
Jam sudah menunjukkan pukul 10:00 pagi. Ralat, lewat lima menit, dua puluh tujuh detik. Waktu yang sangat ditunggu\-tunggu oleh seluruh siswa siswa, tentu saja karena waktunya beristirahat.
Waktu istirahat adalah waktu menjadi hal yang paling ditunggu karena waktu yang hanya berdurasi tiga puluh menit itu adalah waktu yang sangat sacral untuk melampiaskan segala rasa.
Berlebihan?
Bagi para siswa biasanya seperti itu. Setelah mengalami belajar keras di kelas, apalagi usai pelajaran matematika dengan banyak rumus, maka waktu istirahat seolah seperti waktu emas untuk mengembalikan kebahagiaan siswa. Mengembalikan mood, stamina, dan semangat juga.
Dari sebuah lorong sekolah, tepatnya dari depan kelas XI IPA-2, terlihat ada tiga siswa yang terlihat begitu akrabnya berjalan menuju kantin sekolah.
Seorang siswa laki-laki dengan tubuh tinggi berjalan di antara dua siswi perempuan yang mengapitnya. Seulas senyum tersungging di bibir mereka.
“KYAAA... ITU EXCEL LEOHAN...!!”
“EXCELLL.... I LOVE U!!!”
“LEO... KAU KEREN SEKALI..!!!”
“WO AI NI...!!”
"SARANGHAE..."
"AISHITERU..."
“LEOHAN, AYO KENCAN DENGANKU...!!!”
Terdengar jelas teriakan para siswi-siswi di sekolah menengah itu saat melihat sosok siswa laki-laki yang tinggi semampai itu. Sementara itu, si punya nama hanya memamerkan senyuman manisnya.
Senyuman yang mampu membuat para siswi-siswi itu meleleh. Walaupun sedikit lebay, tapi memang begitu adanya.
Hampir setiap hari mendapatkan perlakuan seperti itu, baik dari teman seangkatannya, adik kelasnya, maupun kakak kelasnya juga.
Dari sekian banyak siswa itu, didominasi oleh kaum perempuan. Mereka berteriak-teriak layaknya sedang melihat artis idola mereka.
Fangirling?
Apakah memang seorang artis? Hanya artis sekolah tidak masalah, kan?
“Huuuekkk... Senyuman apaan itu? Terlihat menyeramkan.” Kata Lien. Siswi cantik bernama lengkap Lien Ariesty adalah seorang siswi yang pintar, ceria, dan sangat cerewet. Selain itu, dia sangat kekanak-kanakan dan sering adu argumen tidak penting. Apalagi jika sedang beradu argumen dengan sahabatnya. Tidak pernah ada ujungnya. Masalah sekecil apapun akan menjadi sangat besar, padahal sebenarnya bukan masalah penting. Meskipun begitu, Lien adalah salah seorang perempuan yang bertanggung jawab. Dia adalah ketua editor majalah sekolah.
“Matamu saja yang rabun. Lihatlah, sekali aku tersenyum, mereka langsung kehabisan nafas!” Bantah si laki-laki ganteng ini. Dia adalah Excel Leohan Wijaya, siswa tampan dan ramah keturunan Tionghoa. Seorang kapten club sepak bola di sekolah yang memiliki banyak fangirls. Di samping wajahnya yang memang sangat tampan, dia memiliki muka bayi dan sangat innoncent. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat itu juga. Responya selalu telat. Tapi, itulah yang membuatnya semakin unik di mata orang lain, terutama fangirls-nya yang menganggap itu imut. Tapi jangan main api dengan laki-laki innoncence ini, karena dia merupakan seorang playboy kelas kakap.
“Apa? RABUN? Hei!! Beraninya kau mengataiku seperti itu? Tarik ucapan nistamu itu! Dasar ikan luhan..” Bentak Lien tidak terima.
__ADS_1
“Apa kau bilang? Ikan luhan? Lihat, namaku tertulis jelas LEO, bukan LU! Aku meragukanmu jika kau benar-benar lulus sekolah TK.” Balas Luhan tak terima sambil menunjuk-nunjuk nametage di seragam sekolahnya.
“Setahuku LEO itu singa. Kau itu sama sekali tidak mirip dengan singa. Kau lebih mirip ikan luhan kepanasan karena kekurangan air. Dan satu hal lagi, aku lulus sekolah TK dengan nilai rapot terbaik. Camkan itu IKAN LUHAN!”
Mereka terus saja beradu argumen hingga sampai di kantin.
