
Suasana menjadi terdiam, Luhan melanjutkan kegiatan dengan HP-nya, Lien mulai memilah-milah hasil wawancara reporternya, sementara Sava sibuk dengan memoles design bajunya. Tiba-tiba dari jauh muncul seorang laki-laki tampan.
Dia adalah Aldio Rasya atau nama panggilannya Dio. Dia adalah partner kerja Sava di klub seni. Dia juga merupakan salah satu flower boy di sekolah selain Luhan.
Kalau Luhan karena tampan dan berprestasi di klub sepak bola, Dio karena prestasinya di bidang seni musik. Dia juara bertahan kompetisi piano nasional. Bahkan banyak yang menyebut Dio itu Mozart-nya sekolah.
Dia sangat jenius di bidang musik, terutama piano.
“Sava...” Panggil Dio.
“Ah.. Dio? Ada apa, tidak biasanya kau menghampiriku seperti ini?” Tanya Sava.
Luhan dan Lien hanya memperhatikan saja.
“Ada masalah di klub seni, bisakah kau ikut denganku untuk menyelesaikannya?” Tanya Dio.
“Ah.. Baiklah aku akan pergi denganmu.. Oh ya, kalian pulang duluan saja! Aku pasti akan lama. Jangan bertengkar! Dan pastikan kalian selamat sampai rumah. Hubungi aku jika kalian sudah sampai di rumah!” Kata Sava berpamitan.
“Eh.. Ah. Yaya...” Respon Lien dan Luhan kikuk.
Setelah itu Sava dan Dio meninggalkan Lien dan Luhan menuju basecamp klub seni.
“Dia siapa?” Tanya Luhan.
“Astaga, kau bodoh atau memang tidak peka sih? Kita seangkatan dengannya, Luhan-bodoh. Dio itu anak jurusan X1 IPA-1, kelas kita itu bersebelahan dengannya. Apalagi dia itu dikenal sebagai Mozart-nya sekolah. Katanya kalau dia sedang main piano, maka kita akan terhipnotis oleh musiknya dan kita tidak akan bisa mengedipkan mata kita walau hanya sesaat...” Kata Lien.
“Berlebihan sekali ceritamu! Lalu kenapa dia membawa pergi Sava begitu saja? Bahkan dia tidak minta izin dahulu padaku. Dia pikir dia itu siapa? Seenaknya saja membawa Sava pergi!” Celetuk Luhan yang langsung mendapat pukulan di kepalanya. “HEI, SAKIT bodoh!!”
“Kau yang bodoh! Mereka itu partner di klub seni. Wajar-wajar saja jika mereka pergi bersama. Kalau bodoh jangan keterlaluan! Namanya saja keren, EXCEL, tapi otaknya jongkok. Apalagi mata pelajaran matematika, memprihatinkan... Harusnya otakmu bisa seperti Ms. Excel! Hanya dengan mengklik-klik rumus F(x) semua hasil bisa langsung diketahui.”
“Aku tak sebodoh itu, Nona cerewet. Nyatanya, tes IQ-ku lebih tinggi dari milikmu. Tentu saja aku lebih pintar darimu!”
“Tapi sayangnya test IQ-mu tak berlaku di kehidupan nyata. Dan parahnya lagi, setiap ulangan matematika kau selalu dapat red mark. Oh my God, sang pangeran sekolah, kapten klub sepak bola sekolah yang amat-sangat terkenal itu ternyata matematikannya sangat buruk. MEMALUKAN! Bagaimana jika itu menjadi topic utama majalahku ya?”
Luhan tak tahan mendengar celotehan sahabatnya itu, Lien. Ia langsung membekap mulut Lien dan menyeret paksa Lien untuk pulang ke rumah.
Biasanya yang bisa menghentikan perang mulut mereka berdua hanya Sava. Tapi Sava sedang tidak ada, maka Luhan akan sedikit lebih dewasa.
“Hey, lepaskan! Aku tak bisa bernafas, bodoh!” Pinta Lien.
“Jangan mengataiku bodoh lagi! Bisa tidak sebentar saja kau menutup mulutmu yang bagai knalpot itu, hah?” Luhan justru mengeratkan bekapannya pada mulut Lien membuat Lien nampak kesal karena ia kesulitan untuk bernafas.
“LUHAN, Kau GILA ya, hah?? Aku bisa MATI!”
“Haha, kau jadi sangat lucu. Rambutmu berantakan..” Luhan mulai merapikan rambut Lien. Lien hanya terengah-engah karena berusaha bernafas.
“Sudahlah! Ayo pulang!!”
Dari balik jendela yang tak jauh dari posisi Luhan dan Lien, sepasang mata melihat Luhan dan Lien dengan senyuman yang sulit diartikan.
Entahlah maksud dari senyuman itu. Yang jelas dari kedua sorot mata indahnya seolah menyiratkan usaha menegarkan hati untuk tertawa.
