My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Masalah Luhan dengan Kakak Kelas


__ADS_3

Waktu itu apabila ditunggu-tunggu akan terasa sangat lama. Bahkan akan membuat berfikir jika waktu berjalan begitu lambatnya. Tetapi, beda dengan halnya yang selalu menikmati waktu dengan kisah yang menyenangkan. Maka penjelasan makna waktu akan berbeda juga.


Semua terbalik.


Waktu adalah cepat berlalu. Waktu adalah terasa hanya sebentar. Cepat berputar dan berganti. Waktu adalah saat yang tepat untuk berbagi kisah. Benar. Saat yang tepat bukan besok, lusa, atau nanti, tapi kalau masih bisa sekarang? Kenapa tidak?


Baru saja terdengar bel tanda usai ujian tengah semester. Kalau dihitung, hampir empat bulan Kay dan Ohsen sekolah di Indonesia terhitung sejak bulan kedua mereka masuk sekolah.


Banyak hal yang mereka berdua dapatkan. Kenangan manis tentunya. Bukan berarti tidak ada kenangan pahit. Banyak hal yang mereka sembunyikan. Hal yang cukup menggores hati. Banyak pertanyaan yang belum terjawab. Bagaimanapun mereka berusah untuk bertahan. Rasanya menjadi untuk tidak egois sekarang ini lebih dibutuhkan.


.


.


.


Di belakang kelas, tepatnya di taman sekolah, Luhan tengah menemui seorang perempuan yang memintanya untuk menemuinya. Luhan hanya menurut saja. Hari ini Luhan sedang bosan.


Sava dan Ohsen sibuk rapat di club seni. Lien dan Kay-pun begitu, mengedit berita untuk majalah sekolah edisi bulanan. Untuk menghilangkan bosannya, ia akan menemui perempuan itu.


Perempuan yang memintanya untuk menemuinya. Lain kali, ia pasti tidak akan menerimannya. Merepotkan sekali, fikirnya.


“Excel, a-aku..” Kata seorang perempuan yang cukup cantik dengan terbata-bata. Amel.


“Kau, kenapa memintaku untuk menemuimu, kakak kelas?” Tanya Luhan heran.


Ia hanya tahu kalau perempuan yang sedang berbicara dengannya adalah seniornya, kakak kelasnya. Sahabat dari Enila, kakak kelas yang selalu menggodanya.


“Apakah, per..perasaanmu pada Enila itu nyata?”


“Apakah kau berhak mengetahui urusan pribadiku? Jika kau penasaran, bukankah seharusnya kau bertanya pada kak Enila?” Luhan tidak suka jika ada seseorang yang mencampuri urusan pribadinya. Apalagi orang yang sama sekali tidak ia kenal dengan baik.


“Maafkan aku! Ak..aku hanya ingin tahu saja... Banyak fans-mu yang penasaran akan hal itu..”


Luhan hanya memutar matanya karena bosan. Baginya, fans-nya itu terlalu berlebihan. Ingin tahu apa saja tentangnya. Bahkan hal pribadinya sekalipun.


“Jadi, apakah kau termasuk salah satu dari mereka juga, kakak kelas?” Tanya Luhan sambil menyilangkan tangannya di dadanya.


Amel cukup kaget. Walaupun ia termasuk fans Luhan. Ini pertama kalinya ia bisa berhadapan langsung dengan Luhan. Membuat jantungnya berdetak begitu kencang.


“Iy..iy..iya.. Tapi aku berbeda dengan mereka! ak.. ak..aku menyukaimu. Sangat menyukaimu… perasaan ini tulus.. Aku yang selalu menaruh hadih-hadiah di lokermu… Aku selalu hadir menyemangatimu di setiap kau bertanding sepak bola. Aku melakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia…”


Luhan menghela nafasnya. “Terima kasih sudah menyukaiku sebegitu banyaknya. Tapi, aku tidak ingin melukaimu lebih banyak lagi. Aku sudah memiliki seorang yang aku sukai lebih dari siapapun.” Luhan mencoba menjelaskan dengan senyuman.


Amel mulai meneteskn air matanya. Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa ia bendung. Sakit. Ya, sakit yang benar-benar ia rasakan. menyukai, mengagumi, tapi ditolak karena ada orang lain. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya.

__ADS_1


“Katakan Excel, kau bohongkan? Aku tahu selama ini kau memiliki banyak kekasih yang tidak benar-benar kau sukai… Kau hanya mempermainkan mereka, kan?”


“Aku memang playboy, memiliki banyak kekasih. Tapi aku tidak berbohong…”


“Siapa perempuan itu? Siapa perempuan yang bisa menyayangimu, menyukaimu, mencintaimu lebih dari aku? Enila? Fitria? Katakan, apakah mereka salah satu dari gank cheerleaders?” Amel mulai meninggikan suaranya.


“Kau terlalu banyak bertanya, kakak kelas. Berhentilah menangisi laki-laki playboy sepertiku! Kurang kerjaan saja.” Luhan beranjak meninggalkan Amel.


“Aku tahu Excel. Dia Lien Aristy, kan? Sahabatmu sendiri! Aku tahu karena kau selalu melihatnya, mengganggunya.” Kata Amel. Luhan menghentikan langkahnya.


