My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Kebenaran Terungkap


__ADS_3

Sekolah..


Hukuman skorsing sudah berjalan empat hari. Kurang dua hari berakhir. Sava dan Ohsen harap-harap cemas dengan apa yang akan guru dan komite sekolah putuskan.


Dikeluarkan dari sekolah atau tetap bertahan.


Tentu saja tetap bertahan adalah keputusan yang lebih baik.


Sava ingin lulus di SMA yang sama dengan Luhan dan Lien. Ini bukan janji, tapi ia hanya berfikir jika itu adalah yang terbaik untuk persahabatan mereka bertiga.


Kay memberitahu Sava dan Ohsen untuk berangkat ke sekolah meski hukuman skorsing mereka belum selesai. Ini karena perintah kepala sekolah.


Kay dan Dio berhasil menemukan pelakunya. Mereka berdua berhasil membuat Amel, pelaku pengambil foto itu untuk mengakui kesalahannya kepada kepala sekolah. Hal ini membuat Sava dan Ohsen tidak jadi di keluarkan dari sekolah.


Mendengar berita itu, seisi sekolah kembali gaduh. Suasana yang sebelumnya sempat sedikit mereda tapi kembali heboh lagi. Jadi apa yang diyakini selama ini salah?


Jadi ini salah faham? Jadi sudah menuduh, menghina Sava dan Ohsen sembarangan?


Sava terlihat sangat senang dengan apa yang Kay katakan. Ia merasa lega akhirnya masalah kasus fotonya dengan Ohsen terbongkar kebenarannya.


“Apa kau senang?” Tanya Kay.


“Hm, tentu saja… Rasanya semua beban berat menghilang.. Wusss terbang terbawa angin… Ringan sekali.. Serasa aku bisa terbang…“ Jawab Sava tersenyum.


“Jangan lupa ucapkan terima kasihmu pada Dio. Dia orang yang berjasa besar akan ini.. Aku tak bisa tanpa bantuan dia..” Kata Kay.


Sava mengangguk senang. Sava mengajak Kay untuk menemaninya mencari Dio.


Siswa-siswi yang dulunya menghinanya kini hanya bisik-bisik tidak jelas saat melihat Sava kembali bersekolah. Sava tetap dengan tampang riang. Baginya selama ia benar, ia tak takut menghadapi apapun.


Di tengah perjalannya mencari Dio, Sava dan Kay bersebrangan dengan Ohsen. Sesuai yang Ohsen katakan pada malam itu. Ohsen sama sekali tidak menyapanya. Seulas senyumpun tidak.


Ini tidak seperti biasanya. Ohsen bagai orang lain. Ia tidak mengenalinya. Ohsen terlihat sangat dingin. Matanya penuh sorot menusuk dan tajam. Ini menyakitkan untuk Sava. Ohsen memang benar-benar tidak ingin berbicara padanya lagi.


Ohsen merubah total sifatnya.


“Kay.. Ohsen melakukan apa yang ia katakan..” Kata Sava bersedih.


“Tidak apa-apa… Ini tidak akan lama..” Kata Kay.


“Sampai kapan?.. Dia bahkan tidak menyapaku.. Aku mencoba tersenyum padanya, tapi ia tidak mau melihatnya.. Dia benar membenciku, Kay…”


“Sstt, sudah aku bilang itu sementara saja. Dia hanya perlu menenangkan diri..”


“Hn, dia pantas melakukannya padaku, Kay… Aku pantas mendapatkannya. Ini memang sudah seharusnya..” Sava pasrah dengan apa yang ia alami.


Toh ini bagian dari konsekuensi dari keputusan yang sudah ia buat.


Legawa saja, kan?


.

__ADS_1


.


Dari kejauhan nampaklah Dio dengan tampang yang sedikit berbeda. Sebuah senyum manis tersungging di bibirnya.


Dio melambaikan tangannya. Sava membalasnya. Dio langsung menghampiri Sava dan Kay.


“Ahh, sepertinya aku menjadi lapar.. Aku ke kantin duluan ya..” Kata Kay langsung pergi meninggalkan Sava dengan Dio.


Kay hanya ingin memberi waktu untuk Sava dan Dio. Ini waktunya Sava kembali ceria dan Dio adalah sosok yang sangat pantas untuk mengembalikan mood Sava.


“Kau terlihat sangat senang, Nona..” Kata Dio.


Lebih tepatnya menggoda.


“Dio terima kasih…” Sava memeluk Dio sebentar lalu melepaskannya.


