My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Sava dan Luhan Pergi Ke Taman Bermain


__ADS_3

“Hei Luhan, apa kau tidak lelah, hah? Istirahatlah sebentar! Tenagaku benar-benar sudah habis. Aku merasa pusing dan sangat mual karena permainan itu.” Keluh Sava.


Sementara Luhan masih saja menyeretnya untuk menaikki wahana roller coster untuk yang ke 3 kalinya.


“Ayolah, sekali lagi! Aku mohon. Setelah itu kita istirahat. Aku tidak suka mendengar penolakkan darimu, Va. Mengerti!”


Sava hanya mengangguk pasrah. Luhan memang keras kepala dan suka memaksa padanya.


“Egois sekali kau hari ini, Han.”


Akhirnya mereka naik wahana roller coster untuk yang keempat kalinya. Sebenarnya Sava sudah tidak kuat lagi. Kepalanya sangat pusing. Tapi Luhan terus saja memaksa untuk menemaninya naik wahana itu.


Entah kenapa ia menuruti kemauan Luhan begitu saja. Ingin sekali menolak, tapi bibir enggan berucap. Tubuhnya enggan bekerja sama dengan otaknya. Apakah karena ia menyayangi Luhan maka sulit baginya untuk menolak permintaan Luhan?


Mungkin saja memang seperti itu.


“Huek…huek…”


“Perasaan tadi aku yang mual-mual. Kenapa justru kamu yang muntah-muntah?” Sava merasa Heran saat memijat-mijat tengkuk Luhan karena Luhan terus muntah-muntah setelah selesai menaiki wahan roller coster.


“Entahlah aku juga tidak tahu. Sava, perutku rasanya tidak nyaman sama sekali. Hueek..” Luhan masih lemas dan pusing masih setia di kepalanya.


“Bukankah tadi aku bilang untuk istirahat dulu? Ini akibatnya!” Sava mengambil minyak angin dari tasnya untuk mengobati Luhan. Ia tetap memijat tengkuk Luhan agar Luhan merasa lebih baik. “Apakah sudah lebih baik?”


“Hm, aku sudah lebih baik. Terima kasih.”


“Ya... Lain kali menurutlah kalau aku melarangmu! Karena itu pasti tidak baik untukmu. Kau tahu, aku selalu mengkhawatirkanmu. Mengertilah, Han.” Sava akan selalu cerewet kalau Luhan kenapa-kenapa.


Sava sangat tidak bisa menyembunyikan rasa kekhawatirannya. Hal itu karena ia adalah tipe perempuan yang gampang mengkhawatirkan orang lain lebih dari ia mengkhawatirkan dirinya sendiri.


Bahkan ia mulai merasakan ada air mata yang mengalir di kedua pipi putih pucatnya.


Luhan menunduk melihat Sava menangis. Ia sudah sering melihat Sava menangis seperti ini. Ia tahu Sava sangat mengkhawatirkannya. Tak hanya dirinya saja, jika Lien sakit demam, Sava juga akan menangis seperti ini. Sava memang sahabat yang baik.


“Maafkan aku selalu membuatmu khawatir.”


Kata Luhan.


“Sudahlah, tak apa.”


“Kalau suatu saat aku tidak bisa mencari pendamping hidup, maka aku akan bergantung padamu..”

__ADS_1


Sava sedikit tersentak.


Kenapa tiba-tiba seperti ini? Ini kali pertama Luhan mengatakan hal seperti itu padanya.


“Hah? I-itu tidak mungkin terjadi. Karena kau pasti akan mendapatkan pendamping hidup! Melihatmu yang sekarang ini, rasanya tidak mungkin kau akan sendirian nantinya. Percayalah, akan ada seseorang yang benar-benar mencintaimu sepenuh hatinya.”


Akan ada seseorang yang benar-benar mencintainya? Luhan sedikit ngilu akan perkataan Sava.


“Berjanjilah kau akan selalu ada di dekatku!” Baru kali ini terdengar Luhan berkata serius.


Luhan jarang berkata serius dengan Sava. Jika Luhan bertindak serius, atmosfir suasana menjadi berat.


Dan lagi, berjanjilah?


Sava mencoba mencerna setiap penekanan kata yang Luhan ucapkan. Itu terlalu sulit untuk dimaknai. Membuat hatinya gusar.


Kata apa yang sebaiknya ia ucapkan untuk menjawab permintaan Luhan yang memaksanya untuk mengikat janji itu?


“Itu bukan masalah bagiku, asal kau tidak membuat luka saja.” Kata Sava akhirnya.


