
Sava dan Ohsen mendapatkan perlakuan tak baik di sekolah. Ohsen tidak begitu parah, berbeda dengan Sava. Sava benar-benar menderita. Fans Ohsen mengerjainya habis-habisan.
Mereka sakit hati karena menganggap merebut Ohsen mereka. Apa lagi perlakuan dari siswi lain yang tidak suka padanya, itu lebih parah.
Fans Luhan bahkan pada demo di lapangan upacara untuk mengeluarkan Sava dari sekolah karena sudah mencemari nama baik sekolah.
“Rasakan itu, dasar wanita murahan…!”
"Jalang tak pantas di sekolah elit seperti ini!"
"Kenapa tidak mati saja sana!"
“Benar.. Berani sekali kau merebut Ohsen kami. Perempuan tidak tahu diri!!”
“Kalau aku jadi kau, aku sudah mengunci diriku di rumah..”
“Tidak punya malu sekali ya dia..”
“Diakan muka dua, muka malaikat tapi sebenarnya jalang..”
“Hahaha..”
Sava hanya bisa menangis saat ia dilempari telur busuk, sisa makanan, sampah jajan ke mukanya. Ia berjalan gontai ke kelasnya. Ia berjalan sendiri, Ohsen sedang mendapatkan giliran ceramah dari wali kelasnya.
Sesampainya di kelas, tatapan sinis dan jijik ditunjukkan anak penghuni kelasnya. Saat ia akan duduk, bangkunya banyak bertaburan bubuk putih dan coret-coretan hinaan untuknya. Bahkan tumpahan saos dan kecappun ikut menghiasinya.
“Kau aib kelas kita ini.. Pergi saja kau!”
“Benar, sana pergi!”
“Menjijikkan..”
“Cih..”
“Bikin malu..”
Rasanya hinaan itu seolah seperti kesempatan untuk menyingkirkan Sava. Dibandingkan yang lain, Sava hanyalah murid dari golongan ekonomi menengah yang beruntung bisa bersekolah di SMA elit itu.
Banyak yang iri dengan kepintaran Sava, hal itu sering membuat Sava tak begitu banyak memiliki teman dekat. Terutama teman perempuan. Mungkin karena perempuan lebih sering memikirkan hal-hal untuk bersaing.
Sava yang tidak tahan dengan perlakuan teman sekelasnya, kupingnya pun terasa panas, ia-pun keluar dari kelasnya dan menuju ke dalam toilet untuk membersihkan kotoran yang ada di bajunya. Ia menangis dalam diam.
Apakah ini tidak terlalu berlebihan? Meski benar adanyapun, ayolah itu hanya sebuah ciuman!
Nyatanya tak sesederhana itu. Meski itu hanya ciuman, tapi hal seperti itu tak pantas dilakukan di sekolah elit yang menjunjung moral tinggi.
“Hish.. Sulit sekali dibersihkan.. “Keluh Sava saat membersihkan baju seragamnya. Tiba-tiba seseorang menyiramnya dengan air.
“Upss, maaf.. Tadi aku berniat membantu membersihkan bajumu. Tapi tanganku licin, jadi salah sasaran.. “ Kata Fitria. Kakak kelas yang memang sudah lama membencinya.
__ADS_1
“Berterima kasihlah, karena temanku sudah membantumu membersihkan semuaaa kotoran yang melekat di bajumu…” Sambung Enila saat melihat Sava basah kuyub.
Sava hanya menatapnya saja.
“Hei, sopan sama kakak kelas!! Jaga tatapanmu itu, dasar perempuan rendahan!!” Bentak Amel.
Amel dan Fitria adalah sahabat se-gank Enila.
“Sudahlah, ayo pergi!” Kata Enila.
“Good bye.. kau cocok pakai baju itu.. hahah..” Kata Fitria sok centil.
Enila, Fitria, dan Amel pergi meninggalkan Sava. Sava hanya bisa menangis. Rasanya seperti sendirian tanpa seorangpun yang menemani. Ia terlihat sangat menyedihkan.
“Bagaimana aku bisa ke kelas kalau pakainku seperti ini? Tuhan…” Gumam Sava lemas. “Apa yang akan guru lakukan setelah ini? Apa aku akan dikeluarkan dari sekolah? Ini hari kedua setelah majalah itu keluar, hari ini berarti Kay dan Lien pulang lomba.. Apa kalian berdua percaya padaku? Ataukah sebaliknya…?” Hati Sava semakin resah.
Membayangkan apa yang ia dapatkan dua hari ini membuatnya hampir gila.
