
Sejak hari itu, Revan bersikap biasa saja dan sewajarnya, tidak terlalu mendekati seperti saat sebelum menikah.
"Lihat itu, benar kan semua lelaki sama saja, saat belum menikah akan merayu, mengejar saat sudah dapat di diamkan, berubah sikapnya!" gerutunya sembari menata pakaiannya di dalam lemari.
Lalu, ia mengambil handuk dan segera pergi untuk mandi siang, karena sejak pagi ia belum mandi, mungkin karena lelah setelah pesta pernikahannya yang panjang badannya jadi tak enak, "Ini baru hari ketiga, tapi dia sudah berubah! Padahal aku sudah mau berbaik hati." gerutunya lagi sambil masuk ke kamar mandi, rupanya Aletta lupa, bahwa karenanya Revan jadi berubah dingin.
Setelah mandi air hangat, ia merasa suhu tubuhnya semakin panas saja, ia memilih memakai celana kolor pendek dan kaus pendek dengan bahan yang adem di pakai. Cuaca terik dan suhu tubuhnya panas, lengkap sudah!
Sialnya,jika kemarin ada bunda yang memperhatikan, kini bunda tidak ada karena menemani ayah dalam perjalanan bisnis ke luar negeri.
"Pantas saja kaya, pekerjaannya saja membuatnya sibuk." gumamnya sembari menatap langit-langit kamarnya, lalu matanya mengelilingi ruangan kamarnya dan Revan.
Aletta baru sadar, bahwa kamarnya simpel namun mewah.
Dengan cat serba abu-abu dan putih dan beberapa furniture berwarna navy. Tirai berwarna putih dan pintu kaca yang mengarah ke balkon. Ia membukanya dan menganga tak menyangka bahwa balkon kamar Revan bisa seluas itu dan, "Sepertinya, bunga-bunga ini belum lama disini." ujarnya melihat tanaman bunga hydrangea di pinggiran pagar balkon dan di bawah ada banyak pot bunga mawar merah, putih, merah muda, Aletta rasa berbagai warna bunga mawar ada disana.
Ada ayunan berkursi panjang yang menghadap kedepan juga, "Apa Revan menyiapkan semua ini untuk aku?" senyum tipis terpatri di wajahnya, karena rasanya kurang mungkin jika lelaki seperti Revan memelihara tanaman di area kamarnya.
Rasanya, Aletta ingin Revan segera pulang untuk bertanya secara langsung, kalau lewat pesan pasti belum tentu di balas, pasti lelaki itu sedang sibuk. "Andai aku tahu pasti bagaimana perasaanku dan kita benar saling cinta mungkin sekarang bukan bekerja, tapi dia sedang bulan madu dengan aku." gumamnya seraya menjatuhkan tubuhnya pada ayunan bercat putih itu.
"Bahkan dia tahu bunga kesukaanku." gumamnya sambil tak hentinya tersenyum senang.
Ia sangat menikmati semuanya sampai seorang pelayan datang mencarinya, "Nona, ada tamu di luar."
"Siapa?" herannya, bagaimana kalau itu tamu ayah, bunda, atau Revan, bagaimana Aletta menghadapinya.
"Tidak tahu, tapi dia bilang namanya Tasya."
Tak perlu berlama-lama, Aletta segera turun dan melihat tamunya di bawah. Dari ujung tangga teratas ia dapat melihat seorang wanita berpenampilan glamor ia tahu itu pacar Revan.
Wanita dengan gaun yang sangat terbuka dan ketat dengan wajah cantik yang memandangnya tak suka.
"Kenapa kamu, Revan dimana?" tepat saat Aletta hadir di depannya, Tasya langsung menanyakan Revan.
"Dia bekerja, tidak disini." jawab Aletta dingin, yang ternyata tanpa di duga, Tasya malah tersenyum.
"Baru menikah dan Revan malah bekerja, kamu payah! Tidak mampu menyenangkan suamimu, harusnya Revan menikah sama aku saja."
"Lebih baik kamu pulang, yang kamu cari tidak ada!" ketus Aletta, ia agak geram pada Tasya yang seolah sedang meremehkannya.
"Ya ya, paham." Tasya menelusuri Aletta dengan matanya dari atas ke bawah.
