
Memalukan!
Bisa-bisanya, Adrian mempermalukan dirinya di depan Dio dan Alex!
Revan menendang sofa yang ada di ruang santai basecamp, membuat dua orang di dalamnya menatapnya heran.
"Kenapa lo?" tanya Jonathan, cowok itu mengalihkan fokusnya dari laptopnya dan memilih mewawancarai sahabatnya.
"Adrian goblok!" umpat Revan sembari menjambak rambutnya kasar, Jonathan dan Rafi tidak tahu harus bagaimana lagi, sudah tiga hari, hampir empat hari Revan tidur disini
gara-gara masalah rumah tangganya.
"Adrian siapa sih?" tanya Rafi tak tahu apa-apa.
"Maklum, nikah sebelum waktunya jadi gitu deh." jawab Jonathan seadanya.
"Ngomong apaan lo pada?!" sembur Revan yang tak terima dengan omongan Jonathan, ia menjatuhkan dirinya di single sofa yang menghadap ke televisi.
"Lagian lo gak jelas banget dateng-dateng marah, ngatain Adrian siapa coba?" celetuk Rafi.
"Adrian yang dulu kelas dua belas IPA satu? Cowoknya Bella itu?" tebak Rafi, yang membuat Jonathan jadi penasaran juga.
"Heh? Lo kenal, Raf?" tanya Revan.
"Nggak sih, cuma tahu aja. Dia lumayan famous, kakak kelas kita sih, ketua OSIS juga." jawab Rafi biasa saja.
"Kok gue gak pernah liat ya?" heran Jonathan.
"Itu sih lo yang kelewat nolep, Jo!" seru Rafi menoyor sahabatnya.
Revan berusaha mengingat lagi, tapi ia benar-benar tidak ingat pada Adrian yang satu sekolah dengannya.
Tapi, ia ingat dengan satu cowok yang suka antar Aletta pulang sekolah setiap habis selesai rapat OSIS.
Apa itu Adrian?
Tck! Sepertinya hubungan mereka sangat privat sampai, dirinya yang suka menguntit Aletta saja tidak menyadarinya.
"Woy, baek-baek lo ntar kesambet!" Rafi menggerakkan tangannya di depan Revan yang nampak melamun.
"Tck!" Revan berdecak risih menyingkirkan tangan Rafi.
"Kalau kangen balik sono, jangan galak-galak kaya kucing birahi aja!" ledek Rafi yang mirip-mirip kelakuannya dengan Gara.
"Bacot!" pungkas Revan, lalu ia memutuskan untuk menyalakan televisi di depannya.
"Jangan keras-keras gue lagi ngerjain skripsi!" kata Jonathan memperingati, Revan hanya diam sambil mengecilkan volumenya.
"Jijik gue dimana-mana Adrian!" dengus Revan kasar, bagaimana tidak baru ia menyalakan televisi, eh malah menayangkan berita yang isinya adalah pengangkatan CEO baru Wiratmadja Group, yayayaya Revan tahu keluarga mereka sangat terkenal.
Apalagi, kerabat mereka rata-rata adalah pejabat dan bekerja di partai pemerintahan.
Benar-benar mendominasi negeri ini!
"Adrian? Gue baru tahu lho, kalau dia pewaris utama Wiratmadja." celetuk Rafi yang kini malah ikutan menonton televisi, tapi tidak bertahan lama karena Revan mematikan televisinya dengan remote.
"Anjir, gue lagi nonton!" protes Rafi, dia kan juga penasaran.
"Gak usah liat-liat tampang buluk tuh cowok! Najis!" dengus Revan tak suka, Rafi hanya melirik sahabatnya aneh.
"Apaan sih, Van. Lagian bisa di jadiin panutan lagi, CEO muda, kaya, pas sekolah juga berprestasi, ketua OSIS lagi." puji Rafi.
Apa-apaan sahabatnya ini,kenapa jadi memuji Adrian kampret itu?!
"Asal lo tahu ya, lo gak boleh kagum sama tuh cowok, gue lebih baik dari pada tuh cowok perebut bini orang!"
"Hah?" Rafi auto kaget mendengar penuturan sahabatnya itu.
"Lo barusan bilang apa?" kini Jonathan juga ikutan nimbrung.
"Gak!" tolak Revan, ia menolak menjelaskannya pada Rafi dan Jonathan.
