My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Red Carpet 2


__ADS_3

Setelah Luhan berlalu, Sava dan Dio akhirnya datang.


Sava memakai gaun putih terbuat dari satin dengan panjang sampai lututnya. Gaun pendek yang bisa mengembang saat tersipu angin berhiaskan renda bunga-bunga sakura di bagian bawahnya. Warna pink dari sakura menambah kesan anggun di gaunnya. Gaun dengan lengan pendek transparan yang hanya menutupi sampai batas bahu dan lengannya. Sebuah pita pink transparan melingkar mengiasi gaunnya. Tak lupa juga, Sava memakai high heals 15 cm berwarna putih transparan.


Malam itu, Sava terlihat luar biasa dengan rambut coklat yang lurus dan panjang tanpa hiasan yang ia biarkan terurai indah.


Sementara itu, Dio yang menjadi pasangan Sava juga memakai baju yang sangat serasi dengan Sava. Kemeja putih sebagai dalamannya dan bagian luar ia memakai rompi jas berwarna hitam. Tak lupa, sebuah dasi kupu-kupu hitam tersemat di lehernya.


Style Dio memang sangat berhubungan dengan seorang musisi. Yang jelas, satu kata untuk Dio. Perfect!


“WOW.. INI DIA pasangan teromantis kita…”


“Selamat ya atas pertunangan kalian…”


“Kalian sangat serasi…”


“Sava gaunmu boleh aku beli?”


“Sava, besok aku kalau menikah memakai baju rancanganmu ya…”


“Dio… Nanti mainkanlah sebuah lagu ya.. Kami merindukan permainan pianomu…”


Sava dan Dio membalas semua komentar-komentar teman-teman lamanya dengan senyuman bahagia. Mereka juga merunduk dan menundukan kepala sebagai tanda penghormatan mereka kepada teman-teman lamanya.


Sava masih memegang erat tangan Dio. Dio semakin mengeratkan pegangannya saat mendengar komentar-komentar yang teman-temanya lontarkan. Dio sadar meski peristiwa itu sudah berlalu, tapi Dio masih bisa merasakan ketakutan di diri Sava.


Bukan hal mudah bagi Sava melupakan masa lalunya. Terutama bagaimana intimidasi anak-anak saat skandal foto fitnah yang Sava alami. Pembullyan itu menyisakan kenangan buruk yang tak bisa Sava lupakan.


Dari jauh Luhan menatap sendu dua pasangan yang nampaknya tengah berbahagia. Luhan mengepalkan kedua tangannya. Rasanya bercampur aduk. Senang orang yang ia rindukan kembali, kesal ia tidak bisa leluasa menyampaikan perasaannya.


Ditambah, ia harus menerima kenyataan jika orang yang sangat ia cintai kini dimiliki orang lain.


.


.


.


Malam ini cuaca sangat mendukung. Langit hitam penuh bintang menambah kesan di malam reuni yang dilaksanakan outdoor itu.


Berbagai macam warna lampu hias juga ikut menghiasi acara reuni. Makanan dan minuman tertata rapi di tempatnya. Meja dan kursi yang terbalut kain berwarna putih menambah kesan romantic dengan sebuah bunga mawar merah dalam fas di tengah meja.

__ADS_1


Di ujung, ada sebuah panggung dengan berbagai macam alat music dan mikrofon. Ada pula tiga orang backing vocal dan beberapa pemain alat music untuk menghibur acara reuni itu.


Acara reuni yang berkelas.


“Dio, sepertinya itu panggilan penting.. Itu terdengar berkali-kali.” Kata Sava.


Dio melihat kearah Hp-nya. Sebenarnya ia sudah mengetahuinya. Tapi ia tidak berminat menanggapinya.


"Angkatlah.. Kasihan orangnya.." Kata Sava.


Dio mengangguk.


“Aku ke belakang sebentar!" Kata Dio akhirnya


"Iya.."


"Va, apa kau tidak berniat untuk menemui sahabat-sahabatmu? Lihatlah Kay, dia sangat konyol dikerumuni banyak perempuan! Berbaurlah! Tidak apa-apa..” Kata Dio.


Sava mengangguk dan berjalan pelan menuju kursi-kursi acara.


Setelah memastikan Sava 'aman', Dio berjalan pelan menuju taman belakang sekolah. Ia hendak menemui seseorang. Tepatnya sahabat lamanya, Aina.


