My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Jam Kosong 2


__ADS_3

Di klub seni….


Terlihat beberapa anak yang sedang berlatih alat-alat musik. Mereka tampak serius saat mengatur harmonisasi nada. Sangat terlihat pada Ohsen yang sedang men-steam gitarnya, Dio dan Sava sibuk dengan pianonya, dan beberapa anggota lain yang memainkan alat-alat musik yang ada di klub seni.


Hampir semua jenis alat musik modern ada di klub seni. Pihak sekolah memang sangat peduli akan hal itu. Meski sekolah umum, tapi seni sangat diutamakan. Seni musik tentunya. Kadang banyak yang bertanya, kenapa seni diutamakan?


Bukankah ini bukan sekolah seni? Jawabannya tak sesingkat yang dibayangkan. Bukan untuk menjadi artis, seniman, atau apapun. Yang jelas, hanya untuk membangun karakter siswa sekolah.


Lagi pula, tidak hanya dengan klub seni yang dijadikan acuhan untuk membangun karakter siswa. Masih ada klub olah raga, jurnalis, dan lain sebagainya.


Dengan adanya hal itu, setidaknya siswa dapat menyalurkan hobi mereka. Toh ini hal yang positif. Jadi apa salahnya kalau dijalankan.


.


.


“Wah, permainanmu semakin baik, Va. Jika kau lebih bisa menekannya dengan segenap perasaanmu, maka akan keluar nada yang indah.” Puji Dio.


Sava tersenyum.


“Aku masih terlalu buruk dibandingkan kau, Tuan Mozaart. Jangankan menekan dengan penuh perasaan, aku saja masih belum begitu hafal letak nadanya. Piano ini memiliki banyak tombol. Hahh” Sava merendah.


Bukan, lebih tepatnya berkata apa adanya.


“Menurutku itu terdengar indah.” Kata Ohsen.


Walau Ohsen baru di klub seni itu, tapi ia sangat mudah bergaul. Ohsen tipe laki-laki yang easy going. Jadi bukan hal yang sulit untuk mendapatkan teman. Bahkan, ia bisa dekat dengan Dio.


“Ohsen saja membenarkan. Untuk pemula seperti dirimu, kau itu cukup baik. Piano memang bukan basikmu, tapi kau sudah bekerja keras mempelajarinya. Itu patut dipuji” Dio meng-iyakan kata Ohsen.


“Kalian terlalu berlebihan. Tahukah kalian jika sebuah pujian kadang justru menjadi beban? Masih banyak yang perlu dipelajari. Masih terlalu cepat untuk mengucapkan kata pujian..." Kata Sava.


"Tapi di tahap ini kau sudah pantas mendapatkan pujian.." Kata Ohsen.


Sudahlah, Savapun menerima pujian itu. Mereka saling tersenyum.


"Ahhh..., aku jadi lelah setelah sejam bermain piano. Akhir-akhir ini, para guru sibuk rapat. Kelas kosong, tak ada pembelajaran. Menyenangkan juga rasanya, tapi kalau terlalu lama jadi membosankan. Kenapa tidak dipulangkan lebih cepat saja? Kan jadi tidak bosan karena terlalu lama menunggu selesainya rapat.” Sava mulai meregangkan jemari-jemari tangannya yang terasa lelah karena terlalu lama bermain piano.


“Kalau kau memulangkan dirimu sebelum selesai rapat, siap-siap saja dicatat sama komisi disiplin sekolah karena kau terhitung membolos. Ketua OSIS kita itu memiliki wajah cukup menakutkan. Bertahanlah, hidup tak akan indah kalau belum merasakan bosan.” Dio menasehati.


“Terima kasih atas nasehatnya tuan penasehat.” Sava manyun.

__ADS_1


“Sama-sama, nona pendengar nasehat”


Sava semakin manyun. Dio dan Ohsen hanya terkekeh.


“Ayo ke kantin, aku merekomendasikan bubbletea untuk menghilangkan rasa bosan!” Ajak Ohsen.


“Oh great.. Ayo!!” Sava sangat senang.


Bubbletea itu manisnya menyenangkan.


“Kalian berdua saja. Aku masih ada les tambahan piano untuk persiapan konser. Aku harus menemui pak Son setelah ini.” Dio merasa berat hati.


Sebenarnya ia ingin ikut, tapi tugasnya memaksanya untuk membuatnya penting dan harus dilaksanakan.


“Yah mentang-mentang anak berbakat, selalu sibuk. Baiklah, mau bagaimana lagi? Dio, fighting!” Sava menyemangati.


Dio tersenyum seperti biasanya.


Setelah itu Sava dan Ohsen berjalan menuju kantin untuk membeli bubbletea.


Seperti biasa juga, Sava memesan dua taro bubbletea dan Ohsen choco bubbletea. Ohsen heran, kenapa Sava memesan dua taro bubbletea? Apakah sebegitu hausnya sehinggga memesan lebih?


“Apa perutmu akan baik-baik saja kalau kau meminumnya sekaligus?” Tanya Ohsen.


