My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Membuat Keputusan


__ADS_3

Kamar Sava.. pukul 23.57


.


.


Sava kembali terjaga. Ia tidak bisa tidur sama sekali. Ia kembali menangis lagi dan lagi, memikirkan apa yang terjadi padanya dua hari ini.


Bebannya memendam cinta pada Luhan saja sudah menyiksanya. Sekarang ia dihadapkan kasus skandal ciumannya dengan Ohsen. Gara-gara itu, kini ia tahu isi hati sahabat-sahabatnya. Semua berasa berbeda. Ada yang mengganjal.


Apa benar kini waktunya ia harus membuat pilihan?


Apakah ia siap mempertaruhkan persahabatannya demi egonya?


Fikirannya tidak sejauh itu. Ia hanya berusaha yang terbaik. Walau ia tahu pada akhirnya juga ia yang akan terluka sama seperti yang Kay katakan. Sava rasa pilihan ia terluka jauh lebih baik, toh sudah lama ia merasakannya.


Miris.


Ia hanya bisa tersenyum dan menangis lagi, lagi, dan lagi. Kadang ia bertanya, kapankah dia akan bahagia? Tapi ia urungkan, baginya ia selalu bahagia selama itu bersama-sama dengan sahabatnya.


Bagaimana dengan dua hari ini?


Ia merasa sendiri saat kedua sahabat kecilnya menjauhinya. Itu terasa dingin, sepi, dan sunyi. Ini pertama kalinya ia merasakannya dan ini benar-benar berat, menyedihkan.


“*Lien menyukai Ohsen.”


“Lien cemburu..”


“Tapi Ohsen menyukaimu.."


“Bagaimana dengan Luhan?”


“Bagaimana dengan dirimu sendiri*?”


Kata-kata Kay terngiang-ngiang di benaknya. Sulit. Ini benar-benar sulit. Berat. Ini benar-benar berat. Terasa semakin berat saat orang yang paling ia butuhkan justru terdiam. Menjauh darinya. Bagaikan tidak pedulu. Sepatah katapun tidak terucap.


Sebenarnya apa arti kehadirannya selama ini?

__ADS_1


“Kalau kau malu karena perbuatanku dan Ohsen, kenapa kau tidak menasehatiku? Atau tidak ikut saja menghinaku sama seperti yang lain. Itu jauh lebih baik dari pada kau diam..” Kata Sava sambil menatap foto Luhan di laptopnya.


Sava yang tidak bisa tidur melihat-lihat foto kenang-kenangannya dengan kedua sahabatnya. Foto kelulusan SMP. Ia tersenyum memandangi foto-foto itu. Fikirannya membawa ke jaman dahulu saat mereka saling bercanda ria tanpa beban.


“Apa setelah ini kita masih bisa seperti itu lagi? Apa nanti kita masih bisa berfoto bersama di kelulusan SMA nanti?”


Sava kembali murung.


Ia tidak bisa membayangkan jika harus menghabiskan waktu tanpa kedua sahabatnya. Sahabat yang sangat ia sayangi. Sahabat yang sudah seperti nafas untuknya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Perasaannya tidak karuan. Hatinya tidak tenang. Apakah ini akhir dari semuannya.


“Hiks..hiks... Ini sangat menyakitan.”


Sava mencengkram dadanya. Sakit bukan main.


Hanya tangisan pilu yang dapat ia lakukan. Air matanya terus jatuh. Ia tidak bisa membendungnya meski sudah berulang kali ia seka dengan tangannya. Matanya terasa sakit, pegal, dan memerah, kepalanya terasa sangat pusing. Ia sudah lupa berapa kali ia menangis akhir-akhir ini. Rasanya ia menjadi mudah menangis saat ini.


Ya, dia hanya manusia biasa. Cengeng bukanlah kesalahannya.


.


.


Kay memahampi betapa beratnya masalah-masalah yang harus Sava jalani. Hatinya benar-benar tidak tega.


Hampir tiap saat Kay mendengar tangisan Sava. Ia bahkan tahu kalau Sava tidak pernah tidur. Suara lirih tangisannya selalu terdengar di malam hari.


Apa Sava tidak lelah?


Apa Sava tidak lapar?


Apa Sava tidak akan sakit?


Apa yang Sava fikirkan?


