My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Lomba Majalah


__ADS_3

“Jadi kalian akan pergi minggu depan??” Tanya Sava.


“Iya, sesuai surat tugas. Acara lomba majalah se-SMA nasional akan dilaksanakan sepekan lagi. Ahhh, aku jadi deg-degan menantikannya. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera mengeluarkan segala unek-unek di kepalaku ini.” Jawab Lien bahagia.


“Lalu apa kalian sudah mempersiapkan segalanya? Materi majalah? Cover?” Tanya Ohsen.


“Sudah ada, tapi masih perlu dikaji lagi. Kami beruntung, karena sudah memiliki materi majalah buat edisi bulan depan. Tinggal nanti memilah dan memilih yang terbaik untuk diikutan lomba.” Jawab Kay.


“Jangan lupa kalian juga harus meliput profil sekolah kita. Biar sekolah kita semakin terkenal.. OK, kan?” Usul Sava.


“Hal itu, aku dan Kay sudah memikirkannya. Iyakan, Kay?” Tegas Lien.


“Iya.. Intinya semua materi yang akan kami masukkan ke dalam majalah adalah materi yang berbobot. Jadi, jangan khawatir! Kami akan berusaha yang terbaik. Demi kita, dan sekolah kita..” Kata Kay.


“Kalian tidak lupakan memasukkan fotoku sebagai cover depan??” Kata Luhan percaya diri.


“Yeee..”


“Kau ini..”


“Bosan melihat fotomu, Han..”


“Ckckck, narsis..”


“Aishhh, memang masalah jika kalian memasukan berita tentang tim sepak bolaku yang masuk ke final turnamen sepak bola se-provinsi?” Tanya Luhan.


“Kalau itu pasti, Han. Tapi tadi kau berkata meminta menjadikan fotomu sebagai cover, itu tidak akan aku lakukan!” Jawab Lien.


Luhan cemberut. Kay dan Ohsen hanya tertawa.


“Astaga.. Bisakah kau sedikit lebih dewasa, Han?” Tanya Sava yang masih menahan tawanya.


Mendengar pertanyaan Sava membuat Luhan langsung berubah. Sedikit berbeda..


“Dewasa? Apa yang kau lihat dariku yang sudah kelas XI ini? Tidakkah aku cukup dewasa untukmu?” Jawab Luhan terdengar serius dan cukup keras terdengar.


Sava tersentak. Lien, Kay, dan Ohsen kaget. Ini pertama kalinya Luhan berkata beda bahkan dengan nada seperti itu.


Luhan menatap tajam mata Sava. Sava terlihat tak biasa dengan sorot tajam mata Luhan. Sorot mata yang memenjarakannya. Terasa berat bibirnya untuk berucap.


“Mak-maksudmu a-apa, Han? A-aku tidak mengerti..” Kata Sava terbata.

__ADS_1


Jujur saja ia merasa takut dengan tatapan tajam seperti itu. Terlalu mengintimidasinya.


Mata yang tidak pernah ia lihat dari sosok Luhan sebelumnya.


“….”


“….”


Suasana menjadi terdiam.


“...Ahhh, kau saja yang pintar tidak mengerti apalagi aku, Va.. Aku saja tidak mengerti apa yang aku katakan tadi. Memang tadi aku berkata apa?” Tanya Luhan polos seolah apa yang baru saja ia lakukan pada Sava itu bukan apa-apa.


"HAH?"


Sementara sahabat-sahabatnya menatapnya penuh tanya.


“Apa yang salah denganku? Kenapa kalian menatapku seperti itu, hah?” Lanjutnya.


“Luhannnn.. Kau membuatku khawatir, bodoh!!” Kata Lien yang langsung memukul-mukul pelan dada Luhan.


Tanpa sadar Luhan merangkul bahu Lien.


"Aku tidak suka kau katai bodoh, Lien!" Kata Luhan.


Ohsen melihatnya hanya maklum. Dalam hatinya ia membenarkan kata Lien, baginya terasa aneh jika Luhan menjadi dewasa dan serius dalam bertutur kata.


Luhan dewasa hanya saat berada di lapangan!


Sementara Kay, ia hanya bisa tersenyum karena ia belajar menerima Lien itu tidak cocok untuknya. Seolah mengerti apa yang sepupunya rasakan, dengan lembut Kay menyentuh pundak Sava, seperti mengisyaratkan untuk tegar.


