My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Pengakuan Ohsen


__ADS_3

Jam sudah menujukkan pukul sepuluh malam.


Jalanan kota sedikit agak sepi dari aktivitas lalu lalang orang, hanya terdengar beberapa mobil melintas di jalan raya.


Sava dan Ohsen berjalan di trotoal jalan. Masih selalu bergandengan tangan. Hari ini benar-benar murni berjalan kaki.


Inilah jalan-jalan.


Ya, kaki mulai terasa pegal.


Di perjalanan pulang Sava dan Ohsen masih saja bercanda, bercengkrama ria. Mereka masih sama seperti sebelumnya, membahas banyak hal yang menyenangkan.


Hingga akhirnya, waktu yang Sava tunggu tiba.


“Ohsen…” Sava tiba-tiba berhenti dan melepaskan tangannya dari genggaman Ohsen.


Sava berdiri sedikit di depan Ohsen. Sava membelakangi Ohsen, ia berbicara tanpa melihat ke arah Ohsen karena ia tahu ini akan sangat berat. Ia harus bisa menyembunyikan emosinya.


Ohsen hanya menanggapi ringan.


“Hm? Ada apa?” Tanya Ohsen santai.


“Apa yang kita lalukan sekarang itu tidak benar..” Kata Sava tegas.


“Tidak benar bagaimana? C’mon apa yang salah, Va? Kita seharian bermain, bercanda, bersenang-senang…” Kata Ohsen dengan nada tidak terlalu mempermasalahkan apa yang Sava bicarakan.


“Apa kau menikmatinya?” Tanya Sava.


“Tentu saja, ini sangat menyenangkan… Ini pertama kalinya kita bisa menghabiskan waktu bersama. Hanya berdua. Hanya kau dan aku… Waktu dimana kita bisa mengekspresikan perasaan kita…Kurasa kau juga menikmatinya, kan?“ Kata Ohsen.


“Ya, aku juga menikmatinya. Ini sungguh menyenangkan…” Kata Sava. “Bagaimana aku harus memulainya?” Tanya batin Sava.


“Apa hanya sekedar menyenangkan?” Tanya Ohsen.


“…”


Sava terdiam. Ia berusaha mengartikan maksud perkataan Ohsen yang menurutnya terkesan berbeda.


“Kenapa tidak dijawab?.. Hm, baiklah… Aku ingin berbicara sedikit serius denganmu… Ck.. bagaimana aku memulainya.. Aku bingung…” Kata Ohsen gugup.


"..." Sava berniat membalikan badanya untuk berbicara lebih dekat dengan Ohsen. Tapi Ohsen menahannya.


“Stop! Stop! Jangan membalikkan badanmu! Tetaplah seperti ini!” Ohsen memegang bahu Sava dari belakang menggunakan tangan kanannya.


“Kau kenapa Ohsen? Kau tidak seperti biasanya. Apa kau baik-baik saja?” Kata Sava mencoba membalikan badannya lagi.


Ohsen menahan Sava. “Sudah kubilang jangan membalikkan badan!” Pinta Ohsen.


“Baiklah… Sekarang, katakanlah apa yang ingin kau katakan, Ohsen! Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu… Tapi aku akan mendengarkan kata-katamu dulu, setelah itu aku baru akan mengatakannya…” Kata Sava.

__ADS_1


“Baiklah… Sava… Ak.. ak aku…” Ohsen terbata-bata.


Sulit sekali mengeluarkan kata dari mulutnya. Padahal semalaman suntuk dia sudah berulang kali belajar.


“Aku? Aku apa, Ohsen?” Tanya Sava.


Sebenarnya Sava mengerti arah pembicaraan Ohsen. Sava hanya menunggu keberanian Ohsen untuk mengungkapkannya.


“…”


Suasana terdiam. Sava mulai tidak tahan. “Sebenarnya apa yang ingin kau kata…”


“AKU MENYUKAIMU!” Potong Ohsen cepat.


"...." Sava tersenyum mendengar pernyataan Ohsen.


“Aku sangat menyukaimu dari pertama aku melihatmu. Dari aku menyapamu.. kau membuatku tak berhenti mengagumimu.. senyumu.. tawamu.. saat kau bermain piano.. biola… saat kau bercanda.. Aku menyukai semua tentangmu…” Lanjut Ohsen sambil membayangkan perasaannya selama ini.


“….”


“Saat kau bernyanyi dengan jeleknya… Saat kau serius dengan buku-buku pelajaran… Saat kau terdiam… Saat kau…”


“Ohsen...”


“Saat kau tertidur di ruang latihan music… Saat kau cemberut... Saat kau mengikat rambutmu, kau menggigit tali rambutmu dulu..”


"Ohsen.. kau..."


“Ohsen, sudah…!” Kata Sava lembut.