Sudah sewajarnya ia melakukannya.
Apakah itu juga termasuk dalam kewajiban? Nyatanya ia akan tetap seperti itu, akan tetap melakukannya. Selalu berusaha tersenyum untuk orang-orang yang disayanginya.
Bukankah ia layak mendapatkan predikat sebagai sosok pemilik hati malaikat?
“Mereka terlihat sangat bahagia...” Gumam Sava.
“Sepertinya begitu..” Sambung Dio yang samar-samar mendengar gumaman Sava.
“Eh?”
“Sepertinya juga kalian sudah lama berteman?”
__ADS_1
“Hm, dari bangku sekolah dasar.”
“Bukankah itu hebat bisa menjalin hubungan persahabatan selama itu?” Sava hanya tersenyum menyetujuinya. “Apa terlalu menyakitkan?”
“Eh?”
“Tidak apa-apa.. Hm, ayo pulang! Kau terlihat lelah. Aku akan mengantarmu.” Dio seakan mengerti.
“Pulang? Bukankah kita belum menyelesaikan jadwal baru untuk latihan anggota baru klub seni kita?”
“Aku akan melanjutkannya di rumah. Ramalan cuaca tadi pagi yang ku tonton di berita tv mengatakan jika hari ini akan hujan lebat. Lebih baik kita pulang saja! Bagaimana?”
“Hn begitukah? Baiklah. Ayo kita pulang! Maaf, sepertinya akan merepotkanmu karena kau harus menyusun jadwal baru sendirian. Kurasa aku bukan contoh ketua klub yang bertanggung jawab ya?”
“Kau itu benar-benar orang yang baik, ya? Apakah hobimu itu meminta maaf? Bagiku, kau ketua yang sangat bertanggung jawab. Kau sudah melakukan yang terbaik, Va.” Sava hanya tersenyum menanggapi penuturan Dio.
Ia dan Dio memang sering berbicara seperti itu. Santai dan mengarah cara bercengkrama mereka, meski kadang banyak yang tidak begitu Sava mengerti dari sosok laki-laki baik seperti Dio. Dio baik dan misterius itulah yang ada di benaknya.
Mereka berdua juga pulang menyusul Lien dan Luhan yang sudah lebih dahulu pulang.
Sepanjang perjalanan yang berdiam. Sava berkelut dengan fikirannya sendiri. Dio hanya fokus menyetir mobilnya. Tapi sesekali memperhatikan Sava.
Ia merasa khawatir. Entahlah apa yang ada di fikiran perempuan di sebelahnya itu. Hatinya berfikir, apakah itu sesuatu yang berat melihat bagaimana ekpresi lelah di wajah Sava? Wajah lelah yang selalu ia lihat dari wajah Sava meskipun Sava selalu mencoba tersenyum, tapi Dio tahu jika apa yang Sava lakukan hanyalah untuk menutupi rasa lelahnya.
Seandainya itu memang sebuah beban, bisahkah suatu saat dirinya mampu meringankan beban itu?
Bisakah ia menjadi malaikat penolong Sava dari segala kesedihan Sava?
Bisakah ia menjadi sosok paling penting dalam hidup Sava? Sosok yang akan Sava cari untuk mendapatkan perlindungan. Sosok yang akan membantu Sava menringankan segala beban hidup Sava.
Bisakah ia mendapatkan peran itu? Yang jelas ia akan selalu berusaha mendapatkan peran itu.
.
.
.
Akhirnya dengan gontai, Sava memasuki rumahnya.
Hari ini sungguh melelahkan. Kegiatannya di sekolah benar-benar menguras tenaganya. Ia bersyukur masalah di klub seni terselesaikan dengan baik. Berkat Dio tentunya.
Bagi Sava, Dio itu seperti guardian angel untuknya. Meski mereka berteman belum lama, tapi banyak kecocokan di antara mereka berdua. Sama-sama memiliki sifat dewasa dan tidak menyukai hal-hal berbau konyol. Saling memberikan kenyamanan itulah alasan kenapa mereka memiliki kecocokan dalam bercengkrama.
“Hei nona, kalau kau berjalan menunduk seperti itu kau bisa menabrak tiang. Syukur-syukur jika tiangnya terbuat dari kayu, tidak sakit mengenai jidatmu. Bagaimana jika tiangnya terbuat dari beton? Aku jamin jidat mulusmu itu akan benjol!” Suara baritone khas laki-laki menggugah lamunan Sava.
“Kay?” Kaget Sava.
“Hn.. Apa kau merindukan sepupumu?” Tanya Kay dengan senyuman manisnya.
Dengan spontan, Sava dan Kay langsung berpelukkan ala Teletubbies. Sudah lama mereka tidak saling bertemu.