Apa Sava begitu banyak memiliki cadangan air mata?


Banyak pertanyaan aneh muncul di benak Kay. Sudah dua hari Sava mengurung diri di kamar terhitung dari hari pertama diskors.

__ADS_1


“Va, makanlah! Aku menaruh makanan di depan pintumu.. Aku tinggalkan di depan pintumu kalau kau tidak mau aku melihatmu makan… Oh ya, aku sudah menceritakan masalahmu pada ayah, ayahmu mengerti. Ayah percaya padamu. Jadi, kau tidak usah khawatir, ayahmu akan berbicara pada atasannya, dia bilang atasannya pemiliki sekolah kita.. Dia akan berusaha agar kau tidak dikeluarkan dari sekolah.. Bersabarlah…” Kata Kay dari balik pintu kamar Sava.


Sava mendengar jelas apa yang Kay bicarakan. Tapi ia tidak berminat menanggapinya.


Bukan tidak berminat, lebih tepatnya tidak memiliki tenaga lebih untuk beranjak dari ranjangnya.


Pikiran masalah hidupnya memenjara setiap jengkal dalam tubuhnya. Memaksanya untuk tinggal dan menolak untuk lepas. Ingin ditanam lebih dalam. Ingin menyelimuti dan memeluk lebih dalam dalam kegelapan pikiran.


“Bagaimana, Kay?” Tanya Ayah Sava.


Kay menggeleng. "...."


“Tak apa, Kay. Kau sudah berusaha dengan baik… Setelah aku dan ibunya berpisah, dia menjadi agak jauh denganku… Aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuknya. Harusnya aku bisa mengusap air matanya.. Menjadikan bahuku untuk ia bersandar.. “ Lanjut Ayah Sava sedih.


Ayah dan Ibu Sava berpisah sejak Sava masih sekolah dasar. Sava yang saat itu masih kecil memutuskan untuk ikut ayahnya. Bukan berarti ia membentmci ibunya. Ia hanya ingin hidup bersama ayahnya.


Ibunya Sava adalah seorang pelaku bisnis. Bersaudara kandung dengan ayahnya Kay. Orang yang sangat sibuk, bahkan Sava sendiri tidak pasti setahun sekali bisa menemuinya.


Meski memiliki ibu kandung, tapi karena hampir tidak pernah bertemu, Sava seperti asing dengan ibunya sendiri. Meskipun ia juga memiliki kontak nomor ibunya, ia tidak pernah mencoba berinisiatif menghubungi ibunya.


Kay mengusap-usap punggung ayah Sava.


Sosok laki-laki yang terus berusaha keras untuk menjadi ayah yang terbaik untuk putri semata wayangnya.


“Tenang, Paman.. Tidak apa-apa… Tapi yang jelas Sava sangat menyayangi Paman.. Dia juga bukan seseorang yang mudah putus asa. Dia akan bangkit demi memperjuangkan kebenarannya.. Paman hanya perlu mendukungnya...” Kata Kay.


Ayah Sava tersenyum pada Kay. Ia bersyukur memiliki keponakan seperti Kay. Kay sudah seperti anaknya sendiri. Kay dan ayah Sava kembali ke kamarnya masing-masing.


Sementara Sava masih menangis di dalam kamarnya.


“Aku tidak boleh seperti ini! Demi ayah.. Aku harus bisa berubah. Aku harus menyelesaikan semua masalahku. Aku yakin, aku pasti mampu. Lagipula, ini hanyalah masa sulit yang dialami anak remaja!… Dan yang paling penting, aku tidak melakukan hal yang salah...” Sava mencoba meyakinkan diri.


Ia sangat menyayangi ayahnya. Walau jarang bertemu dengan ayahnya karena ayahnya selalu sibuk bekerja sebagai karyawan di perusahaan milik keluarga Aina dan Enila. Ia tidak mau membuat ayahnya ikut sedih karenanya.


Sava menarik ujung bibirnya untuk tersenyum. Entah kenapa senyuman ini terasa berbeda. Mungkin karena ini senyum pertamanya sejak ia mendapatkan banyak masalah besar. Ataukah ia mulai merasa gila karena terlalu keras memikirkan masalah dalam hidupnya?


“Aku sudah membuat keputusan..” Sava masih tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2