My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Berpura-puralah Mencintaiku!


__ADS_3

Hari terus berganti.


Semakin hari semakin Sava menderita.


Rasanya di sekolah sudah sangat tidak nyaman. Ia selalu berdoa agar ia mampu bertahan menahan rasa sakitnya saat harus menhadapi kebersamaan Lien dan Luhan. Semampunya ia berusaha mengesampingkan egonya dan berusaha menerima kenyataan. Tapi semakin ia mencoba menahan, semakin ia menderita.


Hatinya terluka, fikirannya kacau. Bahkan sering kali Sava terlihat sedang melamun. Beban hati dan fikirannya sangat banyak, sangat berat.


Di sisi lain, ia hanya ingin menjaga kesetiaan sahabat, meski ke dua sahabatnya sendiri mendiamkannya. Tapi di sisi lainnya, ia juga ingin segera lepas dari semua bebannya. Apa ia harus melarikan diri? Pengecut sekali.


Setiap Sava punya kesempatan, Sava pasti menyendiri di taman belakang sekolah. Meski untuk sekedar melamun dan merenung.


Beban hidupnya semakin rumit dan berat saja. Ini sudah hampir setengah bulan sejak masalahnya selesai, tapi selama itu juga ia mengharapkan kedua sahabatnya kembali. Kembali bercanda ria dengannya.


Sekarang ia hanya bisa membayangkan kenangan-kenangan kebersamaan dengan kedua sahabatnya.


“Apa aku bisa hidup tanpa kalian? Aku mencoba menerima takdir bahwa perasaanku pada Luhan tidak akan pernah bisa. Tapi, mereka tetap saja tidak mengajakku bicara.. Setiap aku ingin mengajak mereka bicara, mereka selalu pergi menjauhiku. Apa kurang besar usahaku?..."


Sava menatap langit yang cerah ceria. Ia merasa iri dibuatnya.


Alam memang bukan teman bukan pula musuh.


"Aku bolehkan egois? Kenapa aku harus menyalahkan diriku sendiri? Apa hanya aku yang salah? Lalu kesalahan apa yang kubuat? Kenapa mereka menjauhiku? Apa yang sudah aku lakukan? Soal foto itu? Bukankan sudah terbongkar kebenarannya? Apa Lien masih marah karena Ohsen menyukaiku? Bukankah aku sudah tidak berbicara sepatah katapun dengannya?.. Kalian kenapa? Kenapa kalian seperti itu padaku? Apa kalian fikir aku tidak terluka karena ini?... Ini benar-benar menyakitkan.. Hiks.. hiks..” Kata Sava sendiri sambil memegangi sebuah tiket pesawat tujuan Italy.


Ia sedikit meremas tiket pesawat itu.


“Kenapa kalian tega melakukan ini padaku? Hiks.. Aku harus bersikap seperti apa lagi pada kalian? Haruskah aku mati?” Lanjut Sava.


“Jangan bodoh! Mati hidup seseorang sudah ada yang mengatur. Kau tak berhak memutuskan..” Kata Dio yang datang sambil membawa es bubbletea rasa taro kesukaan Sava.


“Dio.. Kenapa di sini? Kau mendengar semuanya?” Tanya Sava yang agak kaget dengan kedatangan Dio yang tiba-tiba itu.


“Menurutmu?”


“Kau pasti mendengar semuanya… Silahkan menertawakanku kalau itu lucu buatmu…”


“Aku sudah menertawakanmu dalam diam! Dari dulu aku juga sering menertawakanmu. Kau saja yang tidak tahu…”


“Isshh…”


“Maaf, hanya bercanda.. Ini minumlah! Tenangkan fikiranmu!” Dio memberikan bubbletea yang ia bawa.


"..." Sava menerima dan langsung meminumnya.


“Itu kertas apa?” Tanya Dio yang penasaran dengan kertas putih yang Sava pegang.


“Ini tiket pesawat..” Jawab Sava singkat.


“Milik siapa?”


“Milikku… Tiket ke Italy untuk minggu depan..”


“Kau berencana liburan?” Sava menggeleng. “Lalu tiket apa?”


“Aku akan tinggal di Italy…”


“Italy? Apa kau sudah yakin?”

__ADS_1


“Aku tidak tahu, Dio…” Sava menunduk lesu.


Dio hanya bisa menemani Sava. Ia belum bisa berkata-kata. Tiba-tiba ada sekelompok siswi yang lepat di sekitar Sava dan Dio duduk. Mereka asyik berbincang-bincang.


“*Eh kalian apa tahu, kemarin aku melihat Luhan dan Lien sedang kencan di sebuah kafe mahal…”


“Benarkah? Mereka romantic sekali.. Aku jadi iri..”


“Tiap hari mereka selalu mengumbar kebersamaan, membuat cemburu saja..’"


“Tapi mereka terlihat benar-benar serasi..”


“Luhan tampan, Lien cantik… Sudah tidak diragukan lagi, mereka benar-benar cocok..”


“Semoga berlanjut sampai mereka menikah..”


“Hahaha.. Sudah jangan bahas pernikahan. Kita kan masih kecil…”


“Tapi, mengandai-andai itu tidak dilarang, kan?”


“Tapi bagaimana dengan Sava? Diakan sahabat mereka?”