Sava tahu apa yang harus ia lakukan, senyuman hangat untuk menutupi hati yang terluka. Bagi Kay, Sava bagai malaikat yang rapuh dan sehebat apapun Sava, Kay tahu jika pada dasarnya Sava bukanlah malaikat bersayap pemilik segala kesempurnaan.


Sava hanyalah manusia biasa yang terjebak dalam lika-liku cinta masa remaja. Manusia yang tak selalu mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.


“Sampai kapan akan terus seperti ini? Perasaan ini semakin lama semakin menyiksaku. Benarkah mencintai seseorang harus siap terluka? Hah, pernyataan bodoh memang. Dan baru aku sadari, ternyata aku juga bodoh, aku terjebak kedalamnya. Semakin dalam, semakin sulit untuk keluar. Aku harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Sebelum aku kehilangan arah dan dibutakan oleh perasaan cinta monyet ini.” Batin Sava.


.


.


.

__ADS_1


Tak lama kemudian suasana mencair setelah nada dering Stay milik Milley Cyrus berbunyi dari handphone Sava. Dengan cepat Sava mengangkatnya.


Panggilan telepon dari Dio.


“Ah, aku mengerti. Aku akan ke klub seni.. Bye..” Kata Sava sambil menutup pembicaraan. “Maaf semuanya, sepertinya aku dan Ohsen harus segera ke klub seni. Ada beberapa hal yang harus diurus..” Lanjut Sava.


“Ada apa, Va??” Tanya Ohsen.


“Nanti di jalan aku akan menceritakannya. Kalau begitu, kami pergi.. Kalian bersenang-senanglah!” Kata Sava beranjak pergi bersama Ohsen.


Entah mengapa saat Sava ingin segera pergi dari sahabatnya, terutama Lien dan Luhan. Rasa sesak di dada membuatnya tidak nyaman.


Mungkin karena cemburu?


Terluka hal yang ditakutinya. Ia yakin akan dengan mudah ia menangis. Ia beruntung karena Dio menelponnya untuk membantu membersihkan alat-alat music di basecamp klub seni. Padahal Sava bisa saja menolaknya, tapi baginya itu kesempatannya untuk lari dari lukanya.


Hebatnya, ia bahkan tidak pamitan langsung pada Luhan. Luham sedikit kesal karenanya.


“Si muka piano itu selalu mengganggu acara kita. Selalu seenaknya saja menyuruh Sava pergi ke klub music. Kali ini dia juga membawa Ohsen. Menyebalkan.” Gerutu Luhan.


“Aku tidak merasa terganggu..” Kata Kay.


“Aku juga..” Timpal Lien.


“Kalian ini.. Kenapa kalian tidak melarang Sava dan Ohsen pergi? Ini sudah bukan jam sekolah lagi. Harusnya ini waktu luang untuk kita.. Kenapa harus pergi? Memang klub musik lebih penting? Kalau penting, apa yang dipentingkan? Piano? Gitar? Oh, apa karena Sava ketua klub jadi harus pergi? Mungkin karena tanggung jawab. Tapi tidak harus begitu terus, harus menyisakan ruang untuk bersntai. Aku benar, kan? Kalian harusnya punya pemikiran yang sama denganku!” Kata Luhan kesal.


“LUHAN bodoh dan tidak pintar-pintar!! Kau berisik sekali jadi laki-laki! Bisakah kau menutup mulutmu itu, Han?? Aku panas mendengar ocehanmu!” Bentak Lien yang juga kesal.


“KAU!!” Luhan melotot karena merasa dibentak.


“APA?” Lien juga ikut melotot karena merasa dipeloti Luhan.


Braaakkkk.


Kay menggebrak meja kayu yang ada di bawah pohon cemara itu. “Bisa kita lanjutkan saja dengan acara makan cemilan yang tadi Sava bawa?” Kata Kay penuh ketenangan meski dalam batinnya ia benar-benar kesal menyaksikan kedua sahabatnya sering bertengkar karena hal sepele.


“Aku penasaran dengan sihir apa yang digunakan Sava untuk bertahan dengan sahabatnya yang super cerewet ini.. Hah..” Batin Kay.


.


.

__ADS_1


.


“Kay kalau marah menakutkan juga..” Batin Luhan dan Lien merasa takut.


__ADS_2