
Seharian ini sungguh sangat melelahkan. Kaki terasa kaku dan badanpun sama. Itulah yang dirasakan Sava saat ini.
Luhan mengajaknya ke taman bermain dan mencoba berbagai wahana permainan yang sangat menguras tenaga. Meski melelahkan, tapi ia merasa sangat senang bisa menemani Luhan, sahabatnya.
Namun di anatara kesenangannya itu, ada rasa penuh tanya yang cukup mengganjal hatinya. Luhan hari ini sangat sulit Sava fahami. Sava tahu Luhan tengah kesal terhadapnya, tapi ini tidak seperti biasanya.
Luhan berbicara serius. Luhan yang lebih memilih diam. Kediaman Luhan yang Sava artikan jika Luhan sedang marah terhadapnya.
Kenapa harus marah terhadapnya? Apa ada yang salah dengan perkataannya tadi?
Sava yakin betul jika dia sudah memilah dan menyaring kata-katanya saat berbicara dengan Luhan.
Luhan benar-benar sangat aneh baginya.
Apa boleh buat, meskipun ia berusaha mencari tahu jawabannya, tapi tetap saja ia tidak menemukannya. Sepertinya sedikit mengabaikannya tidak apa-apa.
“Astaga, konser piano Dio!!! Aishhh, bagaimana bisa aku sebodoh ini? Bodoh-bodoh, kenapa aku hampir melupakannya?”
Sava baru mengingat janjinya untuk menghadiri konser piano Dio. Dengan tergesah-gesah ia mandi, berganti pakaian, dan bersiap menuju konser piano Dio.
Saat Sava akan keluar rumahnya, Ohsen sudah menunggu dengan mobilnya. Sava cukup kaget, ia tidak tahu kalau ada Ohsen. Ternyata Ohsen juga diundang Dio untuk menghadiri konser piano Dio.
Akhirnya mereka berdua berangkat bersama menuju konser piano Dio.
“Kita duduk dimana?” Tanya Sava.
Ohsen melihat tiket konsernya. Matanya menuju ke arah dua kursi kosong yang langsung berhadapan dengan panggung.
“Sepertinya di sana..” Tunjuk Ohsen ke arah dua kursi kosong itu.
Mereka bergegas duduk. Mereka berdua memang sudah telat hampir seperempat jam. Untung saja Dio belum tampil. Mereka berdua sungguh beruntung.
Di saat giliran Dio tampil, suasana menjadi diam dan tenang. Lampu di gedung itu semua padam, menyisakan lampu sorot satu yang menyoroti Dio dengan pianonya yang berwarna putih, sangat pas dengan tuxedonya.
“Dia itu selalu berusaha terlihat biasa saja, hanya saja bagiku dia selalu nampak indah… Cara dia tersenyum, tertawa, kesal. Itu terlihat sangat lucu… Aku ingin tertawa saat aku mengingatnya… Dia lebih dari sekedar merpati putih yang suci. Dia adalah merak kayangan yang memiliki bulu mempesona… Burung lain yang melihatnya, tentu akan merasa iri…. Raga ini dekat dengannya… Hati ini selalu mencoba mendekatinya… Mencoba menyentuh relung hati terdalamnya… Meski sekian kali diri ini mencoba dan selalu gagal, tapi diri ini akan selalu mencobanya dan hati ini akan selalu setia menunggunya… Right Here Waiting For You…” Puisi pengantar dari Dio.
Terdengar tepuk tangan meriah dari penonton saat Dio mengatakan judul lagu yang akan ia bawakan. Right Here Waiting For You. Ia mengover lagu milik idolanya, Richard Marx.
Seluruh penonton mulai diam kembali sesaat setelah Dio menekan satu nada.
__ADS_1
Dari jemari-jemari mahir Dio, tercipta aluanan musik yang sangat indah. Dio terlihat sangat mendalami musik yang ia bawakan. Bahkan, untuk pertama kalinya ia mengeluarkan suara dari mulutnya.
Dio menyanyi!
Semua penonton di gedung itu bagaikan terhipnotis akan permainan piano Dio. Suara Diopun sangat bagus dan halus. Selain itu, hal ini juga pertama kalinya Dio sang Mozart sekolah membawakan lagu umum dan berkolaborasi dengan orkestra biola.