Kay adalah sepupu Sava yang pindah ke London sejak di bangku sekolah dasar.
Kay memiliki nama lengkap Revansha Kay. Dia laki-laki yang sangat manly, baik, dan tentunya memiliki paras yang cukup tampan. Itu karena dia blesteran, ayahnya asli orang Inggris. Meski dia terkenal manly, tapi dia bisa menjadi sangat cute dan hanya orang-orang tertentu yang beruntung yang bisa melihatnya, Sava salah satunya.
“Kenapa tidak memberi kabar?”
“Kejutan..”
“Dasar..”
“Sepertinya kau harus rela berbagi kamar denganku karena aku akan tinggal di sini..”
“Apa maksudmu itu? Tidak akan! Ada kamar kosong di rumah ini, di sebelah kamarku! Kau bisa memakainya jika mau. Jika kau tidak mau, kau bisa tidur bersama ayahku! Ayahku itu sangat menyayangimu, dia akan sangat senang hati menerimamu di kamarnya.”
“Hahaha.. tentu saja aku bercanda. Mana mungkin aku tidur dengan ayahmu. Apalagi jika harus denganmu yang tidurnya seperti nonton sepak bola. Jangan-jangan kau masih sering mengigau? Kira-kira seperti ini... jangan.. jangann.. jangannn...!” Kay menirukan Sava saat mengigau.
“Enak saja.Tidak!”
“Tapi aku penasaran apa yang sering kau igaukan. Jangan-jangan kau akan dimakan gajah bermulut hiu makanya kau sering berkata jangan, jangan, jangan, seperti itu?"
__ADS_1
Bletttaaakkk… Bogem mentah mendarat di kepala Kay.
“Sava, sakit!”
Setelah itu mereka saling berbincang ringan seperti biasanya yang mereka lakukan di chattingan dunia maya.
Selain ada hubungan kekerabatan, mereka juga seumuran, jadi mereka menjalin hubungan layaknya menjalin persahabatan antar sesama remaja seusiannya.
Meski Kay di London, mereka sering video chatting hampir tiap hari. Jadi terasa jarak di antara mereka itu dekat. Mereka saling berbagi cerita.
Dulu waktu di sekolah dasar, Kay pernah memiliki perasaan jika ia menyukai Lien, tapi saat ingin mengungkapkan perasaanya ke Lien ia tak sempat. Itu karena ia tidak punya keberanian untuk mengungkapkan dan akhirnya pindah ke London.
Kay juga pernah menceritakan hal itu pada Sava. Tapi Sava hanya menanggapinya sebagai kekonyolan saja. Bahkan menertawakannya. Bagaimanapun cinta di sekolah dasar terdengar aneh menurut Sava.
.
.
…..
.
.
Di sisih lain, terlihat tubuh sixpack seorang laki\-laki yang tengah tiduran di tempat tidur. Seprei tempat tidur nampak tidak tertata rapi, selimut tebalnyapun ada di bawah lantai. Beberapa buku komik tergeletak di sana\-sini.
Dia adalah Luhan.
Ia sedang memandang foto-foto dengan sahabatnya yang berada di Hp miliknya. Terlihat seorang laki-laki yang merangkul dua orang perempuan.
Lien, Luhan, dan Sava.
Melihat itu, Luhan tersenyum tipis. Lien yang selalu berpose se-unyu-unyu mungkin, Luhan menjulurkan lidah, dan Sava yang tersenyum dewasa.
“Kalian berdua adalah hidupku...” Gumamnya sebelum beranjak tidur.
.
.
….
.
.
Di kamar Lien juga tak jauh berbeda. Ia masih sibuk mengedit hasil kerja reporternya dan sesekali melirik ke layar laptopnya. Online merupakan salah satu bagian dari hidupnya. Hampir semua situs jejaring sosial ia ikuti.
Saat ini ia lebih banyak menggunakan FB atau lebih dikenal dengan facebook karena ia menunggu balasan dari laki-laki pemilik akun Sen12.
Laki-laki pemilik akun itu selalu membuat Lien merindukannya, meski hanya di dunia maya. Entahlah apa yang ia rasakan. Hanya saja ia sangat bahagia hanya dengan melihat akun Sen12 online dan chatting dengannya.
***Lien : Benarkah itu?
Sen12 : Apa aku punya potensi untuk berbohong?”
Lien : Ah.. Baiklah.. semoga persahabatan kita berlanjut di dunia nyata. Wellcome to our home, Indonesia***.. :’)
Setelah lelah chatting dengan akun Sen12, Lien menutup semua jendela layar laptopnya. Saat akan mematikan laptop, ia sejenak memandangi wallpaper desktop laptopnya. Senyumnya mengembang. Foto lulusan saat sekolah menengah pertama adalah wallpaper laptopnya.
__ADS_1
“Kalian itu luar biasa. I love you, guys..."