
Ohsen menyambangi Luhan yang sedang melamun menatap langit.
“Lien pernah menegurku saat aku melamun. Dia bilang bisa kesurupan hantu. Apakah bisa?” Kata Ohsen yang sedikit aneh.
Hal ini wajar, meski hampir setengah tahun di Indonesia, tetapi ia masih perlu banyak belajar lagi tentang hal-hal aneh di Indonesia, seperti hal yang berbau klenik seperti itu.
“Haha, kalau kau ingin mengetahui jawabannya mending kau datangi ahli supranatural saja! Dasar!”
“Hei Excel, menurutmu Sava itu bagaimana?” Ohsen membuka pembicaraan.
“Sava? Bagaimana apanya?” Luhan mulai heran. “Lalu, tumben sekali kau memanggilku dengan nama asliku lagi. Sedikit aneh dari terakhir kau memanggilku dengan sebutan Excel setelah kau terkontaminasi trio sahabatku itu..”
“Hahaha... Jujur, memanggilmu dengan sebutan itu sedikit aneh. Aku lebih nyaman memanggilmu dengan sebutan Excel. Memang awalnya bagaimana sehingga kau bisa dipanggil dengan sebutan seperti itu?” Ohsen melupakan tujuan awal pembicaraannya.
“Ini tidak lucu, jadi tidak perlu kau tertawakan saat mendengar cerita yang akan aku ceritakan, oke?”
“Iya, iya, oke... ayo ceritakanlah!”
Luhan mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. “Dulu waktu aku, Sava, Lien, dan Kay masih duduk di bangku sekolah dasar, kami berempat membantu ayah Sava membersihkan kolam ikan lohan di taman belakang rumah Sava. Ayah Sava sangat menyukai ikan lohan, katanya ikannya lucu dan imut. Sava bilang itu unyu-unyu. Hah.. Apanya yang lucu coba? Ikan itu memiliki bibir yang tebal...”
“Itu sexi bibir setahuku, Han. Sudahlah, lanjutkan!”
“Nah, pada saat ayah Sava mengangkat ikan lohannya dari dalam air dan akan memasukkannya ke dalam ember, satu ikan lohan yang besar lepas dari cengkraman ayah Sava dan mengejarku...”
“Hahahahhahaha... Mengejarmu? Bagaimana bisa?” Tanpa sadar Ohsen justru tertawa terbahak-bahak.
Luhan kesal.
“Hah, sudah kubilang bukan cerita lucu kau malah tertawa. Kau tahu, itu ikan terus mengejarku tanpa henti. Sangat mengerikan, bagai monster. Sava, Lien, dan Kay malah menertawakanku saat itu. Bahkan sampai guling-guling di tanah segala karena tawa mengerikan mereka. Mereka tak tahu betapa takutnya diriku dikejar oleh ikan lohan raksasa.”
Luhan mengingat bagaimana ia takut setengah mati karena hal itu.
“Kurasa ikan itu mengejarmu karena ingin minta tolong padamu agar membawanya kembali ke dalam air...”
“Mana aku mengerti bahasa ikan, yang kutahu saat itu, rasanya ikan lohan itu akan memakanku hidup-hidup! Anehnya, aku sering terbawa mimpi bertemu ikan lohan itu, sampai sekarangpun kadang-kadang aku masih saja memimpikannya!”
“Jadi kau takut dengan ikan lohan?”
“Ya begitulah, aku sangat takut. Aku lebih takut melihat ikan lohan dari pada melihat ikan hiu. Semenjak saat itu, Sava, Lien, dan Kay menyebutku sebagai musuh bebuyutan ikan lohan. Bahkan mendeklarasikan keputusan yang tak pernah kusetujui dengan seenaknya saja memanggilku dengan sebutan ikan lohan. Berkali-kali aku protes, akhirnya baru ditanggapi awal masuk sekolah menengah pertama. Mereka menghilangkan kata ikan dan mengganti huruf o menjadi u. Seperti yang kau sering dengar, ‘Luhan’ dan hebatnya kenapa sangat pas dengan nama belakangku? Leohan! Sepertinya terlalu banyak kebetulan di sini.” Luhan nyerocos dengan kesal.
Ohsen hanya terkekeh tak habis-habisnya. Perutnya sakit karena terlalu banyak tertawa.
__ADS_1
“Leohan, Luhan.. Haha, sudahlah itu tak terlalu buruk.”
“Kau benar, aku menyukainya. Yah, walau konyol. Setidaknya bukan ikan lohan mengerikan sebutanku.” Luhan memang sudah tak mempermasalahkan sebutan sahabat-sahabatnya itu. Dia menganggap sebagi sebutan sayang dari sahabat-sahabatnya.
