
Setelah acara makan malam selesai, Dafa langsung menarik tangan sang ayah menuju kamar nya membuat sang ayah dan kakek nya menatap nya heran. Sedangkan sang nenek hanya tersenyum melihat nya karena dia tau apa yang akan di lakukan oleh cucu nya itu.
Sesampainya di dalam kamar, Dafa mendudukkan sang ayah di sofa tempat nya bercerita dengan nenek nya tadi, Raka? dia hanya diam menuruti sang anak.
" Daddy "
" Ya? "
" Daddy pernah bilang sama Dafa kalau Dafa boleh minta apapun sama daddy kan? "
" Iya boleh, memang nya Dafa mau minta apa hm? "
" Benarkah? "
" Tentu boy, selama itu bisa membuat anak daddy ini bahagia kenapa tidak. Apapun yang Dafa minta akan daddy kabulkan "
" Janji? "
" Janji "
" Hm, kalau gitu Dafa mau daddy menikah dengan mommy Sandra "
" Oh oke ***- Apa? "
" Iya Dafa mau daddy sama mommy Sandra menikah "
" Tunggu boy tunggu, kenapa tiba-tiba kamu minta daddy menikah sama mommy Sandra? "
" Karena Dafa pengen mommy Sandra bisa tinggal bareng kita setiap hari disini dad, Dafa pengen setiap Dafa sakit ada mommy Sandra yang rawat Dafa, setiap mau bobo juga ada mommy Sandra yang temenin Dafa sambil denger dongeng "
" Dafa juga pengen kita bisa jalan-jalan bertiga nanti nya, terus makan masakan mommy terus setiap harinya "
Raka terdiam mendengar ucapan sang anak, apa begitu pentingnya kehadiran Sandra di kehidupan sang anak?. Raka tak tau harus berkata apa lagi karena selama ini yang dia tau sang anak bahagia dekat dengan Sandra dan mendapatkan perhatian dari Sandra.
Apa anak nya itu ingin mendapatkan yang lebih lagi dari yang dia dapatkan dari Sandra, memang selama ini sang anak tak pernah mengungkapkan keinginan nya untuk mempunyai seorang ibu di kehidupan sehari-hari nya selain ibu kandungannya. Yah walaupun bisa di bilang hanya hitungan jari saja dalam sebulan intensitas pertemuan mereka.
" Dad? "
Suara sang anak yang memanggil mengalihkan lamunan Raka sejenak, di tatap nya sang anak dan dapat dilihat nya harapan atas keinginan nya di mata sang anak.
" Daddy? "
__ADS_1
" Yah "
" Daddy marah? "
" Marah? "
Dafa hanya mengangguk dan menundukkan kepala nya merasa takut jika memang benar Daddy daddy nya itu marah. Melihat sang anak menunduk, Raka pun membawa sang anak ke dalam pangkuannya.
" Kenapa daddy harus marah hm? "
Dafa hanya diam tak menjawab.
" Boy boleh daddy bertanya satu hal? "
Dafa hanya mengangguk.
" Kenapa Dafa mau daddy menikah dengan mommy Sandra? Dafa sayang sama mommy Sandra? Mau tinggal bareng juga? "
" Iya "
" Alasannya "
" Dafa iri sama teman-teman dad, mereka selalu di anterin mommy daddy nya setiap hari di jemput juga "
" Tapi nggak tinggal bareng. Dafa pengen kita tinggal bareng juga semua yang pengen Dafa lakuin pengen nya ada mommy juga "
" Dafa bahagia kalau daddy menikah sama mommy Sandra? Bahagia kalau kita bertiga tinggal bareng? "
" Iya "
" Boy dengar daddy, kalau Dafa bahagia lalu bagaimana mana dengan mommy Sandra? apakah mommy juga bahagia? "
Mendengar jawaban sang daddy membuat Dafa menunduk kan kepala nya, merasa sedih jika ternyata mommy Sandra juga nanti nya tak bahagia.
" Boy, bukan nya daddy tak ingin mewujudkan keinginan Dafa. Hanya saja untuk menikah bagi orang dewasa itu tidak mudah sayang, keputusan itu harus di pikirkan secara baik-baik antara mommy Sandra dan daddy tidak bisa diputuskan begitu saja "
" Jika mommy Sandra dan daddy menikah berarti itu juga harus keinginan sendiri dari mommy Sandra dan daddy, kalau cuma daddy atau mommy yang setuju sedangkan daddy atau mommy Sandra tidak setuju bagaimana? "
Raka tersenyum melihat sang anak tetap menundukkan kepala nya, dielusnya kepala sang anak dengan lembut. Dia tau kalau sang anak sedang memikirkan ucapan nya tadi.
" Yah sudah sekarang Dafa bobo oke "
__ADS_1
Raka berdiri dari duduk nya dan membawa sang anak untuk berbaring di kasur nya, Setelah berbaring dan menyelimuti sang anak anak Raka tak langsung berdiri dia tetap duduk di samping sang anak mengelus kepala nya lembut.
" Dad " lirih Dafa
Raka tersenyum menatap sang anak yang masih belum mau menutup mata nya seolah-olah menanti jawaban tak pasti yang akan di dapatkan nya.
" Bobo yah, nanti daddy akan bicarakan dengan oma opa serta.........mommy Sandra juga "
Dafa hanya mengangguk sebagai jawaban dan setelah itu menutup mata nya masih dengan Raka yang mengelus kepala sang anak. Setelah beberapa menit merasa sang anak telah tidur, Raka pun menyala kan lampu tidur di samping tempat tidur sang anak dan bangkit dari duduk nya secara perlahan agar tak mengganggu tidur sang anak.
Setelah mengecup kening sang anak, Raka pun berbalik keluar dari kamar, sebelum benar-benar keluar Raka mematikan lampu utama kamar baru lah dia keluar dari kamar sang anak
Raka pun berjalan ke arah kamar nya, tak benar-benar ingin beristirahat justru Raka berjalan ke arah balkon. Membuka pintu dan berjalan menuju sofa yang terdapat di sana duduk menikmati angin malam merenungkan kembali keinginan kecil sang anak namun tidak bagi nya.
Selama ini Raka berpikir menjadi seorang ayah sekaligus ibu bagi sang anak sudah bisa membuat nya membahagiakan sang anak apalagi ada orang tua nya yang membantu di kala dia sibuk karena bekerja tak bisa menemani sang anak, tetapi itu ternyata tak cukup bagi sang anak yang merindukan sosok seorang ibu di hidup nya.
Mengambil ponsel yang berada di atas meja, Raka mencari-cari nomor seseorang lalu menelepon nya.
" Halo "
" Hai malam, apa aku mengganggu? "
" Tidak, ada apa? "
" Bisa bertemu besok? "
" Besok? "
" Ya, besok siang, apa bisa? "
" Iya bisa "
" Oke besok aku jemput "
" Baiklah "
" Oke, bye, selamat malam "
" Malam "
Tut Tut.....
__ADS_1
TBC........