My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Sava mengedarkan pandangannya menelusuri setiap sudut bekas sekolahnya dulu. Banyak hal yang berubah. Mulai dari cat tembok, penambahan bangunan, dan juga banyak tanaman-tanaman baru yang tumbuh.


“Hah, aku merasa asing di sini.. Kay sedang sibuk dengan perempuan-perempuan aneh itu. Dasar anak itu.. Yang lain sibuk berdansa dan menyanyi... Apa yang harus aku lakukan..?” Keluh Sava bingung.


Karena tidak tahu harus berbuat apa, Sava memutuskan untuk mengambil minuman. Ia sangat haus. Saat ia berbalik setelah mengambil minuman, ia menyenggol seseorang. Dan orang itu adalah Luhan.


Ya, itu adalah Luhan.


Mantan sahabat? Haruskah Sava memikirkan sebutan itu?


“Ma..Maafkan aku…” Kata Sava.


“Tidak apa-apa..” Jawab Luhan.


Sava menyadarinya saat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Matanya terpaku menatap Luhan. Orang yang sangat ia rindukan. Sekuat tenaga ia menahan air matanya. Ia tak mau mengingat luka yang selama ini ia coba sembuhkan.


“Ex..Excel….” Sava terbata.


“Bahkan ia memanggil nama asliku.. Dia berubah..” Batin Luhan sendu.


Ini pertama kalinya sahabatnya memanggil nama aslinya. Sava dari dulu memanggilnya dengan nama panggilan 'Luhan' sesuai kesepakatan dulu waktu mereka kecil.


Hatinya merasa sedih.


“Ya.. Apa kabar?” Kata Luhan akhirnya.


“Baik, kau sendiri?”


“Aku juga baik.. “


“Baik-baik? Kurasa kau terlihat buruk.. Apa kau tidak bisa hidup dengan baik setelah aku pergi?” Batin Sava. Luhan berubah banyak. Itu yang dapat Sava simpulkan.


Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Luhan mencoba mencari bahan obrolan.


“Kau terliahat berbeda. Kau memanjangkan rambutmu sampai pinggang. Ini memang bukan pertama kalinya aku melihatmu menguraikan rambutmu. Tapi biasanya kau akan lebih sering mengikatnya..” Kata Luhan.


“Aku sudah dewasa..” Sava menanggapi seadanya.


Sava paling tahu karakter Luhan. Jika Luhan berkata banyak itu berarti ada hal yang terjadi padanya.


“Kau bahkan mewarnai rambutmu dan juga memakai heals dan short dress. Kau terlihat cocok dengan penampilanmu. Kau juga bersolek dengan baik…” Kata Luhan.


“Te..terima kasih atas pujianmu, Excel...”


“Kau tidak bersama, Dio?”


“Dia sedang ke toilet…”


“Ah, begitukah?”


“Hm..” Sava hanya menjawab seadanya.

__ADS_1


Hanya kecanggungan yang tercipta dari setiap pembicaraan yang dimulai. Sava maupun Luhan bingung untuk menentukan topic pembicaraan.


“Hmm, kau tidak datang bersama Lien?” Tanya Sava hati-hati.


“Kami sudah tidak bersama lagi. Kami sudah putus..”


“Kenapa?”


“Tidak nyambung saja..”


“Ah, sayang sekali..” Sava terlihat menyayangkan perpisahan kedua sahabatnya.


Dulu ia sangat mendukung hubungan Lien dan Luhan, hingga akhirnya ia mengalah dan memilih menjauh. Tapi rasanya sia-sia saja pengorbanannya.


Dengan mudahnya Luhan berkata jika mereka putus karena tidak nyambung?


“Tapi kami masih bersahabat dengan baik…”


“Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya…” Setiap jawaban hanya menimbulkan kecanggungan lagi.


Suasana ini berbeda dengan saat mereka dulu. Waktu 10 tahun adalah waktu yang lama untuk berpisah, tentu saja akan menimbulkan banyak kecangungan saat kembali bertemu.


”Kal..kalau begitu aku permisi dulu, aku ingin menemui Lien…” Kata Sava yang sudah tak kuat menahan air matanya.


Dia ingin menangis.


“Hm…” Kata Luhan pelan.


"Bye.."


"Bye.."


Sava berbalik dan meninggalkan Luhan. Luhan menatap kosong punggung Sava. Ingin sekali rasanya ia meraih tubuh Sava dan memeluknya erat. Ia sangat merindukan Sava.


