
Dua remaja sedang duduk santai di bawah pohon cemara pinggir lapangan sepak bola. Luhan dan Lien sedang berbincang bersama. Sesekali mata Lien menoleh ke arah Luhan yang matanya bagai mata elang setia mengawasi para anggota klub sepak bolanya yang sedang berlatih tanding.
Sangat serius.
Lien tahu jika Luhan memiliki banyak karakter yang sejujurnya kadang ia tidak bisa memahaminya. Bagi Lien, selama ada Sava di antara mereka, semua bukanlah menjadi beban.
Sava sangat mengerti dirinya dan juga diri Luhan. Sava akan selalu menjadi penyeimbang persahabatan mereka. Itu yang selalu Lien percayai sampai detik ini.
Bagi Lien, Sava adalah panutannya. Ia benar-benar sangat bergantung pada Sava.
“Bagaimana kabar klub jurnalis, Lien?” Tanya Luhan. Ia menoleh ke arah Lien yang duduk di sebelahnya.
“Tumben sekali kau menyanyakannya? Ada angin apa?”
Benar, ada angin apa? Luhan tidak pernah peduli dengan keadaan klub extrakurikuler milik Lien. Yang ia pedulikan, apakah fotonya di cover majalah sekolah itu keren apa tidak.
“Aku serius…”
Tuh, bahkan Luhan bertanya dengan sungguh-sungguh. Lien semakin heran saja dibuatnya.
“Iya, iya, maaf. Hehe.. Kabarnya baik. Semakin baik. Terima kasih juga karena kau majalah sekolah jadi laku keras. Hasil penjualannya lumayan, sebagian bisa disumbangkan ke panti asuhan dekat sekolah kita.”
Jawab Lien dengan senang.
Meski kelasan majalah sekolah dan yang membeli hanya anak-anak sekolahan saja, tapi hasilnya lumayan. Bahkan bisa disumbangkan untuk kegiatan sosial.
“Aku tahu kalau soal itu. Aku ini memang populer.”
Kata Luhan narsis.
“Huh, mulai menyombongkan diri..”
Luhan tersenyum lalu kembali mengamati permainan anak klub sepak bola yang sedang latih tanding.
"CHANDRAA.. KAU TERLALU KE DEPAN!.." Teriak Luhan saat melihat permainan anak-anak klub sepak bolanya.
Lien hanya ikut menatap bangga. Ah, Luhan memang pantas menjadi kapten. Ia memiliki karisma itu di jiwanya.
“.... Hmm, apa rencanamu untuk masa depan?” Luhan bertanya tanpa menoleh ke arah Lien. Ia focus pada pertandingan latihan itu.
__ADS_1
“Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”
Lien menaikan sebelah alisnya.
“Aku hanya ingin tahu. Aku saja sampai sekarang tidak bias membayangkan bagaimana nanti masa depanku. Masih sangat gelap. Belum terlihat..”
Seorang Luhan betanya soal masa depan? Tak pahamkah dia itu ahli waris tunggal bisnis keluarganya yang maha kaya itu?
Dan lagi.. Luhan tidak tahu tujuan masa depannya?
“Haha, kau ini lucu sekali. Kalau kau merasa masa depanmu sulit dibaca karena gelap, itu salahmu sendiri, Han. Kalau kau ingin memiliki gambaran tentang masa depanmu, kau mau bagaimana nantinya, hal utama yang harus kau lakukan adalah merencanakan masa depanmu..”
Melihat Luhan yang seperti itu, Lien merasa khawatir juga. Luhan itu tidak bodoh, ia hanya tidak serius menanggapi ujian. Luhan terlalu asyik main-main hingga lupa soal masa depannya.
“Merencanakan masa depan??” Luhan menaikkan kedua alisnya penasaran.
“Iya, merencankan masa depan! Kau kenali potensi yang ada pada dirimu dulu. Kau bisa melihat dari kesukaanmu atau mungkin juga dari hobimu. Tanyakan hal ini pada hatimu. Kau ini siapa. Setelah kau tahu kau ini siapa, kau harus menentukan jalan mana yang akan kau ambil dan apa saja yang akan kau lalukan dalam perjalananmu itu..”
“Benar-benar sulit dimengerti..”
Muka Luhan saat bingung itu sungguh menggemaskan. Rasanya Lien ingin membungkusnya denyan daun pisang.
“Ah, begitu rupanya. Kau harus bekerja keras!”
Luhan sedikit paham.
Lien menunduk menatapi gambar aneh di tanah yang ia ciptakan dari kedua sepatu yang ia pakai.
