
Mood Aletta sangat tidak baik hari ini, temannya marah padanya terlebih sahabatnya belum masalah di keluarganya, perkara Bayu meminjam uang lagi padahal belum seminggu dari saat ia meminjamkan uang.
Dalam perjalanan dari rumahnya untuk pulang ke rumah Revan, Aletta duduk sebentar di sebuah taman, untuk menenangkan pikirannya sejenak saja, tapi...
Sudah banyak masalah seperti itu, sekarang malah muncul Tasya di hadapannya.
Ia mendengus kesal saat perempuan itu berdiri dengan sombongnya di depannya.
"Mau apa lo?!" sentaknya emosi, ia sungguh sedang tidak ingin di ganggu.
"Kok emosi sih, gue kan cuma lewat terus eh ketemu sama istrinya mantan gue." jawab Tasya santai, walaupun raut wajahnya itu sombong tapi ucapannya terdengar santai.
Aletta memperhatikan dengan seksama sosok di depannya agar ia bisa membaca pergerakannya, kalau-kalau Tasya tiba-tiba mencelakainya?
"Tenang, gue udah gak mau ganggu rumah tangga kalian." sambung perempuan itu sambil memperhatikan kuku-kukunya yang di cat merah.
"Cuma mau nyapa lo sebentar, kayanya lagi bete." kekeh Tasya terdengar seperti ledekan bagi Aletta.
"Bukan urusan lo!" dengus Aletta lantas meninggalkan Tasya begitu saja yang hanya tersenyum miring melihat kepergian Aletta.
Aletta berjalan pelan dari halaman menuju rumah utama, ia menunduk memperhatikan kakinya yang melangkah.
"Al, darimana kok gak bilang aku kalau pergi?" tanya Revan menghampiri Aletta yang baru menginjak lantai teras yang di hiasi bunga mawar kuning dan putih yang tentunya karya Bunda Rena.
"Jalan-jalan sebentar." jawabnya lesu dan itu membuat Revan jadi penasaran dan khawatir, istrinya tidak terlihat baik-baik saja.
Mana dirinya tidak tahu jika istrinya pergi, tadi setelah makan siang, ia tertidur dan saat bangun Aletta sudah pergi.
"Sama teman?" tanya Revan, yang di balas anggukan saja dari Aletta.
"Yang mana?"
"Aura." cicitnya pelan sekali, karena ia telah sedikit berbohong, ia memang bertemu Aura sebentar tadi, lalu ke rumah ayahnya, entah kenapa Aletta merasa malas membahas Aura.
"Kenapa, ada masalah apa, cerita Aletta aku suami kamu kan, kalau ada apa-apa cerita." bujuk Revan sambil memainkan rambut istrinya lalu menariknya ke belakang telinga.
"Aku gak mood cerita, Re. Peluk boleh?" tanya Aletta, yang entah kenapa ia membutuhkan perhatian lelaki itu,ia sedang tidak ingin bercerita atau di dengarkan,ia ingin di perhatikan.
"Boleh sayang." jawab Revan dengan senang hati, meski ia masih penasaran.
Meski di sudut hatinya ia merasa seperti suami tidak berguna karena ia tak mengetahui satu pun masalah sang istri yang membuat perempuan itu gelisah.
"Gendong!" pinta Aletta sambil merentangkan tangannya ke arah Revan.
Revan menghela napas ringan, lalu tersenyum dan membawa istrinya dalam gendongannya.
"Ekhem! Mentang-mentang pengantin baru." goda Bunda yang kebetulan lewat, melihat kemesraan kedua anaknya saat ia akan menuruni tangga.
"Iya dong, Bun. Emang cuma Ayah sama Bunda yang bisa mesra?" balas Revan sedangkan Aletta menyembunyikan wajahnya di leher suaminya, ia yakin sekarang pipinya pasti sudah merah.
__ADS_1
Ah, malu!
Harusnya tadi Aletta tidak se- percaya diri itu minta gendong Revan.
Dirinya lupa bahwa mereka tidak hanya berdua di rumah ini.
"Aku lupa kalau kita gak cuma berdua di rumah ini, maaf." bisiknya dalam pelukan Revan, pria itu duduk di ranjang dan menaruh Aletta di atas pangkuannya.
"Sesenang itu sampai kamu berasa dunia cuma milik kita berdua ya? Bunda sama Ayah cuma numpang?" goda Revan.
"Ng-nggak kaya gitu." kilah Aletta, ia tadi cuma merasa butuh pelukan dan butuh aroma mint khas Revan untuk menenangkan pikirannya.
"Kamu pengin kita tinggal berdua aja?" tawar Revan serius.
"Hah? Serius?"
"Ya serius sayang, supaya kita juga punya ruang untuk privasi kita." jelas Revan terus terang.
"Tapi nanti ayah sama bunda? Mereka kesepian bagaimana?"
"Mereka sih juga sering ke luar kota, ke luar negeri, Bunda juga seringnya ikut ayah perjalanan bisnis." jelas Revan tanpa ragu.
"Oh ya?"
"Ya, jadi gimana mau, cuma berdua? Di rumah kita?"
