My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Perasaan dan Matematika


__ADS_3

Keesokan harinya. Di sekolah….


“Sava, kau pucat sekali? Apa kau baik-baik saja? Kenapa? Apa yang terjadi denganmu? Luhan membawamu kemana saja?” Tanya Lien bertubi-tubi saat mereka berlajar di perpustakaan sekolah.


“Aku tak apa-apa, Lien. Jangan menghujaniku dengan banyak pertanyaan! Aku ini bukan tersangka pembunuhan! Aku hanya lelah saja karena menemani Luhan naik roller coster empat kali.” Jawab Sava lemah.


Savapun meletakkan kepalanya di meja. Dia lelah dan sangat mengantuk.


Rada pusing juga kepalanya. Apa hari ini ia mencapai batasnya? Harusnya ia menuruti Kay untuk istirahat di rumah saja.


Rasanya agak menyesal juga ia tak memanfaatkan sakitnya untuk istirahat. Harusnya ia lebih bisa mencintai dirinya dengan tidak membuatnya sakit.


Tapi istirahat di rumah membuatnya kesepian karena tidak bisa bertemu dengan sahabat-sahabatnya di sekolah.


“Hah?? Empat kali? Satu kali saja sudah membuat pusing.. Luhan benar-benar sudah gila. Dia bisa membuatmu sakit.” Lien kaget bukan main.


Sava hanya mendesah pasrah. ".... Haaah..."


“Sepertinya Luhan terlihat sangat membutuhkanmu, Va.”


“Dia lebih membutuhkanmu, Lien”


“Haha, kau tahu kemarin dia menggoda anak kelas X. Dan parahnya lagi, kemarin saat aku memegang Hp-nya, tak sengaja aku melihat di riwayat panggilan kalau kak Enila sering menelponnya. Apa Luhan benar-benar menanggapi kak Enila? Apa Luhan lupa, kalau kak Enila masih berstatus pacaran dengan kakakku, kak Krisna?”


Sava teringat saat ia melihat acara kencan Luhan dengan Enila di Café. Tapi ia tidak berniat menceritakannya pada Lien. Ia tidak ingin membuat masalah menjadi runyam. Ia akan berhati-hati dalam berbicara.


“Apa dia tidak lelah dengan kekasih-kekasihnya itu? Dia berubah…”


Sava penasaran dengan sikap Luhan yang selalu saja bergonta-ganti pacar. Kebiasaan buruknya mulai kelihatan saat kelas dua sekolah menengah pertama.


Luhan mulai bermain-main cinta dan memutuskan cinta secara sepihak.


Luhan sampai mendapatkan predikat playboy di sekolah karena saking banyaknya mantan. Seingat Sava, Luhan sudah memiliki mantan 39 selama kurang dari 2 tahun terakhir ini.


Jika Luhan cinta sungguhan, tak mungkin Luhan putus dengan kekasihnya. Sava dan Lien yakin, Luhan tak sungguh-sungguh soal cinta. Tidak tahu apa tujuannya, yang jelas hanya Luhan yang tahu kenapa ia memilih jalan menjadi playboy.


Yang Sava dan Lien lakukan hanya bisa berasumsi. Luhan sendiri tidak pernah menanggapi jika mereka berdua bertanya mengenai alasannya.

__ADS_1


“Bukankah karena kejadian saat itu dia berubah? Saat kau dan salah satu teman sekelas kita digosipkan berpacaran?” Lien mulai buka mulut.


“Tentu itu tidak ada hubungannya. Lagipula aku tidak berpacaran dengan si anak itu..”


“Tapi, karena gosip itu Luhan menjadi berubah. Aku masih sangat bisa mengingatnya. Bahkan sejak saat itu, si anak yang digosipkan berpacaran denganmu pindah sekolah tanpa alasan yang jelas. Dan desas-desus yang beredar itu karena ulah Luhan! Luhan yang membuat anak laki-laki yang menyukaimu pindah sekolah!”


“Lalu apa hubungannya gosip murahan itu dengan perubahan sikap Luhan? Setahuku, walaupun aku berpacaran dengan si anak itu, Luhan tetap berubah. Aku rasa Luhan memang suka mempermainkan wanita seenak hatinya…” Sava tiba-tiba naik darah.


“Loh? Kenapa kamu kesal? Kau tahu, saat itu Luhan benar-benar kesal. Apalagi, di kelas kau selalu bercanda riang dengan si anak itu. Luhan semakin kesal, dia suka marah-marah sendiri. Bahkan dia merokok gara-gara itu. Luhan tidak suka kau abaikan. Kau sangat tahu akan hal itu.” Lien mulai terpancing emosinya.