“Kurasa sudah bukan lagi.. Mereka tidak pernah terlihat bersama. Anak sekelas mereka bilang, di dalam kelaspun mereka tidak pernah bertegur sapa…”


“Benarkah? Wah kasihan sekali Sava? Dia pasti dikhianati..”


“Mereka membuang Sava begitu saja..”


“Mungkin Sava sudah tidak dibutuhkan lagi. Bagaimanapun dalam suatu hubungan kasih itu hanya ada dua insan yang memadu kasih. Orang ketiga tidak diperlukan lagi, meskipun itu sahabatnya sendiri…”


“Sudah-sudah! Biarkan saja.. Bukan urusan kita.. Ayo ke kantin*!”


kalau mereka sedang bergosip tentang Sava.


“Va, kau baik-baik saja?” Tanya Dio. Sava tidak menjawab.


Sava kembali menangis. Ia sesegukan karena kesulitan mengatur nafasnya.


“Dio.. Aku sudah menyerah. Aku tidak sanggup lagi. Aku tidak kuat.. Ini membuatku gila.. Aku lelah.. Aku ingin berhenti.. Aku .. Aku.. Hiks..” Sava mulai merancau.


“Tenanglah… Jangan menangis lagi! Aku bersamamu..”


“Anak-anak tadi benar.. Lien dan Luhan sudah tidak membutuhkanku lagi.. Mereka sudah memiliki dunia baru tanpaku.. Aku orang lain sekarang… Kau tahu Dio, aku bertahan demi persahabatan kami… Tapi rasanya itu sia-sia… Aku sudah tak berarti lagi bagi mereka. Aku bukan siapa-siapa lagi. Aku bukan Sava, sahabat kecil Luhan dan Lien.. Mereka nampak bahagia tanpaku… Merka melupakanku.. Dio… aku sekarang sendiri.. aku sendirian. Sepi. Dingin. Sendiri. Gelap. Hampa….”


“Stt.. Sudah aku bilang berapa kali. Aku pasti ada untukmu! Aku tidak akan meninggalkanmu! Aku selalu mencintaimu..”


“Aku belum bisa.. Kau tahu itu..”


“Aku tahu.. Perasaanmu pada Luhan sudah tumbuh begitu lama. Sedangkan kau denganku baru kenal dari SMA kelas X. Aku memahaminya. Bukan hal mudah merubah perasaan seseorang… Tapi, aku berniat baik padamu. Aku tidak akan pernah menyakitimu seperti mereka yang menyakitimu.. Aku tulus padamu. Jadi… Bisahkah kau melihatku?” Dio menatap tajam mata Sava.


“Dio.. Aku..”


“Berat ya?..”


“…”


“Va, bisakah kau berpura-pura mencintaiku?”

__ADS_1


Sava bingung dengan pertanyaan Dio. Berpura-pura yang bagaimana?


“Berpura-pura itu berat, Dio… Mau sampai kapan? Itu hanya akan membuatmu semakin terluka. Dan aku tidak mau kau terluka karenaku…”


“Tidak masalah buatku..”


“…”


“Aku tanggung semua resikonya…”


“Tidak janji…”


“Tak masalah…”


“…” Sava hanya tersenyum. Diopun tersenyum.


“Va, berpura-puralah kau mencintaiku sampai kau lupa bahhwa kau sedang berpura-pura..!” Dio berkata dengan tersenyum canda.


Meski terlihat jelas dari matanya jika ia menginginkan hal itu benar terjadi.


“Tidak.. Aku akan belajar melihatmu…” Kata Sava.


Mendengar jawaban Sava seketika Dio langsung memeluk Sava.


Tidak ada yang lebih baik ketika orang yang dicintai mencoba membuka hati.


“Minggu depan kita pindah sekolah ke Italy! Aku akan belajar music di sana..” Kata Dio.


“Kita?”


Kenapa akhir-akhirnya ia sering mendapatkan hal-hal yang datang secara tiba-tiba?


“Ya.. Aku juga akan pindah. Tenang saja, kau tidak usah merasa bersalah karena ini! Bukan hanya kau yang menjadi alasanku pindah.. Aku ingin memperdalam music di sana… Aku ini kan Mozartnya sekolah. Gelarku tak berlaku jika aku tidak mengunjungi negaranya..” Kata Dio.


“Apa tidak apa-apa..?”


“Kalau kau terus di sini, kau tidak akan belajar melihatku..”


“Kau akan terluka..”


“Sekarangpun aku sudah terluka..”


“Maafkan aku…”


“Sudahlah! Aku tahu ini sulit untukmu maupun untukku. Aku datang untuk meringankan lukamu. Aku akan berusaha menyembuhkannya…”


“…”


“Lagi pula, apa kau yakin bisa bertahan menghadapi bebanmu? Mau sampai kapan kau akan terus seperti ini? Aku yakin kau sudah sangat lelah..”


“Kurasa kau benar, Dio...”


“Jadi.. Cepatlah jatuh cinta padaku!”


Apapun akan Dio lakukan untuk kebahagiaan Sava. Perasaanya pada Sava begitu besar. Apapun yang ia lakukan saat ini adalah demi Sava.


Rasanya begitu menyenangkan. Hatinya bagai digelitik ribuan kupu-kupu saat mendengar Sava bersedia belajar mencintainya. Meski belum bisa mencintainya, tapi berniat saja sudah membuat Dio bahagia.

__ADS_1


Sebegitu besarkah cintanya pada Sava?


Ya, sangat besar.


__ADS_2