“Pantas saja, kudengar dari siswi-siswi fansmu nama panggilanmu sama dengan nama mantan artis Kpop. Syukuri saja!”
“Ah, benarkah? Aku merasa beruntung kalau begitu.”
“Excel, sebentar..”
“Kenapa?”
“Tadi aku kesini ingin bertanya sesuatu, tapi apa ya?”
“Apa ya?
“Kenapa balik bertanya? Yang bertanya itu aku, bodoh!”
“KAU!! Kau bahkan memanggilku bodoh. Aishhh, kau terlalu banyak terkontaminasi virus jahat Lien dan Kay. Kau perlu discan dengan antivirus!!”
“Ah, sudahlah! Aku pergi ke klub seni dulu, sampai jumpa.” Ohsen melengos pergi meninggalkan Luhan.
Luhan hanya tersenyum simpul. Senyum yang penuh arti.
Sebelumnya tak lupa ia berganti pakaian olah raga terlebih dahulu. Di lapangan sekolah sudah nampak banyak anak-anak yang tergabung dalam tim sepak bola sekolah.
“Haishh, sang kapten baru datang..” Sindir gurau salah seorang pemain sepak bola sekolah, sebut saja Chandra.
“Haha, maaf-maaf.. Bagaimana apa kalian sudah melakukan pemanasan??” Tanya Luhan.
“Belum, Kapten!!”
“Baiklah kita pemanasan dulu agar tidak gampang cidera nantinya!”
“Baik, Kapten!!”
“Ikuti gerakanku! Gerakkan tangan kalian!! Mulai, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, lapan. Ganti! Satu, dua, …”
Dari kejauhan nampak Lien menghampiri Luhan dengan membawa air mineral di tangannya. Senyumnya mengembang bahagia saat melihat Luhan dengan serius latihan.
Saat Luhan di lapangan sangat berbeda dengan aslinya. Luhan terlihat tegas, dewasa, dan berwibawa. Mungkin saat di lapangan Luhan adalah seorang kapten sepak bola sekolah, jadi ia memegang tanggung jawab besar pada timnya.
__ADS_1
Lien senang karena ada hal yang membuatnya bangga pada sosok Luhan yang menurutnya selalu merepotkan karena sifat kekanak-kanakkannya itu.
“Luhan memang sulit ditebak karakternya. Dia benar-benar berkarisma kalau sedang begini. Bagaimana perempuan-perempuan tidak mengejarnya, dia terlalu tampan. Huh, ckckck, anak ini benar-benar. Luhan, sepertinya kau sudah menunjukkan kedewasaanmu..” Gumam Lien dengan senyuman manisnya.
“Kapten, sepertinya ada yang sedang menunggumu di sana!” Kata Chandra menunjuk ke arah Lien berada.
Luhan menoleh.
“Ah, terima kasih sudah mengingatkan. Kalau begitu kalian lanjutkan pemanasannya, setelah itu langsung bermain saja! Aku akan menemui temanku dulu. Mengerti?”
“Siap, Kapten!!”
Luhan menghampiri Lien.
“Tumben sekali kau menyambangiku kesini? Ke lapangan sekolah yang cukup panas ini. Tidak takut kulitmu terbakar sinar matahari? Biasanya Sava yang kesini. Ada angin sihir apa sampai membuatmu seperti ini?”
“Oh, jadi tidak suka jika aku yang kesini? Baiklah, aku pergi saja..”
“Eeh eh eh, begitu saja sewot. Hanya bercanda.”
“Bercandamu tidak lucu..”
“Baiklah-baiklah.. Kau tidak akan membiarkanku kehausan, kan? Berikan air minum itu!!”
“Ah, lupa. Ini, minumlah!” Lien menyodorkan sebotol air mineral yang ia bawa.
Luhan langsung meminumnya. Lien memandangi setiap air yang Luhan teguk. Ia tersenyum ringan. Ternyata ia menyadari jika sahabatnya ini memang sangatlah tampan, wajar saja menjadi flowerboy sekolah.
“Aaaahhh, menyegarkan sekali! Terima kasih banyak atas minumannya, Lien!” Lien hanya mengangguk pelan. “Oh ya, Sava dimana? Aku belum melihatnya sejak tadi. Biasanya dia selalu datang meski sekedar untuk menyapa di sela latihanku.” Lanjut Luhan.
“Dia sibuk di klub seni, Han.”
“Tidak ada jawaban lain selain itu?” Terdengar nada tak suka dari tutur kata Luhan. Luhan menambahkan klub seni sebagai sesuatu yang membuatnya alergi.
“Kau sinis sekali kalau mendengar klub seni. Kenapa?”
“Tidak apa-apa..”
"Kau ini.."
"Apa?"
__ADS_1
"Haaah..."
Dan mereka malah bercanda ria setelahnya.