
Adrian Aksa Wiratmaja
Pewaris utama Wiratmadja Group, pria tampan dan mapan di usia muda.
Wajah tampannya saja sudah membuat para wanita mengelilingi dirinya, di tambah posisi CEO yang ia dapatkan begitu saja setelah ia menyelesaikan pendidikannya dengan hasil luar biasa.
Mengamati dunia fashion di Milan membuatnya bertemu dengan seorang model manis bernama Bella, yang kemudian ia jadikan kekasihnya.
Ralat, pelampiasannya saja.
"Ini cewek yang mau di jodohkan sama aku, Pa?" tanyanya pada Bramasta setelah melihat selembar foto gadis remaja di bawah umur.
Lihatlah!
Bagaimana seorang Adrian yang di gandrungi para wanita di masa ini, memiliki aktris dan model ternama sebagai kekasihnya, tapi malah di jodohkan dengan seorang anak kecil?
Di foto itu jelas, bagaimana seorang gadis remaja berpose dengan senyum lebar dan dua jarinya di angkat dekat matanya, jangan lupa ransel beruang yang di kenakan gadis itu, benar-benar keluarganya aneh!
"Iya, namanya Adinda Afra Alqeena, anak Rian dan Erina." sahut Bramasta dengan tenang, pembawaan pria setengah baya itu selalu tenang dan berwibawa.
Adrian mengangkat sebelah alisnya, "Anak kecil?" tanyanya sarkas pada sang ayah.
"Papa, ayolah! Adrian anak papa adalah seorang pria dewasa berusia dua puluh lima tahun dan sang__"
"Sangat tepat untuk menjadi pendamping Adinda." sela Bramasta, masih dengan nada tenang yang berwibawa.
"What?? Kalian bercanda?"
"Tidak."
"Dia anak di bawah umur, please!" sanggah Adrian, ia merasa tak habis pikir dengan apa yang keluarganya lakukan.
"Menikahlah saat Adinda, lulus." kata Bramasta, sedangkan Adrian yang berhadapan dengan ayahnya kini benar-benar pusing!
Bella, baru saja keluar dari ruangannya setelah mendebatnya, sekarang ?
Papanya lagi, malah membahas perjodohan.
"Aku punya, Bella." ucap Adrian beralasan.
"Putuskan!" ucap Bramasta dengan entengnya, "Papa gak mau tahu, kamu harus setuju."
"Kenapa gak, Raga? Raga lebih cocok kali sama tuh bocah, Raga baru lulus SMA kan? Gak jauh beda usianya sama cewek itu."
"Tidak! Raga, gak akan bisa." tolak Bramasta tegas.
"Kenapa gak bisa? Raga cowok, terus Adinda cewek, sah aja." ujarnya asal.
__ADS_1
"Adrian Aksa Wiratmadja!" seru Bramasta dengan nada serius yang di tekankan.
Perasaan Adrian tidak enak, sepertinya akan ada suatu trik murahan yang akan di gunakan papanya untuk menekannya.
"Apa pernah papa meminta suatu hal dari kamu?"
Nah kan!
Adrian hanya menggeleng lemah, memang benar selama ini papanya tak pernah menuntut banyak hal darinya, soal pendidikan di luar negeri itu adalah kewajiban yang harus di lakukan pewaris Wiratmadja Group, menurut kakeknya.
"Kali ini, papa cuma minta, terima Adinda di bawah naunganmu." ucap pria itu dengan lembut, sorot matanya juga menjadi teduh.
"Maksudnya gimana nih? Naungan, Adrian?"
Bramasta bangkit dari kursinya, menepuk bahu tegap putranya, "Nanti kamu akan mengerti, papa berharap padamu." pesannya, kemudian meninggalkan Adrian begitu saja.
Adrian mengacak rambutnya asal, ia malas mengambil pusing soal bocah ingusan yang akan di jodohkan dengannya.
Gila memang!
🦋
🦋
🦋
"Minggir!" usir Aletta pada Revan yang sejak tadi menghalanginya,Aletta berjalan mundur kala kaki Revan terus berjalan maju ke arahnya.
