My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Bahagia


__ADS_3

Luhan memeluk Sava dari belakang. Ia menenggelamkan mukanya di bahu Sava. Ia menyesap aroma tubuh Sava.


"Bisa dilepasin?" Tanya Sava.


Luhan menggeleng. "Aku suka bau dirimu. Bau yang sangat aku rindukan. Aku sangat merindukanmu, Va. Kau tega padaku. Meninggalkanku begitu lamanya."


Sava tersenyum. Ia memang tega sama Luhan. Sepuluh tahun meninggalkan Luhan itu bukanlah waktu yang sebentar. Sangat lama. Ia bahkan juga tersiksa karena menahan rindu pada Luhan. Rindu yang sangat besar.


Miris. Sava juga merasa ini masihlah tidak adil untuk Dio. Harusnya saat ia bersama Dio, ia tidak boleh memikirkan laki-laki lain. Tapi, tanpa kuasanya, Luhan selalu menempati tahta paling atas dalam setiap hati dan pikirannya.


Usahanya untuk melupakan Luhan tidak pernah berhasil. Semakin ia mencoba melupakan Luhan, perasaannya pada Luhan justru semakin besar di setiap harinya.


"Aku juga sangat merindukanmu, Han. Sangat rindu hingga membuat dada ini sangat sesak." Sava memegangi dadanya.


Tangan Luhan berpindah, menimpa tangan Sava yang diletakkan di dada. Ia meremmas tangan Sava. Memberi rasa, menguatkan diri jika saat ini semua sudah membaik kareka mereka sudah bersama.


Luhan mengeratkan pelukkannya. "Jangan pergi-pergi lagi!"


"Kau sudah berulang kali mengatakannya, Han. Kau tahu itu, aku tidak akan meninggalkanmu lagi."


"Kau dulu berbohong padaku, aku akan mengawasimu mulai saat ini."


"Untuk yang dulu, aku minta maaf. Tapi percaya padaku, Han. Aku jauh darimu juga sangat menderita. Aku menangis di hampir setiap malamku." Sava ingat bagaimana perjuangannya selama sepuluh tahun terakhir ini.

__ADS_1


Air matanya adalah sahabat sejatinya.


Jika mengingat perjuangannya saat itu, tiba-tiba air matanya menetes. Jatuh menimpa tangan Luhan.


Luhan yang kaget karena mendapati tangisan Sava langsung menggerakkan tangannya, meraih tangan Sava, dan membuat Sava berbalik menghadapnya.


Sava menunduk dan menangis.


Perih.


Luhan merasakan perih di dada. Ia tak bisa melihat Sava menangis. Apa lagi itu karena dirinya.


Luhan langsung memeluk Sava. Mendekap Sava di dada bidangnya. Mengelus perlahan punggung Sava.


"Aku mencintaimu juga, Han. Sangat."


Luhan melepas pelukkan eratnya. Ia memegang kedua bahu Sava.


"Untuk ke depan, mari kita hidup bersama dan saling bergantung!" Kata Luhan.


"Hm, cintai diriku yang merapuh ini, Han.."


"Aku tidak akan membiarkanmu merapuh. Aku akan menjadi pondasi kekuatanmu." Luhan mantap mendaratkan ciuman manis di bibir Sava.

__ADS_1


Sava membalas ciuman dari Luhan.


Ini sungguh manis. Ciuman dengan orang yang sangat dicintai itu luar biasa. Seperti berasa di atas awan bersama jutaan kupu-kupu cantik yang menari di taman bunga khayangan. Bahagia tak tekira.


Luhan dan Sava memperdalam ciuman mereka. Tidak ingin lepas. Tidak ingin terpisahkan. Dunia hanya milik mereka berdua. Memadu kasih dibuai asmara.


Sudah berapa kali mereka berdua berciuman terhitung semenjak di parkiran waktu reunian waktu itu?


Sangat banyak!


Harusnya sudah terbiasa, tapi lain bagi dua sejoli yang dimabuk cinta ini, mau ciuman berapa kalipun rasanya selalu berbeda, ada sensasi hormon kebahagiaan yang membuncah setiap kali mereka ciuman.


"Va, aku.." Kata Luhan terbata.


"Ada apa, Han?" Tanya Sava.


"..."


"..."


"..."


"Han?"

__ADS_1


"Aku menginginkanmu!"


__ADS_2