"Kamu memang sudah punya rumah untuk kita tinggal berdua?" tanya Aletta penasaran.
Punya rumah sendiri di usia muda?
Aletta beruntung, bukan cuma tampan dan sangat mencintai dirinya, suaminya juga seorang yang kaya!
Tiba-tiba ia merasa bersyukur.
"Aku ikut kamu aja." sahutnya yang masih nyaman di pangkuan Revan sambil menghirup aroma khas suaminya.
"Kalau gitu nanti kita bahas sama Ayah dan Bunda." putus Revan yang hanya di balas anggukan kecil dari Aletta-nya, yang sepertinya sekarang sedang asyik bermain dengan dadanya, menggambar pola abstrak disana yang mengganggu kewarasannya sebagai seorang pria.
"Ngomong-ngomong, aku senang. Sekarang kamu mau pakai uang dari aku." ujar pria itu mencoba mengalihkan hasratnya yang mulai timbul, ia semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya, kemudian menjauhkan wajah istrinya dari dadanya untuk di tatap.
Sedangkan yang di tatap kebingungan, kalau sampai di tanya uang dari Revan ia gunakan untuk apa, Aletta mau jawab apa?!
Aletta hanya tersenyum tipis, ia tidak tahu harus bagaimana.
"Aku gak akan nanya uangnya kamu pakai untuk apa, yang penting aku bisa memenuhi kebutuhan kamu dan kamu menerimanya, aku sudah senang, Ale." sambung Revan seolah mampu membaca pikirannya.
"Terimakasih, sayang." ujarnya lagi.
Aletta menatap lekat, pada mata cokelat terang milik Revan.
__ADS_1
"Untuk apa, Re?" tanya Aletta heran, karena seharusnya kata terimakasih itu muncul dari bibirnya untuk Revan.
"Sudah menerimaku sepenuhnya. Ah belum, mungkin sembilan puluh persen?" tentu belum seratus persen, Revan belum memiliki Aletta seutuhnya.
"Maaf." cicit Aletta.
"Aku mengerti jika kamu belum siap, tapi Al... Setidaknya biarkan aku mengetahui setiap masalahmu, ceritakan semuanya padaku, supaya aku tidak merasa bahwa aku seperti orang asing bagi istriku." tukas Revan yang membuat hati Aletta tercubit.
Aletta tidak tahu bahwa hal semacam itu membuat Revan, jadi berkecil hati.
Padahal ia hanya tidak mau membebani Revan dengan masalah-masalah yang miliki.
"Jadikan aku tempatmu pulang, tempatmu berkeluh kesah, tempatmu bercerita semuanya, Aletta." sambung Revan, yang tanpa terasa itu membuat Aletta meneteskan air matanya.
"Ale, aku salah ngomong ya? Maaf, maaf kalau aku terkesan maksa." ujar Revan kelimpungan melihat istrinya menangis.
Tapi, tiba-tiba Aletta menubrukan dirinya dalam pelukan pria itu.
"Maaf, Revan aku sungguh beruntung punya kamu, Re, maaf atas segalanya atas kata-kataku yang menyakiti kamu, sungguh aku beruntung memiliki kamu!" ungkap Aletta dengan sesenggukan, karena ia bicara sambil menangis.
"Aletta, sayang..."
"Aku, aku cuma gak mau buat kamu terbebani sama masalah aku." ungkapnya lagi.
"Hei sayang, beban kamu itu beban aku juga, jangan pernah berpikir kaya gitu." ucapnya sambil mengelus kepala sang istri penuh kasih.
Sungguh, Revan sangat menyayangi Aletta. Sangat!
Aletta mendongak guna melihat wajah sang suami begitupun Revan yang menunduk untuk dapat membalas tatapan istrinya.
"Revan, janji ya? Apapun yang terjadi tetap percaya sama aku dan tetap di sisiku?"
"I am promise, i'll be there for you, always and forever, my love.". ungkap pria itu sambil menyatukan keningnya dengan kening Aletta, kemudian ia mengecup bibir ranum sang istri dengan kasih.
'Karena aku menikahi kamu untuk melindungi kamu, Aletta. Perempuan yang sangat aku sayangi.' batin Revan.
"Terimakasih, Re. Aku cuma punya kamu sekarang."
"Kalau gitu sekarang, apapun masalahmu juga masalahku, kamu harus terbuka sama aku, Ale-ku sayang." ucap Revan dengan senyum lebarnya lalu mengecupi puncak kepala Aletta berkali-kali, betapa beruntungnya dirimu Aletta memiliki Revan yang sangat menyayangi dirimu.
'Aku cuma punya dia, tapi aku malu cerita soal masalah keluargaku yang gak ada habisnya. Gimana cara aku bilang kalau uang dari dia aku pakai buat bayar hutang Mas Bayu?' ujar Aletta yang tentu hanya dalam batin.
Ada yang nungguin aku up gak sih?
coba komen, jangan bosen ya sama kebuccinan Repann
Siapa disini yang belum baca Crazy Rich CEO??
Yuyuyuuuu mampir sapa tau suka... eheee
__ADS_1
Terimakasih yaaa buat yang mau mampir like komen dan vote