My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Dio Membuat Pengakuan


__ADS_3

Masih di taman belakang sekolah...


Usai Luhan dan Lien meninggalkan taman belakang sekolah, Dio mengajak Sava duduk di bangku taman. Ia berulang kali menanyai keadaan Sava saat ini.


“Dio.. Tidak apa-apa.. Percayalah..” Kata Sava parau. Suaranya sudah mulai serak.


Ia sudah berulang kali menjawab pertanyaan Dio. Pertanyaan yang sama Dio lontarkan kepadanya. Dio benar-benar laki-laki yang sangat baik.


“Maafkan aku! Harusnya tadi kita tidak ke sini.. Harusnya tadi kita ke kantin saja membeli ice cream..” Dio nampak menyesal.


Kenapa laki-laki ini begitu baik padanya? Dari dulu sangat memikirkan perasaannya. Hatinya itu terbuat dari apa? Sava sungguh bersyukur mengenal sosok Dio di dalam hidupnya.


“Apa yang kau sesalkan, Dio? Kenapa harus minta maaf? Aku yang mengajakmu kesini…"


"Va..."


"Ah, aku pasti terlihat memalukan sekali untuk dilihat. Aku menangisi kebahagiaan kedua sahabatku… Bukankah harusnya aku berbahagia untuk mereka? “ Kata Sava terlihat rapuh.


Ia mengusap air matanya.


Kenapa ia menangis terus? Matanya memiliki stok air mata yang berlimpah? Selemah ini rupanya hatinya. Begitulah Sava, ia tak siap dengan semua ini. Ia tak terbiasa terluka.


“Aku sudah tahu dari awal. Kau memiliki perasaan pada Luhan. Tapi dengan bodohnya kau menahannya… Mencoba menyembunyikannya dari semua orang...” Kata Dio.


Dio memang pengamat yang baik. Dio menyadari perasaannya pada Luhan. Dio seperti Kay saja. Lebih paham dirinya dari pada dirinya sendiri.


“Kay bilang, aku tidak pandai menyembunyikan emosiku.. Aku ketahuan ternyata… Kay benar, aku memang bodoh. Aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku padanya… Aku yang selalu mencintainya, sudah lama mencintainya, tapi pada akhirnya aku tidak bisa meraihnya… Hahaha.. Bukankah itu lucu, Dio?? Hahahha…” Sava tertawa hambar.


Miris.


Dio merasa begitu iba. Sava benar-benar sangat rapuh. Sava lemah dan tak berdaya. Dio langsung mendekap Sava. Sava membalas dengan memeluknya dengan sangat erat. Sava mengeluarkan tangisannya.


Menangis cukup keras.


Beruntung taman sedang sepi. Tapi suara Sava terdengar pilu.


"Aku tak akan melarangmu untuk menangis. Menangislah, Va! Luapkan segala luka hatimu! Jangan menahannya!"


Hiks..


Dio benar, jika ia menahannya, dadanya justru semakin sesak. Saat ini adalah saat yang pas untuk menangis. Ide yang menyedihkan.

__ADS_1


“Dio… Mencintai orang yang sudah pasti tidak bisa diraih itu sungguh menyakitkan ya… Kufikir aku akan bisa bertahan saat aku memilih untuk memendamnya.. Tapi.. sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa mengatakannya… Dan karena itu, karena tidak sempat mengatakannya pasti akan jadi duri tajam yang lebih menyakitkan…” Kata Sava masih memeluk Dio.


Sava malah semakain memeluk Dio erat.


Dio membalas pelukan Sava.


“Va.. Aku bisa meringankan bebanmu kalau kau mengizinkanku..” Kata Dio.


“Apa yang bisa kau lakukan? Kau tidak mengerti.. Ini benar-benar menyakitkan. Di sini, sangat sakit! Menyesakkan… Membuatku sulit bernafas…” Kata Sava sambil memegangi dadanya. Ia mencengkramnya dengan erat.


“Kalau itu sakit, aku akan mengobatimu.. Kalau kau sulit bernafas, aku akan memberimu udara untuk bernafas… Kalau kau bilang aku tidak mengerti, dengan jelas aku akan bilang kalau aku sangat mengerti.. Va… Bisakah kau melihatku dari sisi yang berbeda?” Kata Dio.


Dio melepaskan pelukannya. Ia menatap tajam mata Sava.


“Di..Dio.. Ap..apa maksudmu?” Tanya Sava.


“Bisakah kau melihatku sebagai seorang laki-laki?”


“…”


“Aku mencintaimu.” Jawab Dio singkat.


