My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Cinta di antara Persahabatan: Menggoda Adikku?


__ADS_3

**Perpustakaan Sekolah...


Lien dan Ohsen sedang mengerjakan soal matematika**...


“Oh ya, apakah Sava dan Luhan itu ada hubungan khusus?" Ohsen tiba-tiba bertanya. Suaranya terdengar serius.


Bingo, ini yang sedari tadi Lien harapkan. Suasana diam dan serius menyesakkan baginya.


Namun tetap sama, Ohsen melontarkan pertanyaan yang tidak bisa.


Sepertinya Lien merasa akan kesulitan menjawabnya.


“Hubungan khusus? Hu..hubungan yang seperti apa maksudmu?” Tanya Lien yang masih tidak mengerti.


“Hubungan yang lebih dari sekedar yang terlihat selama ini…”


“Ma.. maksudmu lebih dari sekedar sahabat?”


Ohsen menganngguk... "Hn.."


“Entahlah, aku tidak begitu memahaminya. Jujur saja, Luhan adalah orang yang paling kesal kalau ada yang merebut apapun miliknya, termasuk mendekati Sava. Luhan menganggap Sava itu miliknya. Ia selalu mengklaim hal itu pada siapapun yang mencoba dekat dengan Sava. Tidak perduli itu laki-laki maupun perempuan sekalipun.” Lien melanjutkan.


“Kenapa begitu? Itu kan membatasi hak asasi Sava..”


“Aku juga tidak tahu, intinya Sava akan merasa nyaman-nyaman saja saat Luhan seperti itu padanya. Sava tidak pernah mempermasalahkan hal itu meskipun itu membatasi hak asasinya. Sava tidak pernah memberontak atau menyanggahnya. Sulit aku menjelaskan hubungan Sava dan Luhan, intinya mereka berdua itu dekat sekali.”


“Bukankah kau juga bagaian dari persahabatan? Sava, Luhan, dan kau..”


“Iya, hanya saja sedekat-dekatnya aku dengan Luhan, Luhan lebih dekat dengan Sava. Aku merasa jadi nomor dua baginya. Itu yang aku rasakan selama ini… Rasanya belum lama ini aku mengatakannya... Dari cara Luhan memperlakukanku itu berbeda, sangat berbeda. Saat denganku, aku dan Luhan akan terus bertengkar. Tapi di depan Sava, Luhan akan sangat manja padanya, bahkan sangat patuh akan apapun yang Sava katakan. Mungkin karena Sava tipe perempuan yang sedikit bicara dan suka berfikir dewasa…"


Ohsen membenarkan perkataan Lien.. "Iya juga, Sava memang selalu bersikap dewasa.."


"Luhan sepertinya menyukai sosok yang dewasa dan mengertinya. Sava sangat mengerti Luhan. Apapun yang Luhan butuhkan, rasakan, Sava akan menjadi orang pertama yang memahami itu. Aku tidak sepeka Sava, meskipun aku menyayangi Luhan juga, setahuku hanya seperti itu. Ya, hanya seperti itu! Kami saling menyayangi satu sama lain, tapi entahlah, aku tidak mengerti Luhan sampai sejauh itu…”


Tak sadar Lien mencurahkan apa yang ia rasakan selama ini kepada Ohsen. Apakah Lien juga merasakan kalau Luhan tidak adil padanya? Mungkin hanya sedikit menjadi bebannya.


Sementara itu, Ohsen hanya menyimak dan mencoba menelaah apa yang Lien katakan padanya. Mencoba meresapi dan menyimpulkan arah persahabatan ketiga temannya itu.


“Apakah sempat terfikir kalau ada cinta di antara kalian bertiga?”


Celetuk Ohsen.


“Cin..cinta? Ah, hahah, selama kami bersahabat tidak pernah sekalipun dari kami yang membahas tentang cinta. Itu terdengar aneh…Emmm, lagipula kau tahu sendiri kalau Luhan itu memiliki kekasih dimana-mana. Di masih senang berpetualangan di dunia cintanya sendiri..." Jawab Lien.


"Bagaimana dengan Sava?" Ohsen penasaran dengan Sava. Gadis cantik menurut penilaiannya itu.


"Sedangkan Sava, aku tidak pernah mendengarnya membicarakan masalah cinta denganku. Kupikir Sava belum memiliki laki-laki yang ingin dia cintai sebagai kekasih..."


"Masak? Bukankah Sava cukup terkenal di sekolah?"

__ADS_1


"Kalau kau masih tidak yakin, intinya kami masih sibuk dengan dunia kami masing-masing…” Lien gelagapan menanggapi pertanyaan dari Ohsen.


Bingung juga harus bagaimana menjelaskannya. Ia hanya bisa berbicara sekeder yang ia tahu, sekedar yang ia rasakan.


Sebuah cinta di antara dirinya, Sava, dan Luhan?


Bukankah itu konyol jika melihat jauh ke belakang akan persahabatan mereka?


“Benarkah?” Ohsen memandang intens mata Lien mencari kejujuran di sana.