“HEII!! Kau kenapa? Luhan berubah itu karena dia memang ingin seperti itu, bukan karena gosip itu! Aku tahu ia memangakan kesal jika diabaikan, tapi tidak ada hubungannya dengan anak laki-laki itu. Tidak ada!... Tidak ada sama sekali!”


“Kau membentakku?”


Suara Sava meninggi di telinga Lien.


“Ma-maafkan aku, Lien. Aku hanya sedang tidak bisa berfikir jernih. Aku kelelahan, jadi fikiranku mudah sekali sensitive. Sekali lagi maafkan aku, Lien..” Sava mencoba membuang fikiran negatifnya.


Bagaimanapun ia tidak ingin melukai sahabatnya.


Ia akui, kata-katanya tadi sudah kelewatan. Lien pasti kecewa padanya.


Karena Luhan, kah?


“Maafkan aku juga, Va. Aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku. Kau paling tahu akan karakter jelekku, kan? Aku akan berusaha untuk tidak mengulanginya.” Kata Lien tulus.


Lien dan Sava berpelukkan. Mereka menangis bersama.


Mudah bagi mereka untuk mengeluarkan kata maaf dari mulut.


Mereka paham betul makna persahabatan. Salung ngotot tidak akan membuahkan hasil yang baik.


“Baiklah, kita sudah baikkan. Aku akan membeli makanan ringan dan minuman untukmu sebagai tanda maaf. Kau tunggulah sebentar!”


“Sava, kau terlihat pucat. Biar aku saja yang membeli!”


“Ah, tenang saja! Tidak perlu menghawatirkanku! Aku baik-baik saja jadi tunggulah sebentar! Aku segera kembali..”

__ADS_1


"Ba..baiklah..."


Sava bangkit dari duduknya dan pergi ke kantin. Kemudian setelah itu, Ohsen datang menghampiri.


“Ohsen?” Lien kaget.


“Kenapa kaget?” Ohsen menaikkan sebelah alisnya karena merasa heran.


“Tidak, hanya shock saja tiba-tiba saja kau ada di sini…”


“Itu sama saja nona… Apa kau sedang mengerjakan tugas?”


“Hm, aku sama Sava. Tapi, ia sedang ke kantin..”


“Ahh…Boleh aku ikut bergabung belajar denganmu dan Sava?”


“Tentu saja boleh, ini akan sangat menyenangkan. Luhan dan Kay akan segera menyusul nanti. Kita mulai dari Bab 10 materi Matematika.”


“Hmm, itu mudah…”


Mereka mulai mengerjakan soal matematika yang ada di bab 10. Banyak soal pilihan ganda yang perlu diselesaikan. Mereka mencoba mengerjakannya satu per satu dari kumpulan soal itu.


Terlihat raut serius di keduannya. Matematika memang mematikan. Banyak rumus dan hitungan. Pantas saja banyak yang tidak menyukainya, tapi Sava itu maniak matematika hingga membuat Lien ngeri saat Sava mendapatkan nilai sempurna di hampir setiap ujian matematika.


Bagi Lien, Sava itu terlahir jenius. Wajar saja Sava mendapatkan beasiswa di sekolah. Dia yang terbaik di ujian pendaftaran masuk sekolah.


Sedangkan dirinya?


Hmm, ia mendaptkan nilai 7 di ulangan matematika saja sudah sujud syukur. Ia bukan anak yang bodoh, ia masuk lima belas besar, hanya saja matematika itu lain cerita.


Lien tidak mudah menyerah, ia akan terus berusaha. Ia akan menyelesaikan soal matematika di hadapannya itu. Seperti Ohsen juga yang terlihat sangat fokus.


Jujur saja, Lien merasa canggung jika harus berduaan dengan Ohsen. Bagaimanapun ia memiliki perasaan khusus pada Ohsen.


Berduan seperti ini membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Ingin rasanya ia berteriak, tapi mana mungkin. Ia tidak berniat membuat dirinya sendiri dipermalukan. Ia juga tidak tahu harus memulai pembicaraan apa dengan Ohsen untuk menghilangkan rasa canggung yang menyelimuti.


Diam?

__ADS_1


Bukankah diam adalah pilihan terbaiknya saat ini? Mau bagaimana lagi, Lien tidak berkutik sama sekali dibuatnya.


Seperti tak berkutik juga melawan soal matematika nomor 5 di LKS miliknya.


__ADS_2