Sava meneteskan air matanya sambil tersenyum. Meski baru setengah tahun, Ohsen ternyata sangat mengenalnya.


Ohsen benar-benar memperhatikannya bahkan sampai hal terkecil sekalipun.


“Sava…”


“….” Karena menangis bahu Sava sedikit bergetar.


“Kau menangis?” Tanya Ohsen khawatir. Sava menggeleng.


“Aku bahagia kau sangat perhatian denganku… Aku juga menyukaimu. Kau baik.. Kau tampan.. Kau lucu… ”


Sava akan mengungkapkan perasaannya juga.


“Benarkah itu? Kau juga menyukaiku… Berarti bukan hal yang salah kalau kita bersama..” Ohsen tersenyum senang karena ia merasa Sava juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


“Ohsen.. rasa sukaku padamu itu tidak seperti rasamu padaku… berbeda…”


“Apa maksudmu..?”

__ADS_1


“Ad.. Ada orang lain di sini…” Kata Sava sambil memegang dadanya.


Tidak, ia meremas dress miliknya. Membayangkan orang lain di hatinya yang tak dapat ia raih. Itu lebih dari sekedar menyakitkan.


“Kau..”


“Bukan kamu Ohsen, bukan kau yang ada di sini, tapi seseorang sudah lebih dahulu ada di hatiku… Dia sudah menempati hatiku sejak lama hingga membuatku tak kuasa..” Sava kembali meneteskan air matanya.


“…”


“Maaf Ohsen… Aku minta maaf…”


“…”


“Ohsen…?” Sava mulai khawatir.


Terasa jelas tangan Ohsen yang gemetaran saat memegang bahunya. Sava kembali mencoba membalikan badannya. Ohsen semakin mencengkram bahunya.


“SUDAHKU BILANG JANGAN MEMBALIKKAN BADANMU!” Bentak Ohsen yang sontak membuat Sava sangat kaget.


Ini pertama kalinya ia dibentak oleh Ohsen. Apakah Ohsen benar-benar sakit hati padanya?


“…”


“Sava... Maaf, aku tidak tidak bisa gantian mendengarkan apa yang akan kau katakan.. Aku juga tidak bisa mengantarkanmu pulang…”


"..." Sava menangis dalam diam.


“Satu lagi, lain kali saat bertemu mari saling berdiam…” Kata Ohsen parau.


Suaranya terdengar seperti menahan tangis. Sava tahu, saat ini pasti Ohsen sedang menangis, sama seperti dirinya. Ia tidak bisa menghapus air mata Ohsen, Ohsen tidak mengizinkannya melihatnya. Sava hanya bisa merasakan pegangan tangan Ohsen di bahunya semakin melemah. Ohsen melepaskan tangannya dari bahu Sava.


Saat ini Ohsen tidak bisa menata perasaanya. Rasanya seperti di buang ke jurang yang sangat gelap. Cinta pertamanya tak terbalas begitu saja. Hatinya rumit serumit fikirannya. Ia hanya tidak tahu harus bagaimana.


Dengan langkah gontai ia meninggalkan Sava. Berjalan menjauh meninggalkan Sava tanpa menolehnya.


Bagaimana dengan Sava?


Tak jauh berbeda dengan Ohsen, ia juga terluka. Perasaan juga rumit dan tak menentu. Rasa bersalah menghantuinya. Bersalah karena sudah membuat orang yang begitu menyayanginya terluka.


Membodohkan diri dengan membalas pedih pada orang yang sudah memberinya kasih.


Bayang-bayang kenangan indah dengan Ohsen terngiang-ngiang di benak Sava. Baru saja bibirnya penuh senyum bahagia, namun semua terbalik dengan cepatnya.


Ia sudah menyakiti perasaan Ohsen, membuat luka, membuat perih, dan mengundang air mata. Kakinya yang terasa sangat lemas tak mampu menahan tubuhnya yang lunglai. Ia terjatuh bagai tak memiliki tenaga.


Air matanya tak bisa ia hentikan. Menangis, menangis, dan menangis. Hanya itulah yang dapat ia lakukan. Ia memegang erat dadanya. Sakit, sakit sekali. Padahal jika di kilas balik, harusnya Ohsenlah yang benar-benar terluka.


“Aku melukainya.. Ohsen maaf.. maafkan aku… Andai aku bisa menjelaskan sejujurnya, dari awal sebelum kau menaruh rasa padaku.. sebelum semuanya menjadi seperti ini… Ini pasti tidak akan terjadi…. Kau pasti tidak akan terluka..”

__ADS_1


Sava masih menangis histeris di tengah malam yang semakin sepi. Tidak ada orang yang lewat. Ini sudah hampir tengah malam. Suara mesin kendaraan yang berlalu lalang di jalanpun terasa sepi, sesepi hatinya.


__ADS_2