Kedua tangannya mengurung Aletta dalam kuasanya.
Tapi dengan licik, mata jelinya melihat celah di bawah dan dengan gesit ia menerobos keluar dari area kekuasaan yang di buat Revan.
Tapi, Revan tak pernah kalah cepat.
Sebelum, istrinya benar-benar kabur dirinya menarik pergelangan tangan Aletta untuk di dekapan dari sisi belakang.
"Diam!" titahnya saat Aletta berusaha melepaskan diri, "Aku butuh kamu, boleh?"
"Nggak, aku lagi berhalangan." mendengar jawaban istrinya Revan melepas dekapannya, Aletta tidak enak hati mengecewakan Revan.
Tapi, rasa tak enak berubah jadi heran ketika ia mendengar tawa suaminya.
"Ada yang lucu?"
tanya perempuan itu keheranan.
Bukannya menjawab, Revan malah tetap tertawa.
"Memang aku nikahi kamu cuma untuk butuh itu aja?" tanya Revan balik.
__ADS_1
"Terus?!" sentak Aletta yang merasa jengkel karena malu.
Revan mengambil tangan sang istri untuk di kecup dalam-dalam punggung tangannya itu.
"Aku butuh kamu untuk mendengar keluh kesah ku." ujarnya dengan tatapan lembut.
🦋
"Menurut kamu gimana?" tanya Revan yang sedang dalam posisi berbaring dengan paha Aletta sebagai bantalan.
"Ayah benar." ucap Aletta tanpa ragu, setelah mendengar curhatan suaminya, ia rasa apa yang di katakan sang mertua pada suaminya itu benar.
Revan memasang wajah kesal, "Tck! Tapi aku malas minta-minta ke dia buat dukung aku, lagian ya udah jelas pewaris tunggal perusahaan kan emang aku." ujarnya lagi dengan kesal.
"Jangan suka gengsi gitu lah, Re." bujuk Aletta lembut, seraya mengusap rahang tegas suaminya dengan perhatian.
"Gengsi lah, kalau sama manusia macam Adrian itu!" ketus Revan, Aletta juga jadi merasa serba salah kalau begini.
"Tuh cowok pasti bakal mempersulit aku." tukasnya dengan pikiran buruknya, Adrian pasti akan menertawakan dirinya yang memohon persetujuan darinya.
Posisinya kan memang tidak menyenangkan jika suami bertemu dengan mantan pacar istrinya, bahkan mantan pacarnya itu masih mengejarnya.
"Demi perusahaan, demi ayah dan kamu juga, jangan egois." saran Aletta, Revan cuma berdecak sebal.
"Ntar kalau perusahaan di kasih Raka gimana, hayoo??"
Ngomong-ngomong, Raka adalah sepupu Revan dari pihak ayah.
Raka menempati posisi CFO di perusahaan dan dengan liciknya, Adrian itu malah menyarankan sepupunya untuk menjadi pimpinan selanjutnya di rapat kemarin!
"Ya biar! Aku kan bisa jadi arsitek, asal kamu tahu nih ya, diam-diam aku arsitek handal!" aku Revan dengan percaya diri.
"Ngarang deh, haha." ledek Aletta ia tak percaya soal itu.
"Makanya sesekali perhatikan suami kamu, apa yang dia lakukan dan dia kerjakan." sindir Revan.
"Rumah ini yang desain siapa? Aku dong!" ucap Revan lagi dengan jumawa, kalau saja ia bukan pewaris tunggal rasanya ia ingin bekerja dengan hobinya mendesain bangunan.
Jujur, Aletta merasa tersindir menjadi seseorang yang dicintai membuatnya sering kali lupa, bahwa suaminya juga butuh dan pantas di cintai lebih dari sekedar kata-kata saja.
Cup
Revan mengecup sekilas bibir ranum istrinya yang malah melamun saja.
"Kedip!" tegur Revan.
"Hah?"
Hah mana dukungannya buat Revan dan Aletta???
__ADS_1
Author cukup dukung Tuan Muda Adrian saja. awkwkk