
LUHAN’S POV
.
.
Malam itu aku masih mengingat saat aku benar-benar sudah tidak bisa membendung perasaanku pada Sava. Rasanya aku sudah tak sanggup lagi menahannya.
Aku lelah dan rasanya hampir gila.
Aku mengumpulkan semua keberanianku selama bertahun-tahun demi untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.
Aku berniat bercerita pada Lien terlebih dahulu. Aku ingin tahu bagaiman responnya jika mengetahuiku menyukai Sava.
Hari itu...
Aku mengirimnya sebuah pesan. Aku bilang jika aku menyayanginya. Tentu saja aku memang menyayanginya! Dia sahabat baikku.
Di dunia ini aku hanya memiliki Sava dan Lien, dua sahabat yang bisa menerimaku apapun keadaanku. Bukan karena aku tampan atau kaya, tapi karena memang aku dan mereka saling membutuhkan…
Waktu itu, Lien tidak membalas pesanku. Dia menelfon balik padaku... Belum sempat aku mengucapkan hallo padanya, ia sudah menyaut keras dengan suara cemprengnya itu. Kupingku terasa sangat sakit…
Aku mengingatnya dengan sangat jelas.. Kata-kata Lien padaku di telpon.. Semuanya..
“YA.. Aku tahu kau menyayangiku.. HAHA, tidak usah seperti itu! Aneh...! Kau pasti sedang bosan, kan? Kenapa?” Potong Lien.
Aku bilang jika tidak ada apa-apa. Aku hanya asal kirim pesan…
Sejujurnya bukan itu yang aku harapkan. Aku memang menyanyangi Lien, tapi aku melakukan itu hanya untuk mengawali curhatku padanya.
Aku merutuki kebodohanku yang tidak pernah sekalipun curhat perasaan pada orang lain. Apa iya laki-laki harus melakukan itu?
Tidak mungkin, kan? Konyol sekali menurutku…
“Hahaha, sumpah aku jamin Sava pasti akan menertawakanmu kalau tahu kau menjadi sok perhatian begitu…”
Lien bahkan menertawakanku saat aku berbasa-basi menanyakan kabarnya. Apa dia sudah belajar? Sudah makan?.. Bodoh, baru aku ingat jika aku tidak pernah bertanya seperti itu padanya. Rasanya aneh juga aku bertanya hal seperti itu pada dirinya.
“Iya iya, paham. Huh.. Luhan, kau tidak asyik hari ini. Sangat membosankan! Lebih mengasyikkan Kay. Tadi Kay memberikanku gantungan kunci Saun The Sheep loh. Original dari London lagi. Haduh Kay itu baik banget ya, tidak seperti sahabatku yang sedang menelpon sekarang ini...Mengaku paling tampan sesekolah, tapi pelitnya luar biasa...”
Apa aku ini seburuk itu padanya? Maaf Lien, kurasa aku terlalu memperhatikan Sava sehingga kau bisa mengataiku seperti itu. Kau berhak protes atas perlakuan bedaku padamu, Lien….
Rencanaku curhat pada Lien gagal total. Lien mengajakku beradu argument. Aku tergoda jika harus adu argument dengannya. Memang, aku dan Lien itu hanya cocok jika kami bertengkar.
Kenapa sih Lien tidak bisa seperti Sava? Yang baik, lembut, tidak kasar, selalu membelaku… Ahh, Sava lagi… Fikiranku terlalu penuh dengan dirinya.
Sava, apa kau menyukaiku?
.
Sava, apa kau mencintaiku?
.
Sava, bisakah aku memilikimu?
Bisa gila aku memikirkannya.
Pertanyaan bodoh yang selama ini tidak pernah berani aku tanyakan pada Sava.
Sampai saat itu, saat kau memiliki masalah dengan foto scandal itu dengan Ohsen.
Awalnya aku benar-benar sangat kesal, kecewa. SANGAT KECEWA! Aku sangat yakin itu hanyalah sebuah kesalahan.
Apa kau tidak menyadari jika aku berdiam diri itu sedang marah, Va?
Aku marah bukan karenamu!
Aku marah pada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang menyebar foto dan rumor jelek tentang dirimu. Apalagi juga sepupuku terlibat di dalamnya, Ohsen.
Aku berdiam diri, mendiamkan dirimu, aku itu mencari tahu siapa dalang di balik semua itu!
Aku benar-benar ingin membunuh orang itu..
__ADS_1
Aku berharap saat aku menemukan siapa dalang di balik semua itu, kau akan tersenyum senang padaku dan aku akan menggunakan kesempatan itu untuk menyatakan perasaanku padamu.
Batas kekuatanku untuk menahan perasaanku padamu sudah tak bisa dibendung lagi..
Aku sudah masa bodoh dengan bagaimana perasaan Lien jika mengetahui aku menyukaimu, karena saat itu aku memastikan jika Lien mulai menyukai Ohsen.
Aku yakin Lien sangat menyukai Ohsen..