Dio sangat senang. Ini pertama kalinya ia melihat Sava begitu senangnya. Ia juga senang, ia dapat membantu menyelesaikan masalah yang Sava alami.


“Sama-sama.. Aku senang kalau kau juga senang. Tadi aku sudah bertemu dengan Ohsen, sepertinya dia juga merasa lega… Kau sudah bertemu dengannya?” Tanya Dio.


Sava terlihat murung. Tapi dengan cepat ia menyembunyikannya.


Ia tidak boleh membuat Dio menghawatirkannya lagi.


“Sudah.. Tadi aku bertemu dengannya. Sepertinya memang begitu.. Ia terlihat lega..” Jawab Sava seadanya.


Sava hanya tidak mau Dio mengetahui masalahnya dengan Ohsen.


“Dio, bagaimana kalau kita ke taman belakang? Akhir-akhir ini aku sering menyendiri di taman belakang.. Tempatnya sepi dan menenangkan..” Ajak Sava.


“Apa kau berniat menangis di sana? Aku sering melihatnya loh..” Kata Dio menggoda.


“Haiiisshhh… Kau ini.. Jangan sembarangan mengintip orang yang sedang menangis!” Sava menyikut dada Dio.


"Aahh.. Sakit.." Dio terlihat kesakitan.


Sava membulatkan matanya. Ia tak menyangka jika sikutan tangannya akan menyakiti Dio.


"Di..Dio kau tidak apa-apa?" Sava benar-benar menunjukkan kekhawatirannya.


"Dadaku sakit sekali..." Dio memegangin dadanya.


Sava memegang sekitar dada Dio juga. Ia ingin memastikan apakah sakit yang Dio rasakan itu parah atau tidak.


"Sakitnya di sebelah mana?"


"Di sini..." Dio mengarahkan tangan Sava ke dada kirinya.


"Di sini?"


"Di sini.." Dio menggeser tangan Sava ke sisi lain dadanya.

__ADS_1


"Dio maaf.. maaf.. aku hanya bercanda.. haruskah kita ke UKS? Rumah sakit? Aku bersedia bertanggung jawab dan aku juga akan membayar uang berobatnya.. Berapapun itu, aku pasti akan membayarnya..." Sava serius akan hal ini. Ini adalah salahnya yang akhirnya membuat Dio terluka.


Namun...


"Pffff..." Dio menahan tawanya.


Sava itu kalau panik sangat lucu. Berbicaranya berada di level yang berbeda. Dio tak menyangka jika Sava memiliki sifat tanggung jawab yang luar biasa.


Sava menunjukkan ekpresi bingungnya. Kenapa Dio menahan tawanya? Bukankah dia sedang kesakitan?


"Hanya bercanda.." Dio mengankat kedua tangannya dari dadanya. "Tidak sakit sama sekali.." 😁


"DIOO!!!! Kau membuatku sangat takut, bodoh!"


"Kau sangat lucu..."


"Tidak lucu sama sekali!"


"Ayolah, sungguh.. tadi kau sangat lucu sekali.."


"Aku bilang tidak lucu sama sekali, Tuan Piano!" Sava cemberut.


Bagaimana bisa kena prank dibilang lucu? Dio itu seleranya aneh. Itulah yang Sava pikirkan.


"Manyun terus, semakin lucu juga.. Kawaii.." Dio bahkan menambahkan kata dalam bahasa Jepang.


"Dio apa kau menyukai One Piece?"


"Suka.. Kenapa?"


"Sama.. Haruskah nanti kita membahas petualangan Luffy dan kawan-kawan di taman belakang?"


"Ide bagus itu.. Yey.. aku punya teman sespesies..."


"Bahasamu loh...."


"Hahaha..."


Mereka hanya tertawa ringan sambil menuju ke taman belakang. Banyak cerita yang mereka bahas di sepanjang jalan menuju taman belakang. Mereka selalu saja memiliki obrolan sederhana tapi menarik. Membuat mereka berdua bisa saling nyaman dan nyambung setiap kali merrka bersama.


Tidak perlu waktu yang lama akhirnya mereka berdua sampai di taman belakang.


Taman yang cukup sepi dan sangat cocok untuk menyendiri.


Tapi kali ini ia berkunjung dengan Dio. Ia tak sendiri seperti sebelum-sebelumnya. Karena saat ini ia sedang bersama seseorang, maka taman belakang sekolah akan ia penuhi dengan aura ceria.


Dio memiliki selera humor yang menarik.


Bukankah harinya akan membaik?


Seperti endorphine saja, saat bersama Dio, dengan mudahnya Sava bisa tertawa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2