"Bini siape yang di rebut tuh orang? Bini lo, Van?" cecar Rafi dengan logat Betawinya.
"Kepo!"
.
.
.
Di ruangannya, Adrian tidak sendiri ada seorang perempuan yang duduk di hadapannya.
"Tck, bukan salahku dia sendiri yang mencampur aduk antara bisnis dan masalah pribadi." ucap Adrian dengan tangan yang mengelus gelas wishky nya, lalu mengangkatnya hingga sampai pada bibirnya untuk di sesap.
"Tapi saya harap anda bisa mempertimbangkan ini kembali." pinta Kiran, yang kini jadi tumbal gara-gara dirinya memberitahukan Revan soal Adrian, lalu berakhir semuanya hampir kacau dan Dio memaksanya bertanggungjawab.
Dasar bos sialan!
"Setidaknya pandang Tuan Anggara, sebagai rekan kerja dan teman baik kakek anda." lanjut Kiran.
"Apa untungnya aku jika meneruskan kerja sama ini?" celetuk Adrian sambil memutar-mutar kursi kerjanya ke kanan dan ke kiri.
Gabut banget nih orang ya?
batin Kiran meledek melihat itu.
"Dari awal kerjasama ini tidak mengutamakan untung ataupun rugi tapi yang pasti untuk membangun hubungan yang baik antar dua pihak." jelas Kiran panjang lebar, heh Kiran itu tidak pandai merayu client dan sebagainya tapi ini karena bos kejamnya yang suka menumbalkan dirinya jadilah ia harus susah payah menyusun kata demi kata.
__ADS_1
"Tapi sepertinya, Tuan Muda mu tidak ingin adanya hubungan baik di antara kedua pihak." balas Adrian dengan nada sindiran.
"Saya meminta maaf atas nama atasan saya, saya harap anda bisa memaafkan kami semua soal kemarin."
"Akan aku pikirkan." putus Adrian, "Tunggu, kau supir Tara bukan?"
"Tara?" tanyanya bingung.
"Maksudku, Alettara." koreksi Adrian, Kiran dengan ragu-ragu mengangguk.
Ia jadi takut jika karena anggukannya ia akan mengkhianati bosnya.
Tapi, mau mengelak juga percuma, Adrian sudah pernah melihatnya!
"Buat aku bertemu dengannya dan aku akan mempertahankan hubungan bisnis kita." tawar pria itu dengan santainya.
.
.
.
Aletta tersenyum cerah saat melihat satu kotak martabak telur kesukaannya ada di atas meja makan dengan sepucuk surat.
Ia baru bangun dan mau minum, namun alangkah bingungnya dia saat melihat sekotak makanan dan juga susu pisang kesukaannya.
Hai cantikku....
Dimakan ya, aku sangat merindukanmu ❤️🤍
Oh ya, maaf
Ily:)
"Revan memang yang paling tau tentang aku! Huh aku juga merindukanmu." serunya senang memeluk note kecil itu dan memakan potong demi potong makanan itu.
Dia benar-benar menghabiskannya sampai tak tersisa satupun.
Tok Tok
"Revan?!" dengan semangat ia berlari menghampiri pintu masuk dan segera membukakannya.
"Ah! Bunda." ucapnya kecewa saat melihat siapa yang datang. Ia kira, suaminya telah kembali.
"Hai sayang, apa kabar?" tanya Bunda Rena, yang langsung memeluk menantunya.
"B-baik, bunda."
"Maaf ya, setelah kalian pindah bunda belum sempat berkunjung." ucap wanita itu dengan wajah menyesalnya, ia mengangkat kantung plastik bawaannya, "Bunda bawain brownies." lalu mengajaknya masuk ke dalam.
"Hmm, sudah tinggal berdua makin leluasa ya..." ujar Bunda Rena menggoda, sesekali matanya memperhatikan setiap sudut rumah.
"Revan?"
"Iya, Revan suami kamu, anaknya Bunda." jelas Bunda Rena setengah bergurau.
"Oh Revan, gak ada dia__"
"Memang tuh anak kemana? Pasti main sama temennya deh!" dengus Bunda sambil melipat tangannya di bawah dada.
"Lha? Revan kan kerja." celetuk Aletta heran, memangnya ibu mertuanya itu tidak tahu anaknya kerja?
"Ini hari Sabtu, Rayna..." jelas Bunda pelan, Rena mulai curiga dengan keanehan menantunya.
