
Sava yang sangat lelah memasuki rumahnya. Hari ini tenaganya terkuras banyak. Kegiatan di sekolahnya membuat tubuhnya yang lemah semakin terasa lemah.
Belum mengganti baju sekolahnya, Sava langsung menuju dapur. Ia membuka almari es dan mengambil air mineral dari dalamnya. Ia meneguk habis satu botol air mineral itu.
“Ahhhh… Segar sekali…” Kata Sava saat merasakan sensasi dingin air es masuk ke dalam tubuhnya.
“Haishhh.. Kau menghabiskan air dinginnya sekali teguk? Itu mulut apa selang? Atau mungkin pipa air?” Kata Kay menyindir.
Ia juga merasa haus.
“Huh… Kau mengganggu acara minumku, Kay..” Kata Sava cemberut.
“Pasti bebanmu begitu berat?.. Kau sampai menghabiskan banyak air minum.. Ckckck, sepupuku benar-benar harus berkerja keras di masa remajanya! Sayang sekali, padahal itu hanyalah soal cinta monyet yang merepotkan…” Kata Kay.
“Hm.. Begitulah. Karena monyet suka meloncat-loncat, makanya terasa sangat melelahkan..” Kata Sava yang hanya pasrah dengan apa yang terjadi padanya.
Kay menepuk pelan pundak Sava.
Tingkag kecil yang membuat diri lebih baik. Itu memang Kay sekali.
“Ganti bajumu! Aku akan membuatkanmu mie instant…”
“Mie lagi??”
“Hanya itu yang bisa aku buat.. Hahhaha..”
“Dasar.. Kau ini.. Jangan lupa, jatahku dua porsi ekstra tomat dan tambah telur 3 butir! Mengerti?!!”
“Mie instant itu tidak baik! Jangan banyak-banyak!”
“Heiiihhh… Tenagaku habis buat nahan beban. Jadi aku butuh banyak energy…”
“Baiklah..baiklah.. Akan kubuatkan sepesial untukmu..” Kata Kay akhirnya. Kay hanya ingin menghibur Sava.
“Tambah satu porsi lagi untuk Ayah..” Kata Ayah Sava yang tiba-tiba datang.
“Ayah?”
“Paman? Paman pulang cepat?” Tanya Kay yang sedikit heran karena tidak biasanya ayah Sava pulang cepat.
Ayah Sava hanya tersenyum menanggapi keheranan Kay dan Sava.
“Sava… Apa kau masih berminat sekolah di luar negeri?” Tanya Ayah Sava.
Kay mulai memasak mie instant.
Ia mengambil panci rebus dan mengisinya dengan air.
“Itu impianku dari dulu.. Ayah tahu itu..” Jawab Sava.
__ADS_1
“Ayah sudah mempersiapkan asuransi pendidikanmu di luar negeri… Di Italy.. Sekolah fashion, seperti yang kau dambakan..” Kata Ayah Sava.
Kay terdiam mendengarkan kata-kata ayah Sava.
Kenapa kata-kata ayah Sava terdengar aneh di telingannya. Ia menggeleng dan melanjutkan menyalakan kompor gas.
“Benarkah?” Sava memastikan.
"..." Ayah Sava mengangguk.
Sava membulatkan matanya. Ia nampak sangat senang. Sava langsung memeluk ayahnya. Ayahnya terperangah, ini pertama kalinya Sava memeluknya setelah sekian lama.
“Tapi…” Ayah Sava kesulitan meneruskan kata-katanya. Ia hanya bingung untuk memulainya.
“Tapi apa, Yah?” Tanya Sava.
“Kau harus mulai pindah sekolah dari sekarang…”
“P..pindah..?” Tanya Sava. Ayah Sava hanya mengangguk lagi.
Entah mengapa hanya mendengar kata pindah membuat Sava meneteskan air mata. Sava menangis.
Bingo, sesuai dugaan Kay. Pamannya yang satu ini memang bersikap aneh.
“Kenapa tiba-tiba? Kenapa harus sekarang, Paman? Bukankah sekolah fashion itu saat masuk perguruan tinggi? Sava masih kelas XI… Sava belum lulus…” Kata Kay.
Kay mengatakan hal sesuai faktanya. Sava masih butuh setahun lebih untuk menuju jenjang yang lebih tinggi.
Ayah Sava tahu kalau anak kesayangannya, Sava akan kesulitan membuat keputusan. Terutama keputusan terberat jika harus jauh dari kedua sahabat tercintanya, Lien dan Luhan.
Ayah Sava tahu betapa eratnya hubungan putri tunggalnya dengan Lien dan Luhan. Mereka sudah bersama sejak kecil.
“Kenapa bisa, Paman? Bukankah Paman orang yang bekerja keras?” Tanya Kay.
“Paman tidak tahu, Kay. Yang jelas, perusahaan bilang mereka sudah tidak memerlukan tenaga Paman lagi. Mau apa lagi, Kay? Paman bisa apa?” Jawab Ayah Sava.
