My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Foto Skandal Sava Dengan Ohsen


__ADS_3

Lomba majalah se-SMA nasionalpun dilaksanakan.


Sesuai perintah kepala sekolah, Kay dan Lien mengikuti lomba itu untuk mewakili sekolah. Tempat lomba sangat jauh dari sekolah, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapainya. Sekitar empat hari waktu yang Lien dan Kay butuhkan. Dua hari untuk pulang pergi, sehari untuk lomba, dan sehari untuk istirahan atau refreshing.


Karena Lien dan Kay perginya cukup lama, jadi sebagai panelis utama klub jurnalis, mereka harus bertanggung jawab atas klub juga. Lien dan Kay menyerahkan tugas mereka untuk sementara kepada Aina, wakil ketua klub jurnalis.


Meski Lien secara pribadi tidak begitu menyukai Aina, tapi bagaimanapun tanggung jawabnya lebih besar dari egonya.


Sudah menjadi pengetahuan umum jika Aina adalah putri dari kepala sekolah dan adik kandung dari ketua cheerleader sekolah, Enila. Aina memiliki cukup kepopuleran di sekolah. Tak hanya itu, SMA itupun milik keluarga Aina.


Secara otomatis Aina memiliki kekuasaan yang besar di sekolah. Berasal dari keluarga berada membuatnya sangat dihormati siswa-siswi. Meski banyak yang tidak menyukai kesombongannya, tapi banyak juga yang mengagumi kecantikannya.


Usut punya usut, perusahaan keluarga Aina adalah tempat Ayah Sava bekerja.


.


.


Sebenarnya dua hari setelah Lien dan Kay mengikuti lomba, keadaan sekolah berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang berubah sama sekali. Siswa-siswi mengikuti pelajaran guru, ekskul tetap berjalan. Tapi suasana seketika berubah saat majalah edisi mingguan sekolah keluar. Sekolah menjadi heboh, gaduh, dan sangat tidak terkontrol.


Apa penyebabnya?


Apa yang terjadi?


Tentu saja karena berita heboh yang dimuat di majalah sekolah. Majalah sekolah dipenuhi dengan berita mengenai foto skandal Sava dan Ohsen. Foto berciuman mereka! Sekilas memang nampak seperti itu. Mata melihatnya seperti itu.


Foto itu berasal dari Amel. Amel menghasut Aina untuk memasukkan foto itu sebagai materi utama majalah. Awalnya Aina agak ragu, tapi setelah mendengar beberapa hasutan dari Amel, ia pun tanpa ragu dan fikir panjang memasukkan foto itu sebagai materi utama majalah, bahkan menjadikannya cover depan.


Perasaan dendamnya pada Sava membuatnya buta. Niatnya hanya untuk memberi pelajaran pada Sava, karena Sava dianggapnya sebagai penyebab utama ia dan Dio menjadi jauh.


Dio adalah sahabatnya sejak kecil. Bukan hanya itu, Aina sangat mencintai Dio. Tapi belum pernah bisa mengungkapkan. Belum sempat mengungkapkan, tapi sosok baru seakan merebut tempat nyamannya di sisi Dio.


Dialah Sava.

__ADS_1


Sejak pertama kali Dio kenal dengan Sava sejak saat itu pula ia mulai membencinya.


Sava mengubah cara pandang Dio. Aina tidak menyukainya.


Sementara alasan Amel melakukan hal itu, sebenarnya ia hanya sedang sakit hati karena Luhan menolak perasaanya. Hatinya belum bisa menerima akan hal itu. Perjuangannya selama ini tidak Luhan hargai sama sekali. Ia hanya berharap Luhan sedikit melihatnya, meski sebentar itu tak masalah buatnya. Setidaknya apa yang ia lakukan selama ini tidak sia-sia. Tapi Luhan tidak mengindahkan harapannya.


Hatinya terluka, cinta di hatinya membuatnya tak punya arah. Kalau hatinya sakit, maka semuanya akan sakit. Itulah mengapa ia melakukan semua ini.


Jika ia tidak bisa memiliki Luhan, maka taka da satupun yang boleh memiliki Luhan.


Hari itu ia menyadari Sava memiliki perasaan pada Luhan, ia tidak suka itu. Maka dengan kesempatan yang ada, ia mendapatkan cara untuk menjauhkan Luhan dengan Sava.


.


.


Setelah majalah keluar dan tanggapan panas yang kebanyakan negative memenuhi suasana sekolah, membuat Amel dan Aina semakin senang.