Luhan tersenyum.


“Aku tak akan pernah membuat luka. Janji!”


Mereka berdua saling tersenyum. Terasa sangat bahagia. Mereka terlihat bagaikan sepasang kekasih yang baru saja mengenal cinta. Banyak orang-orang yang memandang ke arah mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.


Mungkin karena hari yang sudah malam, tetapi ada dua anak lawan jenis sedang berkeliaran di taman bermain dan masih memakai seragam sekolah. Mereka baru menyadarinya.


Harusnya tadi ganti baju bermain dulu.


“Sava, aku ingin bubbletea!” Luhan menatap Sava penuh harap. Ia menampilkan puppy eyes andalannya. Ia tahu pasti kalau Sava pasti tidak akan membelikannya saat ia sakit. Saat ini, ia benar-benar berharap Sava akan membelikannya.


“Ah baiklah dan berhentilah memohon seperti kucing kelaparan seperti itu!” Sava menyerah saat melihat expresi memelas Luhan. Ia hanya tidak tahan karena Luhan menatap seperti itu.


“Benarkah kau akan membelikanku?”


“Ak tak harus mengulanginya, kan?”


Luhan menggeleng.


Sava langsung membeli dua taro bubbletea dan memberikannya pada Luhan. Luhan terlihat sangat senang saat meminum bubbletea pemberiannya itu.

__ADS_1


“Hari ini kau baik sekali padaku. Aku menyukainya. Aku menyayangimu, Va.. Dan juga..Lien.”


“Menyayangiku dan Lien ya? Ah benar sekali, kami itu bersahabat. Apa yang salah dengan kata itu?” Batin Sava. “Apa ada yang salah denganmu? Kenapa hari ini kau bertingkah kekanak-kanakan sekali sih? Walau setiap harinya begitu, tapi kali ini benar-benar merepotkan.” Desah Sava.


“Kau selalu sibuk dengan musik dan si laki-laki muka piano itu. Bahkan kau sempat melupakanku.”


“Namanya Dio. Maafkan aku, club seni akhir-akhirnya disibukkan banyak acara. Lagipula, bukankah kau sedang sibuk dengan kekasih-kekasihmu? Jadi tidak ada akupun kau masih bisa bermain dengan mereka. Ada Lien dan Kay juga.” Sava berkata apa adanya seperti yang ia rasakan.


Luhan justru hanya terdiam tanpa menanggapi kata-kata Sava. Sava bingung. Apa ia sudah salah bicara?


“Ayo pulang, kau terlihat lelah! Aku akan mengantarkanmu sampai rumah.”


“Kenapa tiba-tiba?” Sava bingung melihat Luhan beranjak berdiri dari duduknya.


"..." Luhan hanya diam saja.


“Ini anak kenapa lagi sih? Aneh. Baru saja terlihat begitu menyenangkan. Sekarang bagai manusia es. Rasanya, akhir-akhir ini aku sering melihatnya seperti sosok asing. Ah, tidak-tidak, aku hanya mengada-ada saja.” Batin Sava.


Sava hanya menuruti perkataan Luhan tanpa ingin bertanya lebih. Sepertinya Luhan sedang banyak masalah. Setidaknya itu yang Sava fikirkan. Di perjalanan pulang juga hanya saling berdiam.


“Cepat masuk dan tidurlah! Kau terlihat kelelahan..” Kata Luhan pelan saat menghantarkan Sava.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Sava hati-hati.


“Kau yang tak terlihat baik-baik saja!” Luhan meninggikan nada.


Sava terdiam.


Kalau sudah begini, ia tak bisa berbicara lebih. Luhan pasti akan marah. Sava hanya mengangguk dan segera keluar dari mobil Luhan.


Luhan meninggalkan rumah Sava setelah memastikan Sava masuk ke dalam rumahnya. Sementara itu, Sava hanya memandangi mobil Luhan melaju cepat dari balik kaca rumahnya.


Jujur saja, banyak tanda tanya memenuhi otaknya.


“Hah, anak muda labil!” Celetuk Kay yang tiba-tiba berdiri di samping Sava.


“Kau membuatku kaget, Kay.”


" 😁 " Kay hanya memamerkan senyumannya.


“Sudahlah, jangan membuatku mengeluarkan tenagaku sia-sia hanya untuk menanggapi ocehan tak bergunamu itu!” Sava langsung melengos pergi ke kamarnya.

__ADS_1


“Ya! Ya! Ya! Aishhh, anak itu pergi seenaknya saja.”


__ADS_2