My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Berangkat


__ADS_3

The Next Day..


Pagi tiba, sesudah bangun tidur Sava, Dio, Kay dan ayah Sava terlihat sibuk memastikan barang bawaan. Setelah itu mereka bergegas menuju airport. Pesawat akan terbang pukul 9:00 pagi.


“Kalau kau masih ingin mengucapkan salam terakhir, temui Sava di bandara dalam 45 menit! Aku dan Sava akan pindah ke luar negeri!”


Kay mencoba mengirim pesan pada Luhan.


Kay hanya tidak ingin merusak persahabatan yang sudah lama mereka bangun. Rasanya ini adil buat Sava. Ini juga hak Luhan untuk mengetahui kepergian Sava.


Tapi kenapa tidak dengan Lien?


Kay paham karakter Lien dan Kay ingin memberinya sedikit pelajaran. Bukan berarti ia membenci Lien, tapi jika Lien tidak bersikap egois pada Sava saat itu, Sava tidak akan semenderita seperti saat ini.


Kenapa harus Sava yang selalu menjadi pihak paling menderita?


Kay merasa kesal karena ia juga kena imbasnya.


.


.


.


Hari ini, di sekolah berita kepindahan Sava, Kay, dan Dio diberitahukan oleh kepala sekolah. Semua siswa bergemuruh mendengar berita itu. Setahu mereka akhir-akhir ini suasana sekolah semakin baik dan cukup bersahabat dengan Sava, Dio, maupun Kay.


Tapi kenapa tiba-tiba mereka pindah sekolah secara bersamaan? Bukankah itu hal yang cukup aneh? Tidak ada hujan, tidak ada angin, kenapa tiba-tiba seperti itu? Banyak pertanyaan di benak mereka karena kepindahan Sava, Dio, dan Kay yang menurut mereka sangat mendadak bahkan tanpa berita sekalipun.


Mereka tak sempat berpamitan.


“*Wah mereka pindah.. Siswa berbakat dari sekolah kita berkurang..”


“Benar, pasti akan menurunkan pamor sekolah,..”


“Syukurlah mereka pindah, aku jadi tidak punya saingan..”


“Kita kehilangan sang Mozart..”


"Kita kehilangan flowerboy sekolah.."


“Ini pasti ada hal yang menjembatani.. Pasti ada hal yang melatarbelakangi.."

__ADS_1


“Pasti ada sesuatu*..”


“*Ssst.. Luhan dan Lien saja tidak tahu itu.”


“Bukankah mereka menjauhi Sava sesaat setelah mereka mengumumkan kencan mereka*?”


Banyak pertanyaan muncul dari siswa-siswi sekolah.


Lien dan Luhan juga sangat kaget. Ini sangat mendadak. Lien mencoba berulang kali menghubungi Sava tapi tidak ada jawaban. Ia berusaha menghubungi Kay tapi nomornya selalu sibuk. Sementara Dio? Ia tidak memiliki nomor teleponnya. Lien tidak sedekat itu dengan Dio.


Tak berbeda dengan Lien, Luhan juga berusaha menghubungi Sava maupun Kay. Nomor Kay yang tadinya sibuk, sekarang justru tidak aktif. Fikirannya kacau. Ia memandangi handphonenya, hingga ia sadar bahwa ada sebuah pesan masuk. Ia langsung membacanya. Ia sangat terkejut dengan isi pesan yang rupanya itu dari Kay.


“Ini dikirim 15 menit yang lalu. Aku harus cepat ke bandara!” Kata Luhan yang langsung menuju parkiran mobil dan menuju ke airpot.


Ia mengendarai dengan sangat cepat seolah tidak memperdulikan keadaan jalan raya yang pagi itu cukup padat kendaraan. Di benaknya seolah penuh dengan Sava. Jarak airport tidaklah dekat dari sekolahnya. Menambah kecepatan harus ia lakukan agar ia tidak terlambat.


Fikirannya yang kacau, membuat Luhan semakin campur aduk. Ia merasa cemas, bingung, tidak nyaman, bersalah, kecewa, sedih. Ia sulit mengekspresikannya. Ia hanya mencoba focus untuk segera sampai airport dan menemui Sava.


.


.


.


"Selamat ya..." Kay ikut senang.


"Aku tidak menyangka jika ibumu itu pemilik perusahaan fashion branded ternama.." Kata Dio yang masih tak percaya. Hidup Sava itu sangat sederhana. Tapi melihat ketertarikan Sava pada bidang fashion, iapun menghilangkan keraguannya.


"Tapi sekarang sudah percaya, kan?" Tanya Kay.