“Apa kau bahagia dengannya, Va? Sepertinya, Dio bisa membahagiakanmu. Dia bisa menjanjikan kebahagiaan padamu.. Kurasa kau juga menerima kebahagiaan dari Dio dengan baik.. Kau berubah, sudah berubah banyak.. Setelah lulus SMA aku mencoba mencaritahu keberadaanmu, aku bahkan menyusulmu ke Italy hanya untuk bertemu denganmu.. Tapi, rupanya kau sudah bahagia dengannya… Aku mencoba mengerti dan tidak egois.. Kay benar, sudah waktunya kau memiliki hidup tanpa bayang-bayangku… Aku kalah lagi…”


.


.


.


Sava berjalan pelan meninggalkan Luhan. Bahunya bergetar. Ia menangis. Dengan tangannya ia menyapu air matanya. Bagaimanapun ia sudah berusaha mengobati lukanya selama ini. Ia tidak mau luka yang sudah ia tutup rapat-rapat kembali terbuka.


Dari jauh Lien melambaikan tangannya pada Sava. Sava mendekat. Jujur ia sangat canggung. Bukan hanya pada Lien, tapi juga pada Ohsen. Ia masih mengingat jelas bagaimana Ohsen memintanya untuk tidak saling kenal.


“Wah… Lihatlah dirimu sekarang! Kau tambah tinggi! Badanmu bagus! Kakimu ramping! Kulitmu bertambah putih dan kau sangat cantik!” Puji Lien.


Lien sebenarnya juga canggung. Sangat keterlaluan jika ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi ia menebalkan mukanya agar ia bisa baikan dengan Sava.


Sava hanya tersenyum kikuk... "..."

__ADS_1


“Ck, kau masih mengingat masa lalu kita? Baiklah aku akan melakukannya secara langsung… Maafkan aku.. maaf.. maaf.. maaf…” Kata Lien tulus.


Sava kembali tersenyum. Lien langsung memeluk Sava.


“Kau jahat sekali.. Pergi tanpa pamit padaku.. Aku tahu saat itu aku sedang kesal, tapi aku masih menyayangimu…” Kata Lien.


Lien menangis. Sava juga ikut menangis.


“Kau masih saja cerewet…” Kata Sava.


Mereka menangis bahagia.


“Apa hanya Lien saja yang kau maafkan, hm?” Sindir Ohsen.


“Tentu saja tidak…” Sava gantian memeluk Ohsen.


Ohsen membalas pelukkan hangat Sava.


“Heiii, jangan lama-lama berpelukannya! Ohsen itu pacarku…!” Kata Lien.


Ohsen dan Sava tersenyum.


“Kau masih saja kekanak-kanakan… Selamat ya atas kencan kalian. Aku berdo’a untuk kebahagiaan kalian…” Kata Sava.


Lien cemberut, lalu kembali tersenyum.


“Apa kau sudah menemui Luhan?” Tanya Ohsen.


“Tadi aku sudah bertemu dengannya... “ Jawab Sava ringan.


“Apa saja yang kalian bicarakan?” Tanya Lien kepo.


“Hanya tegur sapa dan bertanya kabar.. Sudah itu saja… Oh ya, itu Dio sudah kembali! Aku harus bersamanya… Sampai nanti…” Kata Sava mencoba mengalihkan pembicaraan.


Saat Sava hendak berbalik, Lien meraih tangan Sava.


“Luhan sangat merindukanmu. Dia menunggu kedatanganmu selama 10 tahun ini. dia selalu menyuruhku meliput apapun tentangmu. Luhan tidak terlihat baik-baik saja. Lebih tepatnya sangat buruk. Ia tahu mengenai pertunanganmu dengan Dio… Bukankah Luhan terlihat sangat rapuh? Tubuhnya semakin kurus. Ia baru saja keluar dari rumah sakit karena maag-nya kambuh. Ia tidak mau makan. Ia bahkan banyak minum minum-minuman bersoda. Ia kacau. Ia memikirkanmu, ia menyukaimu…” Kata Lien nyerocos tanpa henti.


Sava menangis mendengar cerita Lien. Sebegitukah menderitanya Luhan karenanya?


“Lien.. Semua sudah tidak seperti dulu lagi.. Aku sudah memiliki hidup sendiri.. Aku sudah terikat dengannya.. Dan aku mencintainya…” Kata Sava sambil melihat kearah cincin pertunangannya dengan Dio.


“Apa kau akan bahagia dengannya?” Lien mencoba memastikan.


“Hm, aku sangat bahagia dengannya. Dia hidupku yang sekarang…” Jawab Sava.


“Baiklah.. Aku bisa apa sekarang? Kuharap kau akan selalu bahagia… “ Kata Lien yang akhirnya membiarkan Sava menghampiri Dio.


“Kalau seperti ini aku benar-benar mengkhawatirkan Luhan… Luhan sangat mencintai Sava. Tapi, Sava sudah memilih hidupnya… Hah, aku bisa apa kalau begini?” Kata Lien.


“Aku tidak percaya padanya…” Kata Ohsen.

__ADS_1


"Eh?"


__ADS_2