Sahabat lama yang sempat ia lupakan.


“Maafkan aku kalau begitu. Tapi, kau bisa saja jujur pada Sava kalau kau akan menemuiku…” Kata Aina.


“Kurasa Sava masih dengan sangat jelas mengingat semua perbuatanmu padanya..” Kata Dio dingin.


“Apa maksud perkataanmu itu, Dio?” Tanya Aina tidak mengerti.


“Cih, berpura suci kau ini…”


“Bukankah aku sudah minta maaf padanya? Dia juga sudah memaafkanku…”


“Lalu bagaimana dengan pemecatan Ayah Sava? Kurasa kau ada di balik semua itu. Kau menyuruh Ayahmu untuk memecat Ayah Sava karena kau tidak bisa menerima kekalahanmu atas Sava. Bukankah itu jahat?”


“Dio, aku tahu aku dulu banyak salah. Dan kini aku harus menanggung semua balasan atas apa yang aku lakukan dulu. Aku kehilangan sahabat kecilku…”


“Bukankah itu setimpal? Baguslah jika kau menyesal..”


“Ya, aku menyesal. Aku belum mendapatkan maaf darimu, Dio…”

__ADS_1


“Jauhi kehidupan Sava dan aku!”


“Menjauhi Sava aku bisa, tapi menjauhimu aku tidak bisa! Dio, jangan paksa aku dengan permintaanmu itu! Kau tahu, aku pasti tidak akan bisa…”


“Terserah kau saja!”


“Dio, maafkan aku.. Aku tidak masalah kau mengabaikanku. Setidaknya kau masih menganggapku sahabat. Aku juga tidak masalah jika nantinya aku akan terluka…”


“Buanglah perasaanmu padaku! Kau tahu itu sia-sia..”


Aina sedikit kaget. Apa Dio mengetahui perasaanya? Itu tidak mungkin! Dio hanya mengetahi perasaan bersalahnya saja.


“Di..Dio?”


“Aku memaafkanmu…” Kata Dio sembari meninggalkan Aina.


Dio memang sakit hati atas semua yang Aina lakukan pada Sava. Tapi bagaimanapun ia juga tidak bisa berlama-lama memendam amarahnya pada Aina. Aina juga sahabatnya. Hubungan mereka awalnya sangat baik. Aina selalu membantunya. Menemani dirinya saat ia sendiri. Ia tidak sejahat itu.


Aina langsung tersenyum saat mendengar Dio memaafkannya. Baginya itu sudah cukup. Ia tidak bisa egois terus memaksakan kehendaknya. Ia tak bisa memaksakan perasaannya pada Dio.


Aina kini mulai menyadari ada yang lebih berharga dari pada perasaannya.


Persahabatan!


Persahabatan adalah segalanya. Cinta boleh datang dan pergi, tapi sahabat sejati tidak akan pernah meninggalkan. Tidak akan pernah berubah, akan selalu ada di saat suka maupun duka. Akan selalu merangkul saat menderita. Akan berbagi tawa ketika bahagia.


Ikatan persahabatan lebih kuat dari pada ikatan kekasih. Persahabatan dilandasi akan cinta kasih. Cinta yang tulus menembus perbedaan.


Akan selalu mendengar meski tak dibicarakan. Akan selalu melihat meski mata tertutup. Dan akan selalu ada meski tanpa diminta.


Itu ikatan yang ingin Aina perjuangkan. Dio memaafkannya seperti sebuah gerbang cahaya nampak di hadapannya.


Aina belajar atas semua kesalahannya. Aina menyesalinya.


Jika ia tidak bisa mengembalikannya seperti dulu, maka ia akan memperbaikinya. Mengumpulkan semua kepingan yang rusak itu. Menyusunnya ulang agar kembali sedemikian rupa.


Itu pasti sangat sulit. Tapi ia memiliki tekad besar. Ia memiliki niat yang tulus. Ia pasti akan bisa jika terus meyakininya.


Bukankah Tuhan selalu memberikan kesempatan yang ke dua?


Akan selalu ada masa depan untuk orang jahat yang ingin berubah.

__ADS_1


“Meski dia sudah memaafkanku, tapi aku tidak bisa berhubungan dengannya seperti dulu. Tapi aku akan berusaha memperbaikinya… Dio, kau pasti tahu aku tidak akan menyerah padamu…” Batin Aina sambil menatap punggung Dio yang semakin menjauh.


__ADS_2