“Tentu saja. Meraih cita-cita untuk diri sendiri itu perlu perjuangan penuh, tidak setengah-setengah agar suatu hari nanti tidak menyesalinya. Masalah tercapai tidaknya itu urusan nanti. Setidaknya aku sudah mencoba. Kau juga, kau harus mulai menentukan jalan hidupmu. Masa depanmu! Kaupun menyadarinya kan jika tak selamanya kau hidup seperti ini?”
Lien juga tahu kapan harus serius.
Masa depan adalah harga mutlak yang tak boleh diputuskan secara sembarangan.
“Aku mengerti itu. Aku juga sudah menentukan arah kemana aku akan berjalan nantinya. Tapi apakah pernah terfikirkan olehmu soal cinta di masa depan?” Luhan mulai mengganti topik pembicaraan. Ia bahkan menatap Lien dengan cukup serius.
Lien membalas tatapan serius Luhan. Lalu ia tersenyum. “Cinta?? Setiap wanita pasti menginginkan seorang pria yang benar-benar tulus mencintainya. Yang menerima dengan lapang apapun kekurangannya. Yang akan selalu bersamanya meski banyak dukanya. Yang pasti akan tetap setia sampai maut memisahkan… Aku berharap suatu saat aku memilikinya. Sosok laki-laki yang seperti itu.” Lien dengan semangat mulai membayangkan pernikahannya nanti.
Karena dari awalnya ia sangat mencintai Ohsen, maka dalam imajinasinya muncul sosok Ohsen dengan senyum manisnya menunggunya di altar singgasana pernikahan. Ohsen memakai tuxedo putih dengan bunga mawar senada di bagian sakunya.
__ADS_1
Luhan mengacak rambut Lien. “Jangan berimajinasi yang aneh-aneh!!”
“Huh..” Lien membenarkan tatanan rambutnya yang berantakan karena ulah Luhan
“Apa sosok laki-laki itu berada di sekitar kita?”
“Eh?“ Belum sempat menjawab, Kay datang menyapa.
“Kalian asyik sekali kelihatannya, sedang menggosip tentang apa?” Tanya Kay.
“Gosip saja yang ada difikiranmu, Kay. Mentang-mentang editor majalah bagian gosip anak-anak.” Sindir Lien.
“Tahu ini bocah..” Sependapat Luhan.
“Ahaha.. Maaf. Oh ya, Lien ini surat tugas dari kepala sekolah yang menyuruh kita mewakili sekolah dalam lomba majalah se-SMA nasional..”
“Hah?? Benarkah? Kau tidak bohong?” Kata Lien kaget.
Kay hanya mengangguk yakin.
“Luhannn, akhirnya perjuanganku selama ini.. hiks.. hiks…” Lanjut Lien yang reflek memeluk Luhan karena saking bahagianya.
"Kau mencekikku, Lien!" Kata Luhan.
Kay yang melihatnya hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimanapun Kay pernah menaruh rasa pada Lien.
Luhan terbatuk-batuk karena pelukan super kencang dari Lien.
Lien melepaskan pekukan mematikannya pada Luhan, lalu tersenyum tanpa dosa.
“Sudah.. sudah..! Kalau begitu selamat ya, Lien, Kay. Kalian memang luar biasa. Aku bangga menjadi sahabat kalian.” Kata Luhan akhirnya.
Sepertinya Luhan juga merasa canggung. Menurutnya, Lien cukup aneh. Lien memeluk dirinya itu suatu keajaiban mengingat bagaimana kebersamaan mereka yang selalu berisi adu argument dan pertengkaran kecil tidak jelas dan tidak penting sama sekali.
“Beritahu Sava dan Ohsen, mereka berhak tahu kabar bahagia ini!” Kata Kay.
"Iya, kau benar..." Dengan segera Lien mengirim pesan ke Sava dan Ohsen.
Perjuangan akan disebut sukses apabila sudah mendapatkan apa yang diimpikan. Rasa bahagia pasti akan terukir di senyuman dalam hati yang berbunga. Perjuangan, usaha, dan keringat yang tak terhitung banyaknya demi menggapai suatu tujuan pasti akan terbayarkan. Bayaran yang setimpal dengan pengorbanan yang tulus. Ketulusan dari sebuah pengorbanan menuntun ke arah impian yang diharapkan. Suatu kebanggaan yang akan menjadi kepuasan diri jika apa yang diidam-idamkan menjadi kenyataan.
__ADS_1