My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Kemunculan Ohsen


__ADS_3

Malam yang semakin sunyi membawa tubuh dan jiwa yang lelah ke alam mimpi. Seakan enggan untuk terjaga. Hari ini adalah hari yang panjang. Banyak hal yang terlalui. Sedih maupun senang. Waktu terus berputar, berganti dan terus berganti.


Meski mata ini enggan terbuka, tapi tubuh harus bangkit karena hari baru yang lebih panjang sudah menunggu. Waktu tidur berlalu begitu cepatnya.


Hujan di malam hari seolah tidak mempengaruhi wajah matahari pagi yang tersenyum cerah dengan segala kilauan cantiknya. Alam sedang bersahabat, burung gerejapun menyetujuinya.


“Oh Tuhan. Telat! Rasanya baru saja memejamkan mata, tapi kenapa matahari sudah meninggi memamerkan wajah cerianya? Haduh...” Teriak Lien saat melihat jam menunjukkan pukul 06:45 pagi.


Ia langsung bergegas bersiap-siap ke sekolah. Mandi ala kadarnya, dan secepat kilat pergi ke sekolah. Biasanya ia akan dijemput Luhan, tapi sebelumnya Luhan sudah memberitahu kalau dia tidak bisa menjemput karena harus berangkat lebih pagi untuk latihan tambahan sepak bola.


Terus kemana Sava? Sava hari ini piket, tentu saja ia akan berangkat lebih awal.


“Haduh, bagaimana ini? Apa yang sebaiknya aku lakukan? Gerbangnya sudah ditutup...” Kata Lien panik.


“Telat, Non? Maaf, lebih baik non pulang saja!” Kata Satpam sekolah.


“Pak Satpam, dari segenap ketulusan hati saya, mohon buka gerbangnya, ya! Nanti saya akan membelikan Bapak rokok 2 bungkus! Saya berjanji akan membelikannya special untuk Bapak! Tapi, tolong bukakan gerbangnya, Pak! Saya mohon?” Pinta Lien dengan puppy eyes mautnya.


“Kecil-kecil sudah pandai bermain suap. Bagaimana bangsa ini akan maju, jika generasi mudanya seperti ini?”


“Bu..bukan begitu, Pak.. Haduh, jika saya bolos pasti saya akan mendapatkan amarah dari papa saya. Pak please... buka gerbangnya, sekali ini saja, Pak! Saya berjanji ini yang terakhir.”


Pak Satpam mulai luluh karena melihat Lien yang akan menangis, dan akhirnya membukakan gerbang untuk Lien dengan syarat lain kali kalau telat lagi tidak ada kompensasi.


Senyum Lien langsung menggembang


“Terima kasih banyak, Pak Satpam.” Lien langsung berlari menuju kelasnya.


“Sepertinya, anak itu sedang tidak akan menangis? Ckckck, tertipu trik yang sama untuk yang kesekian kali.. Hah..”


Lien berlari terburu-buru menuju kelasnya yang berada hampir di ujung bangunan sekolahnya. Ia yang sedang terburu-buru membuatnya kehilangan fokus dengan jalan. Akhirnya ia tak sengaja menabrak seorang laki-laki yang berada di depannya. Dengan sangat tidak elit, Lien jatuh dengan pantat mendarat indah di lantai depan salah satu kelas.


“Auw.. sakit..” Rasa nyeri menjalar di pantat Lien.


“Kau baik-baik saja?” Tanya si laki-laki sambil mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Lien berdiri.


Lien menerima uluran tangan laki-laki itu. “Hm, aku baik-baik saja.” Lien sejenak bertatapan mata dengan si laki-laki tadi.


Tidak asing.


Itulah kesan pertama yang ada di benak mereka berdua. Seperti pernah melihat. Tapi ia tidak bisa memastikan itu dimana dan kapan tepatnya.


“Ma..maafkan aku. Aku tak sengaja..” Lanjut Lien.


“Hn, apakah kau Lien Ariesty? Sahabatnya Sava?” Tebak si laki-laki tiba-tiba.


“Eh? Ah.. iya.. Ya aku Lien sahabatnya Sava. Kau kenal padaku?”


“Kau tak mengenaliku?”


Lien sejenak berfikir. Ia masih samar-samar, tapi ia pun teringat. “Ahh, kau ternyata Kay yang dulu pindah ke London, kan? Sepupunya Sava, kan? Lama tidak jumpa. Kau banyak berubah..”


“Kau juga. Ku kira kau lupa padaku.”


“Tentu saja tidak. Mana mungkin aku melupakanmu, dulu kau kan laki-laki baik hati yang menolongku waktu aku dikejar anjing saat di taman bermain. Saat itu, kau terlihat sangat keren karena mengusir segerombolan anjing galak itu dengan kayu pohon manga.”


“Haha, benar juga. Kau dulu sangat ketakutan dan terus menangis tersedu-sedu di bawah pohon mangga. Wajahmu lucu sekali waktu itu. By the way, apa kau masih cengeng seperti dulu?” Kay mulai menggoda.


