My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Titik Terang


__ADS_3

Kelas XI-A


“Dio, kau di sini?” Tanya Kay yang entah dari mana .


“Oh, kau Kay… Aku hanya sedang membersihkan bangku Sava yang kotor..” Jawab Dio sambil menunjuk ke bangku Sava yang baru ia bersihkan.


“Terima kasih sudah melakukannya untuk sepupuku..”


Dio tersenyum. “Tak masalah untukku.. Apapun yang terjadi aku akan selalu menjaganya.. Kurasa kau sudah mengetahuinya…”


“Jadi benar kau memiliki perasaan padanya?”


“Ya, aku memiliki perasaan padanya. Aku menyukai sepupumu.. Tak perlu aku sembunyikan karena aku memang menunjukannya secara terang-terangan..”


Dio memang menyukai Sava, lebih dari itu, dia mencintai Sava. Sangat mencintainya hingga ia tak masalah melakukan banyak hal untuk mendukung Sava.


“Hm, apa kau bisa membahagiakannya? Apa kau bisa melindunginya? Apa kau tahu perasaanya?”


Kay tidak ingin Sava disalahpahi lagi. Ia harus menjadi tameng pelindung Sava. Ia harus menyaring orang-orang yang mencoba dekat dengan Sava.


“Aku sangat mengenalnya, Kay. Apa yang dia rasakan, apa yang dia alami, rahasianya, bahkan perasaannya pada sahabat kecilnya. Aku mengetahuinya…”


Suara Dio terdengar miris. Cinta bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan. Cinta tak terbalas itu menyesakkan. Sudah berapa lama Dio mencintai Sava? Sudah seberapa dalam perasaan Dio terhadap Sava? Kay tertegun memikirkannya.


“Dia sangat beruntung memiliki orang yang tulus peduli padanya…”


“Hm, kurasa begitu. Tapi apapun itu, yang kutahu dia merasa tertekan dengan semua ini. Cintanya. Perasaannya. Kisah hidupnya. Semua terasa rumit untuknya.. Aku hanya bisa mengulurkan tanganku untuk membatunya...”


Dio memang hanya bisa melakukan hal itu. Ia ingin lebih bisa dihandalkan oleh Sava.


“Tak kusangka perasaanmu padanya begitu dalam. Kuyakin kau tahu pasti akan perasaannya. Dia sudah menutup hatinya hanya untuk sahabat kecilnya itu…”


“Satu hal yang aku yakini, suatu saat dia pasti akan membuka hatinya untuk orang lain… Tidak menutup kemungkinan, orang lain itu adalah diriku... Walau sebenarnya itu adalah keinginan egoisku... ”


Kay menepuk bahu Dio. Mencoba memahami betapa kerasnya usaha Dio untuk mendapatkan Sava.


“Berusahalah! Sava itu memiliki hati yang hidup. Dia pantas menerima cinta yang bamyak darimu..”


“Hn.. Terima kasih, Kay..”


"Sama-sama.."

__ADS_1


Dio senang karena Kay mendukungnya. Dio tahu jika Kay itu lebih mengutamakan Sava. Kay pasti akan sangat protektif mengenai laki-laki yang akan mendekati Sava.


Namun Kay memberi lampu hijau padanya, itu seperti sebuah restu. Ia akan menjaga amanah itu dengan sebaik-baiknya.


Ia akan menjaga Sava. Ia akan melindungi Sava. Ia akan lebih bekerja keras lagi untuk mendapatkan hati Sava. Sekalipun Sava mencintai orang lain dan memiliki perasaan kuat terhadapnya.


Bukankah tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan?


Manusia berusaha, Tuhan menentukan.


Jika ia berusaha dengan sangat keras, maka impiamnua bisa diraih, kan? Seperti janji Tuhan atas hamba-Nya yang pantang menyerah.


“Jujur saja Dio, aku benar-benar buntu. Aku tidak bisa berfikir jernih. Aku tidak punya petunjuk apapun tentang foto itu. Kau tahu sendiri kan, saat majalah itu beredar aku sedang mengikuti lomba majalah nasional dengan Lien.. Semua isi majalah itu tidak sesuai dengan materi yang aku dan Lien perintahkan..” Kata Kay.


Kay tiba-tiba saja bertukar pendapat dengan Dio, orang yang sangat jarang ia ajak berbicara.