Biasanya ia akan membawakan musik-musik klasik milik Mozart atau Bethoven dengan permainan piano tunggalnya. Mungkin karena ini hanya konser piano pribadi, bukan lomba piano. Jadi ia bisa bereksplor kemampuan musiknya.
.
.
Tak lebih dari lima menit, lagu yang Dio bawakan selesai. Dio memberikan akhir melodi yang indah. Semua penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah padanya.
Sava dan Ohsen tersenyum bangga.
Dio memang sangat luar biasa. Tak sia-sia semua orang menyebutnya Sang Mozart sekolah. Julukkan yang pantas.
Ada banyak lagu yang Dio mainkan. Dio bahkan juga berkolaborasi dengan pak Son, guru seni music sekolah yang selalu mengajari Dio bermain piano.
Setelah konser selesai, Sava dan Ohsen menemui Dio untuk memberikan buket bunga. Dio memamerkan senyuman bahagianya. Bukan hanya kerena konsernya sukses, tapi karena dua sahabatnya meluangkan waktu untuk melihatnya di panggung.
“Hn.. Kau hebat!” Ohsen mengiyakan.
Dio tersenyum.
“Ah, aku masih perlu berusaha lebih baik. Terima kasih banyak kalian sudah menyempatkan waktu untuk datang melihat konserku.”
Ohsen dan Sava hanya saling tersenyum. Mereka berdua sangat bangga pada Dio yang sangat berprestasi.
Mereka berbincang-bincang masalah musik. Dio tak hentinya selalu menceritakan hal-hal menarik tentang musik kepada Sava. Sava sangat antusias. Ohsen sesekali menimpali pembicaraan itu.
Ohsen memang laki-laki yang sedikit sekali berbicara. Terlihat saat Ohsen yang selalu mempertahankan imej cool-nya.
Malam itu menjadi pembicaraan yang hangat hingga sampai akhirnya hari yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Sava berulang kali menguap. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kantuknya. Baginya hari ini sangat melelahkan. Bayangkan saja, seharian dia pergi bermain dengan Luhan dan malam harinya ia menghadiri konser piano Dio.
Badannya berasa remuk.
__ADS_1
Alhasil ia menguap beberapa kali. Dan beruntung sekali, Ohsen menyadarinya. Ohsenpun mengajak Sava untuk pulang.
Karena tadi Sava berangkat dengan Ohsen, mau tidak mau Dio harus membiarkan Ohsen yang mengantar Sava pulang. Ohsen lebih tepat secara hakikatnya.
Jujur saja...
Sebenarnya Dio ingin sekali mengantar Sava. Hanya saja untuk kali ini ia memilih mengurungkan niatnya. Lagi-lagi ia terjebak dalam suasana yang tidak tepat.
Ohsenpun mengantarkan Sava pulang. Di perjalan, mereka hanya saling diam. Ohsen berkonsentrasi dengan jalan, sedangkan Sava sesekali mengeryip-ngeryipkan matanya karena mengantuk. Savapun berusaha sekuat tenaga agar kesadarannya masih terjaga.
Sava merasa tidak enak pada Ohsen jika ia terlelap begitu saja.
"Tidurlah.. Kau terlihat sangat lelah, Va.." Kata Ohsen.
Sava menggeleng... "Aku masih bisa tahan.."
"Padahal masih jauh loh rumahmu.. Tidur saja tidak apa-apa kok.. "
"Ahh.. tak apa kok.. "
.
.
.
.
Lima menit kemudian Sava tertidur di mobil Ohsen.
Ohsen hanya tersenyum tipis melihat Sava yang tertidur di samping jog mobilnya. Sava tidur dengan menyilangkan ke dua tangannya di depan dada. Sementara kepalanya, Sava sandarkan ke samping arah jendela.
Ohsen mengurangi kecepatan mobilnya agar tidak mengganggu tidur Sava ketika melewati jalan yang agak rusak.
Ia beberapa kali melihat ke arah Sava yang tertidur. Gadis yang menurutnya sangat cantik itu terlihat manis saat tertidur. Membuatnya tak berhenti untuk menyunggingkan senyuman bahagianya.
Seperti endorphine saja..
Sava begitu mudahnya membuat ia merasa senang.
__ADS_1