My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Apa Yang Sudah Aku Lakukan?


__ADS_3

Kini Luhan tengah menyendiri di taman belakang sekolah. Ia merenung. Fikirannya sulit dijabarkan. Kepalanya sakit. Hatinyapun juga.


“Luhan.. Bagaimana?” Tanya Lien.


"..." Luhan hanya menggelengkan kepalanya.


“Jadi, ia benar-benar pergi… Jahat sekali tidak memberitahu kita…”


“Jangan menyalahkan dia! Fikir saja apa yang telah kita lakukan padanya!” Kata Luhan agak keras.


“Selalu saja seperti ini.. Kalau tentang Sava kau pasti membentakku. Kau itu kenapa? Ada apa denganmu?” Tanya Lien kesal.


“Kau bertanya ada apa denganku?”


“Tentu saja! Kau selalu menempatkanku di tempat yang salah..”


“Harusnya kau bertanya ada apa dengan kita? Apa yang sudah kita lakukan? Kita membuatnya pergi. Kita menyingkirkannya!” Jawab Luhan terdengar miris. “Lien…”


“…” Lien hanya terdiam.


“Maafkan aku…”


“Aku selalu memaafkanmu..”


“Kurasa aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita.” Kata Luhan tiba-tiba.


“…” Lien terdiam lagi.


“Aku sudah tidak bisa lagi. Ini berat. sangat berat… Dadaku terasa sesak..” Luhan memegangi dadanya yang memang terasa sangat sesak.


Lien tidak tega melihat Luhan seperti itu. Hatinya sebenarnya juga sangat terluka. Ia tersiksa selama ini.


“Aku tahu. Aku sadar. Aku mengerti… Semua yang kita lakukan membuatnya terluka. Membuatnya sakit. Membuat kita sama-sama merasakan sakitnya….”


“Lien.. Kau…”


“Ya.. Aku tahu.. Selama ini yang selalu kau lihat itu SAVA bukan aku.. Bahkan setelah kita berpacaran. Saat kau bersamaku, matamu selalu melihat ke arah Sava. Tatapanmu beda, kau mengkhawatirkannya.” Lien mulai mengungkapkan isi hatinya.


“…”


“Tak hanya itu, sebenarnya aku sudah lama menyadarinya. Aku hanya perlu memastikan saja.. Kau sudah dari dulu memendam rasa pada Sava, kan? Apa yang sudah kau lakukan pada semua laki-laki yang berusaha mendekati Sava? Kau menghajar mereka semua. Kau menggunakan kekuasaanmu untuk mengancam mereka agar menjauhi Sava…” Lien mulai meneteskan air mata.

__ADS_1


“Li..Lien…”


“Jika sedang bersamaku, kau akan marah-marah dan cenderung kasar. Tapi berbeda jauh saat kau dengan Sava. Kau akan sangat baik padanya. Aku tahu Sava itu baik, pintar, penuh kasih, dan lemah lembut. Sementara aku? Haha, aku keras kepala, bicaraku kasar… Kadang aku iri pada Sava.. Kenapa kau begitu perhatian padanya? Sahabatmu bukan hanya dia saja…” Lien menangis.


“Maafkan aku…” Luhan terlihat begitu menyesal.


Luhan tak tahu kalau perlakuannya akan membuat Lien merasa dibedakan.


“Kau menjadi playboy apa karena Sava?”


“…”


“Ck, sudah kuduga..”


“Hn, dia menjadi alasanku seperti itu. Aku hanya mencoba membuang jauh perasaanku padanya…”


“Bodoh…”


“Aku hanya tidak tahu harus bagaimana… Sava dan kau adalah sahabatku. Sahabat yang tak mungkin aku abaikan begitu saja…Bagaimana aku bisa memilih satu di antara kalian?” Luhan semakin kalut dengan dirinya yang tak mampu berbuat apa-apa.


“Kalau kau menyukainya, ah bahkan mencintainya sebagai seorang wanita, sejujurnya aku tidak mempermasalahkan itu.. Aku malah akan senang jika Sava yang menjadi kekasihmu. Setidaknya ada yang mengertimu lebih baik daripada dirimu sendiri..”


“Semua sudah terjadi. Terlambat..”


“Aku tidak bisa menjelaskannya… Maaf..”


“Apa kau juga akan bisa memaafkanku kalau aku berkata sejujurnya?” Tanya Lien.


“Berkata jujur bagaimana?” Tanya Luhan penasaran.


Lien mengambil nafas pelan dan menghembuskannya.


“Aku sakit hati pada Sava, Han… Aku menerimamu bukan karena aku mencintaimu. Ak.. aku hanya kesal pada Sava.. pada diriku sendiri…” Jawab Lien.


