My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
"KARENA AKU MENYUKAIKANYA!"


__ADS_3

Hari berganti lagi, sekolah dimulai lagi.


Kay dan Dio sudah mencurigai beberapa siswa yang berpotensi menjadi pelakunya. Dio secara pribadi akan menanyai Aina Elizabeth tanpa Kay. Dio menganggap kalu dia lebih tahu karakter Aina karena mereka sahabat sejak kecil. Kaypun hanya bisa menyetujuinya. Baginya terpenting sekarang adalah masalah Sava cepat terselesaikan.


Dio berjalan menuju ke basecamp klub jurnalis sekolah. Ia berjalan cepat tanpa menghiraukan fangirls yang memangil centil namanya. Ia hanya focus pada pertanyaan yang akan ia tanyakan pada Aina.


Ia harus mendapatkan jawaban yang sesuai dengan faktanya!


.


.


Bascamp Klub Jurnalis.


Saat ia sampai di basecamp klub jurnalis, Dio melihat Aina sedang berbicara pada seseorang. Dio penasaran, tapi ia memilih menguping dari balik pintu masuk basecamp klub jurnalis.


“Dunia terasa nyaman sekali… Setidaknya satu nyamuk sudah tersingkirkan…” Kata Aina senang.


Ia mengajak toss minuman Amel dengan 2 botol minuman kemasan.


"Akhh.. Rasa anggur ini enak juga. Semakin manis jika rencana berjalan lancar..." Amel menikmati minuman rasa anggurnya.


"Rencana kita memang berjalan manis dan mulus... Aku bisa menyingkirkannya dari sisi Dio.. Sedikit lagi.. aku harus memastikan dia benar-benar menjauh dari Dio..."


"Aku akan mendukungmu..." Kata Amel.


"Cheeerss.."


Mereka berdua kembali menikmati minuman kemasan milik mereka.


“Majalahmu akan laku keras saat kau terbitkan retaknya persahabatan Excel, Lien, dan Sava… Segeralah kau lakukan itu ketika kau sedang berkuasa di klub jurnalis...” Kata Amel.


“Setidaknya aku masih berkuasa sampai waktu yang lama. Lien dan Kay memutuskan untuk behenti sebentar mengurusi klub jurnalis ini… Aku harus memanfaatkan kesempatan langka ini untuk menyingkirkan Sava!"


"Kau benar, ini adalah saat yang sangat tepat. Kau harus segera bertindak!"


"Dendamku hanya dengan Sava.. Dia merebut Dio dariku.. Dio berubah sejak mengenal Sava… Dio bersikap berbeda terhadapku… Aku minta maaf soal Ohsen, tapi Sava tetap harus out dari sekolah ini!!” Kata Aina yang sakit saat mengingat sifat Dio yang berubah begitu banyak padanya.


Dulu Dio akan selalu mencarinya. Memintanya menemani les piano ataupun melakukan hal yang lain. Ia bahkan sering menunggu Dio latihan piano sampai selesai meski itu membutuhkan waktu yang lumayan lama. Aina akan setia menunggunya.


Aina selalu membantu Dio jika Dio kesusahan, seperti sebaliknya juga. Dio juga peduli pada Aina. Mereka bersahabat sejak kecil karena kedekatan keluarga mereka juga.


Namun sekarang berbeda jauh. Dio tak lagi memintanya menemani latihan piano. Dio kedapatan sering pergi latihan bersama Sava dengan dalih ketua klub musik.

__ADS_1


Mengetahui akan fakta itu, kebenciannya pada Sava semakin menjadi.


“Ini..” Amel menyerahkan sebuah amplop coklat.


“Apa ini, Kak?” Tanya Aina bingung.


“Ini adalah foto kencan Sava dan Ohsen, dan ada foto Lien yang kesal melihatnya…” Jawab Amel.


“Kakak jadi penguntit mereka?”


Aina tak habis pikir bagaimana kakak kelasnya itu bisa mendapatkan foto sebagus ini? Bagaimana bisa ia melakukannya jika seharian tidak melakukan pengintaian terhadap Sava maupun Ohsen.


Apakah hanya kebetulan saja Amel mendapati kencan Sava dengan Ohsen?


Jika iya, maka sepertinya nasibpun sedang berpihak kepadanya.


“Reporter rahasia tepatnya…”


“Haha, Kakak ini ada-ada saja... Aku tidak bisa membayangkan kehebohan apa yang bakal terjadi di sekolah kita…” Aina dan Amel terlihat begitu bahagia.


"Akan menjadi sangat menarik.." Kata Amel.


Tiba-tiba Dio langsung masuk dan merebut amplop coklat itu dari tangan Aina. Dio langsung merobek amplop itu tanpa melihat isinya.


