
3 bulan kemudian...
Setelah menimbang banyak hal untuk waktu yang lama, Revan menarik gugatannya di pengadilan, masih ada kesempatan karena keduanya tidak pernah sama sekali datang untuk sidang perceraian.
Hanya tanda tangan kedua belah pihak, lalu Revan dengan akalnya berbohong pada Istrinya yang lugu itu bahwasanya dengan kekuatan uang ia bisa membuat mereka resmi bercerai tanpa proses yang lama.
"Aku rindu." gumamnya sambil melihat ke jendela pesawat yang sudah akan mendarat di tanah air.
Akhirnya, hari ini ia bisa merasakan udara negeri asalnya yang mana setiap hirup napasnya ia merasakan kenangan demi kenangannya hadir menyergap relung hatinya yang telah di selimuti rindu yang di kekang ego.
"Ale, aku datang."
Jantungnya berdebar lebih cepat, seperti sebelumnya Revan akan tetap menjadi pria yang mencintai Aletta-nya tanpa syarat.
Menerima perempuan itu apa adanya dengan segala kekurangannya.
"Aku kembali sayang, semoga kamu tidak marah karena kebodohanku."
Revan mengenakan kacamata hitamnya, dengan setelan celana jeans hitam dan kaos hitam polos ia nampak keren, apalagi setelah supirnya datang dengan Audi R8 putih miliknya.
Beberapa orang yang melihatnya berdecak kagum bahkan ada yang mengira Revan adalah seorang idol korea.
Revan memilih pulang ke rumah lamanya bersama Aletta, walaupun dia tahu Aletta tidak tinggal disana, entah dimana istrinya itu sekarang, ia akan mencari.
Terkahir, informannya bilang Aletta tinggal di apartemen Adrian, tapi setelah itu ada informasi bahwa apartemen itu kosong dan tidak ada yang tahu kemana penghuninya.
Revan merebahkan tubuhnya di atas kasur, menghirup dalam-dalam aroma ruangan itu berharap ada aroma Aletta yang tertinggal.
Senyumannya terpatri kala bayangan kenangan masa lalu itu menari-nari dalam pikirannya, saat mereka bercinta di tempat tidur, bercanda di situ, atau saat Revan menggoda Aletta di depan cermin karena kecantikannya.
"Lo terlalu naif dan bertindak impulsif!" kata-kata Anna terngiang-ngiang lagi, sebab Anna lah sekarang dirinya di sini.
Kalau gadis itu tidak menasihatinya, mungkin Revan akan tetap di Swiss jadi si gila kerja, perokok bahkan peminum berat.
Pada dasarnya, Revan tidak mampu lama-lama marah pada Aletta, tidak lupa kan seberapa sabarnya pria itu?
Cuma kejadian hari itu membuat egonya bahkan harga dirinya terluka parah, ia merasa di kalahkan oleh masa lalu Aletta.
__ADS_1
.
.
.
"Wah, bayinya sehat jenis kelaminnya perempuan lho." kata dokter kandungan yang memeriksa Aletta di temani Adrian tentunya.
Bukan anak kandungnya, tapi Adrian merasakan getaran di hatinya saat melihat bayi itu melalui ultrasonografi.
Aletta menggenggam erat tangan Adrian, ia juga merasakan getaran yang sama, sayang...
Di sampingnya adalah Adrian, bukan ayah si bayi.
Aletta mengulum senyumnya, karena rasa luar biasa melihat bayinya di tambah rasa sakitnya atas ketidakhadiran Revan bercampur jadi satu menjadi sebuah rasa yang sulit di jelaskan.
"Oh ya, di usia kandungan yang sudah masuk enam bulan ini, sudah boleh berhubungan lohh.. tapi tetap dengan posisi yang aman ya, apalagi nanti saat menjelang kelahiran, sangat di anjurkan." jelas dokter yang merasa harus menjelaskan pada pasangan yang ia anggap suami istri tersebut.
Telinga Adrian memerah mendengar penjelasan dokter, andai mereka suami istri, pastilah Adrian senang mendengar berita baik itu.
Selesai memeriksa kandungan, keduanya keluar dari ruangan dokter dengan canggung satu sama lain.
Bagaimana tidak, keduanya cantik dan tampan pasti anaknya akan lucu sekali, pikir mereka.
Sesekali Aletta tersenyum basa-basi pada mereka yang ia ketahui saja, karena pernah antre bersama saat cek kandungan.
"Emmh...Aksa, aku pengin ayam kriuk deh." cicit Aletta memecahkan keheningan mereka saat dalam perjalanan.
Tanpa menjawab, Adrian menghentikan audi rs7 hitam miliknya di restoran junk food.
"Dibawa pulang aja ya? Kamu tunggu disini aja."
Aletta mengangguk patuh, ia tahu Adrian tidak begitu suka makan di tempat ramai.
"Makasih." ucap Aletta saat Adrian kembali masuk ke dalam mobil.
"Kulit ayamnya ada kan?" tanya Aletta dengan binar harapan dimatanya.
__ADS_1
"Nggak ada." sahut Adrian, yang sudah pasti bohong.
"Udah dada ayam aja, terus awas aja ya kalau sampai rumah kamu buat ayam kriuk ini jadi ayam geprek yang pedesnya kaya mulut tetangga, gak bakal aku turutin mau kamu lagi." ancam Adrian sudah seperti seorang suami saja.
Mau luluh, tapi hatinya tidak semudah itu mengganti penghuninya.
Revan masih berkuasa di dalam sana.
Aletta meringis mendengar penuturan pria di sebelahnya, "Perhatian banget sih papa Aksa." goda Aletta, tapi Adrian sendiri memang suka menyebut dirinya papa dari bayi itu sih.
"Nggak bagus kebanyakan makan junk food, Tara. Inget, yang makan gak cuma kamu."
"Tapi ini juga dia lho yang pengen." kilah Aletta.
"Halah! Kaya aku gak tahu aja kamu ini, kasihan banget sih tuan putri belum lahir sudah di fitnah terus sama mommy." ucap Adrian yang membuat Aletta jadi bersungut-sungut tidak terima.
"Ah kamu! Fokus aja nyetir, jangan nyinyir."
"Lho siapa yang nyinyir?" heran Adrian, dengan mata yang lurus menatap jalanan di depannya.
"Ale?" lirih Revan saat ia seperti melihat Aletta di dalam mobil yang baru saja berpapasan dengannya.
Tidak sulit untuk melihat siapa yang ada di dalamnya, karena Audi rs7 itu melaju pelan.
Untuk memastikan, Revan menoleh ke belakang berharap bisa melihat lebih jelas lagi.
Tapi sayang, tidak semudah itu apalagi ia tidak bisa berhenti atau putar balik sembarangan di jalan yang sedang ramai pengendara.
"Apa itu benar kamu? Tapi dengan siapa? Apa kamu bersama keparat itu, huh?!"
Mendadak, hatinya yang di gulung rasa rindu di selimuti emosi yang meletup-letup.
"Gue harus ketemu sama manusia sialan itu, oke siang ini juga gue kudu ke Wiratmadja Group." tekadnya penuh, matanya nyalang melihat jalanan, kalau saja tidak ramai ia sudah mengebut saking tak terkendali emosinya.
Huyyyy
Ada yang nungguin ???
__ADS_1
Bantu like komen jangan lupa bintang 5 dan kasih hadiah buat aku kalau kalian suka ceritaku
Maaaciwww