa harus Sava?
Lien memejamkan matanya.
"Rasa iri ini harusnya tidak ada.. Aku selalu menyalahkan orang lain..."
__ADS_1