Lien yang cerewet saja bisa sok alim di hadapan Ohsen. Sudah dipastikan jika ia memiliki rasa romantis pada Ohsen.
Menjijikan sekali cara dia menyembunyikan jati dirinya itu….
.
.
Sekali lagi, bodoh, aku kalah cepat dari laki-laki muka piano itu.
Kenapa selalu dia yang lebih cepat dariku? Kenapa dia selalu bisa mendapatkan perhatian Sava?
Aku sering mengawasi Sava, apa Sava menyukai si muka piano itu?
Dia begitu baik pada laki-laki itu.
Aku yakin tidak!
Mereka hanya berteman!
Ya, hanya berteman!
Tapi, aku tidak memungkiri jika muka piano itu menyukai Sava. Mereka terlihat akrab semenjak mereka dalam satu klub yang sama, klub seni.
Aku tidak suka dengan laki-laki muka piano itu. Aku membencinya saat ia seenak jidatnya meminta Sava untuk membantunya. Aku yakin itu hanya alibinya saja untuk membuat Sava bersamanya.
Selain muka piano itu.. Datang lagi hal yang lebih besar..
Lebih menyulitkan dari semuanya..
Mengingatnya saja sudah membuatku gila..
Ohsen?
Ya, Ohsen sepupuku...
Malam itu ia terlihat sangat buruk.
Tanpa aku duga sama sekali, dia mengaku menyukai Sava. Dia bahkan mencoba menyatakan perasaannya pada Sava meski Sava menolaknya…
Aku kecolongan!
Aku kecolongan lagi..
Bagaimana aku bisa tidak menyadari jika Ohsen menaruh rasa pada Sava? Jadi, perhatiannya pada Sava selama ini ia lakukan karena ia menyukai Sava dalam artian rasa suka laki-laki kepada perempuan?
Tuhaannn…
Aku ingin sekali bilang pada Ohsen jika aku tidak baik-baik saja! Aku ingin bilang jika hanya aku yang boleh memiliki Sava…
Tapi mulut ini enggan berucap seperti itu!
Dengan bodohnya aku menyetujui permintaan Ohsen untuk tidak berpacaran dengan Sava…
Demi persahabatan?
Demi persaudaraan?
Persahabatan dan persaudaraanku dengan Ohsen?
Hanya demi alasan itu. Ikatan persahabatan yang ingin sekali aku putus, tapi tak bisa. Ikatan persaudaraan yang tak mungkin bisa aku khianati.
Karena hal itu..
Untuk kesekian kalinya aku kehilangan kesempatan untuk meraih Sava…
__ADS_1
Menyedihkan..
Miris..
Apakah aku ini tolol?
Aku yakin aku memang tolol, aku bahkan mengajak Lien berpacaran yang jelas-jelas sama sekali aku tak menaruh cinta padanya.
Tapi kenapa Lien menerimaku begitu saja?
Apa dia sudah tidak menyukai Ohsen lagi?
Aku masih belum mengertinya lebih jauh..
Bodoh, kenapa aku malah berpacaran dengan Lien hanya demi menjaga perasaan saudaraku, Ohsen?
Kenapa aku melakukannya hanya untuk membuat Ohsen percaya jika aku tidak memiliki perasaan apapun pada Sava?
Bodohnya lagi, kenapa aku memilih Lien untuk membuat Ohsen percaya?
Kenapa tidak dengan gadis lain saja? Aku bisa memilih satu dari banyaknya fangirls-ku, tapi kenapa aku pendek akal justru memilih Lien?
Bodoh, bodoh, bodoh....
Ini semua berawal dari kebodohanku. Ahh, semakin rumit saja jadinya.
Menyesal?
Aku kembali menangis saat mengingat betapa bodohnya diriku…
Aku memang bodoh…
.
.
Kenapa waktu kita tidak selalu cocok, Va?
Kenapa aku susah sekali mendapatkan kesempatan untuk mengutarakannya?
Kenapa kau yang begitu dekat denganku tapi sangat sulit untuk kugapai?
Kenapa, Va?
Kenapa?..
Kenapa mereka semua begitu mudahnya mengutarakan perasaan mereka terhadapmu?
Kenapa bagiku terasa sangat sulit?
Kenapa aku tak bisa?
Aku yang begitu lama menyukaimu, menyayangimu, bahkan mencintaimu tak bisa mengatakannya sampai saat ini?
Kenapa aku begitu pengecut?
Kenapa aku tidak berani mengatakannya padamu, Va?
.
.
END OF LUHAN’S POV
.
.
.
“Bodoh..Bodoh!” Kata Luhan sambil memukulkan tangannya ke stir mobilnya dengan sangat keras.
Luhan menyalahkan mobilnya dan kembali ke sekolah. Hati dan fikirannya saling bergelut. Sangat sulit. Berat. Pedih. Perih.
__ADS_1
Sekarng ia bertanya, apakah ia bisa hidup tanpa Sava?
"Bisakah aku melanjutkan hidup tanpamu, Va?"