"Kalau tubuhmu yang jelek ini, wajah pas-pasan dan penampilan mu yang seperti pembantu begini, mana nafsu Revan membawamu bulan madu?"
Aletta menganga tak percaya dengan penilaian Tasya, kurang ajar sekali perempuan ini.
__ADS_1
"Pulang sana, lagi pula kamu cuma mantannya Revan kan?!"
"Yaa mantan tersayang, nggak lama lagi dia pasti balik ke pelukanku. Aku lebih wow dari kamu, lebih menggoda, lebih cantik,lebih kaya, tidak seperti kamu,miskin,jelek, aku tidak yakin Revan benar-benar mencintaimu. Menyerah saja kamu!"
"Bye! Aku harus menemui pacarku, Revan." ujar Tasya sombong, lalu melangkah keluar dari rumah.
"Hih! Dasar perempuan ulet bulu!"geramnya lalu melangkah ke dapur berniat minum untuk meredakan kekesalannya.
Berpapasan dengan salah satu pelayan, ia lantas berhenti saat akan keluar dapur, "Bibi, bisa tolong bawakan aku makan siang ke kamar?"
"Tentu saja, Nona." jawab wanita paruh baya yang dia temui, beda dengan yang tadi memanggilnya, sebenarnya ada berapa sih pelayan di rumahnya Revan, decak Aletta dalam hati.
"Emm, aku rasanya ingin minum es teh, bawa itu juga."
"Tapi, bukannya kata Nyonya besar, anda sedang demam dan tidak enak badan."
"Tidak apa, bawakan saja, oke? Dan ya berikan aku telur dadar sebagai lauknya." pintanya lagi sebelum benar-benar pergi dan kembali menikmati taman mini di balkon kamarnya.
***
Waktu menunjukkan pukul satu siang dan pekerjaan Revan sudah selesai semuanya.
Karena memang tidak banyak yang di kerjakan semua sudah di ambil alih oleh ayahnya mengingat dirinya baru menikah. Tapi, Revan yang malas bekerja itu mendadak rajin ke kantor demi menghindari istrinya.
Diam-diam dirinya juga rindu pada istrinya yang seperti haram di dekati.
Terkejut, itu yang Revan rasakan saat melihat Aletta sangat berisik karena mendumel kesal pada pelayan yang sudah bekerja paling lama di rumahnya.
"Aletta apa yang kamu lakukan?!" tegur Revan yang sepertinya membuat Aletta terkejut dan berhenti mengomel.
"Aku hanya sedang memberi tahu dia!" tunjuk nya pada pelayan tadi.
"Yang sopan Aletta, Bi Sumi orang tua." peringat Revan, ia tak terima jika istrinya bersikap tak sopan pada orang yang dulu mengasuhnya saat bunda tak ada.
Tapi, justru Aletta juga tak terima dengan peringatan Revan dan menatap tajam suaminya.
"Nggak papa, Nak. Memang bibi yang salah." kata Bi Sumi dengan lembut agar tidak ada pertengkaran sengit antara sepasang suami-istri karena dirinya.
"Memang kesalahan apa yang bibi lakukan?" tanya Revan pada pelayan tua itu namun Aletta langsung menyerobot, "Aku cuma minta makan siang dengan telur tapi bukan telur yang di goreng dengan minyak bekas untuk menggoreng ikan, karenanya aku jadi mual, Revan!"
"Apa? Jadi cuma itu? Dan kamu marah?"
"Cuma itu katamu? Revan aku lapar aku sedang sakit dan, sudahlah kamu tidak akan mengerti aku!"
"Iya aku tidak akan mengerti kamu yang aneh dan egois, Aletta!"
__ADS_1
Aletta menatap Revan tak percaya, barusan Revan bilang dia apa? Egois?
"Sudah, kalian jangan bertengkar hanya karena bibi, ini salah bibi juga karena tadi membiarkan pembantu baru memasak makanan untuk Nona. Maafkan saya." lirihnya menyesal.
"Sekalipun itu pembantu baru, apa iya akan memberikan makanan pada majikannya seperti itu? Aku sangat tidak suka makanan yang aku makan di masak dengan ada aroma ikan." Aletta masih saja menumpahkan kekesalannya hanya karena masalah minyak bekas menggoreng ikan.