"Ah, aku lupa!" gumamnya, dalam hati ia merutuki kebodohannya sendiri, ia bisa memancing kecurigaan pada mertuanya !
"Sebenarnya ada apa sama kamu? Kamu gak tahu suami kamu dimana dan ngapain aja?" cecar Rena penasaran, karena aneh saja, masa Aletta bilang Revan kerja padahal ini hari Sabtu.
"Anu, Bunda katanya tadi Revan ada pertemuan penting, iya ada pertemuan penting!"
"Ha? Masa sih? Tapi tadi ayah gak cerita ke Bunda. " sahut Rena heran, biasanya suaminya selalu menceritakan apapun tentang kegiatan Revan di kantor juga perubahan baik anak mereka.
Dan kalau memang ada pertemuan penting, biasanya suaminya juga akan ikutan sibuk mengawasi anak mereka, tapi suaminya saja sekarang sedang santai bermain golf.
Tapi kok, Rena tidak di beri tahu soal ini?
"Hah? Emang iya? Mungkin ayah lupa." sahutnya gelagapan, ia saling meremas tangannya, ia tidak tahu bahwa Bundanya ini sangat tahu kegiatan kantor.
"Tumben banget, padahal tadi pagi aja ayah baru cerita, masa iya Revan mau batalkan kerjasama kita sama Wiratmadja Corp. Hadehh, buat masalah aja tuh anak satu." curhat Bunda.
"Hah?! Kenapa?!"
Reaksi menantunya membuatnya aneh, kenapa menantunya tidak tahu apa-apa tentang yang terjadi pada Revan akhir-akhir ini?
"Kamu gak tahu? Revan bersitegang sama CEO barunya, cucunya Tuan Wiratmadja entah kenapa tuh anak, makanya bunda kesini juga mau nanya."
"CEO baru Wiratmadja Corp?"
Apa ini ?
Adrian maksudnya?
Revan bersitegang dengan Adrian?!
'Apa yang bunda maksud tadi Adrian? Tapi kenapa bisa, Revan?' batin Aletta.
"Iya! Tapi, bagus lah, mungkin sekarang dia ketemuan sama CEO Wiratmadja Corp, biar gak kena semprot ayahnya." cerocosnya sambil duduk di sofa yang ada di ruang tengah, Aletta hanya menanggapi seadanya, karena ia barusan sangat deg-degan, takut ketahuan Bunda kalau ia dan Revan sedang tidak baik-baik saja.
Padahal sedari tadi juga , Rena menahan rasa penasarannya untuk mengulik lebih jauh.
__ADS_1
...****************...
"Nih! Kasih ke Tara!" Adrian memberikan sebuah paper bag pada Alex.
"Tapi, Tuan mana saya berani?" tanya Alex bingung, ya masa iya dirinya memberikan hadiah ke istri orang, lagian nih ya kenapa coba bosnya malah naksir sama istri orang, padahal kan pacarnya aktris terkenal.
Dasar aneh!
"Berikan itu pada sopirnya, yang namanya Kiran!" jawab Adrian cuek.
"Tapi, Tuan___"
"Tapi tapi terus, tinggal di laksanakan apa susahnya?!" ucap Adrian jengkel.
Alex hanya bisa pasrah menuruti perintah sang atasan, ia mah apa, cuma asisten yang bisanya nurut.
Di tempat lain,
"Woy balik lo sono, punya bini malah tidur di sini mulu!" tegur Devan sambil melempar bantal sofa pada Revan yang masih terpejam di atas sofa.
Revan melempar balik bantal itu dengan mata terpejam, "Van, punya masalah di selesaikan bukan malah kabur. Kaya cewek ae lo!" ucap Jonathan menyahuti.
"Berisik!!!!" dengus Revan yang beranjak duduk sambil mengacak-acak rambutnya.
"Lagian lo, gak kasian sama bini lo apa? Di tinggal sendirian terus, kasian Van bobok gak ada yang peyukkk." goda Gara yang sedang memangku laptopnya dan memasukkan flashdisknya.
"Siapa yang saranin gue buat kaya gini?!" Revan bertanya balik pada Gara dengan nada menyindir.
"Iya ya, gue yang saranin." sahut Gara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terus gimana?" lanjut Gara.
"Apanya yang gimana?!" hardik Revan kesal.
