
Sava, Kay, Ohsen, dan Dio, mereka berempat menuju ke kelas untuk mengambil tas Sava dan Ohsen karena sudah waktunya bagi Sava dan Ohsen menjalankan hukuman skorsing mereka.
Selama perjalanan, terlihat jelas tatapan tak suka dari semua siswa sekolah yang melihatnya. Mereka tidak habis fikir bagaimana pangeran sekolah seperti Kay dan Dio mau berjalan dengan Sava yang mereka anggap hina.
Di depan kelas terlihat Lien dengan tatapan yang sulit di artikan. Mata Lien terlihat sembab dan memerah. Sava menghampiri Lien, Sava berharap Lien akan percaya padanya. Ia berharap jika Lien akan membantu mencari solusinya. Membantu mencari kebenarannya.
Tapi semuanya berbeda…
sangat berbeda dari apa yang Sava bayangkan..
PLAAKKK…
Lien yang tak terduga menampar keras pipi kiri Sava. Sangat keras sampai-sampai terdengar banyak siswa lain yang berdiri tak jauh dari tempat itu.
Kay, Dio, dan Ohsen sangat kaget dengan perlakukan Lien. Bahkan Savapun tidak mengerti. Mereka membulatkan matanya.
Kenapa Lien menamparnya? Bahkan dengan sangat keras.
Sava bisa merasakan luka seperti dibakar di pipi putihnya.
“Li..Lien…?” Gumam Sava sambil memegangi pipinya. Perih sekali rasanya.
Sebenarnya apa yang baru saja terjadi? Lien menamparnya, kan? Bunyi tamparan itu... rasa pedih di pipinya...
Sava masih tak mengerti.
“Aku membencimu!!” Kata Lien yang langsung pergi meninggalkan Sava dan yang lain.
Sava langsung mematung dibuatnya.
Lien membencinya?
Setelah tamparan keras, sekarang Lien bilang jika ia sangat membencinya?
Sehina itukah ia di mata indah Lien? Lien mempercayai rumor itu? Skandal itu tidak benar sama sekali. Tak bisakah Lien sejenak mendengarkan penjelasannya? 5 menit saja, bahkan ia bisa mempercepatnya.
Namun kenapa Lien langsung menelan mentah-mentah informasi itu tanpa mengkonfirmasi kebenarannya terlebih dahulu?
Apakah ia tak punya hak untuk bersuara? Untuk menyuarakan kebenarannya.
Hanya air mata yang setia menemaninya. Dan tangan kokoh Kay menggenggam erat tangannya.
Pikirannya terlalu kaget untuk memaknai setiap hal yang terjadi dalam hidupnya. Semua berubah dengan sangat cepatnya, seperti membalikan tangan.
"Iuhh.. tamparan tadi pasti sangat menyalitkan.."
__ADS_1
"Pantaslah dia mendapatkannya, jika aku jadi Lien, aku juga akan melakukan hal yang sama.."
"Tak hanya tamparan, aku pasti akan menyuruhnya mati...."
“Wah, Lien saja sampai membenci Sava…”
"Dia pasti sangat membencinya.."
“Terang saja, sepertinya Lien kecewa..”
“Ya iyalah, dia merasa malu punya sahabat berkelakuan murahan..” Terdengan bisik-bisik dari siswa-siswa yang melihat saat itu.
Mereka juga menatap Sava dengan tatapan jijik. Sangat terlihat. Sava paham itu.
Mereka berbisik dengan ujaran dan makian kebencian. Umpatan dan sumpah serapah yang kasar.
Bisik-bisik yang membuat telinga dan hati menjadi sakit. Bahkan matapun ikut mengamininya.
Sava kembali menangis.
Sejak foto skandal ciumannya dengan Ohsen, hidupnya menjadi berubah. Imej baik yang selama ini ia bangun, ia jaga, langsung runtuh begitu saja oleh hal yang belum tentu kebenarannya.
Kini iapun menjadi tahu bagaimana cara anak-anak sekolahnya berfikir akan dirinya. Banyak yang meminta bantuan darinya karena kepintarannya, tapi setelah hal ini terjadi, ia sadar jika kebaikannya hanya dimanfaatkan oleh teman-temannya.
Ia ingin tertawa terbahak-bahak akan nasibnya. Ia benar-benar menyedihkan.
