
Rumah Sava dan Kay
.
.
Sesampainya di rumah, Kay langsung menyuruh Sava untuk mandi. Membersihkan diri agar Susana hatinya lebih baik. Sebenarnya hari ini Kay masih merasa sangat lelah. Ia langsung ke sekolah dari perjalanan jauh. Harusnya ia langsung pulang dan istirahat. Tapi itu tak masalah buatnya, ia malah bersyukur. Dengan adanya dia di sekolah, ia dapat menolong sepupunya.
“Ini makanlah..! Aku yakin dari kemarin kau tidak makan sama sekali..” Kata Kay menyodorkan semangkuk mie instant yang ia buat.
“Terima kasih, Kay. Tapi aku sedang tidak berselera…”Kata Sava.
“Hah, kau ini… Apa ayah mengetahuinya?” Tanya Kay. Sava menggeleng. “Biar nanti aku yang bicara dengannya.. Kau tidak usah memikirkan hal lain. Yang penting kau harus makan dan jaga kondisimu…!”
"...." Sava masih terdiam.
“Ish.. Bisakah kau menghargai usahaku sedikit saja? Aku benar-benar memasaknya dengan cinta!” Kata Kay dengan nada menghibur.
Sava akhirnya memakan mie yang Kay buat.
“Kay, mienya terlalu matang. Harusnya kau cepat mematikan apinya..” Kata Sava saat menikmati mie buatan Kay.
Kay tersenyum, sepupunya masih bisa diajak bercanda.
“Karena kau terlalu lama membiarkannya tergenang kuah yang panas, makanya menjadi terlalu matang…” Sahut Kay tidak terima hasil makanannya dikritik.
"Iya maaf..." Sava melanjutkan acara makannya.
Kay mengacak-acak rambut Sava. Sepupunya itu memiliki hati yang kuat, ia yakin itu.
“Va..”
“Hm?”
Sava menaikan alis matanya.
“Lien menyukai Ohsen!”
“Apa? Akh.. Uhuk.. uhuk…” Sava tersedak kuah mie instantnya.
Kay memberinya minum dan memijat-mijat tenguk Sava.
“Kalau sedang makan jangan berbicara! Kau ini..”
“Kau yang mgajakku berbicara..Huh.. Ulangi kata-katamu! Aku belum terlalu jelas mendengarnya..” Pinta Sava.
“Lien menyukai Ohsen! Aku tidak tahu sudah berapa lama Lien menyukainya. Tapi yang jelas itu sudah lama..” Kata Kay.
__ADS_1
“Menyukai yang seperti apa, Kay?” Sava masih belum mengerti.
“Cinta..” Sava sejenak berfikir.
“Ah, pasti gara-gara itu dia menamparku… Tapi bukankah dia menyukai Luhan?”
“Perasaannya ke Luhan kurasa tidak sampai sejauh itu…”:
“Apa kau yakin, Kay?” Sava mencoba meyakinkan.
“Cara Lien menatap Ohsen, salah tingkah kalau sedang bersama Ohsen, cara berbicaranya, senyumnya.. Semua berbeda saat dengan Ohsen.. Aku sudah sering mengamatinya, Va.. Mana mungkin dia menamparmu tanpa alasan. Dia kesal karena kau berciuman dengan Ohsen..!!” Kata Kay menjelaskan.
“Bukan ciuman, Kay..”
“Iya tahu... Maksudku gampangnya seperti itu..”
“Mungkin Lien sedang cemburu… Aku akan menjelaskan padanya kalau aku dan Ohsen tidak ada hubungan apapun…” Sava berhenti sejenak dari acara santap mie instantnya.
Kay menarik kursi makan di samping Sava dan mendudukinya. “Kau yakin akan melakukannya? Bagaimana dengan Luhan?”
“Benar… Apa yang harus aku lakukan?”
“Kau sendiri yang sering bilang, Luhan menyukai Lien. Mana yang kau pilih, Va? Membiarkan Lien dengan Ohsen, tapi Luhan terluka, atau Lien dengan Luhan, tapi kau yang terluka?” Kata Kay.
“Lalu apa kau tidak akan terluka, Kay?” Tanya Sava yang tahu kalau dari dulu Kay menyukai Lien.
Sava langsung menjatuhkan pukulan di kepala Kay dengan sendok makan. “Aishh, sakit bodoh..”
“Kau ini.. aku sering membuka jalan agar kau bisa memiliki waktu berdua dengan Lien, tapi ternyata kau sudah memiliki kekasih lain… huh..”
Kay tertawa renyah..”Bagaimana kalau Ohsen itu jatuh cinta padamu?” Tanya Kay yang berubah menjadi serius.
“Maksudmu?” Tanya Sava kaget.
“Ohsen itu hanya melihatmu! Dia mencintaimu!! Hanya kamu!” Jawab Kay sangat jelas.
“Itu tidak mungkin! Aku dan dia hanya bersahabat. Sama seperti hubunganku dengan kalian, dengan Dio…” Sava mencoba menyangkal.