“Lalu sekarang bagaimana, Yah? Mencukupi kebutuhan hidup di luar negeri itu sudah mahal, Yah… Apa lagi ditambah sekolah. Itu pasti sangat mahal… Ayah mau bagaimana kalau Ayah tidak memiliki pekerjaan?” Tanya Sava khawatir.
“Beberapa hari yang lalu Ibumu menghubungi Ayah. Ayah menceritakan apa yang kau alami di sekolah tentang fitnah itu..." Jawab Ayah Sava.
Ibu?
Sava kaget. Ibunya tahu jika ia memiliki masalah di sekolah. Apakah ibunya khawatir padanya? Ataykah justru ibunya marah besar padanya karena tidak bisa menjaga diri?
"Bibi Lena pasti sangat mengkhawatirkanmu, Va.. Aku kena semprot karena tidak bisa menjagamu.." Kay ingat bagaimana ia kena omel 2 jam di telpon oleh ibunya Sava.
"A..apa ayah su..sudah baikan sama Ibu?" Tanya Sava hati-hati. Ia paham bagaimana hubungan kedua orang tuanya itu. Mereka berpisah dengan cara yang kurang menyenangkan.
Ayah Sava merasa malu. Kenapa putri tercintanya justru mengkhawatirkannya? Harusnya ia lebih bisa menjaga putrinya dan tidak bertindak egois. Karena dirinyalah, Sava berpisah dengan ibunya!
__ADS_1
"Ya.. Ayah dab Ibu sudah berhubungan baik lagi. Jangan khawatir... Ibumu bilang sangat merindukanmu... " Jawab Ayah Sava.
Sava langsung kembali menangis. Ibunya merindukannya...
Kay memasukkan cabe yang baru ia potong ke dalam panci rebusnya. Ia lalu menoleh ke arah Sava. Sepupunya itu menyunggingkan senyum yang bahagia. Sava pasti sangat lega mendengar kedua orang tuanya sudah baikan setelah sekian tahun berlalu.
Hikmah dari masalah yang dialami Sava.
.
.
Orang tua Sava berpisah tapi tidak bercerai.
Kenapa seperti itu?
Itu karena keegoisan ayah Sava.
Ayah Sava adalah orang biasa. Dari ekonomi menengah, sementara ibu Sava adalah putri dari keluarga kaya raya. Sangat jauh dibandingkan dengan kehidupan ayah Sava yang sederhana.
Mereka berdua saling mencintai.
Keluarga Lena, ibunya Sava, menerima segala kekurangan Aldi, Ayah Sava. Merestui mereka berdua untuk menikah.
Namun, orang lain, kolega bisnis keluarga Lena selalu meremehkan kapasitas Aldi yang pada akhirnya membuat Aldi memutuskan untuk hidup berdua dengan Sava dan berjanji akan menunjukkan jika ia bisa meski tanpa bantuan keluarga Lena.
Ya.. walau ujung-ujungnya semua tak sesuai yang ia harapkan.
"Kemarin Ayah Kay menghubungi Ayah. Dia meminta Ayah untuk memegang cabang perusahaanya yang ada di Italy… Ayah rasa itu kesempatan kita.. kesempatanmu untuk sekolah di sana juga…” Jawab Ayah Sava.
“Wah, kabar bagus itu… Kenapa tidak dari dulu Paman bekerja di perusahaan Ayah? Hah.. Paman ini…” Kata Kay.
“Paman tidak enak dengan Ayahmu, Kay… Kau tahu sendirikan bagaimana sikap paman dulu?.. Tapi kali ini Paman benar-benar sudah buntu.. paman harus menerima tawaran Ayahmu..” Jawab Ayah Sava.
Sava terlihat murung. Sava sedaang bergelut dengan fikirannya. Ia bahagia akan kedua orang tuanya, tapi kata 'pindah' itu tidak pernah ada di dalam kamus hidupnya.
Ayah Sava menyadarinya.
“Va, Ayah tahu ini sangat berat untukmu. Kau pasti memikirkan kedua sahabat kecilmu… Kalau itu berat, Ayah akan mencoba mengerti. Ayah akan menolak tawaran Ayah Kay demi kamu. Ayah akan mencari pekerjaan lain sampai kamu lulus SMA. Ayah tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di sini…” Lanjut Ayah Sava.
"..."
"Ayah akan bicarakan semua ini dengan ibumu.. Ibumu pasti akan mengerti. Ibumu itu sangat baik dan memikirkan kita berdua.." Lanjut Ayah Sava.
“Ayah pasti sangat menginginkan pekejaan ini. Apa yang harus kulakukan, Tuhan?” Tanya batin Sava.
“Paman tidak usah khawatir! Aku akan menjaga Sava dengan nyawaku. Paman persiapkan diri saja untuk pergi ke Italy! Aku akan menemani Sava sampai Sava lulus sekolah di sini..” Kata Kay.
"Terima kasih Kay, Paman benar-benar terbantu... " Ayah Sava tersenyum lalu pergi ke kamarnya untuk mengganti baju.
__ADS_1
“Apa kau akan pindah?” Tanya Kay.
“Entahlah, Kay. Aku akan memikirkannya…” Jawab Sava berat.