Lien memanyunkan bibir. “Aku terlalu dewasa untuk cengeng..”


“Ok..ok.. jangan menekuk wajah seperti itu! Kau terlihat sangat buruk. Haha..”


“Kay..” Lien geram.

__ADS_1


Seperti biasa mereka memang senang bercanda sama saat seperti dulu, waktu mereka masih kecil.


“Maaf-maaf. Oh ya, kelas XI IPA-2, apa kau tahu dimana kelas itu? Dari tadi aku mencoba mencarinya, tapi sepertinya aku tak urung jua menemukannya.”


“XI IPA-2? Itu kan kelasku.. Apa kau masuk di kelas itu sebagai siswa transferan?” Kay mengangguk. “Baguslah, itu akan sangat menyenangkan karena kita akan menjadi teman sekelas. Ayo!”


Mereka berjalan menuju kelas XI IPA-2, mereka saling berbincang dan diselingi candaan. Tak banyak berubah dari pertama mereka bertemu. Lien sangat menikmatinya hingga ia melupakan jika sebenarnya ia tengah terburu-buru.


“Sebenarnya, aku pindah ke sekolah ini tidak sendiri. Aku bersama sahabatku. Dia sedang mengurusi administrasi di ruang kepala sekolah. Aku berharap dia bisa sekelas denganku juga. Dia kesulitan berbahasa Indonesia..”


“Wah.. berarti akan ada bule ya di sekolah kita? Ikan lohan pasti siap-siap akan tergeser popularitasnya.. Hahaha..” Lien tersenyum iblis hanya dengan membayangkannya saja.


Luhan tersaingi tingkat kepopulerannya? Lien yakin akan sangat heboh setelah itu.


“Apa Excel, hmm maksudku Luhan masih sama seperti dulu?”


“Tentu saja tidak. Semakin dewasa, ia semakin oneng. Sok ganteng, sok imut, mana keterlaluan innocent-nya lagi... dan bodohnya lagi, para fangirls-nya tergila-gila..”


“Haha, bilang saja kalau Luhan tampannya di atas normal.. Luhan itu bukan oneng. Dia malah sangat cerdas. Hanya saja ia tidak berniat untuk mengasah kemampuannya. Dia hanya cinta pada sepak bola. Selain itu, Luhan itu juga memiliki muka baby face, memang terlalu innocent, tapi itu daya tariknya. Menurutku, dia selalu menjadi pusat perhatian.”


“Benar juga. Aku heran kenapa hasil tes IQ-nya itu 169? Itu sangat jauh di atas aku dan Sava. Padahal kau tahu, ia bahkan tidak masuk lima besar di kelas.. dan lebih parah lagi ia sangat buruk di matematika... Satu hal yang perlu kau ketahui, Luhan itu rajanya playboy di sekolah ini..”


“Haha.. Begitukah? Buruk sekali citranya. Tapi, kurasa hanya Luhan yang tahu kenapa dia seperti itu..”


“Hmm..Kau benar. Hanya Luhan yang tahu. Eh, kau seperti Sava saja.”


“Sava? Apanya?”


“Tanggapanmu mengenai keburukan Luhan..”


“Hm, mungkin karena kami bersaudara..”


Mereka terus berjalan, hingga akhirnya tiba di kelas XI IPA\-2. Pertama kali masuk langsung semua pasang mata tertuju pada mereka berdua, terutama pada Kay. Lien memberitahu pada guru pengampu mata pelajaran saat itu tentang Kay.


Kay itu tampan dan menurut pandangan anak-anak, Kay memiliki tubuh yang sexy dan postur tubuh yang tinggi. Idaman para perempuan..


Setelah itu, Kay pun duduk di bangkunya yang tak jauh dari bangku Lien. Pelajaran dilanjutkan.


“Untung saja tadi sudah izin, kalau tidak aku pasti kena marah karena terlambat masuk kelas. Banyak kegiatan itu mengasyikkan, tapi juga merepotkan. Haahh.. Oh iya, bagaimana dengan Lien? Apa dia sudah berangkat? Tadi aku mencoba menghubunginya beberapa kali tapi tidak diangkat. Semoga saja ia tidak telat. Dasar anak itu..” Gumam Sava sendirian.


“Ehm.. maaf..” Seorang laki-laki menyapanya.


Laki-laki yang tinggi dan berambut agak coklat pirang. Bule?


“Eh?”


“Kelas XI IPA-2 itu ada di sebelah mana?”


“Ahh...XI IPA-2 itu kelasku. Aku akan menuju kelasku. Kalau kau tidak keberatan, kita bisa pergi bersama ke kelas itu..”


“Oh begitu. Thanks a lot...”


Sava hanya tersenyum.


“Ku kira bule tapi ternyata bisa berbahasa Indonesia..syukurlah.. aku tak perlu sok inggris di depannya, dan ini akan sangat memalukan karena aku tidak lancar berbahasa Inggris...” Batin Sava senang.