Dengan ini, Dio akan berfikir jika Sava itu bukanlah cewek baik-baik seperti pandangannya selama ini. Itu yang Aina harapkan dari imbas skandal foto ciuman Sava dan Ohsen.


Bahkan Amel semakin menikmatinya. Apalagi saat mengetahui hubungan Sava dan sahabatnya memburuk, ia semakin berniat menghancurkannya.


Awalnya hanya ingin memberi pelajaran, tapi setelah merasakan kesenangannya ia ingin berbuat lebih dari ini. Ia ingin membuat Luhan merasakan sakit yang sama dengan sakit yang ia rasakan.


Rasa sakit ditinggal orang yang dicintai.


Ia ingin Luhan merasakannya dimana saat benar-benar jatuh cinta dengan tulus, tapi tidak mendapatkan balasan yang setimpal. Ia ingin Luhan merasakannya lebih dari itu. Lebih dari yang ia rasakan saat ini.


.


.


.

__ADS_1


Semenjak peristiwa itu, Luhan tanpa sepatah katapun berucap pada Sava dan Ohsen. Ia memilih bungkam. Ia memilih diam. Bahkan saat banyak fans-nya dan siswa lain bertanya soal tanggapan pada foto itu. Ia enggan berkomentar.


Sejak saat itu ia benar-benar mengunci mulutnya.


Sava dan Ohsen dipanggil kepala sekolah. Mendapatkan ceramah panjang lebar. Kepala sekolah sangat kaget dan tidak menyangka akan kelakuan anak didiknya. Sekolah yang ia bimbing itu terkenal nama baiknya di seantero provinsi.


Kepala sekolah saja kaget, bagaimana dengan Sava dan Ohsen yang tidak mengetahui apapun tentang itu? Mereka lebih kaget bahkan stress dibuatnya. Mereka tidak merasa melakukannya. Tapi sampai berbusa mulut mereka menjelaskannya pun kepala sekolah tidak percaya sama sekali.


Bagi kepala sekolah, bukti nyata yang ia lihat jauh lebih dapat dipercaya daripada penjelasan dua siswanya yang dianggapnya masih kecil dan punya banyak alasan untuk berbohong.


“Hiks..hiks.. Ini bagaimana, Sen? Aku tidak mengerti semua ini… Aku tidak bisa berfikir jernih..” Tangis Sava.


“Maafkan aku, aku tidak tahu saat aku membantumu menghilangkan debu di matamu akan menjadi gosip yang heboh seperti ini..” Kata Ohsen menyesal.


“Ini bukan salahmu, ini kesalahan seseorang yang tak bertanggung jawab..” Kata Sava kesal.


“…”


“Aku selalu mencoba menjadi orang baik, di luar sekolah dan di dalam sekolah. Tapi, kenapa masih saja aku dijahati. Apa aku berbuat salah? Apa aku jahat?.. Kenapa? Kenapa tidak ada yang percaya pada kita, Sen? Bahkan Luhan, sahabat kita sendiri.. hiks..” Sava masih saja kesal dengan dirinya dan masalah yang dihadapinya.


Ini pertama kalinya ia mendapatkan masalah serius.


“Jangan seperti itu..! Luhan belum memberi jawaban. Kau tidak boleh menganggapnya tidak percaya padamu! Jangan berasumsi yang tidak baik tentangnya! Dia pasti percaya padamu, pada kita.. Dia kan sahabat baik kita. Jadi memang seharusnya percaya, kan?” Kata Ohsen menenangkan.


“Aku harap kau benar, Sen…”


“Aku yakin akan hal itu. Dia pasti hanya kaget. Nanti dia pasti akan berbicara pada kita. Kau tenang saja! Berfikir positif saja! Aku akan selalu bersamamu...”


Bungkamnya Luhan masih berlanjut. Dari hari pertama keluarnya majalah ia masih saja tetap bungkam, Sava berulang kali mencoba berbicara padanya tapi ia selalu menghindar dengan alasan sedang sibuk dengan sepak bola. Luhan selalu keluar kelas sebelum ia menyapanya.


Sava akhirnya sadar, Luhan tidak ingin berbicara padanya.


“Apa Luhan merasa jijik denganku?” Batin Sava.

__ADS_1


Ini bahkan jauh lebih menyakitkan dari pada fitnah skandal foto ciumannya dengan Ohsen.


__ADS_2