Saat ini hanya Dio yang nyata berjuang dengannya. Hanya Dio yang benar-benar menunjukkan keseriusannya dalam membela Sava, dan juga Ohsen tentunya.


Kay hanya bisa meminta saran dan tukar informasi dengan Dio.


“Maksudnya?” Dio masih belum mengerti apa yang Kay bicarakan.


“Isi majalah itu harusnya sama dengan materi yang sudah aku dan Lien siapkan. Isi majalah sudah dibuat sebelum aku dan Lien berangkat lomba!”


“Tentu saja wakil klub, Aina Elizabeth..”


Jawab Kay.


Aina Elizabeth?


“Kalau begitu aku permisi dulu.. Terima kasih banyak atas infonya, Kay…” Kata Dio yang langsung melengos pergi.


“Apa-apaan itu bocah.. Ck….Sebentar, menghandle klub? Ahhh, bodoh.. bodoh.. Mana mungkin ada asap kalo tidak ada api. Mana mungkin berita beredar kalau tidak ada yang mengedarkanya… Aku harus menanyai semua wartawanku…” Kata Kay kesal dan bergegas mencari informasi lebih lanjut.


Ia harus menemui tim jurnalis sekolah untuk menguak siapa dalang di balik semua skandal ini. Ia akan berjuang keras demi adik sepupunya dan Ohsen.


Ia harus segera membebaskan sang adik dari selimut penderitaan yang tak seharusnya Sava dapatkan.


.


.

__ADS_1


.


Di sisi lain, Sava tengah bersiap untuk menemui Ohsen di taman yang Ohsen bicarakan tadi malam. Taman itu tidak jauh dari rumahnya. Sava memakai one piece dress selutut berwarna krem kalem dengan lengan dress sedikit pendek sehingga memperlihatkan bahu Sava yang indah.


Sebuah mini tas lucu berwaran coklat muda berhias gambar enakei juga Sava pakai untuk membawa dompetnya. Rambut panjangya ia cepol ke atas dan dihiasi dengan pita kecil senada dengan warna short dress-nya. Hari ini Sava terlihat sangat berbeda. Cantik dan manis.


Sava duduk di bangku taman di bawah pohon rindang. Angin berhembus pelan membelai dahan pohon di atasnya. Menggugurkan dedaunan kering dari rantingnya. Cuaca hari ini sangat cerah. Angin yang sejuk dan matahari yang bersinar terang.


Hari yang pas untuk jalan-jalan.


“Are you, Sava?” Tanya Ohsen.


“Of course, yes.. Jangan pakai bahasa Inggris, Tuan Bule! Aku tidak bisa…” Jawab Sava menggembungkan pipinya.


“Haha, baiklah-baiklah… Hari ini kau terlihat sedikit… berbeda..” Kata Ohsen yang masih saja terpesona dengan Sava.


Di mata Ohsen, Sava yang terlihat girly itu sangat cantik. Sava biasanya tidak berdandan, lebih suka natural dan terlihat sedikit tomboy. Beda dengan saat ini, Sava sangat menawan. Membuat jantungnya berdegup lebih kencang.


“Bolehkan aku sedikit terlihat modis di matamu..” Tanya Sava dengan manisnya seolah tidak ada beban.


“Dio benar, sepertinya mode lebih cocok buatmu daripada seni musik…”


Sava tersenyum menanggapi kata-kata Ohsen. "Aku tak sebaik itu..."


Ohsen mengulurkan tangannya. “Ayo jalan-jalan..!” Katanya.


Sava beranjak dari duduknya dan menyambut tangan Ohsen. Mereka bergandengan tangan.


Sangat erat.


“Hm… Ayo kita memanfaatkan waktu liburan sekolah kita…!” Tanggap Sava riang.


“Skorsing kau sebut liburan? Payah… Bukankah seharusnya kita sedang kencan?” Goda Ohsen.


“Kau benar. Kita memang sedang kencan…” Sava tersenyum lagi.


"YEYYY"


"YEYYY..."


Dan mereka tertawa renyah bersama.

__ADS_1


Dari awal Sava sudah berniat akan berubah riang. Ia mencoba membangun kembali sifat cerianya. Ia berharap semua akan menjadi lebih baik, untuknya dan untuk orang-orang yang ia sayangi.


Membangun energi positif untuk menarik hal-hal baik di sekitarnya. Awali dengan yang paling mudah, tersenyumlah!


__ADS_2