My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Sava Mendapat SMS Ancaman


__ADS_3

Sementara itu, di dalam perjalanan menuju basecamp klub seni…


Lorong sekolah....


“Kau baik-baik saja? Apa ada beban di benakmu?” Tanya Ohsen memecah keheningan.


Ohsen tidak tahan karena selama di perjalanan Sava hanya terdiam, berkutik dengan fikirannya sendiri.


Ingin bertanya sejak tadi, tapi ia memberikan jeda untuk Sava. Bagaimanapun, ingin sendiri itu juga penting. Sekalipun itu adalah Sava.


“Ah, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Jawab Sava singkat.


“Dari tadi kau terdiam, kurasa kau memikirkan sesuatu. Sepertinya sesuatu itu adalah sesuatu yang berat sehingga menjadi beban..”


Tanya Ohsen hati-hati.


Ohsen paham betul jika Sava itu bukan tipe cewek yang mudah membuka diri. Sava itu snagat berhati-hati dalam segala hal. Tentu saja tak mudah baginya mengorek informasi dari Sava.


“Kau seperti peramal saja, mengetahui apa-apa yang belum diketahui… Percayalah, aku baik-baik saja..”


“Aku hanya menghawatirkanmu.. Akhir-akhir ini aku sering melihatmu termenung seperti memikirkan sesuatu. Kalau kau butuh bantuan jangan sungkan untuk meminta bantuanku karena aku pasti akan membantumu, Va...”


“Terima kasih, Tuan sudah menghawatirkanku..Hehe..”


“Sama-sama..” Ohsen tersenyum manis.


“Aisshhh, Kau ini.. Kau memang berbeda dengan Luhan. Kalau Luhan pasti akan langsung marah dan bersikap aneh kalau aku tidak menceritakan hal jujur padanya..”


“Hm, jadi kau sering berbohong pada Luhan?”


“Ah, bukan begitu maksudku, Ohsen… Luhan akan menjadi aneh saat dia bertanya, apa kau baik-baik saja? Lalu aku menjawab aku baik-baik saja. “


“Benarkah?”


“Iya, dia selalu begitu. Jawabanku harus sesuai dengan yang ia harapkan. Kalau menurutnya tidak sesuai, ia akan berubah aneh dan gampang kesal.”


Benar, Luhan selalu menuntut jawaban yang memuaskan. Sepertinya Ohsen juga tak jauh beda. Yang membedakan, keegoisan dan perubahan sikap Luhan begitu ketara bak orang lain yang tak dikenali.


“Mungkin Luhan membutuhkan jawaban dengan penjelasan yang panjang, bukan jawaban singkat.”


“Hmmm, mungkin saja. Tapi jika aku mencoba menjelaskannya dengan panjang lebar sampai mulutku lelah, dengan santai ia berkata jika ia tidak memahaminya, setelah itu berlalu seolah tidak ada apa-apa. Aku yang bodoh atau memang dia saja yang keterlaluan? Aku kesulitan membaca keinginannya..”


“Sava, apa Luhan begitu berarti untukmu?”


Ohsen sungguh ingin tahu akan hal ini. Ia ingin tahu bagaimana cara pandang Sava terhadap sepupunya itu.

__ADS_1


“Eh?? Apa maksud pertanyaanmu itu? Aku tidak mengerti..”


“Jawab saja!”


Haruskah Sava jawab jika ia sangat mencintai Luhan sampai membuatnya tidak berdaya?


Itu tidak mungkin, kan?


“Baiklah… Luhan itu sahabat dari kecil. Sahabat baikku, sahabat yang mau menerima segala kekuranganku, kau pasti tahu kalau aku bukan berasal dari kalangan berada seperti Luhan maupun Lien yang memiliki perusahaan pribadi… Luhan, sahabat yang menjadi sandaran saat aku sedih, menemani tertawa saat aku bahagia, sahabat yang selalu bertingkah dengan konyolnya untuk membuat orang di sekitarnya bahagia… Sahabat dari dulu sampai saat ini. Itu berlaku juga dengan Lien... Mereka sangat berharga lebih dari apapun..“


Suara Sava tak diragukan lagi ketulusannya. Ohsen mempercayai hal itu. Persahabatan mereka memang tak main-main.


Tapi Ohsen masih ingin tahu lebih banyak lagi tentang Sava.


“Bagaimana kalau nanti?”