“Berhentilah memanggilku dengan sebutan jahanam itu! Bibirku itu sangat sexy, jauh berbeda dengan bibir ikan Lohan! Setahuku itu ikan aslinya Louhan, bukan Luhan!!!”
“Tetap saja, mau Louhan mau luhan atau Leohan, karena bibirmu terlalu sexy maka kau semakin mirip dengan ikan... Tidak sadarkah kau wahai manusia setengah ikan!!!”
“Kau...”
“Apa?”
“HEI, KALIAN!!! Berhentilah berargumen tak jelas! Semakin membuatku ingin memakan kalian saja!” Bentak Sava Ahira. Perempuan baik hati dan ketua club seni yang lebih sering disapa Sava ini merupakan penengah antara Lien dan Luhan. Di antara mereka bertiga hanya Sava yang cukup bisa dewasa di bandingkan dengan Lien dan Luhan yang sangat kekanak-kanakan. Dalam kesehariannya, Sava lebih suka berdiam, tapi kalau sudah tidak bisa menahan emosi, maka ia akan mengeluarkan seribu kali lipat celotehannya. Bahkan bisa cerewet melebihi Lien sang ratu cerewet sekolah.
“Kau Lien, aku bosan mendengarkan suara cemprengmu. Berhentilah menyebutnya ikan louhan!... Dan kau Excel, kau sudah cocok dengan nama Luhan-mu. Itu terdengar cute. Lagipula kita sudah menyepakatinya, mengganti sebutan ikan Louhan dengan Luhan. Bersyukurlah! Memanggilmu dengan sebutan Luhan itu lebih gampang dan terdengar lebih familiar… Dan satu lagi, aku benci mendengarkan protes dari kalian!” Lanjutnya dan langsung duduk santai untuk memesan makanan.
“Bibi, mie instant kuah satu dan minumnya popice rasa taro satu..”
Mendengar Sava berbicara keras, lebih tepatnya membentak, membuat Lien dan Luhan langsung berhenti bertengkar. Walau masih terlihat jelas mereka saling melotot seolah mengatakan kalau semua ini belum selesai, tunggu saja pembalasannya.
Sava, Lien, dan Luhan adalah tiga manusia yang mengikatkan diri sebagai sahabat sejak mereka duduk di sekolah dasar.
Dimana ada Luhan, di situ pasti ada Lien dan Sava. Begitupun sebaliknya.
.
.
.
Waktu terus berlalu tak mungkin orang biasa mampu menghentikannya. Usia remaja adalah usia yang menyenangkan. Bagaimana tidak, di usia remaja akan terjadi peralihan dari masa puber ke masa remaja dan kedewasaan.
Masa yang indah untuk mengenal cinta. Cinta yang bagaimana, entahlah kebanyakan mereka menyebutnya sebagai cinta. Apakah itu karena suka ataupun karena sayang. Kalau cinta dalam persahabatan, bolehkah itu cinta yang memang cinta atau cinta karena sayang?
Bertanya seperti itu akan membingungkan, coba saja ikuti arah angin yang berhembus. Setelah mengikutinya, apakah akan tahu kapan angin itu berhenti berhembus? Tentu tak akan tahu, karena angin tidak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan. Yah, begitulah cinta.
“Ah, membosankan sekali...” Keluh Lien sambil menghempaskan tubuhnya bersandar di bangkunya.
__ADS_1
“Kenapa?” Tanya Sava yang masih setia dengan design baju yang digambarnya. Ia hanya suka menggambar di waktu luang, sementara Luhan masih asyik dengan Hp-nya.
“Kenapa majalah sekolah kita isinya hanya tentang manusia setengah ikan? Mulai dari cover depan, topik utama, bahkan hot news juga. Haaahhh...” Jawab Lien.
“Manusia ikan bagaimana?” Tanya Sava bingung.
“Siapa lagi kalau bukan ikan Luhan yang lagi narsis dengan Hp-nya itu.” Jawab Lien.
“Aku mendengarnya...” Sindir Luhan yang tak mau melanjutkan debat. Toh sama saja, ujung-ujungnya dia tetep dipanggil Luhan, bukan Leohan atau Excel. Kadang terfikir olehnya, kalau nama Luhan itu terdengar tidak terlalu buruk.
“Mau bagaimana lagi, hot topic permintaan anak-anak kan tentang Luhan. Bagaimanapun menerima saran dari orang lain itu penting. Apalagi saran dari pembaca majalahmu. Majalahmu akan laku jika kau menerima dan mewujudkan permintaan mereka..” Jawab Sava mencoba bijak.
