
( Masih flashback yah 😊)
Setelah kepergian keluarga Tuan Ronald, kini perhatian mereka beralih ke arah Sandra. Sejak menerima tamparan yang begitu keras Sandra hanya menunduk berusaha menahan rasa perih yang dia rasa. Bahkan tanpa sadar air mata nya pun telah mengaliri pipi mulus nya.
Nyonya Nathalie pun berjalan menghampiri Sandra, nyonya Nathalie pun memegang tangan Sandra dan mengelus bahu nya lembut.
" Sayang " ujar nyonya Nathalie lembut.
Sandra pun menoleh ke arah nyonya Nathalie dan tersenyum lembut seolah-olah mengatakan bahwa dia tidak apa-apa. Nyonya Nathalie yang melihat pipi Sandra memerah dan sedikit memar pun terkejut.
" Yah tuhan say- " pekik kan nyonya Nathalie pun terhenti saat Sandra menggeleng dan tersenyum tipis.
" Aku nggak papa kok mom " ujar Sandra.
" Tapi sayang pipi kamu loh " ujar nyonya Nathalie khawatir.
" It's ok mom, serius aku nggak papa " ujar Sandra meyakinkan nyonya Nathalie.
" Yah sudah, kamu sebaiknya istirahat aja di kamar biasa biar mommy suruh bibi beresin dulu" ujar nyonya Nathalie.
" Jangan mom, enggak perlu aku pulang aja " ujar Sandra menolak usulan nyonya Nathalie.
__ADS_1
" Itu benar Sandra, sebaiknya kamu menginap saja biar daddy yang menelpon ke rumah kamu agar mereka tidak cemas " ujar tuan Andrew tiba-tiba.
Sandra yang mendengar pun sontak menggelengkan kepala nya, dia merasa tidak nyaman apalagi setelah situasi tadi.
" Tapi dad, aku nggak papa kok serius aku nggak enak juga kalau harus menginap " ujar Sandra.
" Tak apa Sandra, sebaiknya kamu istirahat saja " ujar tuan Andrew tegas.
Sandra pun akhirnya mengangguk pasrah ketika mendengar suara tuan Andrew berubah tegas.
" Iya dad, tapi aku mau ke kamar Dafa dulu " ujar Sandra pasrah.
" Setelah itu istirahat ok " kata nyonya Nathalie.
Sandra pun berbalik menuju ke lantai atas menemui Dafa, meninggalkan 3 orang yang masih berdiam di situ.
FLASHBACK OF............
" Kak aku nggak papa kok " ujar Sandra.
" Pipi kamu merah dan memar itu yang kamu bilang nggak papa " ujar Raka tajam.
__ADS_1
" Kak, nggak papa serius. Nyonya Lavenia benar kak aku hanya orang asing yang seharusnya tidak ada di acara kalian " ujar Sandra pelan.
" Maksud kamu apa bicara seperti itu " ujar Raka datar.
" Aku bicara serius kak, dan sekali lagi walaupun ucapan orang lain itu kadang menyakiti hati kita tapi kadang ada kalanya apa yang mereka ucapkan itu benar kak " ujar Sandra.
" Mereka bukan siapa-siapa yang harus kamu perdulikan dan dengarkan Sandra " ujar Raka.
" Aku emang nggak perduli kak, tapi omongan mereka itu semakin buat aku sadar " ujar Sandra.
" Maksud kamu? " tanya Raka bingung.
" Bukan apa-apa, makasih atas kompresan nya kak aku balik ke kamar dulu " ujar Sandra pamit dan segera berlalu dari sana.
Raka pun hanya terdiam membiarkan Sandra pergi tanpa menjawab pertanyaan nya dan menatap ke arah Sandra yang sedang menuruni tangga dengan pandangan yang sulit diartikan.
Raka pun bangkit dari duduk nya dan berjalan ke arah kamar nya, sesampai nya di kamar Raka tak langsung bersiap untuk tidur dia lebih memilih berjalan ke arah balkon kamar nya. Di tatap nya bulan yang kini sedang bersinar terang dia atas sana, pikiran nya kembali melayang pada kejadian tadi yang membuat makan malam itu menjadi berantakan.
Sebenarnya sejak keluarga tuan Ronald datang tadi, Raka sudah dapat merasakan tatapan penuh kagum dan ketertarikan yang di lemparkan oleh putri tuan Ronald pada nya. Bukan nya Raka merasa kepedean hanya saja putri tuan Ronald itu secara terang-terangan menatapnya tanpa ada rasa malu sama sekali bahkan di saat Raka mengabaikan nya.
Hah....Sudahlah memikirkan itu membuat kepalanya jadi pusing, lebih baik dia segera istirahat karena dia yakin bahwa besok akan menjadi hari yang lebih berat lagi.
__ADS_1
...â—‹â—‹â—‹â—‹â—‹â—‹...
TBC......