“Dio, apa yang kau lakukan, hah?” Bentak Aina.


"Itu materi untuk majalah minggu depan! Kenapa kau merusaknya?"


“Kau hanya menyebarkan gosip murahan yang tidak ada nilai kebenaranya.. Tak tahukah kalau ulahmu hanya membuat orang lain terluka…” Kata Dio yang juga ikutan membentak Aina.


“Dio!!! Bahkan sekarang kau berani membentakku.. Aku seperti ini itu karenamu!! Kalau kau tidak berubah, mana mungkin aku seperti ini…” Kata Aina. Aina sangat kesal.


“Apa perlu dengan melukai perasaan orang lain? Bahkan karena foto palsu dari kalian, Sava dan Ohsen terancam dikeluarkan dari sekolah ini!!” Dio semakin marah. Ia tidak bisa membendung emosinya yang meluap-luap.


“Kenapa kau selalu membelanya? Kenapa kau berubah? Kenapa kau begitu peduli padanya? Kenapa Dio? Kenapa?” Tanya Aina.


“KARENA AKU MENYUKAINYA!!!..” Kata Dio sangat keras.


Aina sangat kaget.


Aina hanya meneteskan air matanya. Sahabat yang dicintainya menyukai orang lain…


"Di..Dio..."

__ADS_1


“Kalau nanti kau bersedia mengaku pada kepala sekolah tentang kebenaran foto itu, aku bisa memaafkanmu. Tapi kalau tidak melakukannya, kurasa persahabatan kita berakhir sampai di sini. Aku tidak mau memiliki sahabat yang licik dan jahat… Aku kecewa padamu…” Kata Dio lagi.


Dio berjalan keluar dari basecamp klub jurnalis. Sebelum sampai pintu, ia menoleh kearah Amel yang berdiri mematung karena dirinya.


“Hei kakak kelas, kurasa Sava dan Ohsen tidak memiliki salah padamu? Tega sekali kau melukai mereka… Kurasa kau masih memiliki hati untuk mengakui kesalahanmu..” Kata Dio lalu melangkah pergi.


.


.


.


Saat keluar dari klub jurnalis, Dio bertemu Luhan di depan ruang klub jurnalis.


“Luhan? Baru latihan sepak bola?” Sapa Dio yang melihat Luhan membawa bola sepak di tangannya.


“Hn.” Mereka hanya berpandangan mata dan saling menjauh satu sama lain.


Amel mulai dirundung rasa bersalah saat mendengar kata-kata Dio. Benar juga, tak seharusnya ia seperti itu.


“Arrgggghhhhhh… Semua gagal…” Teriak Aina tak terima. “Ini semua belum selesai… Seorang Aku diperlakukan seperti ini hanya demi gadis yang miskin itu?. Dio bercandamu sama sekali tidak lucu!” Batin Aina kesal.


“Sudahlah, lebih baik semua kita akhiri…” Kata Amel.


Aina agak kaget dengan penuturan Amel. Mereka sudah bersusah payah membuat gosip heboh, tiba-tiba harus segera mengakhirinya.


“Aku akan mengaku pada kepala sekolah, aku tidak akan melibatkanmu… Aku tidak mau merusak persahabatmu dengan Dio. Setelah aku mengaku yang sebenarnya pada Papamu, aku akan langsung pindah sekolah. Semua akan kembali seperti semula..” Kata Amel.


Aina mulai berfikir. Keegoisannya hanya akan menjauhkannya dari Dio. Ia tidak mau itu. Ia melakukan ini hanya untuk mendapatkan Dio kembali, tapi justru karena ini juga Dio semakin menjauhinya. Ini bukan yang ia inginkan. Hatinya mulai berfikir.


“Tapi Kak..” Aina merasa tidak enak hati.


Bagaimanapun ia juga ikut bersalah karena membuat scenario gosip tentang foto itu.


Ia yang menulis sendiri semua berita-berita itu. Ia merangkai kata-kata yang memojokkan Sava dan Ohsen.


Targetnya hanya Sava, tapi Ohsen ikut kena imbasnya. Aina paham akan hal ini. Ia tahu kesalahannya itu sangat besar. Tapi egonya selalu menolak mengakuinya.


Namun ia surah berhasil membuat Sava terkena masalah besar. Sudahkah itu cukup baginya?


“Tidak apa-apa…” Kata Amel yang langsung keluar dari basecamp klub jurnalis.


Ia sudah berniat untuk mengatakan yang sebenarnya tentang foto itu. Ia sudah siap dengan semua konsekuensinyakonsekuensinya. Ia hanya perlu memberanikan diri untuk menghadapinya.

__ADS_1


Aina melihat punggung Amel semakin menjauh.


“Tenang saja Kak, aku akan membalas pengorbananmu…”


__ADS_2