“Apa perlu aku jawab untuk pertanyaan yang sudah kau ketahui jawabannya??”


Yang seperti ini Sava langsung menutup rapat-rapat. Memang sulit sekali mencari info soal perasaan Sava secara pribadi.


“Ah, benar juga. Persahabatan kalian luar biasa. Bodoh kalau aku meragukannya..” Sava tersenyum ringan menanggapi perkataan Ohsen.


Kali ini Ohsen menyerah saja.


Sava akan lebih mudah dan santai jika diajak bercanda hal-hal umum, bukan soal kehidupan pribadinya.


.


.


“Kalian latihan dulu saja, aku akan ke belakang sebentar.” Kata Ohsen.


“OK..”


Sementara menunggu Ohsen ke toilet, Sava dan Dio hanya berdiam mempersiapkan alat music. Di klub seni sangat sepi, hanya ada Sava dan Dio. Maklum, meskipun masih jam sekolah, tapi banyak dari para siswa yang disibukan dengan kegiatan masing-masing.


Suasana sepi membuat Dio akhirnya membuka pembicaraan.


“Kau dan dia terlihat semakin dekat..”


“Dia siapa?” Jawab Sava tanpa menoleh, ia masih membersihkan biola.


“Ohsen..”


Sava meletakan biola yang sudah dibersihkannya. “Bukankankah kita juga dekat seperti itu? Menurutmu jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan yang kau lontarkan padaku?” Sava melanjutkan mengelap biola.

__ADS_1


“Kau mengembalikan pertanyaanku. Dasar..” Dio menekan tuts piano kesayangannya.


Meski Dio hanya menekan pelan, nada yang keluar terdengar indah.


Sava tersenyum... "....."


“Baiklah, aku tahu jawabanku dan jawabanmu akan sama. Karena mulut kita akan berkata sahabat! Dekat itu sahabat..” Dio memainkan sebuah lagu mellow dengan pianonya.


“Bingo!! Dio, aku ingin curhat, hmm… akhir-akhir ini aku sering mendapat pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal..”


“Benarkah? Memang isi pesannya apa?”


Dio penasaran. Jarang sekali Sava mau curhat padanya.


“Sebenarnya aku sudah sering mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal. Aku tahu itu dari fangirls-nya Luhan. Tapi kali ini, isinya ancaman dari perempuan yang mengaku kekasihmu. Aku jadi tidak enak dengannya. Apa kita sebaiknya jaga jarak?”


Soal ancaman pesan singkat itu benar adanya. Sava mulai terganggu karena seringnya ia mendapatkan pesan singkat akhir-akhir ini.


Dio menghentikan jemarinya memainkan piano… “Kekasihku? Haishhh, pacaran saja belum pernah.”


Dio berkata sejujurnya. Ia memang tidak pernah menjalin hubungan dengan seseorang. Ia terlalu lama melihat Sava hingga tidak ada yang menarik hatinya selain Sava.


“Benarkah? Wajahmu itu sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan perempuan cantik. Hanya perempuan bodoh yang tidak menerimamu. Kau membuatku tidak percaya.. Katakan Dio, kekasihmu itu anak satu sekolah dengan kita, kan?”


“Aku bukan tukang bohong, tapi saranmu bagus juga…Hmmm.. Aku harap kekasihku nanti perempuan salah satu dari sekolah kita..”


“Ya ampunnn.”


Mereka sejenak tertawa. Impian Dio itu sederhana juga ya?


“Jangan kau pedulikan pesan singkat itu! Tidak usah kau tanggapi! Anggap saja itu fan rahasiamu.”


“Iya, aku mengerti…”


.


.


“Kalian membicarakan apa sepertinya sangat mengasyikan? Bolehkah aku ikut bergabung?” Tanya Ohsen yang tiba-tiba muncul di depan pintu.


“Ohsen, kau mengagetkan kami. Untung aku memiliki jantung yang sehat, bisakah pelan-pelan wahai Tuan Bule?” Kata Sava.


“Hish, jangan sebut aku dengan sebutan aneh itu! Tidak cocok sama sekali. Membuat merinding saja!... Asal kalian tahu, aku ini asli made in Indonesia, dan aku sangat bangga akan hal itu!!” Kata Ohsen sedikit kesal.


“Ha..ha..ha..”

__ADS_1


“Tuan, kau sangat lucu..” Kata Sava di sela tawanya.


“Tidak sama sekali!”


__ADS_2