Ohsen hanya mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Sava.


“Bahkan ia tidak mengirim pesan singkat kepadaku. Kurasa dia juga kesal denganku. Hah, anak itu merepotkan sekali jika sedang ngambek.” Lanjut Sava lesu.


“Oh, sepertinya kau dekat sekali dengannya.”


“Dekat? Kau ini bagaimana, aku dan dia kan sahabat? Jadi tak perlu kau tanyakan kedekatan aku dengannya, karena kami pasti sangat dekat!”


“Ah, benar juga katamu” Suara Ohsen terdengar… tak biasa? Hanya saja Sava tidak menyadarinya. “Kalau begitu, ayo kita menemui Luhan!”


“Hemm.”


Tanpa harus mencarinya susah-susah, Luhan sudah menampakan batang hidungnya. Luhan itu sangat mencolok di sekolah itu. Sepertinya, ia juga akan menuju ke kantin untuk membeli bubbletea juga. Kebetulan sekali. Luhan juga tidak sendiri, ia bersama Kay dan Lien. Kelas kosong sepertinya akan berakhir dengan bercengkrama dengan sahabat.


Setidaknya tidak membosankan itu sudah lebih dari cukup.


“Sava, kau kemana saja, hah? Apa kau tak sadar kalau akhir-akhir ini kau sering meninggalkanku? Kau tidak tahu bagaimana aku mengalami kebosanan yang menyebalkan?” Rengek Luhan menghambur ke Sava.

__ADS_1


Sava hanya tersenyum kikuk. Luhan memang suka seperti itu jika ia terabaikan, tapi Sava baru menyadarinya jika saat ini rasanya Luhan terlalu berlebihan.


“Ma-maafkan aku! Ini untukmu! Kuharap kau memaafkanku, Han.” Kata Sava menyodorkan bubbletea yang baru dibelinya dengan Ohsen. Luhan kegirangan.


“Bubbletea? Ah, jadi kau tidak lupa padaku. Kalau begitu aku sudah memaafkanmu.” Luhan nampak seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah dari ibunya.


Sementara Sava, Lien, Ohsen, dan Kay hanya bisa menghela nafas panjangnya. Mudah sekali menjinakan Luhan. Luhan sangat kekanak-kanakan.


“Kau selalu bilang pada fangirls-mu kalau kau itu paling manly di sekolah ini. Nyatanya tidak sama sekali.” Desah Lien pelan.


“Siapa yang paling manly?” Tanya Ohsen karena tak terlalu mendengar kata-kata Lien.


“Lien bilang Luhan.” Jawab Kay.


Ohsen menggelengkan kepalanya tidak yakin. “Aku tidak percaya.”


“Kurasa aku juga begitu.” Kay membenarkan.


“Aku mendengarnya. Hoh, kalian itu sangat payah. Kalau bisik-bisik itu jangan keras-keras! … Sava, ayo kita pergi! Kau harus menemaniku seharian ini dan aku tidak menerima kata penolakkan darimu! Aku tidak suka!” Kata Luhan seenaknya saja dan menyeret Sava pergi.


“HEI!!”


“Seenaknya saja itu anak.” Kata Ohsen.


“Sudahlah, biarkan saja mereka! Seharian ini, Luhan mencak-mencak tak jelas gara-gara ia merasa diabaikan oleh Sava. Dan kau tahu? Aku menjadi sasaran kekesalannya… Aku bahkan tidak membuat masalah apapun pada Luhan, tapi dia tanpa sebab dan alasan yang jelas memarahiku. Anak itu benar-benar. Aishhh, ingin rasanya melayangkan pukulan manis di wajahnya itu.” Ujar Kay yang sedikit kesal karena seharian ini ia menjadi pelampiasan kekesalan Luhan..


“Hahaha. Nasibmu malang sekali, Kay. Kasihan sekali kau.” Ejek Lien.


Kay hanya melotot. Lien yang dipelototi Kay hanya nyengir tak jelas.


“Eh, ayo kita makan di kantin saja!” Ajak Ohsen.


“Ah, benar juga. Sava dan Luhan pasti pergi membolos. Jadi, kurasa biarkan saja mereka menghabiskan waktu bersama!” Kata Kay.


“Kenapa kita harus membiarkannya? Mereka bisa dianggap tidak masuk sekolah. Mereka bisa mendapatkan masalah dengan guru BP karena melanggar peraturan.” Kata Ohsen.


“Biarkan saja. Hanya sekali. Kurasa Luhan benar-benar merindukan Sava… Anak itu benar-benar tidak pernah berubah sejak dahulu. Walau dia dekat denganku, tapi ia lebih dekat dengan Sava. Bahkan sangat dekat. Kadang aku saja merasa iri karena kedekatan mereka.” Kata Lien.


Kay dan Ohsen sempat tersentak mendengar pernyataan Lien.


Iri?

__ADS_1


Hanya mereka tidak berniat bertanya lebih lanjut tentang maksud kata iri itu sendiri.


__ADS_2