My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Suatu Saat Nanti


__ADS_3

Sudah sebulan berlalu semenjak kepergian Sava. Lien kembali bisa tersenyum. Meski tidak bisa menghubungi Sava, tapi ia masih bisa berkomunikasi dengan Kay. Itupun sangat sulit karena Kay tidak begitu suka bermain social media. Tapi setidaknya Lien masih bisa bertanya tentang kondisi Sava.


Lien juga lega karena Sava tidak marah padanya dan menyuruh untuk tetap semangat menjalani hidup. Semangat dan selalu berjuang untuk menggapai cita-cita.


Seperti itulah yang Kay katakan pada Lien. Lien hanya bisa menerima pesan Sava lewat Kay. Sava tidak begitu suka dengan social media sama seperti Kay. Walau harus sabar menunggu balasan pesan dari Kay begitu lama, itu tak masalah buat Lien. Kay bilang, ia bisa saja tidak membuka akun selama sebulan lebih. Itu suatu perjuangan untuk Lien. Ia tak mau kehilangan Sava.


Bagaimana dengan nomor telepon?


Percayalah, Sava tidak ingin membaginya. Kay selalu membuat alasan tidak wajar jika Lien mencoba bertanya.


Lien mencoba mengerti. Setalah apa yang ia lakukan pada Sava, sudah sewajarnya Sava menjauhinya. Sudah sewajarnya Sava menghindarinya.


Lien merasa pantas mendapatkan hukuman dari Sava.


Lien akan terus menunggu sampai kapanpun waktu itu agar Sava memaafkannya. Agar Sava mau berbicara padanya.


Setahun, lima tahun, ataupun sepuluh tahun lagi. Lien akan menunggunya.


.


.


.


Hari ini, Ohsen sudah resmi keluar dari sekolah. Ia akan kembali ke London. Lien dan Luhan mengantarkannya ke airport.


Lien, Luhan, maupun Ohsen sudah terlihat semakin dewasa dalam menyikapi sebuah perpisahan. Sudah belajar bagaimana menerima keadaaan. Sudah bisa berdiri tegar akan semua rasa sakit yang dialami.


“Jagalah dirimu baik-baik, brother.. Aku pasti akan merindukanmu… Jangan lupa hubungi aku!” Kata Luhan sambil memeluk Ohsen.


“Hati-hati di jalan, Sen…” Kata Lien yang juga memeluk Ohsen.


Hatinya perih. Inikah rasanya akan ditinggal orang yang sangat dicintai? Apa Luhan juga merasakan hal yang sama dengannya setelah ditinggal Sava?


“Kau yakin tidak ada yang ingin dibicarakan padaku?” Tanya Ohsen pada Lien.


Luhan mengerti apa yang Ohsen fikirkan. “Haishh.. Aku akan pergi… Lien, kutunggu kau di parkiran mobil…” Kata Luhan langsung pergi.


Cukup lama Lien mungunci mulutnya. Dengan terbata-bata dan gugup, ia akhirnya membuka suaranya. Ia tidak ingin menyesal karena tidak sempat menungkapkan perasaanya pada Ohsen. Apapun jawabannya ia tak mempermasalahkan, yang penting ia sudah mengungkapkannya.


Ia sudah menjajaki setingkat lebih dewasa..


“Ak..Aku…. Ah…”


Lien gugup.


“Keluarkan semua kata-katamu! Jangan ragu, Lien!” Ohsen tersenyum. Ia sudah tahu semuanya yang ada di benak Lien.

__ADS_1


“Aku menyukaimu, Ohsen… Sudah lama…”


“Hm.. Aku tahu… Aku hanya ingin mendengarnya langsung dari mulutmu.” Kata Ohsen tersenyum manis.


“Kau tahu itu? Sejak kapan? Darimana?” Tanya Lien yang malu. Pipinya pasti sangat merah.


“Sejak kau curhat dengan Luhan di taman belakang sekolah sebulan yang lalu.” Jawab Ohsen.


“Ah.. Saat itu… Kau tak perlu menjawabnya, Sen… Aku juga sudah tahu perasaanmu.” Lien membalas senyuman Ohsen. Lien sudah bisa berfikir dewasa.


Ia tahu jika Ohsen memiliki rasa pada Sava. Perasaan Ohsen pasti tidaklah sederhana.


“Maafkan aku.. Perasaanku padanya memang belum hilang… Bahkan aku masih sakit karenanya..” Ohsen berbisik tapi masih mengumbar senyumannya.