“... Maaf, apa kau siswa baru di sini? Sepertinya aku belum pernah melihatmu sebelumnya?” Tanya Sava sopan.


“Iya, aku siswa baru. Aku pindahan dari London. Ini first time aku ke Indonesia. Sangat menyenangkan..”


“Pertama kali? Kok bisa berbahasa Indonesia dengan lancar?” Sava cukup heran mendengar penuturan laki-laki tinggi yang berjalan di sampingnya itu.


“Orang tuaku asli Indonesia.. Mereka yang mengajari aku...”

__ADS_1


“Wah, hebat. Kalau begitu Wellcome to Indonesia ya..”


“Thanks.. Your name?”


“Sava.. Sava Ahira. Kau?”


“Ohsen... Ohsen Ananda..”


Tiba-tiba ada laki-laki yang datang menghampiri dan merangkul Sava. Sava kaget dan menoleh kepada laki-laki yang merangkulnya.


Ternyata laki-laki itu adalah Luhan. Luhan bahkan tak menyadari kalau Sava sedang berbincang dengan Ohsen. Dengan tampang innocent-nya, Luhan kaget saat mendapati seorang laki-laki menatapnya dengan intens.


“Ohsen?” Kata Luhan.


“Excel? Kau di sini ternyata..” Kata Ohsen.


Mereka saling mendekap. Bukan mendekap seperti memeluk, ini hanya reaksi saat sesama laki-laki lama tidak bertemu.


“Kau bilang kau tak akan ke Indonesia? Ternyata malah masuk ke sekolahku..”


Kata Luhan.


“Haha.. maaf tak mengabarimu. Aku berencana ke rumahmu malam nanti, ternyata bertemu denganmu di sini. Aku merindukanmu, brother...”


Sava hanya bengong ria. Bahkan tak sempat mengedipkan mata.


“Brother?” Tanya Sava yang masih terpaku pada kebingungannya.


“Iya, kita masih keluarga. Ohsen itu anaknya bibiku.” Jawab Luhan.


Sava hanya mengangguk saja. Rasanya masih aneh. Selama ini Luhan tidak pernah membagi cerita tentang saudaranya ini, Ohsen.


“Iya, kita sudah seperti kakak-adik. Jangan-jangan kau juga siswa kelas XI IPA-2? Kau terlihat sangat akrab dengan Sava..” Kata Ohsen.


“Bukan hanya akrab. Sava itu kekasihku! Milikku! Jangan kau berani mencoba untuk mendekatinya! Do you understand, dude?” Jawab Luhan sok Inggris.


“Sayangnya aku tak percaya kau bisa mendapatkan kekasih seperti Sava yang memiliki sifat dewasa, dan kau tak punya hak melarangku mendekati perempuan manapun di sekolah ini! Termasuk Sava!” Canda Ohsen.


Luhan dan Ohsen tertawa renyah menanggapi candaan ringan mereka. Sava? Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju kelas XI IPA-2. Luhan dan Ohsen saling merangkul bahu bercanda ria, sementara Sava berjalan di belakang mereka. Memandangi punggung dua laki-laki yang berjalan riang di depannya.


Dua laki-laki yang sepertinya akan menjadi kisah panjang hidupnya.


“Kekasih ya?” Gumamnya.


Sava memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak saat mendengar kata-kata dari Luhan. Ia hanya menunduk untuk menanggapinya dan berharap rasa sesak di dadanya akan segera menghilang. Bahkan air hangat sudah membanjiri kedua mata indahnya. Ia segera menghapusnya.


Lagipula ia memang harus melakukannya. Demi persahabatannya.


.


.


.


Ini adalah awal dari kisah yang akan menjadi cerita yang panjang. Mereka tidak akan pernah tahu jika hari itu adalah hari dimana lembar pertama dari cerita yang akan tertulis.


Judul baru sudah terjawab. Hanya tinggal mengisi lembaran-lembaran cerita saja. Dan ketika saat itu tiba, hanya waktu yang akan menjawabnya. Tetap berjalan menjalani hari-hari untuk memenuhi setiap lembaran-lembaran cerita saja.


Menjadi peran utama maupun peran sampingan tidak masalah. Tergantung bagaimana diri bisa memposisikannya. Untuk kisah pribadi mungkin bisa dengan mudah menjadi peran utama, tapi untuk kisah yang lebih luas, kadang menjadi peran sampinganpun tidak masalah demi terwujudnya cerita yang layak dan mengesankan, dan tentunya membahagiakan untuk semua peran. Ya memang tak selamanya kisah berakhir dengan bahagia. Ada kalanya berakhir sedih, bahkan tragis.


Tidak masalah, karena manusia sampai kapanpun tidak akan tahu bagaimana di masa depan itu. Masa yang akan datang bagaikan sebuah misteri kehidupan yang membuat diri tertantang untuk memecahkannya. Berjuanglah sepenuh hati untuk memecahkan misteri kehidupan itu!

__ADS_1


Maka, bukan tidak mungkin akhir bahagia akan menyapa di akhir cerita hidup, kan?


__ADS_2