“Hah, kau memang fans sejati. Terima kasih sudah memperhatikannku selama ini, kakak kelas…” Luhan melanjutkan jalannya meninggalkan Amel yang masih menangis.


“Jadi begitu Excel? Inikah balasannya untuk orang yang benar-benar menyukaimu? Aku tidak terima, kau harus membayarnya..”


Luhan sangat tahu Amel, tapi ia tidak berminat dengan perempuan itu. Baginya, sekarang ia hanya butuh untuk menenangkan diri. Rasanya tidak tega menyakiti Amel yang benar-benar menyukainya. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain, ia hanya tidak ingin menyakiti lebih banyak perempuan lagi.


Apakah sifat keplayboy-annya itu mulai memudar?


Entahlah.


Yang jelas, semenjak ada Ohsen dan Kay, Luhan mulai tidak begitu berganti-ganti pacar. Alasnya karena orang yang menceramahinya bertambah. Ohsen dan Kay itu sama saja dengan Sava dan Lien yang selalu melarangnya memiliki banyak kekasih.


Luhan berjalan malas di lorong kelas. Hari ini cukup membosankan. Ia kerap kali menguap dan melonggarkan dasinya. Bajunya bahkan tidak tertata rapi. Terkadang membuatnya seperti anak nakal yang sering melanggar peraturan sekolah.


“Exceeelll…” Kata Enila manja.


“Ada apa kakak kelas?”


“Ish, kenapa kau sudah tidak membalas pesanku lagi?”


“Kita hanya berteman, kakak kelas.. Kau sudah tidak kesepian lagi. Bukankah kau hanya memanfaatkanku karena hubunganmu sedang tidak baik dengan kak Krisna?”


“Bukan begitu, Excel! Awalnya memang ada niat begitu, tapi semakin lama Krisna dingin padaku, semakin sering aku berhubungan denganmu, aku semakin nyaman denganmu.”


“Kita tidak sedang berkencan! Kita hanya berteman, kakak kelas!”


“Kita sudah berkencan beberapa kali, Excel..” Enila mulai memegang lengan Luhan. “Ayo ke kantin! Aku ingin Krisna kesal melihatnya!”


“Lepaskan aku, kakak kelas!” Luhan berusaha melepaskan genggaman tangan Enila dari lengannya.


Hingga akhirnya Krisna melihatnya dari jarak jauh. Krisna menghampiri mereka berdua dengan tatapan membunuh.


Luhan dan Enila bisa merasakan aura kelam itu keluar dari diri Krisna. Krisna itu garang dan memiliki tubuh atletis karena ia pemain basket. Rasanya bergidik ngeri juga melihat tampang Krisna itu.


Luhan saja yang laki-laki takut dibuatnya.

__ADS_1


“Excel, bisa bicara sebentar?” Tanya Krisna tanpa menghiraukan tatapan kesal Enila.


“Oh, kak Krisna. Ada apa?” Luhan juga tidak menghiraukan Enila.


“Rasanya kau sudah mengetahuinya..”


“Hmm, tentang rumor hubunganku dengan kakak kelas di sebelahku ini?” Luhan menujuk Enila dengan jari telunjuknya.


Krisna hanya menganggukkan kepalanya. “Aku masih menaruh kepercayaan padamu, Excel..”


“Tenang saja, kak. Aku takkan merusak kepercayaan darimu. Kau bisa mempercayaiku.” Luhan menjawab dengan mantap.


Krisna tersenyum dan menepuk pundak Luhan.


Krisna menoleh ke arah Enila. “Walau setelah ini kau mengoceh untuk menyangkal semua ini, aku tidak akan mendengarkannya!” Kata Krisna tegas.


“Kau selalu saja sibuk dengan basketmu itu…” Kata Enila kesal.


“Tapi apa itu wajar dijadikan alasan untuk menggoda laki-laki yang lebih muda darimu? Apa kau tidak ingat umurmu, heh?” Kata Krisna.


Enila menunduk.


“Aku hanya kesepian…”


“Harusnya kau bisa menerimaku apa adanya seperti yang kulakukan padamu, harusnya kita bisa saling percaya! Apa tidak cukup kau menjadi cheerleaders basket? Kau selalu bisa melihatku…”


“…”


“Sudahlah! Excel, jangan kau terlalu memikirkan semua ini! Ini urusanku dengannya. Harusnya aku tidak mengumbar masalah hubunganku dengannya padamu. Maaf, atas kelakuannya dan terima kasih sudah memegang kepercayaanku…” Kata Krisna.


“Hm. Tak masalah buatku, Kak.” Kata Luhan.


“Ayo pergi! Banyak hal yang harus kita luruskan!” Kata Krisna yang langsung membawa Enila pergi.


“Hah, hidupku makin runyam saja. Sava benar, playboy itu membuat banyak masalah. Harusnya sejak awal aku mendengarkanmu.” Desah Luhan saat usai berbincang dengan Krisna.


.


.


.


Luhan menatap langit yang begitu cerahnya.


“Bagaimanapun aku yang memulainya, sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengakhirinya... Ini pasti akan sulit! Andai saja kau mudah kuraih, pasti aku tak akan berbuat seperti ini. Akupun tak bisa menyalahkanmu.” Luhan mulai merenung

__ADS_1


__ADS_2