Terdengar bercanda, tapi Lien tahu rasanya mencintai seseorang tapi tak bisa mendapatkannya itu seperti apa. Pasti menyakitkan karena Lien sendiri pernah mengalaminya.


“Aku mengerti, Sen…”


“Hmm… Bagaimana kalau pernyataanmu kau tanyakan lagi suatu saat nanti?” Tawar Ohsen.


Suatu saat nanti?


Di masa yang akan datang?


Di suatu hari yang indah?


Di masa depan?


Lien tersenyum dan mengangguk senang.


Setidaknya Ohsen memberikan kesempatan padanya. Ohsen bersedia membuka hati untuknya. Meski Lien tidak tahu sampai kapan ia harus menunggu Ohsen, tapi ia akan tetap melakukannya.


Cintanya pada Ohsen begitu besar. Lien yakin suatu saat nanti perjuangannya akan terbayar dengan akhir kisah yang indah. Tentulah akhir yang indah itu adalah ia bersatu dengan Ohsen.


Itu akan sangat manis sekali.


"Jaa.. sampai jumpa lagi..." Kata Ohsen.


Lien mengangguk... "Sampe jumpa lagi, Ohsen. Aku akan menunggumu..."


"Thanks... Jaga dirimu baik-baik!"


"Iya.. Kau juga.."


Akhirnya sebuah lambaian tangan mengiringi kepergian Ohsen.


.

__ADS_1


.


.


Setelah semua orang terdekat Lien dan Luhan pergi, hidup mereka banyak berubah. Biasanya tiap hari akan terasa ramai tapi kini terasa semakin sepi. Tapi mereka berdua tetap semangat untuk menjalani hari-hari mereka ke depan.


Lien termotivasi dengan janjinya pada Ohsen. Sementara Luhan yang bersemangat karena Kay memberitahunya jika Sava selalu berdoa untuk kebahagian Luhan. Sava berpesan agar Luhan tetap berusaha menggapai masa depannya.


Kay tidak memberitahu Luhan kalau Sava sangat mencintai Luhan. Kay hanya berusaha tidak membuka luka Sava yang tengah berusaha menutupnya rapat-rapat.


Sava sedang berusaha, maka itu kenapa ia juga harus mendukung keputusan dan pilihan Sava.


Kay ingin Sava bahagia. Dari dahulu tujuan ia tetap sama.


.


.


.


“Menggapai cita-cita, ya?” Batin Luhan sambil memutar-mutar sebuah bola sepak dengan kedua tangannya. Luhan tersenyum.


Waktu terus berlalu. Mereka tetap focus mengukir kisah-kisah yang indah di dalam hidup mereka. Terus berusaha menggapai cita-citanya. Mereka hanya berharap yang terbaik untuk hidup mereka. Untuk mendapatkannya, hanya usaha keras yang bisa dilakukan.


Apapun cita-tanya, apapun impiannya, apabila dilakukan dengan usaha yang penuh dengan keikhlasan dan senandung doa yang selalu dipuji, maka apapun tujuan mulia itu pasti akan terwujud. Seberapa besar usaha, perjuangan, maka akan menentukan seberapa besar pula yang akan didapatkan.


Tuhan mengerti keinginan manusia yang tak terbatas itu. Tuhan akan melihat usaha-usaha keras dari hamba-hamba-Nya. Tuhan akan membayar indah atas segala usaha yang tulus.


Jadilah apa yang dimau!


Jadilah sesuatu yang nembuat bahagia!


Jadilah sesuatu yang patut dibanggakan!


Sava, Kay, Dio, dan Ohsen sudah mengambil langkah pijakan awal untuk mewujudkan cita-cita mereka. Mereka mengambil start di luar negeri.


Sementara, Luhan dan Lien, mereka berdua juga sudah siap untuk menggapai impian mereka di Indonesia.


Mereka sudah mengambil jalan hidup masing-masing. Mereka memiliki pindasi yang kuat atas pelajaran berharga di usia yang masih muda. Mereka bisa saja goyah, tapi mereka tahu cara terbaik untuk bertahan.


Jatuh... Bangun lagi..


Jatuh lagi... Bangun lagi..


Jatuh sekali.. Bangun sepuluh kali..


Tak lelah, tak menyerah..

__ADS_1


Berjalan lambat jika dihitung, terasa cepat jika tak dipirkan. Setahun, dua tahun, tiga tahun... Waktu terus berlalu.. tak terasa...


Semakin dekat dengan impian... Semakin dekat dengan cita-cita. Harapan manis menunggu di ujung sana.


__ADS_2