“Terserah padamu… Coba bayangkan apa yang ia lakukan padamu? Apapun dia lakukan untukmu. Dia mengikutimu di klub seni. Dia sering menemanimu saat kau sendirian di sekolah. Dia membantumu saat kau butuh bantuan. Dia tidak pernah mengatakan tidak saat kau meminta apapun padanya… dan masih banyak lagi. Apa kau tidak sadar, hah? Jangan terlalu bodoh, Va… Aku tahu kau pasti juga merasakannya, kan? Kau hanya mencoba menepisnya…” Kata Kay panjang lebar.
Jujur saja, Sava juga sudah menyadari perlakuan berbeda dari Ohsen. Ohsen terlalu perhatian padanya. Sava hanya mencoba menyangkalnya.
“Aku tidak mengerti harus bagaimana, Kay? Hiks..hiks.. Ini rumit sekali.. Tidakkah ini kisah terlalu berat untuk anak usia SMA seperti diriku?” Sava kembali menangis.
“Sudahlah, kau harus putuskan sendiri bagaimana perasaanmu! Sudah aku bilang untuk sejak dulu kau mengutarakannya pada Luhan jauh sebelum ada Ohsen di antara kalian. Tapi kau bodoh, kau tidak melakukannya… Kini semua sudah terjadi. Waktu mempermainkan kalian. Aku hanya memberikanakan pilihan.. Tentukan siapa yang akan terluka. Aku yakin kau orang pertama yang siap terluka. Ck.. menyusahkan sekali..” Kata Kay.
"..."
__ADS_1
"Kau harus tentukan pilihanmu, Va!... Kita asumsikan jika Luhan dipihak mencintai Lien.. Ohsen suka padamu, dan Lien suka pada Ohsen..."
"..."
"Va?"
“Aku ingin Luhan bahagia..”
“Lien dan kau yang terluka.. Lien tidak mencintai Luhan, ia menyukai Ohsen, ia pasti tersiksa jika menurutimu untuk berpacaran dengan Luhan…”
“Belum tentu, Kay.. Aku rasa Lien punya rasa pada Luhan. Akhir-akhir ini mereka sangat dekat.., Lalu kalau aku ingin Lien bahagia..”
“Luhan, Ohsen, dan kau akan terluka. Luhan tidak bisa mendapatkan cintanya, Ohsen tidak dapat mendapatkan cintanya darimu..”
“Kalau aku ingin Ohsen bahagia?”
“Hm.. Apa kau tega menyakiti Lien yang sangat mencintai Ohsen? Lalu bagaimana dengan Luhan? Luhan akan terluka kalau Lien terluka. Bagaimana dengan dirimu sendiri? Kau bisa berpacaran dengan orang yang tidak kau cintai sama sekali?”
Sava menggeleng cepat. “Lalu, kalau aku yang bahagia?”
Kay menghela nafasnya. “Aku yakin kau akan menyesal seumur hidupmu karena kau melukai orang-orang yang sangat kau sayangi..”
“Jadi aku harus bagaimana, Kay? Apa yang harus aku lakukan? Aku harus apa? Ini membingungkan.. Ini berat.. Ini membuatku gila… Hiks.. Hiks.. aku tidak tahan terus begini Kay..” Sava kembali menangis.
“Kau istirahat saja! Tidurlah! Biarkan tubuhmu beristirahat! Kasihan kalau kau terus memaksa tubuhmu… Pikirkan saja baik-baik… Aku yakin kau bisa… Aku percaya padamu..” Kata Kay.
Sava mengangguk dan menuju ke kamarnya.
.
.
.
Kamar Sava..
Sava merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lemas. Dari hari kemarin ia tidak tidur. Beban fikiran yang membuatnya seperti itu. Masalah foto sudah menguras tenaganya, ini ditambah dengan kisah cintanya yang entah harus bagaimana menyelesaikannya.
Saat ia sedang berbaring, Ohsen dan Dio menelfonnya hanya untuk menanyakan keadaannya. Mereka berdua benar-benar mengkhawatirkan keadaan Sava.
“Ohsen, Dio… Kenapa kalian begitu baik padaku? Kalian bahkan sangat mengkhawatirkanku… Apa benar yang dikatakan oleh Kay?” Batin Sava.
Mata Sava tidak beralih dari handphonenya, ia berharap Luhan atau Lien menghubunginya. Lama ia menunggu, tapi handphonenya tidak kunjung berbunyi. Ia-pun mencoba menghubungi kedua sahabatnya itu, tapi Luhan mematikan hanphonenya dan Lien tidak menjawabnya.
“Mungkin handphonenya Luhan ngedrop. Kalau Lien, pasti ia sudah tidur. Lien kan baru melewati perjalanan jauh. Ia pasti sangat lelah..."
Sava mencoba tersenyum dan menyimpulkan sendiri jawaban yang sebenarnya ia tahu kalau itu tidak mungkin.
__ADS_1