Menggeram kesal lantas Aletta meninggalkan dua manusia itu, sisa kekesalannya karena Tasya saja belum habis dan saat ia ingin makan enak berharap semuanya akan menghilangkan rasa kesal, tapi yang ia dapat malah telur dengan minyak bekas ikan untuk menggoreng nya, kesal!!!
Niatanya untuk berterimakasih pada Revan saat lelaki itu pulang jadi gugur, karena Revan tadi memarahinya.
Sedangkan, Revan setelah meminta maaf pada pengasuhnya ia langsung menyusul istrinya ke kamar. Tampak di sana Aletta sedang duduk di atas kasur dengan napas terengah dan wajah yang tertekuk.
Aletta sadar akan keberadaan suaminya, ia ingin bersikap cuek, tapi lagi-lagi nasihat bunda! Jadilah rumah tempat suamimu pulang, jangan biarkan dia tidak nyaman saat pulang ke rumah, tersenyumlah untuk menyambut kedatangannya
Ya itu, nasihat bunda semalam sebelum pergi ke luar negeri. Dengan senyum yang di paksakan, Aletta menghampiri Revan mencium punggung tangan suaminya, karena tadi tak sempat sebab sibuk berdebat.
Lantas, ia melepaskan jas Revan beserta dasinya, kemudian mengambil alih tas kerja di tangan Revan.
"Aku enggak suka kamu kasar seperti tadi dan jangan tersenyum kalau tidak mau tersenyum." ucap Revan datar kemudian Revan berjalan menuju ke kamar mandi.
"Revan!" panggilnya yang membuat lelaki itu berhenti, "Maaf aku gak bermaksud begitu."
Aku tahu, kamu baik, sayang. rasanya sekarang ia ingin mengelus lembut kepala Aletta dan memberikan ketenangan, tapi ia ingat bagaimana Aletta dengan mudahnya bersikap seolah Revan itu penjahat yang akan merenggut kehormatannya.
Aletta jadi tak enak karena sepertinya Revan sangat marah ditandai dengan lelaki itu tidak melihat ke arahnya dan masih dalam posisi membelakangi Aletta.
"Tapi, Revan aku nggak egois seperti yang kamu bilang aku cuma... sedang kesal dan tak enak badan." ujarnya lirih di akhir kalimat.
"Istirahat kalau begitu, jangan sampai itu membuatku jadi tidak percaya lagi padamu."
dan saat debum pintu kamar mandi terdengar, Aletta membuang napasnya kasar.
"Kenapa aku tadi bisa emosi seperti itu, ini gara-gara Tasya! Ihh, menyebalkan! Kalau ayah dan bunda ada di rumah pasti mereka kecewa dengan sikapku tadi." gumamnya menyesal.
"Apa tadi yang ulet bulu itu bilang? Kurang ajar sekali, bahkan aku bisa lebih seksi dari dia kalau aku mau!" teringat tentang Tasya, Aletta jadi menggerutu tak jelas tentang hinaan yang wanita seksi itu tunjukan kepadanya.
"Lihat saja kamu, Tasya! Kamu kira aku seperti perempuan yang di sinetron ikan terbang apa!Yang bisa di singkirkan oleh ulat bulu seperti kamu dengan mudah? Kamu kira aku akan menangis kamu hina begitu?" semakin geram semakin lancar saja gerutuan itu muncul dari bibir manis Aletta yang tak lepas dari pendengaran Revan yang diam-diam mencuri dengar dari celah-celah pintu kamar mandi.
Karena saat ia akan keluar dari kamar mandi, ia dengar kebisingan yang di ciptakan dari bibir manis istrinya .
"Ah astaga, aku tidak akan membiarkan ulat bulu itu menang! Apa tadi dia bertemu dengan Revan?!" ujarnya panik,pokoknya jangan sampai harga dirinya di injak, jangan sampai dirinya membiarkan perempuan lain merebut suaminya, akan sangat memalukan pasti.
Tanpa di sadari, itu membuat Revan terkekeh geli di dalam sana.
Ah, apa istrinya bisa di bilang,sedang cemburu?
__ADS_1