"Aku bodoh ya? Harusnya aku nurut kata Luhan untuk tidak bergaul dengan teman yang lain... Seorang miskin seperti diriku tidak akan pernah pantas berdiri di panggung yang sama dengan orang elit..." Kata Sava.
"Sudah, jangan hiraukan perkataan mereka! Sekarang karena kau sudah tahu siapa kawan siapa lawan, maka kau tak perlu lagi membagi kebaikanmu pada mereka.." Dio memberi nasihat.
"Aku tidak mengira jika perbedaan tingkat kasta di sini sangat mengerikan. Bahkan bullying begitu ketara.. " Kata Ohsen.
"Aku akan melindungimu, Sava.." Kay selalu serius soal ini. Ini amanah dari Ibunya Sava, bibi kandung Kay.
"Tapi Lien menamparku.. Dia pasti sangat membenciku.. Dia pasti tidak menginginkanku lagi menjadi sahabatnya.." Suara Sava gemetar. Ia ketakutan jika di masa depan nanti hal itu akan benar-benar terjadi padanya.
"Dengar... masih ada kami... Kami akan selalu melindungimu..." Dio menambahi. Ia harus meyakinkan Sava. Ia harus memberi Sava tempat berlindung.
“Sudah, Va! Ayo kita pulang! Lien hanya perlu waktu untuk ini.. Dia pasti akan mengerti dengan sendirinya nanti. Dia pasti juga akan menyesal karena sudah menamparmu...” Potong Ohsen.
Ia memegang pundak Sava untuk mencoba menenangkannya lagi. Ia yakin jika Sava pasti sangat menderita akan hal ini.
Ohsen sungguh merasa bersalah. Andai saja waktu itu ia tidak memaksa membantu Sava menghilangkan debu dari mata Sava, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.
Sava tidak akan menderita olehnya.
__ADS_1
Tapi semua sudah terjadi, ia hanya bisa menerima dan memperjuangkan kebenarannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Sava. Untuk menyelamatkan senyuman Sava kembali seperti semula.
“…”
Sava masih berat. Dibandingkan hinaan anak -anak siswa lain, ketidak percayaan dari Lien lebih menyakitkan.
Ditambah Luhan mengabaikannya.
“Lien pasti punya alasan untuk melakukannya. Percayalah pada persahabatan kalian! Kalian bersahabat sudah sejak lama, aku yakin kekuatan persahabatan kalian luar biasa...” Kata Dio.
“...”
.
“Nanti kalau lelah Lien sudah reda, dia pasti menemuimu.. Kau tak lupa kan kalau aku dan Lien baru saja mengikuti lomba? Pasti masih lelah makanya susah mengendalikan emosinya..” Kata Kay.
Sava mencoba mengerti.
Tiga sahabatnya sudah berbaik hati menenangkannya. Ia tidak boleh membuat mereka semakin kerepotan.
"Umm.. Sebaiknya aku pulang saja.."
“Baiklah, ayo pulang! Aku akan mengantarkanmu!” Kata Ohsen lagi. Ia memegang tangan kanan Sava.
“Biar aku saja yang mengantarkanmu..” Kata Dio sambil memegang tangan kiri Sava.
“Aku saja..” Kata Ohsen.
“Tidak. Aku saja..” Kata Dio.
Sava menjadi rebutan. Sava hanya bingung. Kay juga ikutan bingung dengan kelakuan Dio dan Ohsen.
“Ck.. Kalian ini.. Sava bukan barang yang harus kalian rebutkan! Lepaskan tangan kalian! Aku sendiri yang akan menghantarkan Sava pulang. Aku jamin dia selamat sampai rumah! Aku kan serumah dengannya.. Jangan khawatir..!” Kata Kay.
Ohsen dan Dio akhirnya mengerti. Mereka mengalah demi Sava. Meski ingin sekali menemani Sava di masa sulitnya, tapi sepertinya saat ini lebih baik Sava sendirian untuk menenangkan fikirannya. Dan Kay adalah sosok yang cocok. Disamping mereka serumah, Kay secara hitungan masih kakak Sava. Kay pasti paham betul bagaimana memperlakukan Sava saat ini.
Sava pun pulang bersama Kay.
.
.
.
"Setelah aku diskorss, akankah kebenaran skandal itu akan terkuak? Apakah Kay dan Dio bisa melakukannya? Tuhann.. berikan cintamu untuk mempermudah semua ini... Ini sungguh menyakitkan. Aku tidak ingin bermusuhan dengan semuanya, terutama Luhan dan Lien.."
__ADS_1