"Cih! Galak banget kaya ayam bertelur. Ya hasilnya gimana, bambang?!" tanya Gara nyolot.
"Berhasil." jawabnya pelan.
"Terus? Ngapain masih disini, pulang lo! Seminggu gak pulang juga." kini Daven yang mulai mengerti, ikut menyahuti pembicaraan mereka berdua.
Daven merasa bahwa Revan sudah cukup menginap disini dan meninggalkan istrinya sendiri.
Jadi ia berani mengusir sahabatnya itu.
"Tapi belum seratus persen." lanjut Revan yang membuat Daven dan Gara memasang wajah mereka sebal.
Revan mengambil ponselnya yang ada di kantong celananya saat benda itu menyala terpampang pula banyak pesan dari Aletta dan juga panggilan tak terjawab.
Ada banyak pesan yang amat sangat panjang yang isinya adalah permintaan maaf.
*Re, please pulang ada Bunda nyari kamu. Aku bingung kasih alasan kenapa kamu gak pulang-pulang.
Aku mohon, maafin aku
Aku janji sama kamu aku bakal jujur*.
Sedangkan di rumah, Aletta yang sudah tidak bisa menutupi lebih jauh lagi akhirnya ketahuan, ia akhirnya jujur bahwa mereka sedang dalam masalah.
Setengah hari Bunda mertuanya itu disini tapi tak ada tanda-tanda kepulangan Revan.
"Sayang, dengar Bunda!" titah wanita itu lembut namun tegas.
"Jangan menutupi apapun dengan pasangan kita, jangan ada rahasia dan yang paling penting saling percaya. Percaya sama suami kamu sayang, dia suami kamu, anak bunda memang pemalas tadinya, tapi sekarang dia punya kamu, kamu semangat hidupnya! Hargai dia, dengan kamu yang membutuhkan dia, dia akan merasa di hargai, dia pasti senang karena merasa di butuhkan oleh perempuan yang dia cinta."
Rena menjeda ucapannya sejenak, ia tak habis pikir kenapa menantunya sangat sulit untuk menerima anaknya sepenuhnya.
Dari malam pertama yang tertunda sampai pada masalah ini.
"Wajar, Revan merasa nggak di hargai sama kamu, maaf bunda bilang ini, tapi kamu harus belajar jadi istri yang baik. Kamu menolak ajakan suami bukan cuma dosa, bisa saja suami kamu akan merasa terhina, kenapa istrinya tidak mau dia sentuh?" jelas Rena lagi, Aletta hanya bisa tertegun mendengar semua ucapan mertuanya.
"Maafin, Aletta, bunda___"
"Rayna, sebenarnya kamu kenapa? Ada yang kamu sembunyikan dari kami? Dari suami kamu?" tanya Rena sembari mengusap sayang kepala menantunya itu.
Aletta tidak tahu mau menjawab apa, cerita pada Revan saja ia masih belum mampu bagaimana ia mau mengungkapkan unek-uneknya pada mertuanya.
"Revan sangat sabar sama kamu, karena dia tulus sama kamu." ucap Rena yang semakin membuat Aletta merasa bersalah.
"Aku memang gak pantas buat anak Bunda, aku ini terlalu buruk."
"Hey, kamu ngomong apa sih, sayang. Nggak, maaf kalau bunda terlalu banyak ngomong, bunda nyakitin kamu ya?" Rena otomatis memeluk erat menantunya yang sekarang malah terisak di pelukannya.
Sedangkan Aletta ?
Ia semakin merasa tak pantas bukan cuma tak pantas jadi istri Revan, tapi ia juga tak pantas mendapatkan kasih sayang mertuanya yang sangat baik.
Revan dan mertuanya sudah sangat sabar padanya, kalau mertua lain mungkin sudah memarahinya karena telah menyakiti anak mereka.
Tok tok tok
Aletta yang mendengar ketukan pintu langsung beringsut dari pelukan mertuanya, ia mengusap air matanya kasar.
"Revan?!" duganya, ia menatap ke arah Bunda Rena, mertuanya itu cuma mengangguk dan tersenyum, kali ini ia harap ia tidak salah tebak, Revan sudah memaafkan dirinya kan? Kan tadi dia habis mengirimkan makanan.
Dengan semangat ia berlari lagi menuju pintu rumahnya.
Membukanya dengan terburu-buru dan ....
Tebak ges tebak
__ADS_1
Revan apa bukan?