Difitnah itu sangat menyakitkan. Apalagi saat tidak ada yang percaya akan kisah sebenarnya. Hal yang salah menjadi benar, sementara kebenaran akan menghilang bagai debu.
Kekuatan fitnah yang mengerikan.
Beep… beep..
Kay mengirim pesan...
Sava tersenyum, dia masih memiliki Kay. Kay selalu ada untuknya.
“Aku di toilet, Kay. Bajuku basah. Aku tidak bisa keluar dengan keadaan seperti ini..” Balas Sava.
Kay langsung menuju ke tempat Sava.
Fikirannya kacau melihat apa yang terjadi di sekolahnya. Kembali pulang lomba disuguhkan dengan keadaan sekolah yang sanga sangat tidak bisa di sebut sekolah.
Demo dimana-mana. Pembelajaran tidak ada. Guru sibuk rapat. Spanduk-spanduk kotor menghiasi sekolah. Majah dinding penuh dengan foto Sava yang dicoret-coret.
“Va, keluarlah! Aku di depan toilet..” Teriak Kay. Sava keluar. Kay langsung melepas jaketnya dan memakaikannya pada Sava.
“Sudah! Sudah, jangan bersedih!” Hibur Kay.
“Kay.. Hiks.. hiks..”
“Semua akan baik-baik saja.. tenanglah..!” Kay langsung membawa Sava ke taman belakang sekolah yang sepi karena hampir semua siswa demo di depan sekolah, lapangan upacara.
“Kau sudah tahu semuanya, kan? Ini memalukan sekali..” Kata Sava.
“Aku percaya padamu, Va..”
“Ohsen hanya membantuku menghilangkan debu di mataku.. Tapi tak kuduga bakal seperti ini..”
__ADS_1
“Aku tahu.. sepupuku pasti berkata sejujurnya. Aku mengenal sepupuku..” Kata Kay sambil tersenyum. Sava juga ikut tersenyum. Ia lega akhirnya ada yang percaya padanya. “Aku mendapatkan titipan surat dari kepala sekolah. Surat ini untukmu…” Lanjut Kay.
“Surat apa, Kay? Tanya Sava penasaran.
“Maafkan aku, ini surat skorsingmu.. Kau dan Ohsen diskors selama seminggu..”
“Tak apa, Kay… Aku sudah menduganya…”
“Tapi…”
“Tapi apa, Kay?”
“Nasibmu akan ditentukan setelah kau menjalani skorsing. Sekolah akan menentukan apa kau dan Ohsen akan dikeluarkan atau tidak..” Kay terlihat bersalah saat memberitahukan isi suratnya.
Air mata Sava menetes lagi.
“Apakah yang percaya padaku dan Ohsen di sekolah ini hanya kau saja? Menyedihkan sekali..” Sava tertunduk lesu.
“Dio percaya padamu, Va… Dia sedang memperjuangkan nasibmu di depan seluruh guru di ruang rapat..” Kata Kay.
“Dio?” Kay mengngguk.
“Ya Tuhan.. Ayo Kay, kita harus susul Dio! Aku tidak mau dia terlibat masalah dengan semua ini…”
Kay dan Sava berlari menuju ke ruang rapat untuk menemui Dio. Tapi saat mereka berdua sampai di depan ruang rapat, terlihat Dio keluar dari ruang rapat. Tapi Dio tidak sendiri. Dia bersama Ohsen.
“Sava? Apa yang terjadi padamu?" Tanya Dio khawatir.
Ia sangat khawatir melihat mata Sava yang sembab.
“Bajumu basah? Kau baik-baik saja?” Tanya Ohsen yang juga khawatir.
“Tidak apa-apa, hanya kepleset tadi… Kalian apa yang kalian lakukan di ruang rapat guru?” Tanya Sava yang tak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Ia hanya tak ingin membuat teman-temannya semakin khawatir dengannya.
“Kami meminta keringanan hukuman..” Jawab Ohsen.
“Lalu?” Tanya Kay.
“Kepala sekolah dan komite memberi seminggu waktu untuk membuktikan penjelasanku kalau aku dan Sava tidak bersalah..” Jawab Ohsen.
“Foto itu harus dibuktikan kalau itu hanya rekayasa saja..” Lanjut Dio.
“Itu akan sulit, karena itu bukan foto editan…” Keluh Sava psimis.
“Kita fikirkan cara lain. Pasti ada jalan..” Hibur Kay.
Yang lain hanya mengangguk setuju.
Mereka akan memperjuangan kebenarannya.
__ADS_1