Lien masih menangis.


“Apa Sava berbuat salah padamu?” Tanya Luhan.


“Tidak. Tapi aku kesal karena… Kenapa orang yang aku sayangi semuanya lebih menyayangi Sava daripada aku?? Bahkan orang yang aku cintaipun sangat mencintai Sava…” Jawab Lien.


“Jadi kau menyukai Ohsen?” Luhan langsung sadar, orang yang mencintai Sava dengan tulus hanya dirinya dan Ohsen. “Ternyata benar dugaanku.. Perasaanmu pada Ohsen sudah begitu jauh rupanya, Lien..” Batin Luhan.

__ADS_1


“Hn.. Jauh sebelum Sava mengenal Ohsen… Aku lebih dahulu yang mengenal Ohsen. Kenapa harus Sava yang dia sukai? Kenapa bukan aku? Aku menyukai Ohsen sejak dulu. Kami berteman di FB saat dia masih di London… Kenapa Ohsen menyukainya? Bukan aku? Apa aku kurang cantik untukknya? Apa memang Sava jauh lebih cantik?.. Kenapa harus Sava yang dia pilih? Aku tak masalah jika dia memilih orang lain. Tapi dia memilih Sava, Han. Sava yang dia pilih! Aku benci itu..” Lien kesal tapi juga sedih.


“Apa kau perlu menyalahkan perasaan Ohsen pada Sava? Apa kau punya hak melimpahkan kekesalanmu pada Sava?”


“…” Lien menggeleng.


“Apa kau tidak tahu kalau Sava menolak Ohsen?” Tanya Luhan.


Lien tak menduga dengan jawaban Luhan.


“Menolak?”


“Hn..”


“Itu tidak mungkin, Han.. Aku sendiri yang melihat mereka kencan bersama…”


“Apa setelah itu kau melihat keakraban mereka di sekolah? Tidak, kan? Itu karena mereka tidak berpacaran sama sekali… Sava menolak Ohsen. Ohsen sendiri yang berbicara padaku. Sava memiliki orang lain yang dia suka…” Kata Luhan.


Mendengar penjelasan Luhan membuat Lien semakin merasa bersalah.


“Sava… Bukankah dia dekat dengan Ohsen? Siapa yang dia sukai? Apakah itu Dio? Ataukah laki-laki itu adalah…” Lien menhentikan kata-katanya. Ia hanya bingung atas perasaannya sendiri. Ia tidak bisa memahami situasi hatinya.


“Entahlah…. Oh ya, tadi sebelum berangkat dia bilang dia sangat menyayangimu…” Lanjut Luhan yang tidak mau tahu siapa sebenarnya yang Sava sukai.


Sejujurnya ia penasaran, tapi ia tidak punya nyali jika ternyata laki-laki yang Sava sukai bukan dirinya. Ia terlalu takut untuk menerima kenyataan seperti itu.


“Anak itu benar-benar… Hampir sebulan aku tidak berbicara padanya. Aku menyakiti perasaannya. Aku berbuat jahat padanya. Bahkan aku menampar keras pipinya... Tapi, ia masih bisa bilang kalau dia menyayangiku? … Hatinya itu terbuat dari apa? Dan apa yang telah aku lakukan padanya? Dia pergi sebelum aku sempat mengucapkan maaf padanya.. Sahabat macam apa aku ini?? Hiks.. hiks…” Kata Lien yang benar-benar menyesal.


Lien tak tahu harus bagaimana. Ia kacau. Ia merasa bersalah besar pada Sava. Harusnya ia tak menuruti egonya. Harusnya ia bisa menahan emosinya. Harusnya ia bisa menerima keadaan waktu itu.


Harusnya, harusnya, dan harusnya.


Masih banyak kata harusnya untuk mengulang waktu yang tidak mungkin dapat ia balikan. Semua sudah terjadi. Ia hanya bisa menyesalinya.


“Sudahlah..tak ada gunanya kita menyesalinya! Semua sudah terjadi. Kita semua terluka!.. Sekarang sudah waktunya kita harus terbiasa menjalani waktu tanpanya sampai batas yang tidak tahu sampai kapan… Jangan khawatir, Sava pasti pulang setelah ia menggapai semua cita-citanya!” Kata Luhan.


Luhan berdiri dan meninggalkan Lien yang menangis sendirian. Luhan kembali meneteskan air matanya. Ia tak berniat menunjukkan air matanya pada Lien.


.


.

__ADS_1


.


“Jadi Luhan menyukai Sava sudah lama? Lalu Lien menyukaiku? Ya Tuhan.. Apa yang sudah aku lakukan…” Batin Ohsen yang sedari tadi menguping pembicaraan Lien dan Luhan.


__ADS_2