Dio mengangguk. Ia ingat tempo hari Sava dan Kay heboh karena ibunya Sava ingin menuntut pihak sekolah, Amel, dan Aina perihal pencemaran nama baik Sava. Ibunya Sava bahkan sudah menyewa lawyer terkenal untuk mendapatkan keadilan bagi Sava.


Lawyer terkenal itu pasti membutuhkan biaya yang sangat mahal, tapi ibunya Sava bahkan sudah mengontraknya sebagai lawyer pribadi keluarga ibunya Sava.


Ibunya Sava pasti orang yang sangat kaya.


Beruntung waktu itu Sava dan Kay berhasil menenangkan emosi Ibunya Sava. Jika tidak, maka semua akan berlarut-larut dan menjadi masalah baru yang pada akhirnya justru akan merubah total kehidupan Sava.


Bagi Sava, Amel dikeluarkan dari sekolah, Aina kena skorssing, nama dia sudah dibersihkan, ia sudah merasa lebih dari cukup.


Lagian, Sava juga tidak mau jika kasusnya menjadi topik hangat media-media Indonesia.

__ADS_1


“Ayo ke ruang tunggu! 15 menit lagi pesawatnya terbang.” Kata Ayah Sava menyela pembicaraan muda-mudi di hadapannya.


Sava, Kay, dan Dio hanya mengangguk.


Kay berulang kali melihat ke arah jalan masuk ke bandara. Ia menunggu Luhan. Apa Luhan tidak mau datang? Itulah pertanyaan yang selalu ia tanyakan.


Jika Luhan benar-benar tidak datang, maka sudah membulatkan keyakinan untuk membenci Luhan setelah ini.


Kay terlihat cemas membuat Sava heran dengan Kay. Apalagi saat ia melihat Kay berjalan mondar-mandir yang menurutnya tidak jelas itu. Mengganggu pendangan saja.


“Ada apa, Kay? Kau terlihat cemas.” Tanya Sava.


“Aku hanya sedikit gugup pada ketinggian..” Dusta Kay untuk mengulur waktu.


Sava ngakak.


“Haha.. Bilang saja kalau kau takut tinggi. Tenang saja, Kay, kau hanya perlu berdoa agar semuanya baik-baik saja! Ayolah, Ayah sudah jalan duluan! Kau tidak maukan kita ketinggalan pesawat?” Kata Sava.


Akhirnya Kaypun menyerah. Sepertinya Luhan tidak akan datang. Usahanya sia-sia?


Kay mulai membalikkan badan dan menenteng tas ranselnya. Dio juga terlihat tengah mengontrol troli yang berisi beberapa koper besar. Mereka bergegas menuju ruang tunggu pesawat.


Sementara itu di luar bandara, Luhan mencoba masuk ke ruang tunggu. Ia kesulitan untuk masuk ke dalam bandara karena penjagaan yang sangat ketat. Tapi setelah ia menjelaskan dengan baik-baik, petugas bandarapun mengijinkan Luhan masuk. Tentu saja dengan syarat penyitaan kartu pelajar Luhan. Itupun tidak boleh berlama-lama.


Setelah masuk ke dalam bandara, Luhan mencari Sava kemana-mana. Hingga akhirnya ia melihat Sava tengah berjalan di sebuah escalator menuju ruang tunggu. Luhan langsung berlari ke arah Sava.


“SAVA!!!” Teriak Luhan.


Sava menoleh dengan cepat saat mendengar namanya dipanggil.


Semua orang yang ada di bandara itu menoleh ke arah Luhan.


“Lu-Luhan??” Tanya Sava tidak begitu yakin.


“Sava, kumohon jangan pergi!” Kata Luhan yang masih terengah-engah karena mengatur nafasnya.


Itu memang Luhan. Sava tidak berhalusinasi.


Kay melihat ke arah Dio, Dio melihat ke arah Sava. Sava menatap Dio penuh harap. Kay tahu apa yang Sava inginkan. Kay menyentuh bahu Dio untuk mengizinkan Sava berbicara pada Luhan. Dengan cukup berat, akhirnya Dio pun mengizinkan Sava berbicara dengan Luhan.


“Kau hanya memiliki waktu kurang dari 10 menit.” Kata Dio sambil melihat ke arah jam tangannya.

__ADS_1


Sava mengangguk senang dan berjalan menuju Luhan. Dio dan Kay kembali berjalan menuju ruang tunggu. Sava dan Luhan duduk di sebuah kursi yang ada di bandara.


"Kuharap kau paham situasi kita, Va... Dan aku selalu mempercayaimu.. Aku akan selalu menunggumu... Selalu.." Batin Dio. Ia melihat Sava san Luhan duduk bersama dari kejauhan.


__ADS_2