“Iya mengerti aku akan hal itu, hanya saja itu membosankan selalu melihat wajah anehnya ada di cover depan majalah sekolah.. 'Excel, Sang Kapten Sepak Bola Bawa Tim Sekolah Juarai Turnamen SMA Cup Se-Provinsi'.. Lumayan.. 'Excel Ternyata Maniak Rasa Taro'. Haah, ini tidak penting sama sekal.” Kata Lien memutar matanya bosan. Sava hanya terkekeh.
“Salahkan para reportermu yang selalu mewawancaraiku!” Sahut Luhan tanpa mengalihkan dari layar Hp-nya.
“Kau harus berterima kasih padaku, tanpaku kau tidak akan sepopuler ini!” Kata Lien.
“Yakin? Apa aku tidak salah mendengar? Tanpamupun aku sudah populer sejak lahir! Itu mutlak!” Kata Luhan bangga.
“Dasar besar kepala...”
“Kau sedang apa, Han? Berikan Hp-nya kepadaku! Kau bisa terkena miopia jika kau terlalu sering bermain Hp!” Tanya Sava yang heran dengan Luhan yang begitu asyik dengan Hp-nya. Sava berusaha merebut Hp milik Luhan meskipun pada akhirnya gagal. Luhan tidak memberikannya.
“Sedang meladeni chatting seorang perempuan, kakak kelas yang super sexy. Ketua cheerleaders sekolah kita.” Jawab Luhan santai.
“Kak Enila Celina itu? Jangan bilang kau akan menjadikannya sasaran berikutnya?” Tanya Lien. Luhan hanya terkekeh pelan. “Bukannya dia itu masih menjalin hubungan dengan Kak Krisna Arya Putra si kapten tim basket sekolah kita? Kau bisa terlibat masalah dengannya, Luhan. Kau tahukan, kak Krisna adalah kakak sepupuku? Lagipula, kak Enila itu orangnya sangat angkuh, jutek, dan cara berbicaranya kasar. Bagaimana bisa kau tertarik dengan wanita seperti itu? Mengalami penurunan selera, heh?” Lanjut Lien khawatir.
“Entahlah, dia mengaku padaku jika saat ini dia sedang galau dan butuh teman curhat. Lagipula, aku tidak akan menerima perempuan yang masih memiliki hubungan dengan laki-laki lain, terutama saudara dari sahabatku... Dan terpenting aku tidak menyukai perempuan yang lebih tua dariku. Hehe.. Aku ini playboy sejati yang masih punya aturan.” Kata Luhan masih setia dengan senyum khasnya.
“Lalu bagaimana dengan perempuan tempo hari yang menyatakan cinta padamu, akan kamu letakkan pada posisi apa dia? Dia itu kekasihmu, Han!” Tanya Sava.
“Sudah menjadi mantan yang ke 39.” Jawab Luhan enteng.
“Luhan, kau sungguh keterlaluan. Rasanya kalian menjalin hubungan belum ada sehari sudah kau akhiri. Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaannya? Apa kau tidak menyadari jika apa yang kau lakukan padanya itu melukai perasaannya? Bagaimana bisa kau selalu saja seperti itu? Kau itu benar-benar. Sudah kesekian kalinya kau seperti ini. Karma itu ada dan aku mempercayainya. Aku berharap suatu saat kau akan mendapatkan balasannya. Amiinn... Dengarkan baik-baik Excel Leohan, suatu saat orang yang sangat kau cintai dengan setulus hatimu pasti akan sangat sulit kau dapatkan! Semua pengorbananmu untuk mendapatkannya akan sia-sia!” Kata Lien.
Kata-kata dari Lien terdengar horror bagi Luhan. Rasanya seperti ada petir yang menyambar di antara ucapan Lien.
“Hei, kau itu kan sahabatku, kenapa kau menyumpahiku tidak baik seperti itu, hah?” Protes Luhan.
“Sudahlah, pasti Luhan memiliki alasan tersendiri kenapa ia memilih menjadi seorang playboy, kan?” Kata Sava membela Luhan. Walau kadang ia penasaran akan alasan mengapa Luhan menjadi seperti itu. Mempermainkan perempuan-perempuan yang memujanya.
Membagi banyak cinta bukankah akan menyakitkan?
“Aku hanya tidak habis fikir dengan caramu mempermainkan perasaan mereka, Han. Dengan wajah sepolos itupun kau tega melukai hati mereka.” Sambung Lien.
“Alasan ya?” Gumam Luhan sambil tersenyum kecut memandang Sava. Tapi tidak ada yang menyadarinya.
__ADS_1