Sava melebarkan kedua matanya. Kaget? Pasti, ia sudah cukup lama mengenal Dio. Ia sering bersama Dio. Ia sering tersenyum bersama Dio. Namun ia tak menyadari perasaan Dio? Bukankah selama ini hubungannya dengan Dio layaknya hubungan dirinya dengan Kay?


“Aku tidak tahu. Tapi sudah lama…”


“…”


“Aku benar-benar mencintaimu..”


Kenapa tiba-tiba? Di saat seperti ini. Di saat ia tak memiliki persiapan apa-apa. Di saat ia baru terluka, luka yang masih sangat baru, masih sangat menganga. Kenapa Dio menawarinya hal yang tak terduga?


Siapkah ia untuk bahagia?


Salah, pantaskah ia bahagia?


Luhan.. nama itu menguasai isi kepalanya. Begitu sulit lepas dari otaknya. Tertancap begitu dalam dan sulit terlepas.


“Tapi aku tidak.. Tidak bisa… Maafkan aku…”


“Aku tahu… Tapi bagaimana kalau nanti? Apa kau bisa?”

__ADS_1


“Aku tidak tahu, Dio… Maafkan aku..”


“Kau tidak perlu minta maaf.. Kau juga tidak perlu menjadikannya beban..! Kita masih remaja. Fikiran kita masih bisa berubah-ubah. Jangan mengkhawatirkan hal itu! Kita masih memiliki banyak waktu.. “ Dio tersenyum dan menghapus air mata Sava.


Sava membalas senyum Dio.


Kenapa Dio menawarinya sebuah kebahagiaan sementara Dio tahu sendiri jika perasaannya pada Luhan tak sesederhana itu.


Sava tak bisa egois. Ia tak boleh melakukannya. Dio adalah teman yang sangat baik. Dio tidak boleh merasakan luka darinya.


Namun Dio menawarinya kesempatan di masa depan. Ia harus berhati-hati membuat keputusan antara dirinya dan Dio. Ia harus membuat Dio bahagia tanpa memaksakan egonya.


Bisakah?


“Kau memiliki hati malaikat, Dio… “ Kata Sava.


Sava dan Dio kembali ke kelas. Waktu istirahat sudah usai. Rasanya sangat berat harus melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Lien dan Luhan pasti terlihat sangat dekat. Meski sudah biasa terlihat sangat dekat, tapi kali ini sangat berbeda. Ada rasa di antara mereka.


“Hah.. Sava kau kuat! Ya kau harus kuat! Ohsen mendiamkanmu.. Lien dan Luhan yang mendiamkanmu karena sekarang mereka sedang bahagia tanpa mengajakmu…” Batin Sava.


Ia mencoba tegar. Tersenyum menghadapi semuanya. Tapi sebenarnya ini miris sekali.


Sava kembali ke kelasnya. Benar. Sesuai dugaannya. Kabar Lien dan Luhan pacaran sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Lien dan Luhan selalu terlihat bersama. Tertawa bersama. Ke kantin bersama. Hampir tiap saat mereka berdua terlihat bersama.


Selain itu, karena hanya Lien dan Luhan yang selalu terlihat bersama, maka muncul gosip kalau ada keretakan diantara persahabatan mereka. Bahkan ada yang menyebarkan gosip jika Sava terbuang setelah Lien dan Luhan berpacaran.


Duka Sava belum usai. Sava yang duduk sebangku dengan Ohsenpun tidak pernah sekalipun saling menyapa. Sava bagai duduk dengan batu. Sava ingin sekali menyapa, tapi setelah mengingat apa yang ia lakukan pada Ohsen tempo hari membuatnya mengurungkan niat.


“Aku pasti menyakitinya begitu banyak… Ohsen apa kau tidak menyisakan maaf untukku?” Batin Sava lelah.


Setelah masalah foto usai, hal itu tidak membuat beban Sava berkurang. Malah justru bertambah. Sekuat tenaga ia berusaha bertahan. Semakin hari semakin berat saja. Melelahkan. Menjenuhkan. Membuat gila! Sava merasa di sekolah ia hanya memiliki Dio dan Kay.


“Lien dan Luhan sudah melupakanku…” Batin Sava. Ia tersenyum miris.


Bodoh, Sava mengakuinya.


Kekuatan persahabatannya selemah ini. Hanya ia yang mencoba menyelamatkan. Tapi sekarang? Sepertinya hanya dia yang menjadi membernya secara sepihak.


Luhan sudah bersama Lien.


Dio menawarinya kebahagiaan di masa depan.

__ADS_1


Haruskah ia egois?


__ADS_2