Usia remaja SMA bukankah waktunya mengenal cinta? Kenapa Sava dan Lien sok sibuk dengan urusan lain?


Karena terlalu lama diperhatikan, Lien menjadi salah tingkah. Terang saja, Lien jatuh cinta dengan laki-laki satu ini.


LIEN MENYUKAI OHSEN!!


Terlalu sulit baginya untuk mengontrol detak jantungnya.


“Hei anak baru, jangan menggoda adikku!” Suara khas laki-laki membuyarkan suasana.


“Yah, kak Krisna mengganggu saja.” Batin Lien kesal.


Ohsen hanya menampilkan mata yang seolah bertanya siapa laki-laki ini yang menuduhnya menggoda Lien.


“Perkenalkan Ohsen, ini kakakku, kak Krisna. Kak, ini Ohsen, teman sekelasku dan saudaranya Luhan.” Kata Lien.


“Ohsen..”


Ternyata Krisna itu sangat baik. Tidak sesuai dengan penampilannya yang terlihat sangat manly dan garang.


“Lien, apakah benar tentang kabar Enila selingkuh dengan Excel?”


“Loh? Jangan bilang kak Krisna termakan omongan anak-anak resek sekolah kita? Itu hanya gosip, Kak..”


“Aku hanya memastikan saja..”


“Apakah Luhan terlihat sebagai seorang laki-laki yang tega merebut kekasih dari laki-laki yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri??”


“Tentu saja tidak.”


“Kalau begitu, masalah sudah beres. Kak Krisna tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya!”


“Apakah perempuan yang kalian maksud Enila, si kakak kelas yang centil itu dan suka memakai bedak tebal?” Dengan polosnya Ohsen bertanya seperti itu.


Ohsen tidak memikirkan apakah Krisna akan marah atau tidak. Lien saja tidak habis fikir, berani sekali Ohsen mengatai kekasih kakaknya dengan sebutan centil dan suka memakai bedak tebal. Benar-benar.


Bukan salah Ohsen juga jika Ohsen tak mengenali Enila sebagai kekasih kak Krisna.


“Hah, kau benar, aku saja baru menyadarinya kalau Enila itu centil dan berbedak tebal. Terima kasih sudah menyadarkanku, anak baru!” Respon Krisna.

__ADS_1


Lien cengo.


Ohsen tersenyum bagai malaikat.


“Kak Krisna bahkan tak marah?? Wah, wah, Ohsen memang hebat..” Batin Lien.


“Aku memang sangat mencintainya, entahlah walau karakternya cenderung buruk. Tapi, itu yang membuatku ingin selalu bersamanya. Aku hanya yakin suatu saat dia bisa berubah.”


Kata Krisna.


“Sepertinya ada yang sedang berusaha membagi kisahnya? Terkesan tidak biasa…”


Lien menggoda.


“Hah, kau Lien.. memang tidak bisa diminta untuk serius. Dengarkanlah cerita manis kakakmu yang manly ini!” Keluh Krisna.


Suatu keajaiban jika Lien akan serius menanggapinya.


“Setidaknya hargailah kakakmu!” Kata Ohsen yang kini tahu jika Enila itu kekasih Krisna, sang kapten basket.


“Kalian kompak sekali kalau sedang begini. Iya kakakku yang paling baik hati, tolong jaga terus calon iparku yang sesungguhnya aku tidak sukai itu.. hehe.. Jangan sampai dia mendekati Luhan, karena aku tidak menyukainya! Luhan itu milikku!”


“Lien menyukai Luhan ya? Itu karena sahabat, kan?” Batin Ohsen mencoba menyimpulkan sendiri.


“Hei nona, kata-katamu sudah baik, tapi haruskah kau menambahkan embel-embel seperti itu? Hah, dasar adikku paling imut. Ok, thanks.. Kakak pergi…” Kata Krisna sambil mengacak-ngacak rambut Lien.


Krisna-pun pergi meninggalkan Ohsen dan Lien.


“Kakak menyebalkan. Rambutku kan jadi rusak!” Lien kesal tapi terlihat lucu.


“Cute…”


“Eh?”


“Hm?” Ohsen menaikkan alisnya.


“Ah tidak asyik… a-ayo lanjut belajar lagi!” Lien mencoba menyembunyikan mukanya yang memerah bagai tomat.


Pasti akan sangat memalukan kalau Ohsen menyadarinya.


.


.


Saat itu pula, hatinya mulai bertanya-tanya akan hubungan persahabatan mereka, bagaimanapun dirinya dan kedua sahabatnya adalah manusia normal yang tentu saja mengenal cinta.


Beban pertanyaan bertambah akan maksud Ohsen menanyakan arah pershabatannya.


Cinta?

__ADS_1


Adakah cinta di antara mereka? Pertanyaan yang membuatnya kesulitan untuk menjawab. Akankah hal itu sama jika Sava atau Luhan mendapatkan pertannyaan itu? Rasanya aneh, Lien merasa takut untuk menanyakan hal itu pada mereka berdua.


Harus diam lagi ya?


__ADS_2